Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Pergolakan Hati


__ADS_3

"Dua hari lagi, mengapa terasa seperti dua tahun?" keluh Mickey frustasi sambil berguling diatas kasur nya.


Pria itupun terlelap dalam tidur. Dia cukup lelah membereskan semua pakaian dan beberapa bingkisan yang harus dia bawa dua hari nanti.


 


\*


 


Pagi di musim panas selalu membawa mentari terbit lebih awal. Mickey menggeliat di atas kasur merasakan sinar matahari yang menerpa wajahnya masuk melalui kaca jendela.


"Sudah pagi." pria itu bergumam pelan sambil membuka matanya.


"Yes.. sekali tidur lagi dan aku akan bertemu dengan gadis itu." ujar Mickey semangat.


 


\*


 


Empat pria tampan sedang duduk di sebuah meja makan, menyantap hidangan makan malam mereka. Mickey, Si An, Mark dan Bill. Tentu saja tanpa Joelin yang masih sibuk liburan.


"Apa Joelin pernah berbagi kabar dengan kalian?" tanya Bill memecah keheningan.


"No" jawab mereka serentak sambil menggelengkan kepala.


"Bisa-bisanya gadis itu tidak berada di sini saat jamuan perpisahan denganku." protes Bill.


"Tenanglah Bill, Mickey akan membereskannya untukmu." gumam Si An.


"Apa maksudmu?"


"Mickey pasti membalaskan dendam mu pada Joelin." canda Si An.


"Hahahaha." Mark tiba-tiba tertawa.


"Hei Mark, apanya yang lucu?" tanya Si An.


Bill dan Mickey pun memandang Mickey, tanda persetujuan bahwa ada yang aneh dengan pria ini.


"Ah.. Pacarku baru saja merajuk. Hanya karena aku tidak memberinya kabar sejak pagi tadi." ujar Mark masih menatap layar ponselnya.


"Apakah kemarahan pacarmu merupakan hal yang lucu?" tanya Bill heran.


"Kupikir dengan kesibukannya dia tidak akan peduli jika aku tidak memberi kabar. Ternyata dia marah begini. Aku bukan merasa lucu boys, ini ungkapan bahagia." jelas Mark panjang lebar.


"Boys? Mark!!! Kami bukan anak SMA." protes Si An.


"Oh iya, aku lupa. Maaf Maaf." ujar Mark.


Mereka berempat kembali menyantap makan malam yang terhidang di meja, sambil terus bersenda gurau satu dengan yang lain.


\*\*\*


Joelin bangun pagi dengan perasaan lelah. Sepanjang malam gadis itu tersiksa oleh pikirannya. Tentang Mickey, Joelin dan hubungan mereka. Jujur Joelin tidak ingin jatuh dalam kesalahan yang sama lagi kedepannya, namun gadis itu juga bingung bagaimana akan menghadapi Mickey dan gairah pria itu.


Dengan malas Joelin bangkit dari ranjangnya, langsung menuju kamar mandi. Seusai membersihkan wajahnya, gadis itu langsung menuju ke dapur.


"Sudah bangun?" sapa ibu yang sedang sibuk di dapur.

__ADS_1


"Hmmm mmm.." gumam Joelin.


"Matamu kok bengkak gitu Joe?"


"Nggak bisa tidur Bu."


"Mikirin apa kamu? Nak Goedan?" goda Ibunya sambil membilas sayuran.


"Hush... Ibu jangan sembarangan."


"Oke oke.."


"Tapi menurut Ibu ya Joe kayaknya dia anak baik-baik. Bayangin aja orang seperti nak Goedan mau menginap di rumah kita. Jarang-jarang loh nak ada yang seperti dia." Ibu Joelin kembali menyatakan kekagumannya akan pria itu.


"Terus yang seperti Joelin banyak gitu?" tanya Joelin sewot.


"Kamu ini. Dibilangin ngeyel terus. Ini bawa kopi Bapakmu ke depan."


"Bapak minum kopi bu? Sejak kapan?"


"Ibu lupa sejak kapan. Sudahlah kamu antar sana. Ntar keburu dingin, jadi nggak enak loh."


"si emak bisa aja." sahut Joelin sambil tersenyum dan menganggar nampan yang berisi cangkir penuh kopi itu.


Joelin menyajikan kopi di ruang tamu. Di sana ada Bapak, Goedan dan tentu saja si Bapak asisten. Kedua pria berumur itu terlihat sangat nyaman berbincang-bincang satu dengan yang lain. Sementara Goedan terlihat kikuk dan berusaha masuk kedalam perbincangan mereka.


"Bang, lari pagi aja yuk. Biar segar." ajak Joelin yang menyadari kegelisahan Goedan.


"Ok.. Pak kami pamit ya."


"Hati-hati." jawab Tn Bertlandes, ayah Joelin.


Joelin dan Goedan berjalan menyusuri desa. Wajah tampan Geodan terlihat sangat lucu mengenakan pakaian ayah Joelin.


"Hehehe... Sorry bang."


"Apa yang lucu?"


"Nggak ada sih. Bang kesana yuk gabung sama adik-adik itu." Ujar Joelin sambil berjalan menuju sekumpulan anak yang sedang bermain kelereng di salah satu halaman warga.


"Kalian nggak sekolah?" tanya Joelin memasang tampang serius.


"Liburan kakak." sahut salah satu anak yang lebih tua. Mungkin beruasia 10 tahun.


"Libur apaan? Kalian berani-beraninya membolos ya. Awas nanti kakak hukum satu-satu."


"Kak Joelin, kita memang libur kok. Kan ini hari minggu."


"Aigooo.." Joelin langsung menepuk jidat nya sendiri. "Kakak ikut main ya."


"Tapi kalau kalah bayar ya.. bayar ya.." ujar sekelompok anak-anak itu.


"Tenang aja." jawab Joelin dan langsung bergabung dengan mereka.


Goedan hanya senyum-senyum sendiri menyaksikan tingkah lucu Joelin. Dia menggeleng berkali-kali saat melihat aksi Joelin yang sudah kepala dua itu bermain kelereng bersama para bocah.


\*\*\*


Matahari hampir berada di atas kepala. Geodan dan asisten pribadinya berpamitan pada keluarga Joelin. Keduanya meninggalkan kampung halaman itu. Geodan tersenyum puas mensyukuri waktu berharga yang bisa dia miliki tanpa perencanaan itu.


"Pak, bapak percaya takdir?" tanya Goedan pada asistennya yang sedang konsentrasi dengan kemudi.

__ADS_1


"Ah... sepertinya semua orang akan percaya pada takdir bos."


"Jangan menjawab hanya untuk menyenangkan saya."


"Ini tentang apa bos?"


"Ah sudah lah. Apa jadwal kita sore ini?"


"Sebenarnya untuk sore sudah kosong bos, kecuali bos harus menemui nona Aluna sore nanti."


"Aluna?"


"Iya bos."


"Aku hampir lupa pada gadis itu sepanjang hari ini." gumam Goedan.


Sang asisten memilih fokus pada kemudi dan membiarkan tuannya terlelap di sepanjang perjalanan.


\*\*\*


Mickey memandangi ponselnya berkali-kali. Pria itu terlihat berpikir keras.


"Haruskah aku menghubungi dia sekarang? Apakaha dia marah seperti kekasih Mark? Aku sudah berhari-hari tidak membalas pesannya." gumam Mickey dalam hati.


"Tuan, permisi." suara seorang anak kecil menyadarkan Mickey dari pergolakan hatinya.


Sambil menarik kopernya Mickey melangkah menyusuri airport.


"Bagaimanapun aku sudah di sini. Semoga Joelin tidak marah padaku." gumam Mickey sambil melangkah pasti.


Setelah tiba di ruang tunggu Mickey langsung meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang tertera di sana.


"Pak saya sudah tiba. Tolong jemput saya di terminal ketibaan. Terimakasih."


Pria itu langsung menyimpan ponselnya, dia kini sedang menunggu kedatangan seseorang yang tadi berbicara dengannya melalui telepon.


\*\*\*


Hari hampir sore tapi Tuan Bertlandes sedang bersiap turun ke kebun untuk patroli terakhir hari ini. Dia mengenakan sepatu bot nya dan melangkah menjauh dari pintu rumah.


"Joelin jangan lupa kunci pintu." ujarnya setengah berteriak.


"Siap Bapak." sahut Joelin dari dapur. Gadis itu kini melangkah menuju pintu.


"Permisi.. Apa di desa ini ada gadis bernama Joelin?" ucap seserang mengejutkan beliau.


Tuan Bertlandes memandang pria yang baru berbicara barusan. Disebalah pria itu berdiri pria lain dengan wajah yang tidak terlihat seperti orang Indonesia.


"Maaf anda bisa berbahasa inggris?" ujar pria asing itu langsung angkat bicara.


"Ya."


"Siapa mereka? Bahasa inggris lelaki ini terasa kaku, siapa sebenarnya dia?" batin tuan Bertlandes.


Sementara Joelin yang sedang berdiri di ambang pintu terbelalak kaget menyaksikan pemandangan di depannya.


"Aku bermimpi kah?" gumam gadis itu sambil bersandar pada daun pintu.


 


\*

__ADS_1


 


__ADS_2