Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
S2. Hubungan


__ADS_3

"Kenapa wajahmu sangat mirip dengan nya? Padahal dia tidak peduli dengan kita nak. Tapi, walau papamu meninggalkan kita, mama janji akan melimpahi hidupmu dengan cinta.


Tanpa Amel sadari, seseorang sedang berdiri di ambang pintu dan mendengar semua penuturan sedihnya.


Pria itu memandang Amel yang tengah duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit memeluk bayi mungil dalam dekapannya. Tidak seorangpun yang melihat wajahnya saat ini dapat mendeskripsikan perasaan yang tersirat di sana. Bahkan Vino sendiri bingung dengan isi hati dan pikirannya sekarang. Baik orang tua Amel maupun orangtua nya sedang keluar untuk mengisi perut.


Setelah puas mengawasi Amel dan bayinya, Vino menyusun langkah pergi menjauh dari ruang perawatan. Di luar rumah sakit, dia berhenti sejenak lalu memutuskan untuk menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Hallo dokter" Vino memulai percakapan.


....


"Maaf mengganggu, saya butuh bantuan anda."


....


Setelah berbincang sejenak dengan sosok disebrang sana, Vino menyimpan ponselnya.


\*\*\*


Seminggu setelah kelahiran bayi tampannya, Amel kini sudah kembali ke rumah keluarga Vino. Tak lupa, setiap hari orang tua Amel menyempatkan diri untuk mengunjungi putri dan cucu mereka ke rumah sang besan. Namun saat ini, Amel hanya sendiri bersama sang bayi. Baik orang tuanya, maupun orang tua Vino tengah pergi untuk menghadiri pesta pernikahan rekan bisnis keluarga mereka.


Amel sibuk menimang sang buah hati sambil beristirahat di atas tempat tidurnya di dalam kamar. Terlihat beberapa kali pelayan keluar masuk untuk membantu Amel mengerjakan banyak hal.


Diamatinya wajah bayi yang kini terlelap dalam pelukannya. Sebuah senyum getir terukir di bibirnya yang berwarna merah muda.


"Aku tahu dia memang tidak menyukaiku. Aku bisa memaafkannya untuk itu. Tapi kamu tidak bersalah, tidak seharusnya dia membuangmu juga." ujar Amel hampir berbisik.


Cairan bening kini lolos mengukir jejak di pipi gadis itu. Buru-buru Amel segera menghapus air matanya, dia tak ingin seorang pun memergokinya menangisi nasib seperti ini.


Dengan lembut, Amel meletakkan bayi mungil itu diatas tempat tidur. Sebelum beristirahat dia mengetik sebuah pesan singkat dan dikirimkan pada seseorang di seberang sana.


"Terimakasih sudah membuangku dan membuang anakmu."


Bunyi pesan yang dikirim oleh gadis itu. Setelah memastikan pesannya terkirim, Amel memilih merebahkan tubuhnya di atas temat tidur. Dia memejamkan mata, mencoba mengusir segala keresahan dan kesedihan yang mengendap di dalam hati dan pikirannya.


\*\*\*


Joelin sedang sibuk membersihkan rumah. Walau tengah mengandung anaknya ke dua, dia tidak pernah bermalas-malasan. Terlebih lagi di hari libur seperti ini, dia akan memanfaatkan tenaga Mickey sang suami untuk merawat Lucy, sementara Joelin akan sibuk mengurus segala pekerjaan rumah.


"Sayang, jangan lupa minum air putih." Mickey yang tiba-tiba muncul menyodorkan segelas air pada sang istri yang sedang sibuk menyedot debu-debu yang menempel di ruang tamu.

__ADS_1


"Terimakasih suami." Joelin meraih gwlas yang dibawa oleh pria itu, meneguk seluruh isinya sampai habis sebelum kemudian melanjutkan aktivitasnya kembali.


"Dimana baby Lucy?" tanya Joelin tanpa menghentikan aktifitasnya.


"Dia sedang tidur sayang. Apa kamu tidak lelah? Istirahatlah barang sejenak." ujar Mickey meraih vacum cleaner dari sang istri.


"Pekerjaanku hampir selesai Mike." Joelin menolak bantuan sang suami.


Mengabaikan tolakan sang istri, Mickey tetap berusaha untuk mengoperasikan mesin penyedot debu itu.


"Baiklah, kamu selesaikan semuanya dan aku perhi mandi." Joelin menyerah dengan aksi sang suami.


Sebuah senyuman penuh kemenangan terbit di wajah Mickey. Usahanya untuk menyuruh sang istri beristirahat membuahkan hasil.


"Jangan lupa kita akan mengunjungi Amel sore ini, aku tidak sabar mendengar keseluruhan ceritanya." ujar Joelin sambil berlalu dari sana.


"Ok." Mickey menjawab singkat.


\*\*\*


Ditempat lain, Aluna menggandeng tangan Goedan dengan santai. Pasangan itu berjalan di dalam ballroom sebuah hotel yang sedang mengadakan pesta pernikahan. Mereka sedang menghadiri acara salah satu klien perusahaan. Siapapun yang berpapasan dengan mereka akan memberikan raut kagum sekaligus iri.


"Aku muak berada di tempat ini." gumam Aluna dalam hati sambil meremas lengan sang suami karena geram dengan setiap pasang mata yang menatap mereka.


"Selamat siang tuan Goedan." sepasang suami istri paruh baya mendekati mereka dengan senyuman ramah lengkap membingkai wajah keduanya.


"Selamat siang Pak Burhan, senang bisa bertemu anda di sini." jawab Goedan sekedar basa basi.


Pasangan suami istri itu menyalami Goedan dan Aluna.


"Tepat seperti gosipnya, istri anda sangat cantik. Pasangan yang sungguh serasi." puji istri dari pria paruh baya itu.


"Cih... serasi katamu? Andai aku bisa mundur kebelakang, aku tidak akan menerima menikah dengan lelaki kutub ini." jawab Aluna dalam hati, namun wajahnya tetap menyunggingkan senyum.


"Kapan kita akan pulang?" tanya Aluna setengah berbisik.


" Bukankah kamu menyukai hal-hal mewah begini?" Setengah berbisik Goedan membalas pertanyaan Aluna dengan pertanyaan sarkas.


"Aku lelah berpura-pura mesra dengan lelaki tidak berperasaan sepertimu." jawab Aluna dalam hati.


Perang dingin diantara mereka masih berlanjut, sementara para tamu pesta yang berpapasan dengan keduanya malah melihat dengan kacamata yang berbeda, terlebih saat mereka saling berbisik satu sama lain, beberapa kamera media berhasil mengabadikan momen seolah Goedan sedang mencium pipi sang istri di tengah pesta.

__ADS_1


Setelah menahan diri dan emosinya selama berjam-jam Aluna bisa bernafas lega. Sambil mengemudi, Goedan melirik diam-diam, gadis dengan balutan dress cream yang kini duduk di sebelahnya.


"Kenapa begitu susah memahami dia?" tanya Goedan dalam hati.


"Dia bahkan tidak sudi mengobrol denganku. Dasar pria tak punya hati." Aluna mengumpat dalam hati.


\*\*\*


Ditempat lain, Doni sedang meneguk minuman keras sambil mengacak rambutnya berkali-kali. Kamarnya yang berantakan menambah suram yang membingkai wajah pria itu.


"Si*lan... Bagaimana mungkin bayi itu bukan anak Mickey?" dia menggeram kesal.


"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SIAPAPUN MEMILIKIMU." Doni berteriak meluapkan kemarahannya.


Sebuah senyum licik terukir di wajah lelaki itu, dengan bersegera dia bangkit dan membersihkan diri. Lalu mendandani dirinya seperti biasanya.


"Sekarang waktunya mencari uang Doni, uang bisa membeli segalanya, termasuk cinta." gumamnya sambil tersenyum memandang pantulan bayangan di cermin lalu memoles lipstik di bibirnya.


"Hi Dona, apa kau siap menghasilkan uang sekarang darling?" tanya Doni pada bayangan di cermin itu sekali lagi sebelum akhirnya dia tersenyum penuh arti.


\*\*\*


"Kau siap berangkat baby? kita akan mengunjungi pangeran tampan hari ini." ujar Mickey sambil menciumi baby Lucy yang sudah rapi dan wangi.


"aaa..haaa..aaaa.. haha..." tawa kecil mendarat dari bibir mungil Lucy.


"Kalian asik sekali berduaan? Mommy sampai cemburu." Joelin yang tengah menyisir rambutnya protes pada ayah dan anak itu.


"Mommy mu cemburu padamu sayang." goda Mickey.


"Dia juga perempuan lain Mickey." canda Joelin.


"Yayayaaya... Hahahaha..." tawa Mickey akhirnya memenuhi kamar menyadari kecemburuan sang istri.


Semenjak menikahi Joelin, banyak hal tentang hubungan dan kepercayaan terhadap pasangan yang sudah mendidik Mickey. Dia berharap hal yang sama juga dialami oleh orang-orang disekitarnya. Lika liku hidup selalu berhubungan erat dengan proses pendidikan kehidupan, termasuk masalah-masalah yang hadir di dalamnya.


\*\*\*


Joelin menyapa,


Hello Readers, keluarga Joelin dan kawan-kawan akan update setiap hari. Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan vote untuk mendukung dan menyemangati author.

__ADS_1


Thanks..


🌹🌹🌹...to be continued...🌹🌹🌹


__ADS_2