
"Sepertinya rencana ini akan berhasil. Yes.." ucap Mickey sambil membawa motornya melaju di jalan kota.
\*\*\*
Udara yang sejuk memenuhi rongga dada Joelin. Gadis itu sedang asik memetik Strawberry di kebun belakang rumah. Dia tidak sendirian, banyak pegawai kebun yang bekerja di sana. Kebun ini milik seorang pengusaha kaya dari kota. Orang tua Joelin dipercayakan sebagai mandur yang menjaga dan mengelola kebun.
Setelah merasa buah yang dia petik cukup untuk mengisi perut, Joelin segera kembali kerumah. Dengan telaten gadis itu mencuci setiap buah strawberry. Tanpa sadar gadis itu kembali larut dalam lamunannya.
"Sudah tiga hari di rumah, tiga hari tanpa komunikasi dengan Mickey." gumam Joelin.
"Apa jangan-jangan semua yang dikatakan oleh Vino itu benar? Apa selama ini gue hanya dijadikan alat pemuas nafsu sama Mickey?" batin Joelin.
Airmata gadis itu mengalir deras membasahi pipi. Ada sesal dalam hatinya, karena merasa gagal menjaga diri dan kesuciannya.
"Memang kami belum bertindak sejauh itu. Tapi tetap aja dia udah melihat seluruh tubuhku." gumam Joelin pelan di sela-sela isakannya.
Gadis itu akhirnya menyimpan buah yang dia bersihkan tadi di meja makan. Joelin segera berlari menuju kamarnya. Dengan membenam kan kepalanya di bantal Joelin menangis sesenggukan.
"Apa yang harus kulakukan? Bagaimana nanti jika aku kembali kesana? Haruskah kami putus saja?" batin Joelin sambil terus terisak.
Joelin terjaga dari air matanya, saat mendengar seseorang mengetuk pintu. Gadis itu langsung turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar. Rumah yang terbuat dari papan memang sangat tidak kedap suara. Dengan begitu wajar saja jika Joelin mendengar ketukan di pintu depan saat dia dikamar tadi.
Ketika pintu terbuka seorang pria paruh baya yang mengenakan jas kantornya berdiri di hadapan Joelin.
"Maaf, Bapak sedang mencari siapa pak?"
"Apa betul ini rumah Mr. Bertlandes?"
"Apa maksud Bapak Jordy Bertlandes?"
"Ya. tepat sekali."
"Saya putrinya. Bapak silahkan masuk, saya akan memanggil orangtua saya dari kebun." ujar Joelin sopan.
"Tidak perlu Nona, saya kemari mengantarkan wakil presiden. Beliau ingin mengamati kondisi perkembangan kebun. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari informan, nona Bertlandes bisa membantu menemani kami untuk mengunjungi kebun."
"Oh.. Baiklah pak. Jika anda merasa kita boleh langsung berkeliling, saya tidak keberatan."
"Saya akan memberitahu pada Tuan." ujar pria itu undur diri.
Pria paruh baya itu langsung berjalan mendekati mobil marcedes warna hitam yang terpakir di depan rumah Joelin. Setelah beberapa menit seseorang yang begitu familiar keluar dari mobil itu. Pria itu melangkah mendekat tanpa mengangkat wajahnya. Dia terlihat sangat hati-hati melangkah diantara tanah becek di halaman rumah Joelin.
"Bang Geodan?" gumam Joelin tak percaya.
"Hai, Saya Geodan Airlangga. Senang bisa bertemu dengan an..." kalimat Geodan terputus menyadari gadis yang berdiri di hadapannya adalah pujaan hatinya.
"Joelin??"
"Senang bertemu dengan anda. Saya Joelin Bertlandes." ucap Joelin sambil tersenyum.
"Eh, kamu sangat mirip dengan Joelin yang saya kenal." ujar Geodan kikuk.
__ADS_1
"Anda juga mirip dengan seseorang yang saya kenal." canda Joelin.
"Lah, kok jadi aneh begini ya?"
"Jadi abang calon wakil CEO di perusahaan Airlanggas?"
"Biasalah, warisan keluarga. Saya nggak pernah kepikiran kalau kamu ternyata anak tn.Bertlandes, kebetulan sekali ya bisa ketemu disini."
"Hehehe.. Abang mau masuk dulu atau langsung keliling kebun?"
"Keliling aja Joe."
"Bos, saya bantu pakai payung ya?" tanya pria paruh baya tadi.
"Nggak usah Om. Nggak pakai payung juga nggak bakal gosong kok kulit saya. Om bisa nikmati waktu di sini sambil menyegarkan mata. Saya jalan bareng nona Joelin aja." jawab Geodan santai.
"Siap bos."
Sebelum pergi berkeliling bersama Geodan, gadis itu terlebih dahulu mengunci pintu rumah. Keduanya lalu menusuri jalan yang membelah perkampungan. Di sisi kiri dan kanan jalan terdapat kebun strawberry dan perumahan warga sekitar.
"Selama ini saya pikir Joelin dari Medan." ucap Geodan memecah keheningan.
"Ibu saya dari Medan, tapi Bapak yah keluarga papa semua ada di Jerman. Cuman Bapak yang di sini."
"Iya. Saya dengar-dengar keluarga Bertlandes punya perusahaan yang lumayan berpengaruh di negara asal. Tapi kenapa Joelin malah mau tinggal di sini?"
"Bapak lebih senang di sini. Dekat dengan alam." jawab Joelin singkat.
"Sepanjang Joelin bisa mengingat daerah ini memang dipenuhi strawberry. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat Strawberry ini berubah menjadi tanaman-tanaman yang lain."
"Maksud kamu?'
"Seiring waktu segala sesuatu berubah. Manusia, kebutuhan dan keinginannya. Dan tidak jarang alam harus berubah mengikuti keinginan manusia."
"Ternyata cerita tentang kecerdasan Joelin bukan sekedar mitos ya."
"Hahahaha... Abang terlalu memuji berlebihan."
Joelin dan Geodan salin terdiam. Mereka memasuki jalan setapak yang membelah kebun strawberry. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Arrrh..." Kaki Joelin terperosok ke dalam kubangan lumpur.
Dengan sigap Geodan segera menangkap gadis itu. Namun sayang keduanya malah sama-sama jatuh ke lumpur yang menggenang di sana. Tubuh Joelin kini berada dalam pelukan Goedan. Jantung pria itu berdebar kencang sekali. Sejenak mereka saling terdiam, Geodan sungguh sangat tergoda untuk mencium pipi gadis itu.
"Bahkan dalam pakaian rumahan seperti ini kamu masih terlihat cantik." ucap Geodan dalam hati.
"Eitts.. jadi kotor deh. Maaf ya bang."
Kalimat Joelin menyadarkan Geodan dari lamunannya.
"Kamu baik-baik aja kan?"
__ADS_1
Geodan bertanya pada gadis itu sambil berusaha untuk bangkit berdiri.
"Oke....ehhhh..."
Baru saja mereka berdiri, keduanya kembali terpeleset karena lumpur yang mereka pijak ternyata sangat banyak.
Beberapa percikan lumpur kini menghiasi wajah Joelin. Begitupun dengan Geodan.
"HAHAHAHA." mereka berdua tertawa sambil menunjuk wajah satu dengan yang lainnya.
Sebuah ide iseng tiba-tiba muncul di kepala Geodan. Pria itu mencipratkan sedikit lumpur ke pakaian Joelin.
"Ya ampun bang, jorok tahu." protes Joelin.
Mendengar protesan gadis itu wajah Geodan berubah kecewa. Melihat perubahan di wajah Geodan, gadis itupun melemparkan lumpur kearah pria itu. Mereka berdua lalu asik berperang dengan saling mencipratkan lumpur. Setelah puas tertawa, Joelin menawarkan pada pria itu untuk mengunjungi sebuah sungai di dalam area perkebunan. Keduanya lalu kembali menusuri jalan setapak yang membelah ladang strawberry itu. Tanpa banyak bicara, mereka melangkah beriringan.
Untuk sejenak Joelin lupa kegelisahannya. Sedangkan Goedan sangat bahagia karena bisa melepas rindu pada gadis ini. Mereka berdua pun tiba di sebuah aliran sungai. Joelib membersihkan wajahnya. Demikian juga Goedan.
"Gimana kuliahmu Joe?" tanya Geodan memecah keheningan.
"Lancar bang. Abang gimana di China?"
"Semuanya aman terkendali. Cuman kurang satu hal aja."
"Kurang apa bang?"
"Seseorang yang pernah saya tunggu, ternyata sampai kini belum bisa menyusul saya untuk tinggal di sana." Jawab Geodan.
Joelin terdiam mendengar jawaban itu. dalam hatinya dia berkata "pasti yang abang maksud Aluna."
"Tapi walaupun dia nggak ke China, setidaknya secara kebetulan aku ketemu dia di kebun strawberry ini." gumam Goedan dalam hati.
\*\*\*
Mickey memandangi foto Joelin di ponselnya. Pria itu sungguh-sungguh ingin segera melepas rindu dan bertemu dengan gadis berambut pirang itu.
"Tahan Eum Son. Jangan gegabah, jangan hubungi dia." gumam Mickey pada dirinya sendiri.
Berkali-kali pria itu mencium wajah Joelin yng terpampang di layar ponselnya.
"Ah.. aku benar-benar pria mesum." gumam Mickey frustasi.
Dia segera meletakkan ponselnya di tempat tidur dan kembali mengemas beberapa pakaian ke dalam koper kecil di sana. Mickey bergerak lincah kesana kemari ditemani sebuah senyum yang menghiasi wajahnya.
**Pengumuman:
Readers tersayang, novel ini sedang mengikuti lomba loh. Yok vote dan like sebanyak-banyak nya.
BTW, author akan sangat bersemangat membaca dan membalas cuitan kalian di kolom komentar.
terimakasih
__ADS_1
-Best**-