
"Aku bisa melihatmu membuka mata dan tertawa lagi, terimakasih sudah bertahan sayang." bisik Mickey dalam hati sambil menikmati tawa wanita yang dicintainya itu.
\*\*\*
Lee Ae-Ri, demikian putri mereka akhirnya diberi nama, setelah drama yang cukup panjang. Kini Joelin sudah diperbolehkan kembali ke rumah, berbagai hadiah dan ucapan selamat dari rekan kerja Mickey dan keluarga mereka telah mereka terima. Seolah hidup sedang memberkahi keluarga itu dengan kebaikan yang tidak akan berhenti.
"Ae-Ri, jadilah beruntung dan berprestasi seperti namamu." Joelin menimang gadis kecilnya.
"Kita boleh memanggilnya Lucy.. dari kata Lucky." Mickey berujar sambil merapikan kamar mereka.
"Ok. aku setuju." Joelin tersenyum hangat.
\*\*\*
Lucy sudah berusia tiga bulan, drama mengurus bayi kini telah menjadi keseharian pasangan Mickey dan Joelin.
"Lucy, berhenti menangis." ujar Mickey sedikit frustasi sedangkan Joelin sedang sibuk di kamar mandi karena ritual bulanan nya.
"oekkkk.... oekkk..."
"cup...cup... sayang jangan menangis." Mickey mendekap Lucy di dadanya.
"Lucy... apa kau buang air? oh... bau sekali..." keluh Mickey sambil meletakkan kembali rubuh mungil gadis itu di tempat tidur.
"Sayang.. cepatlah sedikit, Lucy sedang pup." panggil Mickey berteriak ke arah kamar mandi.
"Sebentar Mike."
"Sayang dia sangat bau." keluh Mickey lagi.
"Kau bisa membersihkannya sayang." ujar Joelin.
"astaga Joelin ino bau sekali" protes Mickey dalam hati. Selama tiga bulan ini, Joelin lah yang mengganti diapers dan membersihkan kotoran bayinya.
Jadi bisa dikatakan bahwa ini adalah pengalaman pertama Mickey.
"Ae Ri aaa... kenapa kau harus pup sekarang? ingin balas dendam pada appa?"
"mmmm...hmmm..." sang bayi hanya bergumam-gumam tidak jelas.
Mickey bergegas membersihkan Ae-Ri, dengan gerakan canggung dan hati-hati.
"Jika kau berani pup saat bersama appa lagi, appa akan menghukum mu, bayi kecil." ancam pria itu.
"Hei, jangan mengancam anakku." protes Joelin yang baru keluar dari kamar mandi.
"Merepotkan sekali." protes Mickey sambil memakaikan kembali pakaian Ae-Ri.
Joelin menatap dingin pada suaminya. Ada rasa kesal untuk keluhan Mickey yang tidak masuk akal tadi.
__ADS_1
"Apa salahnya membersihkan kotoran Lucy? Tunggu saja, aku akan memberi pelajaran padamu nanti." omel Joelin dalam hati sebelum menggendong putrinya dan berlalu dari sana.
"Sayang..." panggil Mickey.
"......" Joelin memilih bergegas menuju ruang tamu dan mengabaikan Mickey.
"Dia marah. Aduh bagaimana ini? Ae-Ri, kau harus menolong appa. Okay?" gumam Mickey dalam hati sambil mengekor Joelin.
\*\*\*
Joelin masih mogok bicara pada Mickey. Sementara pria itu sudah menunjukkan aksi membujuk sepanjang hari.
"Aaaaaa... kepalaku sakit sekali. Bagaimana lagi cara membujuk dia? Aku kehabisan akal. Sebenarnya apa salahku?" tanya Mickey dalam hati.
"Sabar Lucy, pelan-pelan." ringis Joelin yang sedang menyusui bayi kecil itu.
"Akhirnya dia bersuara." batin Mickey.
"Sayang, apa aku boleh menggendong Lucy?" tanya Mickey pada Joelin.
"Tidak perlu." menjawab ketus.
"Sayang, aku juga merindukan Lucy, kalian sudah bersama sepanjang hari. Kamu tidak lelah?"
"Kau bahkan mengancam putriku hanya karena dia pup saat bersamamu. Ayah seperti apa yang akan bersikap begitu?" Joelin bertanya dingin.
"Jadi itu masalahnya?"
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya bercanda dengan Lucy. Iya kan Lucy." Mickey mencoba mencari pembelaan.
"Bercanda apaan? Omong kosong apa itu? Bayi tiga bulan tidak paham arti bercanda Mike."
"Sayang, maaf... aku salah. ini pengalaman pertamaku menjaga dia sendirian, biasanya kamu selalu ada di sana. Aku tidak mengira akan sesusah itu. Lucy, maafkan appa ya." pria itu memohon dengan tulus.
"Aku akan memaafkanmu, jika kamu memperlakukan Lucy dengan lebih baik." jawab Joelin. Jujur sejak tadi siang dia sedang menahan diri untuk tidak bicara pada Mickey, dia hanya ingin suaminya itu bersikap lebih dewasa.
"Terimakasih sayang." Menghambur memeluk tubuh Joelin.
Sejak saat itu, Mickey berubah menjadi super daddy yang selalu ada di sana untuk Ae-Ri. Sering Joelin hanya bisa menggeleng gemas karena sikap over protektif pria itu pada putrinya.
\*\*\*
Mickey, Joelin dan Lucy kini tiba di salah satu bandara internasional di korea. Dua hari lagi mereka akan mengadakan resepsi pernikahan dengan budaya korea. Baik Mickey maupun Joelin sangat bahagia bisa kembali ke tempat yang penuh kenangan bagi mereka. Namun walau sangat bahagia, Joelin tetap tidak bisa menutupi sebersit rasa khawatir yang kini mengusik hatinya.
"Sayang, kenapa wajahmu begitu cemas?" tanya Mickey saat mereka sudah di dalam taksi.
"Aku hanya mengkhawatirkan Lucy, dia pasti sangat lelah. Dia masih tiga bulan dan kita membawanya terbang sejauh ini." gumam Joelin pelan. Namun sesungguhnya bukan hanya itu yang mengganggu pikirannya.
"Kamu yakin hanya memikirkan Lucy? Sayang, jika kamu cemas karena wanita itu, jangan khawatir. Mark sudah membereskannya." Mengecup sayang puncak kepala istrinya yang kini mendekap Lucy.
__ADS_1
"Apa Mark sehebat itu?" tanya Joelin menatap Mickey dengan pandangan tidak percaya.
"Kau tidak tahu? Tunangan Mark adalah putri tunggal orang nomor satu di korea." jawab Mickey santai.
Joelin mengangguk tanda mengerti. Rasa cemas yang tadi mengintip hatinya seketika menguap ke udara. Namun tiba-tiba sesuatu kembali mengganggu pikiran Joelin.
"Sayang, sudah dapat balasan dari Mark?" tanya Joelin akhirnya.
"Belum sayang."
"Apa mungkin pria yang kita lihat di TV beberapa bulan lalu hanya seseorang yang mirip Mark? Kalau dia Mark, tidak mungkin dia bersama wanita lain kan? Atau apakah orang nomor satu di sini memiliki darah Indonesia?" tanya Joelin beruntun.
"Tania, gadis itu asli korea sayang." ujar Mickey menyebut nama tunangan Mark.
"Apa aku bisa mencari tentang gadis itu di google?" Joelin bertanya karena penasaran.
"Kau bisa mencobanya. Tapi aku tidak yakin akan ada petunjuk. Keluarganya melindungi privasi mereka."
"Kau benar." jawab Joelin yang menatap ponselnya dengan wajah kecewa. Tepat di saat bersamaan mereka sudah tiba di rumah orangtua Mickey, membuat pasangan itu lupa akan percakapan mereka tadi.
"Cucuku.." seorang wanita menyambut kedatangan keluarga Mickey. Dia adalah Ibu pria Mickey.
\*\*\*
Suasana di ruang tamu, rumah orangtua Mickey sangat hangat. Joelin dan Lucy di sambut dengan tangan terbuka. Mereka sedang bercanda dan tertawa renyah. Sampai akhirnya ponsel Joelin berdering, dan wanita itu undur diri untuk memeriksa ponselnya, ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari orangtuanya. Setelah memberi kabar pada ayah dan ibunya, Joelin kembali memeriksa layar ponselnya.
"Ada oesan dari Doni?" ucap Joelin pelan.
"Sayang, ada apa?" tanya Mickey tiba-tiba sebelum Joelin membuka pesan Doni.
"Oh, aku mengabari keluargaku bahwa kita sudah sampai sejak pagi tadi." jawab Joelin sambil mengikuti langkah Mickey kembali ke ruang keluarga.
Tanpa sengaja tangannya sempat menyentuh tombol baca di layar ponsel. Namun gadis itu tidak sempat membaca pesan yang dikirim oleh Doni.
Pesan dari Doni
"Joe, Loe nggak berniat berbagi suami dengan siapapun kan? Gue kirim foto ini karena loe teman gue."
beberapa foto terlampir di pesan itu.
Di tempat lain, Doni tersenyum puas saat melihat pesan yang dia kirim sudah di baca oleh Joelin.
"Hahaha... jangan takut aku akan menemanimu dengan sepenuh hati." ujar Doni sambil tertawa renyah dan menakutkan.
**Author POV
Teman-teman, makasih ya sudah setia sampai di sini. Dengan ini, saya mengundang semua pembaca untuk gabung di grup chat. Akan ada pembagian kotak hadiah 6 x dalam sehari. Sampai ketemu di grup ya.
thankyou
__ADS_1
-best**-