
Sepasang kekasih itu akhirnya turun dari taksi dan melangkah masuk ke dalam Cafe.
Dari dalam Cafe sepasang mata sedang mengawasi mereka dengan tatapan membunuh.
"Dasar gadis penipu. Sudah menikah tapi masih ingin memiliki Goedan. Aku tidak akan melepaskan mu." gumam sosok itu sambil terus mengawasi gerak-gerik Joelin.
\*\*\*
"hi Amel.." sapa Joelin sambil duduk disalah satu kursi tepat di hadapan teman sekamarnya itu.
Tanpa aba-aba dari sang istri, Mickey langsung memposisikan diri di sebelah Joelin.
"Lo baik-baik aja kan Joe? Bukannya lo harusnya di rumah sakit? kok bisa ngajak gue ketemuan sekarang? trus cowo ini siapa? yang nabrak lo?"
"Bisa nggak sih Mel, kalau nanya itu satu persatu.." protes Joelin.
Amel menghela nafas dalam-dalam, berusaha tenang dalam menghadapi gadis di hadapannya itu.
"Kenalin, dia Mickey... Suami gue." ujar Joelin.
"APA???" spontan Amel membekap mulutnya yang ngangap karena shock dengan kalimat Joelin, namun itu tidak berlangsung lama, terbukti dari gadis itu yang kembali berujar, "lo halu aja sih Joe, kebanyakan nonton drama nih kayaknya."
"Gue serius Amel." ujar Joelin tenang. "Okay, daripada lo nggak percaya, mending Mickey yang jelasin semuanya."
"Mike.." panggil Joelin pada pria disebelahnya yang kini terlihat kikuk berjuang memahami pembicaraan kedua gadis ini.
"Yes?"
"Could you please help me to explain everything between us to this girl? she is my roommate, Amel."
"Okay baby, i'll do it for you." ujar Mickey sambil meraih dan menggenggam tangan Joelin.
Pria itu mulai berkisah, tentang pernikahannya dengan Joelin termasuk alasan mereka untuk merahasiakan hubungan itu. Tidak lupa, Mickey juga memohon maaf telah menutupi segala sesuatunya selama ini, termasuk Joelin yang sering tinggal bersamanya. Sebagai penutup dia menjelaskan tentang kecelakaan yang menimpa dirinya dan Joelin, termasuk ancaman-ancaman dari Vino.
Amel menyimak setiap kata yang dituturkan oleh pria di hadapannya itu. Sesekali matanya bergerak melirik Joelin, mencoba mencari kebenaran dan kesungguhan untuk kalimat-kalimat yang kini dia dengarkan. Berkali-kali, Amel menghela nafas dalam-dalam, bukti bahwa gadis ini cukup terkejut dengan kabar yang baru saja dia dengar.
"Gue ngerti sekarang." ujar Amel setelah Mickey mengakhiri ceritanya.
"Thankyou Mel, kamu memang the best." jawab Joelin lega.
"Tapi gue marah sama lo. Tega banget sih bohong sama gue." rajuk Amel sambil memajukan bibirnya.
"yah, jangan merajuk dong Mel."
"Kesel gue sama lo Joe."
"please, maafin gue please. Gue butuh bantuan lo banget nih."
__ADS_1
"Nggak ah, lo mah pas butuh bantuan gue aja muncul."
"Bukan gitu juga, tapi yasudahlah kalau lo nggak mau bantu gue. setidaknya please maafin gue kali Mel." pinta Joelin.
"Lo pesan minum gih." ujar Amel.
"Makasih Mel, gue dimaafin kan?" tanya Joelin serius sambil memandang wajah Amel sungguh-sungguh.
"Udahan kali Joe, kalau ngomong itu in english dong, hargain tuh mahluk di sebelah lo." jawab Amel sambil menunjuk ke arah Mickey dengan dagunya.
Joelin melirik ke arah Mickey, yang sejak tadi hanya memilih berdiam diri di sepanjang perdebatan nya dengan Amel.
"Mickey, wanna order something?" tanya Joelin lembut.
"Gila nih cewe, bisa selembut ini dia." batin Amel.
"How about you darling?" balas Mickey.
"astaga, apa aku berubah jadi nyamuk?" batin Amel lagi.
Pasangan itu lalu berdiskusi sejenak untuk memutuskan apa yang ingin mereka pesan.
"Loe berdua jangan jadiin gue nyamuk kali." protes Amel akhirnya.
"Iya iya. sorry Amel."
Akhirnya mereka pun asik dengan cerita-cerita yang nggak jelas sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang mereka pesan. Persahabatan yang hangat antara Joelin dan Amel dapat dinikmati oleh Mickey. Sesuatu yang membuat pria itu kembali bersyukur atas apa yang dia miliki sekarang. Tentu saja, dia bersyukur untuk memiliki istri yang baik hati bukan hanya padanya, namun juga pada orang lain.
Pria itu masih menatap nanar ke salah satu sudut Cafe. Tempat di mana tiga insan sedang asik bercengkrama sambil tertawa bahagia. Marah, ya tepat sekali amarah kini menyulut dan membakar hatinya. Dia marah melihat tawa bahagia gadis itu. Gadis bernama Joelin. Perempuan yang menguasai hati seorang pria yang dia kenal sejak masa kecilnya. Hati pria yang mati-matian sedang diperjuangkan oleh orang paling berharga dalam hidupnya.
"Lo nggak layak Joe. Lo nggak layak, dan nggak seharusnya lo menempati posisi di hati sahabat gue." batinnya.
Dengan kemarahannya pria itu memutuskan untuk bangkit dari posisi duduknya.
"Aku ingin menghancurkan gadis itu." gumamnya pelan sambil melangkah keluar dari cafe.
Masih dengan api kemarahan yang membara, pria itu mengayuh sepedanya membelah jalan raya khusus pengendara motor dan sepeda. Air matanya menetes. Benci, kesal, marah, dan luka yang lama mengendap dalam hati tiba-tiba mencair. Dia ingin menyelesaikan semuanya. Dia ingin mengakhiri semuanya. Seketika sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya. Dalam air matanya pria itu tersenyum licik.
Flash back off
\*\*\*
Hampir sebulan sejak Joelin dan Mickey mengakui hubungan mereka pada Amel. Sejak itu pula, Joelin tidak perlu lagi mencari-cari alasan untuk tidak kembali ke asrama. Joelin tidak pernah lagi menerima pesan teror dari Vino. Bahkan berpapasan dengan pria itupun sudah tidak pernah. Perlahan kehidupan damai milik Joelin dan Mickey kembali normal seperti semula. Sama halnya dengan siang ini. Joelin sedang menikmati makan siang beserta rekan di lab, termasuk suaminya. Tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Hallo.."
"Joe, ini gue." suara gadis disebrang mengingatkan Joelin pada seseorang. ya, suara itu milik Aluna.
__ADS_1
"oh, ada apa?"
"Besok gue ke korea."
"Dalam rangka?"
"Mengejar Goedan. Gue dengar dari Vino, kalau dia bakalan ke korea besok."
"hmmmm...terus? apa hubungannya sama gue?" tanya Joelin, kini gadis itu tengah lelah dengan urusan Goedan dan Vino. terlebih lagi karena hal itu hampir saja mencelakai dirinya dan Mickey.
"Bantu gue ya Joe."
"Bantu gimana maksud lo?"
"Lo tau sendiri kan, kalau Goedan kemari pasti ada hubungannya sama lo."
"Gue nggak merasa begitu kok."
"Terserah lo deh. Pastinya gue butuh bantuan lo. seenggaknya please lo kasih tau Goedan kalau lo udah nikah."
"Maaf ya gue lagi sibuk. Kita ngobrol lain kali aja." ujar Joelin kesal.
Seketika mood gadis itu memburuk. Sebuah emosi yang tidak dia pahami.
"Siapa?" tanya Mickey yang sadar akan perubahan Joelin.
"Nothing." jawab Joelin sambil melirik ke arah teman leb nya yang lain. isyarat yang dipahami Mickey sebagai, "i'll tell you later, saat mereka nggak bisa dengar."
Mickey tersenyum kecut, hatinya paham bahwa Joelin sedang tidak baik-baik saja. Namun pria itu berusaha menikmati menu makan siangnya tanpa bersuara lebih lanjut.
"Kalau di pikir-pikir lagi, menu makan siang Mickey sejauh ini bekal dari rumah kan? Rajin juga kamu." celutuk Sian tiba-tiba memecah segala pikiran-pikiran yang tengah memulai di kepala Mickey dan Joelin.
drrtt...drttt..
Belum sempat salah satu dari mereka angkat suara, saat ponsel Joelin kembali bergetar
"Kejadian terakhir kurang berkesan? Sepertinya kamu butuh hal yang lebih membekas daripada bekas luka di lututmu."
sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Joelin mengernyitkan dahi lantaran tidak paham akan maksud kalimat yang tengah dia baca.
Dengan acuh, Joelin menyimpan ponselnya dan kembali menyantap makanan dihadapannya. Sementara Mickey masih terus mengawasi setiap gerak gerik Joelin.
**Pengumuman
Dear all,
maaf ya nggak upload buat waktu yang panjang, dikarenakan kesehatan author lagi nggak baik. doakan author bisa up tiap hari ya.
__ADS_1
fyi, Joelin, Mickey dan rekan labmate yg lain ngomong in english tapi langsung author thranslate ke indo setiap percakapannya biar nggak ribet.
thank you**