Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Joelin generasi ke 2


__ADS_3

"Jangan sakit... Kumohon jangan sakit..." pinta Mickey dalam bisikan lembut sambil menggenggam tangan Joelin yang terlihat pucat pasi. Sementara tubuh pria itu kini bergetar hebat karena rasa takut, dia sangat takut sesuatu yang buruk terjadi pada sang istri. Bibir Mickey komat-kamit berdoa pada pemilik semesta, meminta kemurahanNya.


\*\*\*


"Kondisinya sudah kembali stabil dok." ujar suster yang memonitor keadaan Joelin.


"Syukurlah.." jawab sang dokter yang kini kembali memeriksa keadaan Joelin.


Sementara Mickey masih berlutut di sisi Joelin, terkejut dengan kehebohan sesaat yang terjadi di hadapannya.


"Pasien sudah membaik, jangan khawatir." sang dokter meremas pundak Mickey.


Mickey memandang dokter wanita paruh baya itu dengan tatapan tidak percaya.


"Bagaimana bisa berkata begitu, saat Joelin masih belum membuka mata**" batin Mickey lirih.


"Dia hanya sedang tertidur karena kelelahan. Pasien akan segera bangun saat energinya pulih." ujar sang dokter seolah bisa membaca pikiran Mickey.


"Anda bisa menjenguk bayi sembari menunggu pasien sadar." mencoba mengalihkan perhatian dan kekhawatiran Mickey.


"Oh... terimakasih dokter." Mickey bangkit dari posisi berlutut tadi seolah belum percaya dengan apa yang terjadi.


Baru saja dia melihat senyum bahagia Joelin, dalam sekejap juga Mickey menyaksikan wanita itu terbaring lemah dikelilingi perawat dan dokter yang berjuang menyelamatkan nyawanya, dan dalam hitungan menit dia disuruh kembali merasa lega. Mickey merasa seperti emosinya sedang diaduk-aduk hingga dia bingung harus merasakan apa sekarang. Semuanya melebur jadi satu, membuat Mickey terpaksa meneteskan air mata haru sambil memandang lekat tubuh sang istri yang sedang terlelap.


"Terimakasih sayang..." Mickey mengecup lembut dahi istrinya sebelum bergerak menuju ruang bayi.


\*\*\*


"Matamu, bibirmu, hidungku, pipimu, semua mirip Mommy. Kamu cantik sekali baby girl." puji Mickey dalam hati sambil menggendong bayinya dengan sangat hati-hati.


Berkali-kali pria itu tersenyum sendiri sambil mengawasi gerak gerik tak beraturan dari bayi mungil itu. Sadar bahwa dia tidak boleh berlama-lama meninggalkan Joelin, membuat Mickey menyerahkan bayinya kepada perawat. Pria itu lalu bergegas kembali ke ruang rawat Joelin, penuh harap agar sang istri segera sadar.


Mickey berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit, hingga matanya menangkap sosok yang terasa tidak begitu asing.


"Amel?" Mickey bergumam, lebih pada diri sendiri.


Pria itu mempercepat langkahnya hingga akhirnya bisa mencapai keberadaan bekas teman sekamar Joelin.


"Amel?" sapa Mickey meyakinkan diri.


"Mickey?" gadis itu menunjukkan wajah tidak percaya dengan siapa kini dia bertemu.


"Sedang ap---?" keduanya bertanya bersamaan.


"Joelin sudah melahirkan." jawab Mickey menjawab pertanyaan Amel.


\*\*\*


Amel dan Mickey kini sedang menanti Joelin bangun dari tidurnya. Sembari Mickey menjelaskan singkat cerita bagaimana akhirnya mereka bisa menetap di Jakarta.


"Sepertinya dia masih sangat kelelahan." ujar Amel setelah Mickey mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


"Kamu benar." menatap sang istri.


"Sayang sekali, padahal aku sangat ingin menceritakan sesuatu pada Joelin." Amel berkata lirih, dia menunduk memandang lantai dengan bulir airmata yang kini sudah hampir menetes.


"Ada apa?" tanya Mickey saat menyadari perubahan sikap Amel.


"Apa aku bisa meminta bantuan mu Mickey?" Amel bertanya dengan suara tidak percaya diri.


Mickey mendengar cerita Amel, hatinya sedikit geram karena marah saat mendengar kejadian yang menimpa sahabat dari sang istri.


"Baiklah, sebelum Joelin bangun aku akan membantumu. Ayok pergi sekarang." ujar Mickey.


Amel mengangkat kepalanya, sebuah senyum kini terbit di wajahnya yang memancarkan isi hatinya. Gadis itu sungguh tidak percaya dengan apa saja yang baru di dengar.


\*\*\*


Amel dan Mickey masuk ruangan itu bersamaan. Sementara di satu sudut, Doni tersenyum senang, seolah mendapat jackpot. Dia tidak percaya akan melihat suami Joelin di tempat ini.


\*\*\*


Joelin membuka matanya perlahan, merasakan cahaya masuk menyapa retinanya. Sesuatu yang hangat terasa menyelimuti tangan kirinya. Joelin segera menggerakkan kepalanya dan menemukan Mickey yang sedang tertidur dengan meletakkan kepalanya di ranjang pasien yang di tempati Joelin. Wanita itu menggerakkan tangannya yang bebas, dan mengelus perlahan kepala Mickey seolah sadar bahwa pria ini tengah mengkhawatirkannya.


"Sayang..." Mickey terbangun karena merasakan pergerakan tangan Joelin di rambutnya


"hmmmm..." jawab Joelin lemah.


"Sudah bangun? Ah... akhirnya kamu bangun juga setelah tidur seharian penuh." ujar Mickey sambil mengecup tangan dalam genggamannya.


"Anak kita?" sambil menatap sang istri penuh kasih sayang.


Joelin mengangguk pelan, tubuhnya masih terasa sangat lelah.


"Ada diruangan khusus bayi. Perawat akan membawanya kemari saat keadaanmu membaik. Sayang, dia sangat cantik seperti kamu. Aku sampai jatuh cinta pertama kali melihat wajahnya." Mickey berujar panjang dan antusias.


Joelin hanya tersenyum lemah melihat kebahagian di wajah suaminya.


\*\*\*


Akhirnya bayi mungil kesayangan pasangan itu kini ada dalam dekapan Joelin. Wanita itu sudah pulih, namum belum diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Mungkin sehari atau dua hari kedeoan, dokter akan mengizinkannya pulang. Senyuman tak lepas dari bibir Joelin saat menyusui sang bayi. Pengalaman pertama yang mendebarkan dan berkesan, membuat dada Joelin bergemuruh hebat.


"Apa kamu sangat bahagia?" tanya Mickey yang sedari tadi tidak bosan mengawasi setiap gerak-gerik wanitanya.


"Iya." Joelin mengangguk antusias.


"Tapi dia sainganmu sayang." goda Mickey.


"Saingan apanya? Dia ini kesayanganku.".


"Aku cemburu. Sekarang kesayanganmu bukan hanya aku." Mickey protes dengan gaya sok manja.


"Hahahaha...kamu lucu sekali." Joelin mengelus kepala Mickey dengan salah satu tangannya yang bebas, sementara tangannya yang lain sedang mendekap sang bayi.

__ADS_1


"Lagipula, apa kamu tidak cemburu padanya? Aku akan menyayangi bayi kita sepertimu, aku akan jatuh cinta padanya setiap hari. Apakah tidak apa-apa?" tanya Mickey seperti meminta izin akan memiliki wanita lain saja.


Joelin terkekeh geli mendengar penuturan polos dari suaminya


"Iya... aku cemburu. sangat cemburu."Joelin menatap Mickey dalam.


"Kamu sangat cemburu, tapi kamu juga sangat bahagia memandang wajahnya."


"Kalau ada perempuan lain yang boleh berbagi Mickey denganku, perempuan itu hanya ibu mertua dan putri-putri kita. Walaupun aku cemburu, tapi aku akan setuju." jawab Joelin santai.


"Putri-putri kita? Berapa putri yang kamu inginkan sayang? Bagaimana dengan putra-putra kita? Sepertinya kamu sedang memberikan misi penting pada suamimu ini." Mickey senyum-senyum sendiri saat menyampaikan kalimatnya.


"Hei, bukan begitu Mike. Kamu ini dipikirannya begitu dan begitu aja." protes Joelin.


"Apa salahnya menyenangkan hati istriku?" rayu Mickey sambil meletakkan kepala Joelin di dadanya yang bidang.


"Siapa nama bayi kita?" tanya Joelin mengabaikan pertanyaan suaminya itu.


"Hmmmm... bagaimana menurutmu? Apakah dia harus diberi dua nama?"


"Kenapa dua nama Mickey?"


"Nama Korea dan nama inggris. Bagaimana?"


"Boleh. Tapi siapa namanya?"


"Apa kamu punya ide sayang?" tanya Mickey sambil menatap Joelin lekat.


"Aku belum memikirkan nama sama sekali."


"Mana ada ibu hamil yang tidak memikirkan nama anaknya kelak? Jangan berbohong Joelin." ujar Mickey.


"Aku serius sayang. Kita selalu memanggilnya bayi, hingga aku lupa mencarikan nama. Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk putri kita?"


"Aku ingin memanggilnya Joelin generasi ke 2."


"Nama apa itu?" tanya Joelin tak percaya dengan pendengaran nya.


"Yah, karena aku tergila-gila dengan semua tentang kamu, sampai-sampai saat aku memikirkan nama untuk putri kita, yang ada di kepalaku hanya nama Joelin dan Joelin." Mickey berkata lirih.


"Jangan bercanda Mike..."


"Aku serius sayang. Kamu tidak menyukainya?"


"Aku menyukainya. Aku suka kamu tergila-gila denganku. hahahaha" sambil tertawa kecil.


"Tapi, bukan berarti nama anak kita juga harus Joelin, apakah anak kedua akan jadi Joelin ke-tiga? ke-4, 5 dan seterusnya?" melanjutkan pertanyaannya sambil menahan tawa.


Mickey meringis menyadari betapa konyol pemikirannya tadi. Namun akhirnya pria itu memilih ikut menertawakan kekonyolannya.


"Aku bisa melihatmu membuka mata dan tertawa lagi, terimakasih sudah bertahan sayang." bisik Mickey dalam hati sambil menikmati tawa wanita yang dicintainya itu.

__ADS_1


__ADS_2