Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Aku Memilihmu


__ADS_3

Pagar besi terbuka sedikit, dari dalam menyembul sebuah kepala, di susul oleh tubuh yang terlihat kurus dan ringkih. Salah satu tangannya menenteng kantong plastik. Dengan langkah panjang Mickey menghampiri sosok itu dan segera memeluknya erat, sebelum air matanya tumpah.


\*\*\*


Joelin melangkah santai keluar dari kamarnya, sambil membawa kantong plastik berisi sampah yang akan dia buang. Dengan gerakan hati-hatis tangan Joelin bergerak membuka pagar rumah itu. Dalam hitungan detik pintu terbuka, matanya berkabur dan terasa pedih melihat pemandangan di hadapannya. Sosok yang selama ini dia rindukan kini tengah berdiri tepat dihadapannya. Tanpa kata, pria itu mendekat dan langsung membawanya kedalam pelukan. Joelin menumahkan segenap emosinya, dia menangis sejadi-jadinya.


"Hei, jangan menangis.." Mickey mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Kau juga menangis." protes Joelin.


"Aku tidak menangis."


"Dasar pembohong."


"Apa ini?" tanya Mickey menyentuh plastik yang di bawa Joelin tanpa melepas dek apa nya.


"Sampah."


"Buang dulu sayang. Kamu jorok banget sih."


"Loh, kan kamu yang main peluk-peluk duluan."


"Ah, baiklah. Aku yang salah. Tapi maaf aku masih ingin memeluk istriku ini."


"Sttt... lepasin Mickey. Nggak sopan peluk-peluk di pinggir jalan." Ujar Joelin sambil mencubit gemas pinggang Mickey dengan salah satu tangannya yang kini sedang bebas.


"awwww... sayang, kamu ini." geram Mickey menahan sakit.


Pria itu lalu melonggarkan pelukannya, setelah mengecup puncak kepala Joelin akhirnya dia melepaskan wanita itu. Keduanya masih berurai air mata, walau sejak tadi mereka berusaha bercanda. Dengan gerakan lembut, Mickey mengusap air mata di pipi Joelin.


Setelah membuang kantong plastik yang dibawanya ke tong sampah yang terletak di ujung gerbang, Joelin langsung menarik tangan Mickey dan membawanya masuk ke gedung itu.


Mickey mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang kini ditempati Joelin dari ambang pintu.


"Apa kau tidak akan masuk?" tanya Joelin yang sudah duduk di atas ranjangnya.


"Aku... aku... aku mohon maafkan aku Joelin." ujar Mickey terbata, matanya kembali terasa panas.


"Kemarilah." ujar Joelin dengan suara bergetar karena sedang menahan tangisnya.


Mickey melangkah lemas dan langsung duduk di sisi Joelin.


"Aku..." mereka bicara bersamaan.


"Kamu.." keduanya kembali berujar sama-sama.

__ADS_1


Mickey dan Joelin akhirnya saling bungkam dan menatap satu sama lain. Mickey lalu menggerakkan tangan kanannya, menggenggam tangan Joelin yang kini duduk di sebelahnya.


"Kamu bisa mengatakannya duluan." ujar Mickey lembut.


Joelin membalas genggaman Mickey, hatinya terasa sakit mengingat semua kejadian di pertemuan terakhir mereka. Joelin menarik nafas dalam, berusaha mengisi paru-parunya yang kini sangat sesak. Dia sangat merindukan Mickey, namun Joelin juga takut jika kebenaran yang Mickey bawa saat ini akan lebih menyakitinya.


"Kenapa diam sayang? Apa kamu tidak merindukanmu? Aku, aku sangat rindu padamu." ujar Mickey dengan suara bergetar sambil terus menahan air matanya.


"Aku... aku takut" jawab Joelin dan tangisnya pun pecah.


"Takut apa sayang?" Mickey langsung memeluk wanita itu.


"Aku.... hiks.. Mickey.... aku... aku takut kamu akan membuangku. Aku belum berkenalan dengan keluargamu, kita juga belum mendaftarkan pernikahan kita, aku takut semuanya akan berakhir setelah ini." isak Joelin.


"Hei... apa yang kamu bicarakan sayang?" Mickey segera melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Joelin. Dibiarkan tangan kanannya menyentuh bahu wanita itu, hingga pandangan mereka beradu.


"Joelin, apa aku terlihat seperti pria yang akan membuangmu begitu saja? Aku berani mengejar mu sampai kerumah dan memintamu pada orangtuamu, aku juga mengejarmu sampai ke sini. Tempat asing yang tidak pernah kudatangi sebelumnya. Apa aku masih terlihat seperti orang yang akan membuangmu?" Tanya Mickey sambil menatap kedalam inti mata Joelin dengan lembut.


Joelin membisu. Kepalanya di penuhi banyak pertanyaan dan banyak keraguan. Ada keteduhan yang dia lihat di mata suaminya itu.


"Sayang, bicaralah." ujar Mickey.


"Lalu, Jee Na...?" tanya Joelin tercekat.


"Maaf sayang, maaf...." tangis Mickey pecah seketika. Dia lalu mendekap Joelin erat, tatapan Joelin menyiratkan luka yang dalam, sesuatu yang membuatnya merasa sangat bersalah dan terluka.


"Dia hanya masa lalu, kumohon percayalah padaku Joelin." mohon Mickey di sela isakannya.


Joelin membisu bersama air matanya yang tak kunjung berhenti.


"Apa... Aku harus percaya apa?" tanya Joelin lirih.


"Video itu, ah... aku benci mengingatnya. Aku merasa jadi ******** brengsek." racau Mickey.


Joelin masih tetap membisu, dia menunggu apa yang akan Mickey utarakan. Walau hatinya tak siap untuk kehilangan Mickey, namun kebenaran tetaplah kebenaran, dan Joelin harus menghadapinya.


"Jelaskanlah Mickey." ujar Joelin lirih.


"Sebelum aku memulai hubungan kita, dia selalu mengejar ku. Sampai suatu hari aku terbangun dan Jee Na ada di samping ku. Dan video itu, kenangan tentang kejadian di video itu, aku mengingatnya samar-samar saat aku terbangun. Jee Na terus memintaku jadi kekasihnya, karena merasa bersalah aku menerimanya." ujar Mickey.


Joelin menunduk sambil memandang kedua tangannya yang kini di genggam oleh suaminya itu.


"Tapi akhirnya aku sadar, aku tak boleh membohongi Jee Na. Sampai kapanpun aku tak bisa mencintainya. Lalu aku memutuskannya. Saat kita memulai hubungan kita, kami sudah putus." ujar Mickey pelan.


Ruangan itu kembali hening, hanya suara isak yang sesekali terdengar.

__ADS_1


"Tapi... Kenapa kamu melakukan hal seperti itu dengannya?" tanya Joelin memecah keheningan.


"Sayang, aku sudah memberitahukannya padamu. Maaf, itu semua adalah kesalahan ku di masa lalu. Karena aku gagal menjaga diriku, kamu jadi ikut menanggung semua keadaan ini." ujar Mickey lirih.


Joelin kembali diam dan mencerna kata-kata Mickey barusan. Wanita itu tiba-tiba ingat satu hal.


"Masih ada satu perempuan lagi." ujar Joelin dengan wajah cemberut.


"ha?" tanya Mickey bingung.


"Kamu pernah bilang, ada dua perempuan yang tidur denganmu sebelum aku jadi istrimu. Jee Na sudah datang, akankah perempuan yang lain datang juga?" tanya Joelin polos, sambil menatap suaminya dengan puppy eyes versi sembab.


"Ya ampun, istriku ini menggemaskan sekali. Kalaupun dia datang, aku hanya akan memilih istriku. Jika sejak awal aku ingin memilih mereka, tentu saja aku menikah dengan mereka bukan denganmu." jawab Mickey gemas sambil memencet hidung Joelin yang sedang pilek karena nangis.


"Jorok tahu. Kamu ini apa-apaan sih?" tanya Joelin merajuk.


"Udahan yok nangis-nangisnya. Aku nggak kuat melihatmu menangis seperti ini." ujar Mickey lembut sambil memeluk Joelin kembali.


"Jadi kita akan terus bersama?" tanya Joelin lirih.


"Tentu saja. Aku nggak bisa hidup kalau nggak ada kamu. Tiga bulan tanpa kamu rasanya sungguh menyiksa sayang, aku tidak akan selamat jika kejadian serupa terulang."


"Terimakasih Mickey. Aku juga ingin memberitahu sesuatu padamu."


"Apa sayang"


Jeolin hanya diam, namun tangannya bergerak meraih salah satu tangan Mickey. Sadar akan pergerakan Joelin, pria itu langsung melepas pelukannya. Dengan gerakan lembut, Joelin menuntun tangan Mickey keperutnya.


"Ingin menyapanya?" tanya Joelin.


"Tentu saja. Hi baby, apa kabar? Kamu nggak nakal kan selama appa nggak di sini?"


"Kamu sudah membuka kado nya? kapan?" tanya Joelin pelan.


"Tentu saja sudah. Tiga bulan lalu. Terimakasih sudah menjaga dia."


Joelin mengangguk pelan, sebuah senyum terbit di wajahnya.


**Pengumuman


Hi semua, akhirnya Mickey dan Joelin rujuk nih. Gimana gimana? hehehe...


jangan lupa vote, like dan komen yang banyak ya.


thankyou

__ADS_1


-best**-


__ADS_2