Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Selamat, Untuk Besok


__ADS_3

"Tak kubiarkan kalian tertawa lebih lama lagi." dia menggeram kesal sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Amarah, cemburu dan rasa ingin memiliki kini tengah memperdaya hatinya.


 


\*


 


Hari telah berganti sebentar lagi subuh akan menyusul, namun Joelin masih tak kuasa memejamkan matanya kembali, setelah terjaga dari tidurnya beberapa jam yang lalu. Perutnya terasa begitu tidak nyaman, sementara rasa sakit di kepalanya membuatnya kesal bukan main. Sudah berkali-kali Joelin meminum air hangat, dan berharap merasa lebih nyaman. Namun tetap saja perasaannya tidak membaik.


Sementara itu, Mickey masih bergelung di dalam selimut dan terlelap layaknya seorang bayi. Pria itu bahkan tidak terusik dengan pergerakan gelisah Joelin sejak dua jam lalu.


Untuk kesekian kalinya Joelin berjuang untuk tidur, dia memejamkan kedua matanya, namun tiba-tiba perasaan tidak nyaman itu kian menjadi, Joelin merasa ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Menanggapi kondisi tubuhnya, Joelin bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana.


Mickey terusik, sayup-sayup telingamya menangkap suara berisik yang berasal dari kamar mandi. Pria itu langsung membuka matanya dan bergegas menemui Joelin.


"Are you okay?" tanya Mickey sambil menepuk pelan punggung istrinya itu.


Joelin tidak merespon pertanyaan Mickey, dia masih berkonsentrasi mengeluarkan semua isi perutnya. Sementara Mickey masih setia menepuk halus punggung istrinya itu.


"Kurasa aku masuk angin." ujar Joelin lemah saat kondisinya mulai tenang.


"AC nya terlalu dingin?"


"Mungkin."


"Tunggu di sini, akan kubuat teh jahe." pinta Mickey sambil menggendong Joelin kembali ketempat tidur.


Setelah menyelimuti tubuh Joelin dan manaikkan suhu AC di kamar itu Mickey berlalu menuju dapur. Dan menyiapkan teh jahe hangat untuk Joelin.


Sementara itu dikamar tidur Joelin sedang memegani perutnya yang masih terasa tidak nyaman.


"Apa mungkin aku hamil?" batin Joelin sambil mengelus perutnya yang rata.


"Ah... mana mungkin. Selama ini juga hasilnya selalu negatif. Paling masuk angin doang." gumamnya lagi.


"Sayang, diminum dulu tehnya." Suara Mickey menarik Joelin dari pikirannya.


Setelah meletakkan gelas berisi teh hangat pada meja yang berada tepat di sisi tempat tidur, dengan gerakan lembut Mickey membantu Joelin untuk duduk.


"Kamu masih merasa tidak nyaman?" tanya Mickey sambil menyerahkan gelas kepada Joelin.


"Sedikit." ucap Joelin sebelum meminum teh buatan Mickey.


"Terimakasih Mike." ujar Joelin setelah meneguk teh hangat itu.


"Diminum sampai habis ya." pinta Mickey lembut.


Tanpa menjawab, Joelin langsung meneguk habis semua teh jahe dalam gelasnya.


"Selesai." ujar Joelin sambil menunjukkan gelas kosong ditangannya.


"Gadis pintar. Putriku memang hebat." ujar Mickey sambil mengelus sayang puncak kepala Joelin.

__ADS_1


"Appa, peluk aku." pinta Joelin mendadak manja sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Mickey.


"Sebentar ya. Aku simpan gelasnya ke dapur." pinta Mickey sambil berlalu meninggalkan Joelin.


Sepeninggalan Mickey, perut Joelin kembali beraksi ingin memuntahkan semua isinya. Joelin segera bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan lagi isi perutnya.


Mickey yang baru kembali dari dapur dan mendapati Joelin sedang berkutat di kamar mandi sendirian, langsung mendekati istrinya itu. Khawatir tergambar jelas di wajahnya.


"Sayang, bagaimana kalau kita kerumah sakit sekarang?"


"Ini masih subuh Mike." ujar Joelin lemas setelah memuntahkan isi perutnya.


"Come here." Mickey memeluk tubuh lemah Joelin, sebelum kemudia dengan gerakan hati-hati menggendong istrinya itu kembali ketempat tidur.


"just hug me.." rengek Joelin manja begitu Mickey meletakkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Okay okay." jawab Mickey sambil memposisikan diri berbaring di sisi kanan Joelin.


Joelin yang berada dalam pelukan Mickey, kini merasa lebih nyaman. Perlahan kantuk menghampirinya, dan dalam hitungan menit suara nafasnya terdengar teratur, menandakan bahwa dia tertidur.


Mickey memandangi wajah damai istrinya yang kini sedang terlelap dalam dekapannya. Pria itu mengernyit bingung mendapati keringat yang mengalir di wajah Joelin. Harusnya istrinya itu kepanasan, bukan masuk angin. Mickey mengecup kening Joelin dengan lembut sebelum akhirnya ikut terlelap.


 


\*


 


Mickey membuka kedua matanya perlahan, posisinya masih sama seperti beberapa jam lalu saat dia jatuh ke alam mimpi. Tanpa melepaskan pelukannya Mickey melirik jam yang terletak pada salah satu dinding kamar. Beruntung sekali dia, karena menggantung jam dinding dengan posisi berhadapan langsung dengan arah tidurnya kini.


Dipandangnya Joelin sekali lagi, ada rasa khawatir yang kini bersarang di dadanya. Terlebih lagi, setelah hampir setahun menikah belum sekalipun Joelin bangun kesiangan seperti hari ini. Tak tega mengingat Joelin yang kesakitan subuh tadi, Mickey memutuskan untuk menyiapkan sarapan dan membangunkan wanitanya nanti.


Setelah menghadiahkan kecupan kilat di seluruh penjuru wajah Joelin, Mickey bergegas menuju dapur.


Dikamar, setelah Mickey melepaskan pelukannya tubuh Joelin mengeliat pelan. Tiba-tiba saja perutnya kembali terasa tidak nyaman, perasaan yang sukses mengusik tidur nyenyak Joelin. Setelah kembali memuntahkan isi perutnya, Joelin bergegas ke dapur mencari Mickey.


Mickey sedang menggoreng omelet saat sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang.


"Selamat pagi sayang." ujar Mickey sambil fokus pada penggorengannya.


"Aku boleh begini selama kamu masak?" tanya Joelin masih menempel di punggung Mickey.


"Hmm... boleh. Tapi, akan lebih baik jika kamu duduk menunggu di meja makan." jawab Mickey lembut. Bukan karena dia tidak suka dipeluk oleh istrinya itu, hanya saja Mickey tidak ingin Joelin kelelahan karena berdiri, mengingat subuh tadi wanitanya itu sedang tidak enak badan.


"Bilang aja kamu nggak nyaman dipeluk-peluk sama aku." jawab Joelin kesal. Tiba-tiba saja mood nya menjadi buruk.


"Bukan gitu sayang.." jawab Mickey lembut.


"Nggak usah alasan ah kamu." Joelin kini merajuk dan segera melangkah menuju kamar.


Belum tiba di pintu kamar, mendadak Joelin berubah pikiran. Dia mengubah langkah kakinya menuju pintu utama, dengan langkah santai dan style bangun pagi versi belum mandi Joelin bergegas keluar rumah menuju sebuah supermarket yang terletak tidak jauh dari rumahnya.


Joelin tersenyum senang saat meraih 5 bungkus sandwich hangat yang selalu tersedia di supermarket itu. Setelah membayar tagihan belanjanya, Joelin melangkah mantap keluar dari toko itu.


"Joe..." Langkah Joelin terhenti, oleh suara yang tidak asing itu, kini kepalanya celingukan mencari sumber suara.

__ADS_1


"Bang Goedan apa kabar?" tanya Joelin tersenyum sumingrah.


"Saya baik. Kamu sendiri apa kabar? Suamimu dimana?"


"Kami baik bang. Sedang ada acara apa bang? kok bisa kemari?"


"Biasa Joe, menyelesaikan urusan-urusan Vino yang belum kelar." jawab Goedan santai.


"oh..."


"Joelin, ini buat kamu dan Mickey." ujar Goedan menyodorkan sebuah kertas undangan.


"Nggak pakai undangan fisik juga nggak apa-apa bang." ujar Joelin ramah.


"Kalian harus datang ya, saya sendiri bela-belain bawa undangan tiap hari selama beberapa hari disini, berharap bisa langsung memberikannya kalau tiba-tiba ketemu kalian."


"Hahaha... abang lucu." Ujar Joelin jujur mendengar penuturan Goedan, mengingat saat ini alat komunikasi sudah canggih dan tentu saja mudah bagi Goedan untuk menghubungi mereka dengan bantuan teknologi.


"Oh iya, tunggu sebentar." pinta Goedan sebelum pria itu berlalu.


Sambil menunggu Goedan kembali, Joelin tidak ingin membuang waktu. Dengan santainya istri Mickey itu menyantap sandwich yang dia beli tadi.


"Ini buat kamu." ujar Goedan menyerahkan bucket bunga pada Joelin.


"Buat apa bang?"


"Sebagai ucapan selamat dari kami, karena besok kamu dan suamimu wisuda."


"eh.. terimakasih." ujar Joelin kembali menyantap sandwich di tangannya.


"Ya ampun Joelin, kamu ini sudah jadi istri orang tapi makan aja belum mahir." ujar Goedan gemas sambil menggerakkan tangannya, membersihkan mayonese yang menempel di bibir Joelin.


Saat tangan Goedan menempel di bibirnya, mendadak perut Joelin terasa mual. Dengan susah payah wanita itu menahan rasa mual nya, khawatir menyakiti perasaan Goedan.


"Maaf" lirih Goedan saat menyadari raut Joelin yang tidak nyaman, Goedan segera manarik tangannya.


Joelin masih terdiam, bukan karena tersentuh melainkan berusaha menenangkan rasa mual di perutnya.


"Joelin duluan ya bang." pinta Joelin undur diri dari Goedan.


"Ok. Hati-hati." ujar pria itu menatap punggung Joelin yang kini menjauh.


Sementara itu, di salah satu kursi pengunjung di dalam toko, sebuah senyum kemenangan terukir indah menyaksikan pemandangan di hadapannya. Tentu saja pemandangan itu adalah pertemuan singkat antara Joelin dan Goedan.


"Ini adalah jackpot." gumam sosok itu tersenyum penuh kemenangan.


**Pengumuman


Hai teman-teman..


Menurut kalian yang ngawasin Joelin dam Mickey itu siapa sih?


oh iya, tolong tetap dukung novel ini ya guys dengan memberikan vote, like, koment yang banyak.


terimakasih

__ADS_1


~best**~


__ADS_2