Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Janji


__ADS_3

"Bu.."


Joelin akhirnya angkat suara. Gadis itu menatap ibunya penuh harap.


 


\*


 


Kamar Joelin yang berdinding kayu kini sedang diisi oleh kesibukannya dan Mickey. Keduanya sedang mengepack pakaian kedalam koper. Mickey melangkah mendekati Joelin dan langsung mendekap gadis itu.


"Hei jangan macem-macem." protes Joelin.


"Sebentar saja." jawab Mickey berbisik pelan di telinga gadis itu.


Joelin membiarkan pria itu memeluknya. Lagipula ini pertama kalinya mereka bisa berduaan semenjak Mickey tiba di sini.


"Kenapa kamu harus berangkat duluan sih?"


Mickey berbisik manja di telinga Joelin, pria itu masih mendekap Joelin dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di leher gadis itu.


"Kan tiketnya memang harus berangkat besok. Kamu gimana sih?"


"Jadi mau ninggalin aku sendiri di sini?"


"Kamu maunya gimana? Mau buang-buang uang buat beli tiket baru?"


"Bisa jadi."


"Mickey, berhenti buang-buang uang buat hal nggak penting."


Joelin berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu.


"Buat kamu bukan termasuk kategori menghamburkan uang darling." ujar Mickey sambil menatap mata Joelin sungguh-sungguh.


"Tetap aja Mickey, uangnya masih bisa digunakan untuk banyak hal penting lainnya." Joelin protes dengan memasang wajah galak nya.


"Okay bos. Maaf ya."


"Yaudah kamu tiduran sana."


Joelin mendorong pria itu naik ke atas ranjang.


"Kamu mau apa sayang?" goda Mickey.


"Ya jelas mau packing lah." ujar Joelin cuek dan kembali menuju lemari pakaiannya.


Mickey hanya bisa berdiam diri atas sikap cuek Joelin.


"Bahkan setelah menikah gadis ini masih saja sukses berlaku cuek padaku." gumam Mickey dalam hati. Dengan kedua matanya, dia mengawasi setiap gerakan cekatan yang dilakukan Joelin. Mickey tersenyum bahagia. Ingatannya kembali pada hari bahagianya yang baru saja usai dua hari lalu. Pemandangan di hadapannya dan kenangan indah itu akhirnya membawa Mickey terlelap dalam mimpi.


Joelin sudah selesai membereskan pakaiannya. Gadis itu melangkah mengitari kamarnya. Dia menghampiri Mickey yang sudah terlelap. Dengan gerakan hati-hati, Joelin segera merebahkan dirinya di sisi pria itu.


"Kalau diam begini kamu terlihat sangat imut. Tapi setiap bangun kenapa kamu berubah jadi mesum?" gumam Joelin.


Pipi gadis itu kini terasa hangat, semburat merah merona menghiasi pipinya.


"Terimakasih ya, sudah menjemput ku dan menghapus semua ragu ku." bisik Joelin pelan sebelum memejamkan matanya.


Matahari sudah terbenam saat Mickey membuka kedua bola matanya. Pria itu langsung tersenyum menyadari tangan yang melingkar posessif di pinggangnya. Wajahnya kini hanya berjarak sekian centi dari wajah Joelin. Sebuah kecupan singkat akhirnya mendarat mulus di bibir mungil gadis itu.


"Kamu hanya milikku." gumam Mickey tersenyum bahagia.


Pria itu menyimpan anak rambut milik Joelin kebalik telinga gadis itu.


"Cantik sekali istriku." batinnya. Dia tidak dapat berhenti tersenyum memandangi wajah yang kini terlelap di hadapannya.

__ADS_1


Mickey semakin terlena dengan pemandangan indah yang kini tersaji di depan matanya. Joelin menggeliat pelan, lalu membuka matanya perlahan.


"Mickey.."


"Hmmm..."


"Sudah bangun?"


"Iya sayang."


"Kok kamu masih di tempat tidur?"


"Karena kamu menahanku." ujar Mickey.


"Jam berapa i..." kalimat Joelin berhenti saat Mickey mendaratkan sebuah ciuman penuh gairah di bibir gadis itu.


"Mickey, aku harus bantu ibu." Gumam Joelin di sela-sela nafasnya yang memburu.


"Untung saja bisa lepas dari pencium maut ini." gumam Joelin dalam hati.


"Maaf sayang." jawab Mickey sambil melepaskan pelukannya.


Mereka berdua lalu bangkit dan beranjak dari tempat tidur.


"Sorry." ujar Joelin pelan.


"I know." jawab Mickey sungguh-sungguh.


Tanpa berdiskusi keduanya saling mengerti bahwa mereka tidak akan bertindak berlebihan selama di rumah orang tua Joelin. Bahkan sekalipun status mereka sudah sah jadi suami istri, tetap saja Joelin tidak nyaman melakukan hal-hal begitu di sini.


Joelin melangkah menuju dapur dan Mickey mengikutinya dari belakang. Dengan cekatan gadis itu langsung membantu ibunya memasak.


"Suamimu nak.. Ngapain bengong disitu?" ujar Ibunya setengah berbisik.


"Eh.. oh iya. Mickey, kamu kedepan aja sama Bapak." ujar Joelin pada Mickey.


"Terus kamu?" tanya Mickey bingung.


"Okay. Bye-bye." ujar Mickey.


"Suamimu dan kamu itu, mirip anak kecil yang ngekor ibunya." goda Ibu Joelin.


"Ah Ibu, kan Mickey bukan orang Indonesia, wajar dong dia jadi begitu." jawab Joelin.


"Jadi Joelin juga bersikap manja gitu ya selama di Korea? pantas diajak menikah "


"Maksudnya ibu dan bapak dulu nikah karena manja-manjaan juga?"


"Hush.. kamu ini nak, malah balas ngeledekin ibu."


"Hahaha... kan Ibu yang ngajarin."


"Joelin, maafin Ibu ya nak." nyonya Bertlandes menghentikan aktifitasnya dan menatap wajah Joelin sendu.


"Maaf kenapa Bu?"


"Ibu nggak pernah tahu apakah menikahkanmu dengan Mickey secepat ini adalah keputusan yang benar atau bukan. Tapi satu hal yang ibu sadari, Joelin juga sangat menginginkan pernikahan ini kan? Sebagai orang tua mungkin saja ibu akan menyesaal suatu saat nanti kalau Mickey nyakitin kamu."


"Bu... belum tentu kan Mickey bakal nyakitin Joelin." ujar Joelin pelan.


"Ibu hanya ragu nak. Dia benar-benar orang baru. Baru kenal langsung berani melamarmu, Bapakmu juga setuju."


"Jadi Ibu belum setuju?" wajah Joelin kini berubah menjadi sedih.


"Awalnya. Tapi setelah mendengar penjelasan ayahmu, Ibu jadi mengerti kenapa dia setuju."


"Kenapa Bu?"

__ADS_1


"Ayah bilang, lebih baik menikahkan kalian daripada memberi izin berpacaran."


"Alasannya?"


"Budaya dan gaya berpacaran orang luar sangat berbeda kan nak dengan kita di sini? Tentu saja ayahmu paham hal itu. Lagipula, dia sudah memberanikan diri melangkah sejauh ini untuk Joelin. Jadi bapak yakin, Mickey akan menjaga Joelin."


Joelin terdiam mendengar penjelasan ibunya. Kata-kata yang benar adanya. Bagaimanapun juga, dia sudah terjebak dalam gaya berpacaran yang tidak baik itu. Syukurlah Mickey langsung menikahinya.


"Joelin, berjanjilah nak.."


"Janji apa Bu?"


"Kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahanku, jangan menyembunyikamnya dari ibu."


"Ibu... jangan khawatir berlebihan." jawab Joelin sambil membalik ikan di dalam penggorengan.


"Bagi Ibu kamu tetap anak bayi yang menangis manja di pelukan Ibu Joe. Harapan Ibu apapun pilihanmu, kamu bisa berbahagia menjalaninya."


Joelin langsung mematikan kompor saat mendengar penuturan wanita yang telah melahirkannya itu. Gadis itu melangkah perlahan dan langsung memeluk ibunya.


"Terimakasih Ibu." ujar Joelin tulus.


Keduanya berpelukan dengan penuh cinta. Memang cinta Ibu kepada anaknya selalu menjadi ikatan kasih paling murni di dunia ini.


Sementara itu di ruang tamu, tuan Bertlandes sedang berbincang-bincang dengan menantunya. Keduanya terlihat asik.


"Kamu belajar bahasa inggris berapa lama Mike?"


"Saya hanya belajar di sekolah Pak. Tapi syukurlah sejak Joelin datang, saya memiliki peluang untuk lebih sering menggunakan bahasa inggris."


"Jadi sejak kapan kamu jatuh cinta pada gadis kecilku?"


"Ah.. Bapak, pertanyaan itu membuat saya merasa malu."


"Kamu ini, sama Bapak kok pakai acara malu-malu." ujar tuan Bertlandes. Keduanya langsung tertawa renyah.


"Mickey ada cerita lucu tentang Joelin."


"Apa pak?" pria itu langsung menunjukkan sikap antusias nya.


"Hahaha... kalau info tentang Joelin kamu langsung penasaran rupanya."


"Jadi bapak ngerjain saya ya?"


"Bukan begitu. Hahahaha..."


"Bapak curang." gumam Mickey memasang wajah manja.


"Jadi wajah ini yang membuat Joelin jatuh cinta sama kamu Mickey?" goda tuan Bertlandes.


"Saya menyerah Pak.." jawabnya pasrah.


"Berjanjilah satu hal pada Bapak."


"Apa pak?"


"Kalau kamu sudah tidak mencintai Joelin, jangan menahannya di sisimu."


"Maksud Bapak?"


"Bagi seorang ayah, melihat putrinya tersakiti adalah patah hati terbesar. Jadi kalau kamu sudah tidak mencintainya bebaskan dia. Biarkan dia mencari kebahagiaannya."


"Saya berjanji akan selalu mengusahakan kebahagiaan Joelin." ujar Mickey sungguh-sungguh sambil menatap mata ayah mertuanya.


**Pengumuman


Ada surprise loh di next episode. Terimakasih untuk dukungan kalian. Btw, author menantikan saran dan komentar readers tersayang.

__ADS_1


thankyou


-Best**-


__ADS_2