
"Terimakasih Goedan." ujar Mickey sebelum memutuskan sambungan telepon antara dia dan pria Indonesia itu.
\*\*\*
"Kau sudah menemukan informasi baru?"
"Sama sekali belum." ujar Mickey menanggapi pria itu.
"Sorry bro, aku juga bingung." Mark menghela nafas panjang.
Mickey mengacak rambutnya frustasi. Dia sedang duduk di ruang tengah di rumah yang jadi kisah ceritanya dan Joelin sambil bertelepon dengan Mark.
"Maaf Mickey." ujar suara di seberang sana.
"it's okay bro. Kamu sudah banyak membantu. Bagaimana pekerjaanmu?"
"Ah, jangan pikirkan aku Mickey, semua baik-baik saja di sini."
"Aku punya sesuatu untukmu.." ujar Mark menggantung.
"Apa?"
"Akan ku kirim lewat email, periksa saja."
"Baiklah."
"Sampai bertemu bro."
"Terimakasih Mark."
Sambungan telepon diantara kedua sahabat itu akhirnya berakhir. Mickey segera memeriksa emaila nya dan menemukan sebuah berkas yang di kirim oleh Mark.
Mickey mengernyit tidak dapat memahami file yang terpampang di hadapannya. File yang berisi foto-foto Jee Na dan seorang pria.
"Apa tujuan Mark mengirim semua ini?" gumam Mickey.
"Aku tidak mengerti apa maksudnya." Mickey mengirim pesan suara via ponselnya pada Mark.
Ponsel pria itu kembali berbunyi, Mickey segera meraihnya dan memeriksa pesan dari Mickey.
"Pria itu menjual obat-obatan terlarang, mungkin Jee Na pelanggannya. Coba amati tanggal pada foto."
"Bagaimana kau menemukannya?" Mickey kembali mengirim pesan suara.
"Apa kau lupa Mickey? Jika ingin mengalahkan Jee Na, lakukan dengan cerdas. Bersiaplah untuk keberangkatan mu, biar Jee Na jadi urusanku."
Mickey kembali memeriksa file-file tadi setelah mendengar pesan Mickey. Setiap foto itu diambil pada tahun 2018, tanggalnya berkisar sebelum dan ketika Jee Na menjadi pacarnya.
"Apa selama ini dia mengonsumsi obat-obat terlarang? Tapi kenapa aku tak tahu apa-apa saat kami bersama?" gumamnya dalam hati.
\*\*\*
__ADS_1
Mark mematikan ponselnya dan tersenyum puas di ruangan besar itu. Meja CEO yang dia tempati jadi saksi bisu percakapan yang baru saja terjadi antara dia dan informan. Salah satu teka-teki akhirnya memiliki simpul jawaban.
"Jee Na... kau memang licik." geram Mark kesal.
"aku tak akan melepaskan mu. Hahaha." Mark tertawa puas.
Pikirannya melayang jauh pada sebuah peristiwa tiga bulan lalu, pada malam saat Joelin pergi.
\*\*\*
Flashback on
Mickey yang dibakar api amarah baru saja selesai menelepon Jee Na, guna mencari tahu keberadaan perempuan itu. Mickey sudah tak sabar ingin menampar dan menghancurkan Jee Na, atas semua yang dilakukan wanita licik itu pada istrinya Joelin.
Dengan langkah memburu Mickey keluar dari rumahnya. Kini pria itu sudah di halaman depan, berusaha menyalakan motornya.
"Kau mau kemana Mickey?" tanya Mark yang baru saja tiba di sana.
"Menghancurkan Jee Na." Mickey kini masih berjuang menyalakan motornya, namun berkali-kali kunci motor terlepas dari tangannya yang bergetar hebat karena marah.
Mark memandang pria dihadapannya dengan perasaan khawatir. Dia menyadari tubuh Mickey yang sedang gemetaran menahan sesuatu yang meledak dalam hati dan pikiran pria itu.
"Mickey, apa maksud perkataanmu?"
"Aku ingin membunuh Jee Na." teriak Mickey frustasi.
"Apa kau bodoh?" Mark menampar tangan Mickey yang tengah mencoba memasang kunci pada motornya.
"Mickey, kau tak bisa melawan Jee Na dengan kekerasan. Wanita licik seperti dia harus di hadapi dengan kecerdasanmu. Apa kau lupa kekuasaan yang dimiliki keluarganya? Berperang dengan Jee Na bukan bagianmu Mickey."
"Apa kau merendahkan keluargaku yang miskin?" Mickey ternyata tersinggung dengan kalimat terakhir Mark.
"Aku tidak merendahkan mu, aku hanya tak ingin temanku jatuh dalam masalah besar. Kau ingin Jee Na menggunakan kekuasaannya untuk menyakiti orang tua dan adikmu? Apa Joelin masih kurang Mickey? Kau ingin lebih berantakan dari ini?"
"Maaf Mark." Mickey seketika tersadar dari pikiran keliru nya.
"Ayok kita masuk. Lebih baik kau tak berurusan dengan Jee Na. Fokus mencari Joelin saja. Ok?"
Mickey tak menjawab pertanyaan Mickey, dengan langkah lemah dia berjalan masuk ke dalam rumah. Apa yang dikatakan Mark benar adanya, saat ini dia tak cukup kuat untuk melindungi diri sendiri, apalagi melindungi orang-orang yang disayanginya.
Sementara itu, di club malam Jee Na tersenyum penuh kemenangan setelah menerima telepon dari Mickey. Apalagi pria itu berkata akan bertemu dengannya. Umpan yang dia berikan sore tadi setelah kepergian Joelin nampaknya sudah berhasil memancing Mickey. Setelah membagikan alamat keberadaannya, Jee Na langsung menelepon sebuah nomor.
"Antarkan padaku barang itu lagi." ujar Jee Na.
....
"Kali ini, aku ingin membuatnya bertekuk lutut padaku."
....
"Aku di tempat biasa."
__ADS_1
....
"Jangan lama, aku tak suka menunggu."
....
Setelah mematikan ponselnya, Jee Na tersenyum puas. Malam ini dia akan menjebak Mickey lagi. Sama seperti hari ketika mereka dulu mulai berpacaran. Sama seperti hari-hari berpacaran mereka. Jika Mickey tak bisa mencintaimu, maka Jee Na akan mencuci otak pria itu hingga yang tersisa di sana hanya semua tentang Jee Na.
\*\*\*
Jee Na menghela nafas kasar. Sudah lewat tengah malam, namun Mickey tak kunjung tiba. Dia mencoba menghubungi Mickey berkali-kali namun tak ada jawaban.
"Bukankah katanya dia akan datang? Dasar lelaki bodoh." umpat Jee Na sambil berjalan menuju meja bartender.
Karena kesal Jee Na memilih minum hingga mabuk. Tanpa dia sadari beberapa pria kini datang mendekatinya. Jee Na yang sedang mabuk dan diluar kendali mau tak mau hanya mengikuti alur di sekitarnya. Dia tak salah bahwa dirinya sedang di rekam dari kejauhan.
\*\*\*
Jee Na membuka matanya, kepalanya sangat sakit dan berdenyut akibat mabuk semalam. Ruangan ini adalah kamarnya. Jee Na memutar otaknya berusaha mengingat bagaimana dia pulang, namun usahanya sia-sia, karena yang tersisa hanya kenangan tentang dia yang menunggu Mickey namun pria itu tak kunjung tiba.
~drt..drt....drt..~
Getaran ponsel itu menyadarkan Jee Na, tangan mulusnya segera meraih ponsel dari salah satu sisi tempat tidur.
Sebuah pesan dari nomor tak di kenal.
"Berhenti mengganggu Mickey dan Joelin, jika kau tak berhenti jangan menyesal jika file-file ini tersebar."
Jee Na tertegun membaca pesan di layar ponselnya, pesan yang bernada mengancam itu. Dengan gerakan malas Jee Na membuka file yang terlampir dalam pesan itu.
"Apa?" Jee Na berteriak histeris melihat foto dirinya tanpa sehelai benang dan sedang di kelilingi oleh pria.
"Apa aku sudah gila? Ini tak boleh terjadi." ujar Jee Na frustasi.
Dia berusaha menghubungi nomor itu, berkali-kali namun tak membuahkan hasil sama sekali.
"Arrrrrgh, siaaaaaaaaal." geram Jee Na frustasi.
Flashback off
\*\*\*
Mickey baru saja tiba di bandara Kuala Namo, pemandangan di sini jauh berbeda dengan kondisi bandara internasional yang pernah dikunjunginya di jakarta setahun lalu.
"anyeong oppa." sebuah suara menyapa Mickey dan pria itu tersenyum dingin karena tak nyaman.
"Apakah sangat jelas, bahwa aku ini dari korea?" gumam Mickey dalam hati.
Pria itu melangkah tak pasti, tempat ini terasa sangat asing. Orang-orang di sekitarnya terlihat grasak grusuk dan sibuk, tak sedikit juga yang berbicara seperti orang marah-marah.
"Apakah kau baik-baik saja Joelin?" tanya Mickey dalam hati.
__ADS_1