Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Teka Teki


__ADS_3

"Dari mana kak Vino tahu semua ini?" tanya Joelin penasaran.


Gadis itu mengeluarkan satu persatu isi kotak pemberian Vino. Plate water colour 48 warna dan sebuah sketchbook. Joelin menggelengkan kepalanya, sungguh dia tidak habis pikir bagaimana Vino bisa memberi benda ini padanya. Gadis itu merasa dia belum pernah bercerita pada siapapun mengenai hobby melukisnya.


"Paling juga kebetulan doang kan?" gumam Joelin sambil menyimpan benda-benda itu.


Beberapa menit kemudian Amel keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar. Kini giliran Joelin yang berniat mandi.


"Joe, udah buka kadonya?" tanya Amel penasaran.


"Udah tuh." ujar Joelin sambil menggangguk memberi penegasan.


"Dapat apa loe?" selidik Amel kepo.


"Apa ya...?" jawab Joelin bercanda sambil memutar bola matanya.


"Nggak imut tau nggak sih." protes Amel.


"Marah mulu luh Mel, nggak takut mendadak jadi tua tuh wajah?" canda Joelin.


"Lagian loe juga, ditanya serius jawabnya bercanda mulu." curhat Amel.


"Dia ngasih seperangkat alat gambar." jawab Joelin santai.


"What!? emang loe bisa melukis?" tanya Amel semakin curiga.


"Cuman suka." ujar Joelin.


"Terus si Vino kok bisa tahu? Gua aja baru tahu kalau loe suka melukis. Jangan-jangan kalian?" tanya Amel curiga sambil menakutkan kedua jari telunjuknya.


"Jangan mikir macem-macem. Gue mandi dulu." Jawab Joelin sambil masuk ke kamar mandi menyisakan Amel yang semakin berpikiran macem-macem.


"Apa jangan-jangan Joelin dan Vino ada apa-apanya?" gumam Amel curiga.

__ADS_1


Joelin yang sedang di kamar mandi, langsung membersihkan dirinya. Tentu saja dia sudah mengambil kesimpulan bahwa hadiah itu hanya kebetulan. Joelin bahkan tidak tahu betapa hebohnya Amel sekarang. Amel sedang asik berbicara sendiri, menyuarakan praduga-praduga yang melintas di kepala nya perihal Joelin dan Vino.


"Joelin kan selalu sibuk di lab. Joelin jarang gabung sama kita-kita. Wait.. wait... wait.. beberapa hari lalu Vino juga pernah bayarin cemilan Joelin yang gua belanjain kan? Ini pasti mereka ada apa-apanya nih. Gua mencium aroma-aroma hubungan yang dirahasiakan. Awas aja loe Joe, berani main rahasia-rahasiaan sama gue, gue cerain loe dari kamar." omel Amel sendirian.


"Ha? siapa yang cerai Mel? idola loe?" tanya Joelin yang baru keluar dari kamar mandi. Joelin bingung mendengar kalimat terakhir omelan Amel.


"Nggak, udah ah. Jangan berisik, gua mau belajar." Jawabnya menghindar.


Joelin yang merasa tidak memiliki masalah apa-apa dengan Amel memilih untuk mengabaikannya. Seusai mandi Joelin juga memutuskan untuk kembali membaca beberapa topik yang akan dibahas di kelas keesokan hari. Sementara itu, Amel hanya berkamuflase sedang membaca jurnal di meja belajarnya. Sesungguhnya gadis itu sedang menyusun rencana untuk menjawab teka teki hubungan Joelin dan Vino.


\*\*\*


Lelaki tampan dengan tubuh atletis itu menggoes sepedanya masuk ke area parkiran asrama. Penampilannya yang casual dan pembawaannya yang santai memberikan kesan cool. Selain itu sikapnya yang ramah dan mudah tersenyum membuat banyak gadis tergila-gila padanya. Bukan hanya ketika pria itu tinggal di Indonesia, bahkan di negara ini dia berhasil memikat hati gadis-gadis lokal.


Setelah memarkirkan sepeda, pria itu langsung masuk ke gedung asrama menuju ke kamar 104 di lantai 2. Sebenarnya harta yang dia miliki tidaklah kurang untuk membeli sebuah rumah di area kampus dan juga mobil mewah untuk mempermudah hidupnya. Namun dengan alasan ingin menikmati hidup sebagai orang biasa, pria itu berhasil meyakinkan orangtuanya untuk mengijinkannya tinggal di negara ini tanpa fasilitas mewah itu. Begitulah Vino, selain tampan pria itu juga cerdas dan low profile. Tentu saja dia merahasiakan statusnya sebagai anak dari kalangan atas di Indonesia.


Vino yang baru masuk kamar langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, seusai meletakkan dompet dan ponselnya di meja belajar ruangan itu. Selepas mandi pria itu memutuskan untuk bersantai sejenak. Namun tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari nomor yang akrab dengannya.


"Hi Vin. Gimana udah ada kemajuan tentang Joelin?" tanya Geodan dari seberang sana.


"Belum ada bro, gua masih usaha nih. Sabar ya, ntar kalau ada info terbaru langsung gua kabarin deh." jawabnya kemudian.


"I see. Gue percayakan masalah ini sama loe Vin. Makasih banyak ya bro." ujar Geodan tulus.


"Never mind. Gue senang bisa membantu loe Dan."


"Vin, btw loe ada rencana pulang ke Indonesia?" tanya Goedan kemudian.


"Loh? liburan gue baru kelar bro. Lagian ada apa dengan pulang ke Indonesia?" tanya Vino.


"Nggak apa-apa sih. Kali aja loe pengen cuti." jawab Goedan polos.


"Bilang aja loe lagi gugup tentang si Joelin. Makanya loe sampai nggak fokus gini kan ngomong sama gue." Vino tersenyum menyadari ternyata sahabat kecilnya bisa berubah begini hanya karena perempuan yang ditaksirnya.

__ADS_1


"Ah.. loe mah, kayak nggak pernah jatuh cinta aja." jawab Geodan malu.


Kedua lelaki itu akhirnya sibuk bercanda hingga mereka memutuskan untuk mengakhiri sambungan telepon satu sama lain.


"Joelin, sebenarnya loe siapa? Bagaimana loe bisa meluluhkan hati seorang Goedan?" gumam Vino.


"Siapapun loe, gue harus memecahkan teka-teki itu." tambahnya lagi sambil tersenyum licik dan kembali fokus dengan ponselnya untuk menghubungi sebuah nomor. Lalu saat panggilan itu terhubung Vino asik bercakap-cakap dengan sang penerima telepon. Wajahnya terlihat serius.


Setelah mengakhiri panggilannya, Vino menghempaskan tubuh di ranjang. Dia memilih memejamkan matanya dan beristirahat. Namun entah bagaimana awalnya, banyak hal tentang Joelin kini di dalam kepalanya.


"ahh... shit!! kenapa gue jadi mikirin cewek itu?" umpatnya kesal sambil beranjak dari tempat tidurnya.


Kini pria itu sedang duduk santai pada sebuah kursi yang menghadap ke arah kaca jendela di kamarnya. Sambil menikmati secangkir kopi dan sinar lampu yang menerangi jalan sepanjang asrama di luar sana.


"Nggak, gue nggak boleh tertarik sama dia." ujarnya lirih sambil menyeruput kembali kopi itu.


\*\*\*


Malam semakin larut membawa banyak insan larut di dalam mimpi. Namun berbeda halnya dengan kamar Mickey. Pria itu belum tidur juga, padahal waktu sudah lewat tengah malam. Seperti kesetanan dia sibuk menikmati tubuh gadis yang kini ada di dalam dekapannya. Siapa lagi kalau bukan Jee Na, yang sedang menikmati kemenangannya dengan hati yang sangat bahagia.


"Joelin?" ucap Mickey diantara kegilaannya itu.


"Ha? Joelin? kau anggap apa aku?" umpat Jee Na dalam hati.


"Mickey." panggil Jee Na berjuang menyadarkan pria itu bahwa wanita yang kini bersamanya bukan Joelin.


"Kenapa Jee Na? kenapa bukan Joelin? Kenapa harus memikirkan Joelin sekarang?" gumam Mickey dalam hatinya yang gusar.


Mickey ingin berhenti menyentuh Jee Na, namun entah setan apa yang merasuki tubuhnya sekarang. Tubuh itu seakan tidak singkron dengan pikirannya. Tubuh yang memberontak dari kemauannya.


"Apa sesungguhnya aku memang mencintaimu?" batin Mickey sambil memandang wajah Jee Na.


"Ah, sudahlah. untuk apa terus berpikir begini? lagipula, denganmulah aku mengikat hubungan. Bukan dengannya." gumamnya lagi mencoba menerima kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2