
Malam yang semakin larut akhirnya menghentikan perbincangan panjang antara Joelin dan Amel. Mereka memang sudah jarang bertemu sejak 2 bulan terakhir, sejak Amel tahu pernikahan antara Joelin dan Mickey. Keduanya akhirnya terlelap.
\*\*\*
Joelin menggeliat halus, cahaya perlahan menerobos retinanya seiring kelopak mata terbuka perlahan. Setelah menyelesaikan doa-doa pagi hari, Joelin meraih ponselnya. Belum ada notif dari Mickey yang berarti pria itu masih bangun.
"Sayang aku sudah bangun. Selamat pagi." Setelah mengirim pesan suara, Joelin bergegas kekamar mandi.
Seusai mandi gadis itu kembali memeriksa ponselnya, masih pukul 05.30 dan belum ada kabar apa-apa dari suaminya. Sepertinya pria itu masih lelap dalam alam mimpi. Joelin meninggalkan ponselnya dan Mickey untuk sejenak, dia memilih untuk menyiapkan sarapan.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Joelin membangunkan Amel, mengajak teman sekamarnya itu untuk sarapan bersama. Sambil menyantap menu sarapan keduanya asik bercanda.
"Ponselmu bergetar." ujar Amel tiba-tiba.
"Mungkin dia sudah bangun."
"Siapa?"
"Siapa lagi? Suami gue lah." jawab Joelin sambil memamerkan layar ponselnya.
"Kayaknya nikah enak ya, gue jadi pengen." goda Amel.
"Pacaran dulu sana. Gue jawab ini bentar." pamit Joelin.
"Bentar? bentar persi kalian itu seharian. Mending gue mandi." ujar Amel sambil beranjak dari meja makan.
Joelin tersenyum geli menyadari kebenaran dalam kalimat Amel.
"Pagi sayang, kamu senyum-senyum begitu?" tanya Mickey dari seberang sana.
"Pagi.. Aku senyum-senyum sama Amel."
"Dimana dia?"
"Mandi."
"Kamu?"
"Udah mandi kok tadi."
"Aku rindu banget sama kamu Joe.."
"i miss you too."
"Yes.. hari ini kita bakalan ketemu."
__ADS_1
"Jangan buru-buru. Kamu bisa kemari agak sorean. Nikmati waktu disana bareng keluarga."
"Siap istriku."
"Ada yang ngetok pintu kamar tuh." celetuk Joelin.
"Omma, pasti dia pikir aku belum bangun.
"ne omma.." ujar Mickey setengah berteriak. "Aku sudah bangun, nanti aku keluar." jawabnya lagi dalam bahasa korea.
"Yaudah, kamu mandi gih." pinta Joelin.
"Iya, lagian mama mertua kamu udah nggak sabar pengen liat wajah tampan anaknya."
Pipi Joelin terasa hangat mendengat kata "mama mertua kamu" dari bibir Mickey.
"Mau ngobrol sama omma?" tanya Mickey lembut.
"hmmm.. next time aja. kamu mandi gih." pinta Joelin berusaha menghindar.
"Baiklah. Give me a kiss." pinta Mickey yang berhasil membuat Joelin melempar kecupan jauh sebelum panggilan terputus.
Mickey menyimpan ponselnya di nakas yang terletak bersisian dengan tempat tidurnya. Pria itu tersenyum lepas, ada kebahagiaan yang meluap di dalam dadanya. Setelah semalam berbincang-bincang dengan keluarganya dan menjelaskan pernikahannya dengan Joelin, hati Mickey terasa lebih ringan. Dia tidak pernah menduga orangtuanya tidak marah atas tindakannya. Mereka malah mengapresiasi tindakan Mickey yang berani memperjuangkan perasaannya sampai tahap mengejar gadis itu hingga menikahinya. Walau mereka terang-terangan tetap menyalahkan sikap Mickey yang tidak melibatkan keluarga. Karena bagaimanapun keluarga pasti akan selalu berada dipihaknya. Namun setelah Mickey menjelaskan dengan jujur alasan kenapa dia tidak berani meminta keterlibatan orangtuanya, akhirnya Omma dan Appa nya bisa menerima kesalahan Mickey. Bahkan mereka berencana akan memberikan sebuah kejutan untuk Joelin, gadis yang berhasil menaklukkan hati Mickey.
\*\*\*
"Mel, gue pamit ya. Makasih udah nemanin gue beberapa hari ini." ujar Joelin sambil memeluk Amel.
"Okey. ingat aja semua ini nggak gratis loh."
"Astaga Amel."
"Loe tenang aja. bayarnya gampang kok, loe tinggal kerja keras buat bikin ponakan gue."
"Hei mesum.." protes Joelin.
"Alah joe, jangan nuduh gue mesum. Lagian loe juga nikmatin kan acara begituan sama suami loe."
"Udah ah, loe makin ngaco aja. Gue balik dulu ya."
"Gue nggak ngaco, kalian aja selengket itu cuman pisah 3 malam kayak pisah 3 tahun. Gue ngomongin fakta.. fakta.." protes Amel sambil menyaksikan punggung Joelin yang menghilang di balik pintu kamar.
"Loe benar. see you Mel." jawab Joelin yabg tiba-tiba muncul dari balik pintu, sambil melambai dan terkekeh geli.
Amek hanya bisa menggeleng melihat tingkah konyol temannya itu.
__ADS_1
"Udah jadi istri orang, masih juga bertingkah seperti anak kecil. Joe...joe.." gumam Amel.
\*\*\*
Mickey sudah menunggu Joelin di depan pintu asrama. Pria itu langsung membuka tangannya lebar-lebar siap untuk memeluk Joelin begitu melihat sosok yang dinanti keluar dari pintu asrama.
"I miss you so much.." ucapnya lembut sambil memeluk Joelin.
"me too" jawab Joelin.
Setelah berpelukan beberapa saat, keduanya berlalu meninggalkan area sekolah dengan Taxi. Sesampainya di rumah, mereka turun dari taxi. Setelah membayar taxi, Mickey kembali merangkul istrinya, seolah dia tak sanggup melepaskan Joelin walau hanya sedetik. Mereka masuk pekarangan rumah dan langsung mengunci pagar.
Di sebrang jalan, dari balik kaca sebuah mobil sepasang mata mengawasi kebahagian pasangan itu. "Nikmati, nikmati sebelum aku mengakhiri senyuman kalian yang menjijikkan itu." ucapnya dingin sambil melajukan mobil nya menjauh dari rumah Mickey.
\*\*\*
"Mickey.. lepasin bentar. aku mau ke dapur."
"Ngapain sayang?"
"Masak buat makan malam."
"Tadi aku udah beli kok." jawab Mickey.
"Kenapa beli? kan aku bisa masak Mickey."
"Hari ini aja kok. Aku rindu banget sama kamu dan kita harus kerja lebih keras supaya disini segera ada bayi kita." ujar Mickey sambil mengelus perut Joelin.
"Kamu nggak capek?" tanya Joelin
"Menurut kamu?" tanya Mickey sambil mengangkat tubuh Joelin ala bridal style dan meletakkan wanitanya di sofa ruang tamu.
"Aku nggak capek untuk hal-hal tentang istriku. Kamu itu candu sayang." ujar Mickey sebelum mendaratkan ciumannya di bibir lembut Joelin.
Keduanya kini tengah melebur rindu yang tengah menyeruak masuk kedalam jiwa mereka. Rindu akibat terpisah selama kurang dari 3 x 24 jam, rindu yang menurut orang lain terlihat konyol. Tapi rindu itu wajar bagi mereka yang saling mencintai dengan sepenuh hati.
Joelin mengikuti permainan Mickey, dia berjuang menjadi istri yang baik untuk satu-satunya suami tercinta dalam hidupnya.
"Aku akan berhenti memakai tablet pencegah kehamilan itu." gumam Joelin dalam hati.
Keputusannya mantap dan bulat, dia siap melahirkan kebahagian-kabahagian baru untuk pernikahan mereka.
"Kamu tahu, kamu adalah jelmaan dari kebahagian paling sempurna yang pernah hadir dalam hidupku." ujar Mickey tiba-tiba.
Jeolin tersenyum pada Mickey lalu berkata, "so do i".
__ADS_1