
Sementara Joelin yang sedang berdiri di ambang pintu terbelalak kaget menyaksikan pemandangan di depannya.
"Aku bermimpi kah?" gumam gadis itu sambil bersandar pada daun pintu.
Sementara ketiga pria itu masih sibuk berbincang di halaman depan. Selang beberapa menit mereka melangkah menuju pintu.
"Joelin? Kamu sejak kapan di situ?" ujar Tn Bertlandes saat memergoki putri sulungnya yang sedang mengawasi mereka.
"Tadi pak."
"Ini teman kamu diajak masuk dulu, Bapak akan panggil ibumu ke kebun sebentar."
"Joelin aja pak yang manggil Ibu."
Gadis itu langsung menerobos keluar rumah tanpa menyapa Mickey terlebih dahulu. Tn Bertlandes mempersilahkan tamunya untuk masuk kerumah.
"Kenapa gadis itu?" batin Mickey saat menyadari sikap Joelin yang berusaha mengabaikannya.
"Maaf, rumah kami sederhana begini." Ujar Bertlandes saat mereka semua duduk di ruang tamu. Pria itu sepertinya paham betul perbedaan besar antara hidup di desa dan di negara asal Mickey.
"Jadi tadi nama kamu Lee Eum...? tanya Bertlandes berusaha mengingat nama Mickey.
"Paman bisa memanggilku Mike."
"Oh, Mike.." ujarnya sambil mengangguk perlahan. "Jadi ini pertama kalinya kamu berkunjung je Indonesia?"
"Iya Paman."
"Bagaimana kamu bisa mengenal putri saya?"
"Kami teman satu kelas."
"Begitu. Beginilah keadaan kampung kami. Selamat datang dan selamat menikmati kunjungan mu." gumam beliau.
"Terimakasih Paman."
Mickey berjuang untuk bersikap sopan dan hati-hati di depan orangtua gadisnya.
"Jadi Mas ini kamu bawa dari Korea?"
"Bukan om. Saya Martin. Saya dari agensi travel, kebetulan tn Mickey menyewa jasa kami untuk guide dan penerjemah."
"Hahahaha.. saya mengerti. saya mengerti."
Ayah Joelin mengawasi kedua pria itu dengan teliti. Martin, pria belia itu mengenakan t-shirt putih polos yang dipadankan dengan jeans biru. Penampilan dan pembawaannya terlihat santai berbeda dengan Mickey yang terlihat sangat gugup. Berkali-kali dia menggesek kedua telapak tangannya.
"Ada apa?" tanya Bertlandes saat menyadari kegugupan Mickey.
__ADS_1
"mmm... Paman ternyata sangat mahir berbahasa Inggris." ujar Mickey kikuk.
Bertlandes tersenyum simpul mendengar jawaban pria itu. Diam-diam dia menyimpulkan bahwa pria korea ini memiliki ketertarikan tertentu pada putrinya. Gesture Mickey sejak melihat Joelin tadi benar-benar mudah ditebak.
"Apa kamu sedang bertengkar dengannya?"
"eh.. maksud paman?"
"Joelin. Saya rasa Mickey sedang mencemaskannya."
Mickey tertunduk malu. Kini dia sudah tertangkap basah. Dari tadi pria itu memang cemas karena aksi diam Joelin.
"Kenapa dia bahkan tidak memberikan pelukan selamat datang padaku?" gumam Mickey dalam hati.
"Yasudah kalau kamu tidak ingin memberitahu pada saya. Kalian akan menginap di mana?" tanya orang tua itu lagi.
"Saya akan tinggal di hotel yang ada di Jakarta." jawab Mickey hati-hati.
"Begini saja, kamu tinggal di sini saja nak. Lagipula kamu kab teman anak saya. Bagaimana mungkin kami tidak menjamu seorang teman?"
"Apa semua ayah di Indonesia sebaik dia pada kekasih putrinya?" gumam Mickey dalam hati.
"Kecuali, kamu pacaran dengan Joelin. Saya tidak akan mengijinkanmu menginap." ujar Bertlandes menyelesaikan kalimatnya.
"Bapak.. mana ada peraturan seperti itu?" ujar Ibu Joelin yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
Mickey yang sempat sangat terkejut mendengar pernyataan Bertlandes merasa sedikit aman setelah kehadiran calon ibu mertuanya itu. Namun kesedihan kembali menghampirinya saat menyadari aksi cuek Joelin. Gadis itu langsung berlalu meninggalkan ruang tamu tanpa sepatah katapun.
"Nyonya, terimakasih sudah menjamu kami." ujar Mickey.
"Panggil tante aja nak. Kamu tinggal di sini, sampai kalian kembali ke Korea ya?"
"Terimakasih nyon.. maaf maksud saya Tante."
"Jangan sungkan-sungkan. Kalian sudah makan?" tanya wanita itu dalam bahasa Indonesia.
Martin yang duduk di sisi Mickey langsung menerjemahkannya tanpa diperintah.
"Terimakasih Tante, kami sudah makan siang diperjalanan tadi." jawab Mickey dalam bahasa inggris.
Joelin yang sedang berada tidak jauh dari sana terus megawasi Mickey. Ternyata dia sangat bahagia saat melihat pria itu kembali. Jantungnya hampir saja melompat keluar, andai tadi tidak ada orang lain disana, tentulah gadis itu langsung menghadiahi pria itu dengan pelukannya.
"Aku jadi ikutan mesum gini. Ya ampun." omel Joelin pada diri sendiri sambil memukul kepalanya.
Gadis itu terus mengawasi dari sana, namun akhirnya dia teringat akan sesuatu. Joelin langsung melangkah menuju dapur. Aroma teh dan kopi yang kental memenuhi indra penciuman keempat orang yang sedang berbincang-bincang di ruang tamu. Dengan gerakan lincah Joelin memindahkan gelas-gelas di nampan ke atas meja.
Setelah membagikan minuman, gadis itu langsung melangkah menjauh dari sana. Sesuatu yang hangat dan lembut, tiba-tiba mendarat di lengan Joelin. Menghentikan gerakan kaki gadis itu. Mickey menarik tangan Joelin perlahan. Gadis itu akhirnya duduk di sisi Mickey.
__ADS_1
Seperti sedang mendengar sebuah pengumuman, kedua orang tua Joelin tiba-tiba mengerti hubungan kedua anak muda itu.
"Paman, Tante maaf jika kalimat yang akan saya sampaikan ini cukup mengejutkan. Maksud kedatangan saya ke mari adalah untuk melamar dan menikahi Joelin."
Hening. Seketika semua orang yang ada diruangan itu bungkam. Joelin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara kedua orangtuanya saling melempar pandang. Martin yang dari tadi duduk disana pun hanya bisa ternganga lebar.
"Bro, emang loe kira ini di negara loe? Datang-datang langsung melamar?" gumamnya memecah keheningan.
Mickey yang tidak mengerti bahasa Indonesia melanjutkan permohonannya, dia sungguh mengabaikan perkataan Martin barusan.
"Maaf Paman, Maaf tante. Saya tahu saya belum bisa membuktikan apa-apa tentang diri saya dan pencapaian saya. Tapi saya Mencintai Joelin dan saya ingin menjaganya. Jadi saya mohon, izinkan saya menikahi Joelin sebelum kami kembali ke Korea." ujar Mickey sungguh-ungguh.
"MIKE??!!" seru Joelin yang kini sedang shock.
"Tidak. Tidak boleh." jawab nyonya Bertlandes dingin.
Kini ruang tamu rumah Joelin berubah menjadi canggung. Tidak seorang pun angkat suara. Mickey kini sedang berlutut di lantai, sementara Joelin masih sangat terkejut dengan semua yang terjadi hari ini.
Bagi gadis itu, melihat Mickey berdiri di depan rumahnya adalah sebuah mimpi. Entah bagaimana mimpi yang begitu mengejutkan terus berkepanjangan hari ini.
"Mickey, bukankah kita sudah membicarakan ini?" tanya Joelin dengan suara bergetar.
Bulir bening yang tak kuasa ditahan lagi akhirnya lolos membasahi pipi Joelin. Senang, sedih, bingung kini campur aduk di dalam hatinya. Dia senang Mickey di sini. Gadis mana yang tidak akan bahagia jika dilamar oleh pujaan hati? Tapi, apakah ini waktu yang tepat? akankah orangtuanya kecewa? akankah Mickey pulang tanpa hasil apa-apa? Memikirkan semua itu membuat Joelin tak kuasa menahan air matanya.
"Joelin, maaf. Aku, aku sangat mencintaimu dan menikahimu adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan sebagai bukti cintaku saat ini." ujar Mickey sungguh-sungguh.
Pria itu belum mengubah posisi duduknya. Dia masih di sana. Berlutut di atas lantai, dengan kepala yang tertunduk pasrah. Air mata Mickey pun menetes pelan, diam-diam dia memohon pada sang Khalik agar mengizinkan rencana ini berjalan lancar. Agar cinta di dalam hatinya sungguh-sungguh berlabuh.
"Bu. Saya setuju dengan Mickey." tuan Bertlandes memecah keheningan.
"Kita akan melangsungkan pernikahan dua di akhir pekan minggu depan. Apakah kalian menginginkan sebuah pesta?" tambahnya lagi.
"Terimakasih paman." ujar Mickey tulus.
"Mana boleh begitu?" protes Ibu Joelin.
"Bu.."
Joelin akhirnya angkat suara. Gadis itu menatap ibunya penuh harap.
***Pengumuman
dears, maaf kalau ceritanya buat kalian bosan. Aku sedang berjuang dengan cerita ini, kadang buntu. Btw tetap support novel ini dengan memberi vote, like dan komentar-komentar kalian ya. Yuk mampir baca novel "C.I.N.T.A PLUS MINUS" juga.
thankyou
-best***-
__ADS_1