Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Jejak


__ADS_3

Joelin menatap punggung yang kian menjauh, meninggalkannya di tengah keramaian bandara internasional di kota seoul. Pria itu bahkan tak menoleh sekalipun padanya, seolah berkata "aku tak akan melihatmu, menangislah sepuasmu Joelin."


 


\*


 


Sementara itu di rumah Mickey, pria tampan itu tengah melampiaskan rasa sedih, kesal dan kecewa dalam hatinya dengan mengacak-acak isi kamar. Tak lupa tatapan nanar yang kini dia fokuskan ke arah tempat tidur, tempat di mana pill birth control itu berhamburan. Kondisi kamar Mickey kini bagaikan kapal pecah, tak hentinya pria itu berteriak dan memaki dirinya sendiri.


"Kau kenapa?" seru Mark yang muncul di balik pintu, dia betul-betul terkejut melihat Mickey saat ini.


"Aku hanya sedang merutuki kebodohanku sendiri. Kau lihat benda-benda itu Mark? itu artinya Joelin tak pernah tulus padaku." tutur Mickey lirih.


"Eum Son, jangan bertindak gegabah dan bicara sembarangan saat kamu emosi." ujar Ayah Mickey yang kini juga menyusul Mark.


"Tapi appa, dia memakai semua ini. Artinya dia memang berniat kabur dariku."


"Pemikiran bodoh. Sadarlah nak." ujar pria paruh baya itu sambil berlalu dari sana. Dalam benaknya, sia-sia menasehati orang yang sedang tidak dapat berpikiran jernih.


Mark memilih duduk di sisi Mickey yang sedang bersimpuh di lantai, sahabatnya itu terlihat kacau.


"Kau tahu Mickey, aku amat kesal dengan fakta kau dan Joelin menutupi pernikahanmu dari kami. Tapi, apa aku menyalahkan mu dengan seenaknya? aku malah berada di sini, mencoba menemanimu menghadapi keadaan ini. kau mau tahu alasannya?"


"Apa itu penting sekarang?" tanya Mickey sarkas.


"come on bro, dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu. Atau jika kau tak ingin mendengar, aku akan pulang dan tidak akan membantumu lagi." ancam Mark.


"Baiklah." jawab Mickey frustasi.


"Aku memang kesal padamu dan Joelin. Bisa-bisanya kita bersama setiap hari tapi aku tak tahu menahu bahwa ternyata kalian suami istri, tapi aku mencoba menunggu penjelasan kalian. Pasti ada alasan kuat yang membuat kalian merahasiakan hal seperti itu. Apakah itu berarti kalian tidak menganggap ku teman? jawabannya mungkin saja benar, tapi mungkin juga salah. Alih-alih bersikap marah, aku memilih menunggu penjelasan, agar menemukan jawaban yang tepat. Sama halnya dengan Joelin dan obat pencegah kehamilan itu. Mickey, dia pasti punya alasan kuat kenapa harus menggunakannya. Apa itu berarti dia tidak mencintaimu? belum tentu. Sekalipun ada kemungkinan, setidaknya cari tahu kebenarannya Mickey. Temukan jawabannya dari Joelin, jangan hanya menangis dan marah-marah sendiri begini."


"Oh..." Mickey terpaku mendengar Mark bicara panjang lebar.


"Mark benar sayang. Pastikan dulu jawabannya sebenarnya sebelum kamu bereaksi berlebihan. Jangan terhasut oleh keadaan." ibu Mickey kini sudah duduk di atas tempat tidur.


"Sejak kapan omma di sini?" tanya Mickey lirih.


"Apa itu penting? intinya Omma sepaham dengan Mark. Kamu tidak boleh gegabah dalam menilai istrimu. Hati-hati, jangan sampai kamu tambah menyesal nanti."


"Baiklah Omma." ujar Mickey yang kini mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kau butuh tissue kawan." ledek Mark sambil berdiri dan mencari tissue di ruangan itu.


Mark mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar yang kini berantakan. Matanya terfokus pada meja belajar yang terletak di sudut timur ruangan itu, di atas meja ada setumpuk tissue. Mark melangkah mendekati meja, saat tangannya bergerak meraih benda yang dicari sepanjang mata Mark menangkap sekilas bingkisan kado yang bertengger di atas meja.


"Ini tissue mu." ujar Mark kembali duduk di sisi Mickey.


"Bagaimana aku akan menemukan Joelin? dia malah meninggalkan ponselnya di sini." Mickey terdengar frustasi.

__ADS_1


"Di mana ponselnya?" tanya Mark.


"Ponselnya mati total, tidak punya baterai."


"kau tinggal mencarge nya man..."


"aku sedang mencari kabel pengisi daya, tapi sepertinya tak ada di sini. yang kutemukan malah obat-obat itu."


"Tunggu sebentar, ponselku dan Joelin dari brand yang sama. Semoga kita bisa menggunakan kabel milikku." ujar Mark berlalu meninggalkan kamar itu, menyisakan Mickey dan Ibunya.


"Nak, jika kamu bingung bagaimana menemukannya, mulailah dengan menelusuri jejaknya. Jejak selalu meninggalkan petunjuk." ujar wanita itu.


"Terimakasih omma." ujar Mickey tulus.


"Jangan lupa makan, omma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Omma tinggal keluar sebentar, untuk berbicara dengan Appa."


Ibu Mickey beranjak keluar dari kamar tepat saat Mark tiba di sana.


"Mana ponselnya?" tanya Mark.


Mickey langsung bangkit dari posisi duduknya, beranjak dari lantai dan meraih ponsel dari salah satu sisi tempat tidur. Dengan gerakan cepat, di berikan nya ponsel itu pada Mark.


"Ayok makan Mickey." bujuk Mark setelah menghubungkan ponsel padam itu dengan sumber listrik.


Mickey menurut ikut mengekor di belakang Mark. Meja makan yang biasanya menjadi saksi canda tawa Mickey dan Joelin kini berubah hening. Empat insan yang sedang melahap makanan mereka hanya bisa terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


 


\*


 


.....


"Baiklah. Teruslah mencari, segera beritahu aku perkembangannya." ujar Mark sebelum memutuskan sambungan telepon itu.


Mark memandang Mickey yang sedang tertidur, sepertinya pria itu sudah sangat lelah menangis sejak siang hari sampai akhirnya terlelap begitu.


"Bagaimana?" tanya Ibu Mickey yang kini sudah ikut kembali bergabung di kamar itu.


"Maaf Bi, mereka belum dapat petunjuk."


"Istirahatlah. Kau juga boleh pulang, pasti keluargamu khawatir. Hari ini seharusnya jadi hari istimewa buat kalian." ujar wanita itu mengingat hari ini adalah hari wisuda anak-anak ini.


"Aku akan pulang untuk membersihkan diri sebentar Bi. Aku akan segera kembali." jawab Mark.


"Jangan terlalu memaksakan diri nak. Di sini ada saya dan paman mu, kami bisa menemani Mickey."


"Terimakasih bi, saya pamit." ujar Mark undur diri.

__ADS_1


Setelah keluar dari rumah Mickey, pria itu kembali sibuk dengan ponselnya.


"Kau sudah memeriksa file yang kukirim? Selidiki dia, temukan informasi apapun termasuk hal yang bisa menghancurkannya." ujar Mark datar pada ponselnya.


-bib- pria itu mematikan sambungan telepon dengan wajah mengeras.


 


\*


 


Mickey tersadar dari tidurnya, tubuhnya terasa sangat lelah. Kejadian hari ini kembali terputar dalam ingatannya.


"Ah.. Joelin." desisnya frustasi, tak terasa air mata kini menetes di wajahnya.


Dengan gerakan lemah, Mickey bangkit dari tempat tidur, diliriknya jam dinding di kamar itu menunjukkan pukul 21.00 waktu korea, artinya dua jam sudah dia terlelap. Mickey bergegas menuju ponsel Joelin.


Setelah meraih barang milik wanita itu, Mickey segera menyalakannya. Dia berusaha memeriksa panggilan terakhir Joelin, tidak ada. Mickey memeriksa aplikasi instpram milik Joelin, dan memeriksa panel direct messenger, tentu saja orang terakhir berhubungan dengan wanita itu adalah Goedan.


Mickey langsung berusaha melakukan panggilan pada Goedan lewat aplikasi itu, namun tak ada jawaban dari seberang sana.


Mickey memutuskan mengamat-amati ponsel Joelin, berharap menemukan sesuatu di sana. Messenger, facebook, email, semua aplikasi itu sudah diperiksanya berharap bisa menemukan jejak terkini Joelin, namun hasilnya nihil.


Mickey beralih ko folder foto. sekalipun dia tengah kesal pada wanita itu, namun tak bisa dipungkiri dia sangat merindukan Joelin.


"Mungkin melihat fotomu bisa memperbaiki perasaanku." ujar Mickey lebih pada diri sendiri.


"WANITA LICIK, AKU TAK AKAN MELEPASKANMU." Mickey memaki kesal saat tak sengaja dia malah membuka folder video di ponsel itu. Wajahnya merah padam, sedang salah satu tangannya mengepal keras.


Author POV


Hayo, menurut kalian apa sih yang ditemukan oleh Mickey??


jawab di kolom komentar ya.


Sedikit bocoran, kalau novel ini tamat kalian mau dibuat sequel nggak?


kalau iya, kalian mau sequelnya mau tentang siapa?


Goedan


Mark


Vino


Si An


Jee Na

__ADS_1


silahkan di komen jawabannya ya guys...


thank you


__ADS_2