
Deg... sekali lagi Goedan terkejut. Joelin? nama itu, apakah dia sedang salah dengar? apakah Joelin dengan pria tadi? Bagaimana mungkin? ini pasti Joelin yang berbeda. Tiba-tiba Goedan ingin pulang, dia tidak ingin mendengar kabar apapun malam ini. Terlebih lagi jika itu tentang Joelin. Namun pria itu berjuang menahan diri untuk duduk di sana dan menikmati minumannya bersama Aluna.
\*\*\*
Pria itu meremas rambutnya, sambil melangkah menyurusi ruangan yang didominasi warna putih lengkap dengan ranjang king size di salah satu sisinya. Dengan gerakan lunglai dia merebahkan diri diatas ranjang kamar hotel itu. Setelah berdiam beberapa saat, diraihnya ponsel dari saku celana jeans yang membalut kaki atletis miliknya.
Berkali-kali dia menekan tombol dial, mencoba menghubungi nomor yang sama. Namun tidak ada jawaban untuk setiap panggilan itu. Dengan wajah prustasi, akhirnya dia memutuskan mengirim sebuah pesan singkat.
"Vin, loe dimana? gue butuh bantuan loe sekarang."
Goedan menyimpan ponselnya di atas ranjang empuk itu, sambil menghela nafas panjang berkali-kali. Walau hatinya terasa ngilu, pria itu mencoba memberanikan diri untuk menemukan kebenaran tentang sosok Joelin yang dikenal oleh Aluna.
\*\*\*
Laju motor yang dikendarai Mickey melambat dan secara perlahan berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Dengan gerakan hati-hati Joelin turun dari boncengan dan menjejakkan kakinya ke bumi.
"Tumben lampu jalannya mati." gumam Joelin sambil membuka pagar.
"Mungkin rusak, semoga besok ada petugas yang memperbaiki." sahut Mickey.
Setelah pagar terbuka, Mickey mendorong sepeda motornya masuk ke halaman, Joelin menyusul masuk sambil mencoba menutup pagar kembali.
Brak...~~
Sebuah tenaga besar yang muncul tiba-tiba berhasil membuka pintu pagar kembali serta menghempas badan Joelin jatuh terlentang di atas rerumputan.
"aaissh..." Joelin meringis menahan sakit di punggungnya.
-Bugh..bugh..bugh..." bertubi-tubi pukulan mendarat di tubuh Mickey yang masih terkejut menyaksikan tubuh Jeolin yang tiba-tiba mendarat di bumi.
Krak...Brugh...
Sebuah tendangan kuat menghantam bibir Mickey, menumbangkan pria itu beserta sepeda motor yang tengah dia dorong.
"Mickey..." pekik Joelin sambil berlari mendekati suaminya.
Serta merta Joelin memeluk tubuh Mickey yang kini dihujani pukulan oleh pria itu
"aaaaw...." Sebuah pukulan mendarat di punggung Joelin.
"Siapa kamu?" tanyanya lemah sambil berjuang melindungi tubuh Mickey yang kini terjepit sepeda motor yang tumbang itu.
"Gue bisa bunuh dia hari ini juga. Itu kan yang lo mau? Hahahah." suara itu terdengar familiar.
__ADS_1
Joelin memberanikan diri untuk memutar balik tubuhnya menghadap pria itu.
"Vino???" jerit Joelin terkejut dengan sosok yang kini berdiri hadapannya.
"Lo mau dia mati? kalau lo mau suami tercinta mu ini selamat, kembalikan kebahagian milik Aluna."
"Vino, lo gila? Gue nggak ngambil apapun dari Aluna." teriak Joelin marah.
"Lo ngambil hati Goedab bit*h, dan itu milik Aluna kalau lo lupa."
"Lo gila. Pergi dari rumah gue sebelum polisi meringkus lo."
"Ha? polisi? gue nggak takut bod*h."
Mickey meringis menahan sakit yang kini terasa di sekujur tubuhnya. Samar-samar dia mendengar perdebatan istrinya dengan pria asing itu. Walau tidak mengerti dengan bahasa mereka namun Mickey paham, Joelin sedang membutuhkan dia sekarang. Dia tidak boleh pingsan dia harus menolong Joelin. Dengan perlahan Mickey berjuang menggapai ponsel dari saku jeansnya. Dengan gerakan hati-hati pria itu men-dial nomor 911.
"Help..." erang Mickey saat panggilan itu tersambung.
Joelin yang mendengar suara Mickey tersadar bahwa suaminya tengah kesakitan.
"Lo pergi sekarang juga Vin..!! Dan satu hal yang lo harus tahu, gue nggak ada rasa apa-apa sama sahabat loe si Goedab itu. Kalau Aluna butuh kebahagiaan nya, lo suruh dia berjuang sendiri. Jangan usik hidup gue lagi." ujar Joelin.
Setelah menyampaikan unek-uneknya Joelin berpaling ke arah Mickey. Dengan air mata yang menetes di kedua matanya gadis itu berjuang menggeser sepeda motor yang tengah menindih salah satu kaki suaminya.
"pasti sakit...maafkan aku." isak Joelin.
"Sayang..." Mickey tercekat menyadari sosok yang kini tengah berdiri di balik tubuh Joelin, lengkap dengan sepasang tangan yang bergerak mendekati tubuh gadis itu.
\*\*\*
Koridor rumah sakit begitu hening menemani isak gadis berambut pirang yang tengah memandang ke arah ruang UGD.
"Dia akan baik-baik saja. Jangan khawatir." sebuah suara menenangkan Joelin.
"Makasih bang."
"Joelin, maaf untuk kelakuan Vino terhadap kamu dan dia." ujar pria itu tulus.
"Makasih untuk simpatinya bang. Abang boleh pergi sekarang."
"Apakah pria di UGD itu temanmu? apakah keluarganya akan datang?" tanya Goedan berjuang memantapkan hati.
Bagaimanapun, saat di kantor polisi tadi pria ini sudah mendengar dari Vino bahwa lelaki yang terbaring di UGD adalah suami Joelin. Namun Goedan ingin mendengar kebenarannya langsung dari bibir gadis pemilik hatinya ini.
__ADS_1
"Dia suamiku bang." ujar Joelin lirih, "lebih baik keluarganya tidak datang, atau mereka akan menyalahkan aku." batin Joelin saat menyadari bahwa sejak menikah dia belum pernah mengunjungi keluarga Mickey.
Hati Goedan terasa patah mendengar peneturan gadis ini. Dipandangnya wajah Joelin dengan teliti sambil mencari-cari raut kebohongan di sana. Wajah cantik itu kini berhiaskan memar dan mata sembab akibat air mata.
"Arhhh... sial." umpat Goedan dalam hati.
"Joe, jujur saya berharap kamu sedang berbohong." tutur Goedan sambil mengulurkan tangannya meraih salah satu tangan Joelin.
"Maaf bang, saya tidak ingin mengundang kesalahpahaman." ujar Joelin serata melepaskan tangannya.
"Mickey suami saya, kami menikah dengan restu orang tua. Dia juga kebahagiaan saya, Joelin sakit melihatnya sakit. Abang juga harus menyadari keberadaan seseorang yang juga merasa sakit saat melihat abang kesakitan."
"Saya tidak memiliki orang seperti itu. Satu-satunya kebahagian saya ternyata milik orang lain." jawab Goedan pelan. Kalimatnya terdengar ragu ragu, seragu hatinya saat ini.
"Kalau sudah milik orang lain, artinya bukan milik abang. Berhentilah menginginkannya."
"Saya pamit dulu." jawab Goedan terluka mendengar penolakan Joelin.
"Hati-hati. Terimakasih." Lirih Joelin berucap.
Pria itu berlalu dengan langkah lemah selemah hatinya yang kini tengah patah. Kebenaran tentang pujaan hatinya yang kini menjadi milik orang lain jauh lebih menyakitkan dibanding kebenaran tentang sahabatnya yang ternyata menderita bipolar.
drt..drt.. Masih dengan langkah lemahnya Goedan meraih ponselnya yang kini bergetar.
"Iya Aluna?"
"Bicara yang jelas Na," minta Goedab saat mendengar isakan gadis di seberang sana.
"oh, jadi harus di pulangkan ke Indonesia dan akan di DO dari universitas?" tanya Goedan saat mendengar suara diseberang sana, sepertinya Aluna memberikan ponselnya pada gadis Indonesia yang sedang menemaninya dikantor polisi.
"Belum jelas? Saya mengerti. Tolong minta pihak polisi dan universitas untuk merahasiakan kasus ini. Saya akan bayar berapapun, dan akan tetap di proses sesuai jalur hukum. Tapi tolong minta mereka melindungi identitas Joelin dan suaminya." mohon Goedan sebelum menutup sambungan telepon.
"Walaupun dia tidak membalas cintaku, aku tidak ingin masyarakat di sini mengusik ketenangan hidupnya. Setidaknya aku akan melindungi rahasia yang ingin dia lindungi. Joelin tentunya punya alasan untuk merahasiakan pernikahannya sejauh ini. Setidaknya ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk mencintai dia." batin Goedan sambil melangkah keluar dari rumah sakit.
\*\*\*
"Dokter, bagaimana suami saya?" tanya Joelin pada dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Dia...."
**Pengumuman
Makasih tetap baca. BTW menurut kalian novel ini ditamatin aja atau dilanjut?
__ADS_1
btw, tetap vote ya teman-teman, supaya author makin berenergi untuk ngetik ngetik manja...
thankyou**.