Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Merasa Bersalah


__ADS_3

"Mana mungkin bayi sekecil Lucy paham mesum-mesuman? Apa tadi? Melindungi dari pencemaran? Istriku ini memang menggemaskan." Mickey berkata dalam hati sambil menikmati pemandangan di hadapannya. Bukan pasangan yang sedang bermesraan tadi, pemandangan yang dinikmati Mickey adalah wajah khawatir Joelin yang kini sedang sibuk melindungi mata Lucy dari pencemaran.


Setelah menghabiskan dua minggu penuh di Korea, keluarga Joelin kembali ketanah air membawa kebahagiaan yang merekah di dalam hati.


\*\*\*


Mickey bergelung pelan di bawah selimut sambil menggerakkan tangannya untuk meraih tubuh sang istri. Menyadari bahwa Joelin tidak sedang tidur bersamanya, pria itu segera membuka mata membiarkan cahaya di kamar menembus ke dalam retinanya.


"Hoeeeek... Hoeeeek." Pria itu mengeryit mendengar suara yang berasal dari arah kamar mandi.


Dengan gerakan spontan Mickey bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju sumber suara.


"Joe, kamu baik-baik aja?" tanya Mickey sambil menepuk punggung sang istri pelan. Wajahnya menyiratkan rasa khawatir.


Joelin belum dapat merespon, wanita itu masih berjuang memuntahkan semua isi perutnya.


"Oeeek... oeeek.." Terdengar bayi Lucy yang tiba-tiba menangis, mungkin terganggu karena kegaduhan kedua orangtuanya itu.


"Ka...mu.. hoeeek... kamu lihat Lucy... Hooooek..." Joelin berusaha mengingatkan Mickey bahwa Lucy sedang menangis.


Seperti tak punya pilihan lain, Mickey bergegas mendekati sang bayi. Pria itu menggendong Lucy dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Selang beberapa menit kemudian, Joelin keluar dari kamar mandi. Lucy masih rewel di dalam pelukan sang ayah.


"Kamu kenapa? Sudah baikan?" tanya Mickey pada Joelin yang kini duduk lemas di salah satu sisi tempat tidur.


Joelin menggeleng lemas, perutnya terasa tidak nyaman sementara kepalanya begitu pusing.


"Sayang, apa kamu sakit?" Mickey mendekati Joelin, meraba dahi wanita itu sambil menimang sang putri.


"Kamu nggak demam." Mickey menjawab sendiri pertanyaannya.


"Mickey, aku curiga. Sepertinya aku hamil." ujar Joelin yang tiba-tiba ingat bahwa siklus bulanannya terlambat beberapa hari.


"Kita cek ya sayang." jawab Mickey.


"Mickey, gimana kalau aku hamil? Bagaimana dengan Lucy? Dia masih sangat kecil. Aku merasa bersalah pada Lucy." Joelin berkata sedih.


Mickey mengedarkan pandangannya pada jam di kamar itu. Masih pukul 4 dini hari dan mereka sekeluarga terbangun sangat cepat pagi ini.


"Kita periksa dulu. Kamu punya testpek di rumah?" tanya Mickey dengan tenang.


Joelin mengangguk, dan langsung bergegas mengikuti saran sang suami. Wanita itu langsung bergegas ke kamar mandi sambil membawa alat uji kehamilan di tangannya.


"Tuhan, please jangan hamil. Kasihan Lucy, aku merasa tidak bisa jadi ibu yang mengasuhnya dengan baik jika aku hamil sekarang." Joelin berdoa dalam hati sambil mencelupkan benda itu kedalam urine nya.

__ADS_1


Selang beberapa detik, Joelin terpaku membisu di kamar mandi, menyaksikan dua garis merah kini muncul pada benda kecil yang dia genggam. Artinya dia hamil, sementara usia Lucy masih memasuki bulan ke lima.


"Sayang, gimana hasilnya?" tanya Mickey yang kini muncul di ambang pintu. Terlihat pria itu tidak lagi menggendong sang putri.


"Mana Lucy?" tanya Joelin.


"Di box bayi."


"Dia sudah tidur?" tanya Joelin dengan tatapan sedih. Dia sungguh sedang dilema saat ini.


"Dia hanya bermain. Kamu kenapa? Wajahmu kenapa sedih begini? Bagaimana hasilnya?" tanya Mickey yang menyadari raut sedih sang istri.


Mickey bergerak mendekati Joelin yang berdiri membisu di kamar mandi. Tanpa berbicara banyak pria itu meraih respek ditangan Joelin.


"Syukurlah.. Kamu hamil lagi. Tapi kenapa kamu sedih begini sayang?" tanya Mickey sambil mengawasi wajah sang istri.


"Mickey, aku tidak yakin bisa mempertahankan bayi ini." Joelin berkata lemah.


"Kenapa?" suara Mickey sedikit meninggi.


"Apa maksud kamu Joe? Jangan bicara begitu untuk nyawa yang berharga." Mickey berusaha menstabilkan emosinya sambil memohon pengertian sang istri dalam hati.


"Aku... aku merasa bersalah pada Lucy." Joelin terisak di hadapan Mickey membuat pria itu menyesali nada suaranya yang sempat meninggi.


"Karena saat aku hami, perhatianku pada Lucy akan berkurang. Cintaku padanya akan berkurang saat bayi ini lahir." jawab Joelin sedih.


"Apa cintamu padaku berkurang sejak Lucy lahir?" tanya Mickey sambil memandang lembut ke dalam manik mata sang istri.


Joelin membalas tatapan Mickey dan menggeleng pelan.


"Aku bahkan semakin mencintai mu setiap waktu." lirih Joelin menjawab di dalam hati.


"Ayuk kita kembali kekamar. Berbicara di sini kurang romantis." canda Mickey berusaha menghibur sang istri.


Mickey menggandeng tangan Joelin kembali ke kamar mereka. Keduanya lalu duduk berhadapan di tempat tidur setelah Mickey memangku Lucy.


"Coba kamu lihat kami berdua, apakah setiap kali kamu harus bersamaku cintamu pada Lucy berkurang?"


"Tidak."


"Sama seperti perasaanmu untukku dan Lucy, bahkan jika kita punya sepuluh anak, kamu akan tetap punya cukup cinta untuk mereka. Jangan takut." Mickey berusaha menenangkan Joelin.


"Kamu yakin, aku tetap jadi mommy yang baik untuk Lucy?" tanya Joelin pelan.


"Bukan hanya untuk Lucy, tapi juga untuk anak-anak kita yang lainnya."

__ADS_1


"Terimakasih sayang." Joelin segera memeluk sang suami.


"Hari ini kita kedokter ya. Jangan pernah berpikir macem-macem. Kita pasti sanggup merawat anak-anak. Mereka tidak akan kekurangan cinta." Mickey mengelus lembut punggung istrinya.


"hmmmmm...aaa...hehehe.. aaaaaakk..." Lucy ikut bergumam-gumam sambil kedua tangannya bergerak menggapai-gapai di udara.


"Lucy sayang, sini sama Mommy." Joelin meraih Lucy dari sang suami.


Hari ini Mickey membawa Joelin ke dokter sesuai janjinya pada sang istri. Setelah proses pemeriksaan, akhirnya mereka tahu bahwa usia kandungan Joelin masih di minggu ke empat.


Sepulang dari kantor, Mickey langsung siaga membantu Joelin dengan kesibukan di rumah. Saat semua pekerjaan rumah rapi, keluarga itu bersantai sambil menonton TV di ruang keluarga.


"Sayang, kamu sudah ada tanda-tanda ngidam belum?" Mickey yang tiba-tiba teringat acara ngidam saat hamil pada Lucy bertanya serius.


"Belum ada." jawab Joelin santai.


"Kamu masih mual?" tanya Mickey lagi.


"Hanya tadi pagi. Selebihnya aku bisa menikmati makananku dan aktifitas ku dengan baik sepanjang hari." jawab Joelin sambil mengelus kepala Lucy yang sudah mulai di serang ngantuk.


"Semoga ngidamnya nggak aneh-aneh dan mualnya nggak terlalu parah." Mickey berdoa dalam hati.


\*\*\*


Mickey merasa tidak nyaman dalam tidurnya, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang menggelitik perut pria itu. Setelah bergelung beberapa kali di atas ranjanggnya, pria itu berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


Joelin terusik mendengar kebisingan di kamar mandi. Setelah membuka mata, wanita itu menyadari bahwa sekarang masih pukul 3 dini hari.


"Mickey, kamu sakit?" tanya Joelin yang kini berdiri di pintu kamar mandi.


Karena tidak mendapat respon dari suaminya, Joelin memutuskan menyiapkan teh jahe hangat untuk suaminya itu.


"Kamu udah merasa lebih nyaman? Ini aku buatin teh jahe." Joelin menghampiri Mickey yang tergeletak lemas di atas ranjang.


Tanpa berkomentar Mickey langsung meraih gelas di tangan Joelin. Setelah menghabiskan minumanya, Mickey langsung memeluk tubuh Joelin mencari kenyamanan di sana.


...to be continued...


**Author POV


Makasih sudah membaca, jangan lupa like dan vote yang banyak ya guys.


thankyou


-best**-

__ADS_1


__ADS_2