Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Hari Wisuda


__ADS_3

Sementara itu di jalan raya, tepatnya di sebrang rumah itu sepasang mata di dalam sebuah mobil menyaksikan betapa Joelin dan Mickey terus bermesraan, saat mereka meninggalkan rumah dan kini ketika keduanya kembali ke rumah.


"HAHAHAHA... lucu sekali." tawanya meledak menyaksikan romantisme itu.


 


\*


 


"Kau belum tidur?" tanya Mickey, tangannya bergerak mengganti lampu utama kamar jadi lampu tidur.


"Mike, jangan matikan lampunya."


"Sudah larut sayang, kau sedang tidak enak badan."


"Aku sudah sembuh." protes Joelin memutar arah tidurnya menghadap Mickey.


"Kita harus tidur sekarang. hmmmm?"


"Ada syaratnya."


"Apa?"


"Lampunya Mike, pakai lampu utama aja." pinta Joelin.


Mickey kembali bergerak dari posisinya dan segera menganti sumber penerang di dalam kamar.


"Ada apa, mmm?" tanya Mickey yang kini sudah memeluk tubuh istrinya itu.


"Begini lebih nyaman." ujar Joelin.


"Tapi selama ini kamu tidak pernah mengeluh begini." ujar Mickey bingung.


"Mungkin perubahan mood musiman." ujar Joelin santai.


"Tidurlah, bukankah tadi sudah berjanji mau tidur?"


"hmmmmm.." Joelin langsung mengatupkan matanya sambil membalas pelukan Mickey dengan gerakan lembut.


 


\*


 


"Akhirnya selesai juga." gumam Joelin dalam hati.


Kedua mata Joelin kini sibuk memandang kotak kado berwarna cream lengkap dengan pita biru dongker yang memperindah kotak itu. Dengan gerakan hati-hati, Joelin mengangkat kotak kado yang baru saja selesai dia bungkus dan meletakkannya di meja belajar di kamar.


"Aku harus membuatnya sedikit tertutup, agar Mickey tidak menemukannya sebelum acara hari ini selesai." ujar Joelin pelan sambil menutup kotak itu dengan beberapa lembar kertas dengan rapi.


"Taraaaa... selesai. Sekarang aku harus ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk mr Mickey." gumamnya lagi.


Dengan senyum merekah, Joelin melangkah bersemangat menuju dapur. Meninggalkan suaminya yang masih tidur nyenyak. Jantung Joelin berdegup kencang sejak dia bangun pagi ini. Kesadaran akan adanya kehidupan lain yang kini berkembang dalam dirinya membuat jantung Joelin berdebar lebih kencang.


 


\*

__ADS_1


 


Si An mengenakan pakaian santai, namun tetap terlihat elegan dengan tangan kanannya menggenggam bucket bunga yang indah. Sebuah senyum terlukis di bibirnya.


"argh... kau menakutiku." ujar Mark yang muncul tiba-tiba.


"oh.. bro, kau terlihat tampan dengan penampilan ini." puji Si An menikmati perpaduan pakaian Mark dengan wajah bule nya itu.


"Kenapa kau tersenyum sendiri? Apa kau gila? Apa kau merencanakan sesuatu?"


"Bagaimana menurutmu?" tanya Si An sambil menggerakkan bunga di tangannya ke arah Mark.


"Biasa saja. Ah... tolonglah, bagaimana mungkin kau menanyakan pendapatku tentang bunga? Apa kau pikir aku ini kekasihku? Astaga, kau sungguh membuatku ketakutan." omel Mark sambil duduk di kursinya.


"Hari ini mungkin akan jadi hari terakhir kita di ruangan ini." Ujar Mark sambil mengedarkan pandangannya ke sekiling ruangan laboratorium.


"Kau betul kawan. Dimana keluargamu?"


"Mereka langsung ke auditorium. Joelin belum datang? Dimana Mickey?"


"Aku tidak tahu, semenjak aku tiba tidak ada siapapun di sini." jawab Si An.


 


\*


 


"Telepon aku jika sudah selesai, aku akan menjemputmu." ujar Mickey pada Joelin.


"Hmmm... aku bisa datang sendiri, jarak asrama dan auditorium tidak begitu jauh. Kita bisa bertemu di sana."


"Tolonglah Joelin, kalau bukan karena kau merengek ingin berfoto bersama teman-teman sebangsamu aku tidak akan rela meninggalkanmu di asrama pagi ini walau hanya satu detik."


"Kamu memarahiku." ujar Mickey sambil memandangi Joelin.


"Hari ini kamu cantik sekali sayang." tambahnya lagi.


"Apa maksudmu selama ini aku tidak cantik?"


"Bukan begitu. Ah, sudahlah."


Mickey memandang Joelin dengan tatapan memuja, dress putih selutut berhiaskan motif mawar peach dan baby pink dengan lengan panjang transparan yang menutup lengannya sungguh terlihat pas di tubuh Joelin. Rambut blonde nya tertata rapi, setengah di gerai dan setengah lagi di biarkan terikat. Bibirnya berwarna pink segar, sementara matanya yang bulat besar sungguh indah dan selalu berhasil memerangkap Mickey, setiap kali memandang ke dalam sepasang bola mata itu.


"Hei... apa kamu akan berdiri di sini dan menatapku seharian? Jangan biarkan papa dan mama menunggumu." ucap Joelin.


"Papa dan Mama? maksudmu orang tuaku? sejak kapan kamu memanggil mereka begitu? apa ini artinya istri cantikku sudah siap untuk bertemu dengan keluargaku?" serang Mickey.


"Kau terlalu banyak tanya tuan. Di sini panas, aku ingin masuk ke asrama dan bertemu Amel sekarang." jawab Joelin asal.


"Hei.. jangan mengelak sayang, jawab pertanyaan ku."


"Hai Joelin, hai Mickey." Sapa Amel yang tiba-tiba muncul. "Ah, kalian sungguh membuatku iri." ujar Amel menyaksikan pasangan di depannya ini.


"Aku sudah mengusirnya, namun dia tidak ingin pergi." gurau Joelin.


"Amel sudah datang. Amel, aku titip istriku padamu." ujar Mickey.


"Siap Mickey, kuastikan dia tidak akan lecet."

__ADS_1


"Aku akan menjemputmu." ujar Mickey.


"Jangan. Atau aku akan memarahimu." ancam Joelin.


"Okay...okay. Hubungi aku jika kamu sudah tiba di auditorium." pinta Mickey.


"Siap bos."


Setelah memberikan kecupan singkat di kening dan puncak kepala Joelin, pria itu lalu bergegas menuju area parkir di asrama, mengendarai motor andalannya menuju parkir utama kampus. Tempat keluarganya sedang menunggu.


 


\*


 


"Dimana istrimu?" ujar wanita paruh baya itu sambil memeluk Mickey. "Putraku tampan sekali."


"Dia sedang bersama teman-temannya omma."


"Wah... anakku sudah besar sekarang. Selamat ya." ujar Ayah Mickey sambil menepuk pundaknya.


"Hanya kalian berdua?" tanya Mickey.


"Adikmu tidak bisa ikut Mickey, dia sedang magang." ujar pria itu lagi.


"Gadis kecil itu sungguh berbahaya. Aku takut dia akan sukses lebih dahulu dan melangkahi karir ku." ujar Mickey


"Appa, Omma, kita ke auditorium sekarang. Sepertinya acara akan segera di mulai, Joelin juga sudah di sana." ujar Mickey sambil memeriksa ponselnya.


 


\*


 


Acara wisuda akhirnya di mulai dengan khusuk. Para keluarga duduk di kursi bagian belakang, sementara wisudawan di baris depan. Joelin dan Mickey duduk bersisian, bahkan peringkat mereka berurutan, peringkat 2 dan 3 di jurusan mereka. Kalau kalian ingin tahu ada siapa diperingkat pertama, tentu saja Mark, pria berdarah campuran Amerika-Korea itu sungguh jenius.


"Papa dan Mama mu sudah duduk di belakang." ujar Mickey pada Joelin.


"apa?" tanya Joelin, dia tidak mengingat bahwa keluarga nya dari Indonesia akan datang.


"Omma dan Appa, mertuamu." ujar Mickey santai.


"oh..." Joelin ber-oh ria sambil memutar lehernya ke arah belakang.


"Lehermu bisa patah, fokus pada acaranya saja." ujar Mickey sambil memegang lembut kepala Joelin dan memutar nya ke arah depan.


Mark mengernyit bingung menyaksikan tingkah ke dua rekannya ini. Apa dia tidak salah dengar? kenapa orang tua Mickey jadi mertua Joelin? Bukankah Mickey sudah menikah dengan Jee Na?


Sementara itu, beberapa kursi dari posisi duduk Joelin, seseorang sedang merasakan api cemburu yang mendidih hingga kepalanya.


"Ah, Mickey sungguh lancang. Bagaimana dia bisa menyentuh wajah Joelin sedekat itu? Apa dia tidak menghargai perasaan Jee Na?" sosok itu mengumpat Mickey dalam hati.


"Aku harus merebutmu." gumamnya dalam hati, kedua tangannya kini mengepal kuat.


**Pengumuman


Makasih ya teman-teman tetap setia baca. Tolong vote yang banyak. Author juga ingin mengundang kalian untuk subscribe youtube channel "Qweentie Channel" milik sahabat author

__ADS_1


Terimakasih ya


~best**~


__ADS_2