Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Aku Cinta Kamu, Tapi...


__ADS_3

Mickey tersenyum gemas menyaksikan wajah kebingungan kekasihnya itu.


"She is really cute." gumamnya.


Setelah membersihkan wajahnya Joelin keluar dari kamar mandi.


"Come here." ujar Mickey yang berdiri di sisi kasur sambil merentangkan kedua tangannya.


Joelin berlari kecil ke arah pria itu dan langsung memeluknya. Entah sejak kapan, tubuh Mickey jadi tempat ternyaman bagi gadis itu.


"I'll missing you so bad." bisik Mickey di telinga Joelin sambil memeluk erat gadis itu.


"Aku juga." ujar Joelin sambil menahan geli di telinganya.


"Ayok aku akan mengantarmu." ujar Mickey.


"Ok."


"Beruntung Amel sedang traveling, andai dia memergokiku tidur diluar dan pulang mengenakan pakaian pria ini bisa ribet urusannya." batin Joelin.


Keduanya meninggalkan rumah Mickey. Matahari mulai menyinari bumi, untungnya belum banyak orang yang beraktifitas saat mereka tiba di asrama.


"Bagaimana kamu akan bertanggungjawab atas rasa rinduku?" tanya Mickey sembil memainkan jari Joelin di dalam genggamannya.


"Aku juga rindu Mickey."


"Tapi kamu tidak mengizinkan ku melakukannya sepanjang malam. Apa kamu sungguh mencintaimu?"


"Aku mencintaimu. Sangat-sangat cinta kamu, tapi..."


"Tapi apa Joe?"


"Aku juga ingin melakukannya denganmu, tapi setelah kita menikah. okay?" bujuk Joelin sambil menatap pria itu penuh perasaan.


"Aku tidak sabar menunggu setahun lagi. Bagaimana jika kita segera menikah?"


"Mickey, kita bicarakan ini lain kali. Aku bisa ketinggalan pesawat kalau kamu terus menahan ku di sini."


"Maaf sayang, aku hanya ingin menculikmu sekarang."


"Aku hanya pulang selama 2 minggu Mickey bukan selamanya."


"hmmm... maaf."


"Maafkan aku Mickey." ujar Joelin sungguh-sungguh.


"Kamu tidak salah sayang. Cepatlah kembali. Jangan lupa hubungi aku. Dan hati-hati diperjalanan." gumam Mickey lembut sambil memeluk gadis itu.


"Aku pergi." ujar Joelin meninggalkan Mickey, sebuah kecupan singkat mendarat di pipi pria itu.

__ADS_1


Mickey yang tak kuasa menahan diri langsung mengatur langkah panjang dan segera menarik tangan gadis itu. Sebuah ciuman dalam dibiarkan mendarat di bibir gadis itu.


"Ciuman tadi supaya kamu ingat bahwa kamu hanya milik Mickey." ujar nya sesaat setelah menghentikan ciuman mereka.


"Okay. Bye-bye." ujar Joelin sambil melangkah masuk kedalam asrama.


Mickey memandangi punggung gadis itu. Sebuah ide tiba-tiba melintas dalam kepalanya. Mickey segera pulang kerumah dengan semangat yang membara.


\*\*\*


Joelin sudah tiba di bandara. Setelah Chek in, gadis itu langsung menuju gate keberangkatan untuk pesawat yang dia tumpangi. Wajahnya terlihat sangat tidak senang. Sementara pria tampan yang duduk di sebelahnya terus saja bertingkah berlebihan.


"Mau minum?" tanya pria itu menyodorkan sebotol air mineral pada Joelin.


"Nggak kak. thanks." jawab Joelin berusaha sopan.


"Jadi, kamu punya pacar?" tanyanya lagi.


"maaf kak, saya tidak ingin membahas privasi saya sekarang."


"Come on Joelin, apa kamu memang sekaku ini?" tanya pria itu mulai tak sabar.


"Maaf kak." ujar Joelin sopan.


"Okay. Jika kamu tidak memberi jawaban ya atau tidak, saya simpulkan jawabannya tidak. Berarti saya bebas mendekati kamu."


"Maaf kak, saya harus menerima panggilan ini." jawab Joelin sambil menatap layar ponselnya.


"Siapa tadi?"


"Teman kak."


"Saya sempat dengar kamu berbicara dengan bahasa inggris. Apa dia foreigner atau anak korea?"


"Yang pasti bukan orang Indonesia kak."


"Joelin, kalau yang tadi menghubungimu seorang pria, saya hanya ingin mengingatkan kamu untuk berhati-hati."


"Saya rasa itu bukan urusan kakak." ujar Joelin geram.


"Yah, terserah kamu sih. Saya hanya tidak ingin kamu terjebak oleh rayuan laki-laki hang hanya ingin menikmati keuntungan dari tubuh kamu."


"Maaf saya rasa perkataan kakak tidak sopan."


"Terserah kamu saja, tapi yang saya tahu banyak pria asing yang mengejar-ngejar mahasiswi asal Indonesia karena ingin menikmati keperawanan mereka saja."


Kalimat Vino berhenti seiring dengan pengumuman dari maskapai agar para penumpang segera menaiki pesawat.


"Pesawat yang kutumpangi akan segera berangkat. aku rindu kamu Mickey." Joelin mengirimkan sebuah pesan singkat pada kekasihnya sebelum melangkah masuk kedalam pesawat.

__ADS_1


\*\*\*


Disepanjang penerbangan Joelin berusaha memejamkan matanya. Gadis itu enggan berbicara dengan pria yang kini duduk di sebelahnya. Menurut Joelin, pria itu terlalu banyak ikut campur bahkan ketika mereka tidak terlalu dekat untuk saling menasehati. Setibanya di bandara Indonesia, Joelin langsung undur diri dan menjauh dari Vino. Gadis itu segera meninggalkan bandara dengan menumpang pada sebuah taksi. Di dalam taksi Joelin segera menyalakan ponselnya. Tiba-tiba wajahnya berubah kecewa saat menyadari Mickey sama sekali tidak membalas pesan yang dia kirim tadi.


"Rindu mu palsu." ujar Joelin pelan.


Gadis itu akhirnya tiba di kampung halaman nya. Di hadapannya kini berdiri sebuah rumah mungil berdinding kayu yang di kelilingi oleh banyak bunga mawar. Rumah itu terlihat hening, setelah menurunkan koper dan barang-barangnya Joelib menyodorkan uang pada supir taksi online itu.


Sepeninggalan taksi halaman rumah Joelin kembali sepi. Di kampungnya perumahan warga berjarak tiga sampai lima meter perbangunannya. Kampung halaman Joelin sangatlah asri. Gadis itu menghirup udara pegunungan dalam-dalam. Udara segar memasuki rongga dadanya. Satu persatu barang bawaannya dia geser menuju pintu depan rumah. Akhirnya gadis itu memilih duduk di teras depan sambil memeriksa ponselnya.


"Payah, jaringan begini mana bisa video call?" ujar gadis itu.


Dia memandangi ponselnya dengan malas. Gadis itu belum juga menerima balasan dari Mickey.


"Mickey bukan laki-laki seperti yang Vino sebutkan tadi kan?" tanya Joelin dalam hati.


Entah mengapa kini hatinya terasa sangat tidak nyaman. Dia merasa cemas, rindu dan juga kecewa sekaligus.


"Joelin" sebuah suara menyadarkan gadis itu.


"Bapak? Ibu dimana?" tanya Joelin sambil menyalim dan mencium tangan ayahnya.


"Ada di kebun belakang. Kenapa kamu nggak langsung masuk kedalam nak?"


"nggak dikunci pak?"


"Kan kuncinya selalu disimpan di sini." ujar pria itu sambil mengambil kunci dari salah satu pot bunga di dekat pintu.


"Joelin lupa pak."


"Kamu ini ada-ada saja ndok.. Masuklah, Bapak akan panggil Ibumu."


"Terimakasih pak."


Joelin langsung mendorong pintu dan memasukkan barang bawaannya ke dalam rumah. Setelah semuanya beres, gadis itu langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Joelin bergidik ngeri saat menemukan beberapa ruam merah di dadanya.


"Kalau Vino benar, bisa hancur masa depanku. aku harus gimana lagi? Aku cinta Mickey, tapi nggak boleh begini terus kan? Satu tahun bukan waktu yang singkat. Apa aku bisa terus menghindar dan menahan diri sampai setahun ke depan?" tanya Joelin dalam hati.


Gadis itu melanjutkan aktifitasnya di kamar mandi sambil terus memikirkan arah hubungan mereka.


Sementara itu. di korea Mickey sedang mengurus segala hal yang berkaitan dengan rencananya hingga pria itu tidak sempat memeriksa ponselnya.


"Apa Joelin sudah sampai?" gumam Mickey pada dirinya sendiri yang kini sedang mengantri di kantor imigrasi untuk mengurus beberapa dokumen.


Pria itu mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Joelin, namun setelah mencoba berulang kali panggilannya sama sekali tidak terhubung.


"Mungkin dia masih di pesawat." gumam pria itu kembali menyimpan ponselnya.


Untung saja nomor antriannya tepat dipanggil oleh petugas imigrasi.Seusai mengurus semua berkas-berkasnya Mickey pulang ke rumah dengan kebahagiaan yang tergambar jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Sepertinya rencana ini akan berhasil. Yes.." ucap Mickey sambil membawa motornya melaju di jalan kota.


__ADS_2