Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Kencan


__ADS_3

"Hahaha... jangan takut aku akan menemanimu dengan sepenuh hati." ujar Doni sambil tertawa renyah dan menakutkan.


\*\*\*


"Mike, Lucy ikut sama kita nggak?" Joelin yang sedang merapikan rambut suaminya itu bertanya dengan nada antusias.


"No sayang."


"Tapi Mike, masa kita ninggalin Lucy dirumah?"


"Jangan khawatir, Ayah dan Ibu mertuamu akan sangat senang mengurus Ae-Ri (Lucy)." Merasa sang istri sudah selesai merapikan rambutnya, pria itu meraih kepala Joelin dan menghadiahkan sebuah kecupan sayang di puncak kepala wanita itu.


"Kalau Lucy pup, gimana?" tanya Joelin menyuarakan keraguan nya.


"Omma pasti bisa membereskannya. Jangan khawatir. Lagipula kita hanya pergi sebentar untuk fiting baju kan sayang." Berujar lembut sambil mengacak puncak kepala sang istri karena gemas.


"Janji ya, nggak pakai lama." minta Joelin yang tidak percaya bahwa urusan mereka akan cepat selesai.


"Iya... iya..."


"Janji ya, nggak mampir ke mana-mana dan minta ini itu." Joelin mengangkat tangan kanannya dan mengajak sang suami berjanji kelingking.


"Janji sayang, sini beri cap stempel dulu." Mickey mendaratkan kecupan singkat kedua pipi sang istri setelah menakutkan kelingking mereka.


"Hei... mana ada begitu?" protes Joelin pada Mickey yang juga menyerang bibirnya.


"Hahaha.... cara berjanji versi kita sayang." jawab Mickey kembali mengacak puncak kepala Joelin.


"Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti sedang berpacaran dengan suamiku sendiri?" gumam Joelin dalam hati saat menerima perlakuan suaminya itu


"Ae-Ri, kami kencan dulu ya. Jangan nakal di rumah." ujar Mickey sambil mendekati putri kecilnya yang sedang terlelap di atas tempat tidur bayi.


"sttttt... jangan berisik. Kau bisa membangunkannya nanti." omel Joelin sambil berbisik.


"Ae-Ri, appa dan mommy kencan dulu." ujar Mickey berbisik.


"Kencan apanya? Kita hanya mau fiting baju sebentar, Lucy jangan dengarkan Appa mu, dia sedang membual. Kami akan pulang secepatnya." bisik Joelin sebelum mengecup lembut dahi bayi mungil itu.


"Kami harus kencan, Ae-Ri butuh adik kan?" bisik Mickey. Bayi yang sedang terlelap itu tiba-tiba tersenyum seolah menyetujui perkataan Mickey.


Merasa mendapat angin segar Mickey menyampaikan perihal senyuman putrinya pada Joelin.


"Sayang, lihat Ae-Ri tersenyum, artinya dia setuju ingin adik."


Joelin menatap sang bayi, yang masih lelap dengan bibir yang bergerak-gerak dan tersenyum berkali-kali.


"Dia sedang bermimpi." bisik Joelin sambil berlalu dari sana. Dia tidak ingin Mickey memerasnya dengan menggunakan senyum sang putri.


Setelah berpamitan pada orangtua Mickey, kini mereka berdua sedang berada di dalam mobil milik ayah pria itu. Mickey mengendarai mobil itu perlahan, membelah jalan raya.

__ADS_1


"Kapan terakhir kali kita berkencan?" tanya Mickey memecah kesunyian.


"eh...?" Joelin bergumam tidak tahu harus memberi jawaban apa untuk pertanyaan suaminya itu.


"Kita hanya berkencan beberapa kali sebelum menikah. Setelah pernikahan kita hanya fokus dengan kuliah. Sementara setelah lulus, kita malah terpisah. Dan saat bertemu denganmu lagi, kita sibuk menghadapi Ae-Ri yang bahkan belum lahir. he..he..he" Mickey terkekeh geli di akhir ceritanya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Joelin bingung.


"Tidak ada apa-apa." jawab Mickey sebelum larut dalam fikiran nya.


"Aku bahkan memutuskan langsung menikahi mu secepat itu. Sebelumnya aku tidak pernah berfikir akan mengalami jatuh cinta sampai segila ini. Tapi sejak bertemu denganmu, aku malah berani mengacaukan hidupku hanya agar bisa selalu bersamamu." batin Mickey saat mengingat lagi bagaimana perjuangannya melepaskan diri dari Jee Na dan mengejar Joelin.


Joelin hanya memandang keluar kaca jendela mobil sambil menikmati pemandangan kota asal suaminya itu.


Setelah berkendara selama satu jam, akhirnya mereka tiba di sebuah butik. Joelin sedang berada di ruang ganti, sedang Mickey kini menanti wanita itu sambil mengenakan setelan lengkap di tubuhnya.


"Bagaimana Mike?" tanya Joelin yang sedang berjalan mendekati pria yang tengah memperhatikan arloji di lengannya.


Mickey mengangkat wajahnya ke arah suara, dan untuk kesekian kalinya dia terpesona dengan kecantikan sang istri.


"Joe, bagaimana jika kita langsung pakai baju tradisional korea? Lagipula kita sudah punya foto dengan pakaian begini kan?" Mickey bermaksud gaun putih ala pengantin barat yang kini di kenakan Joelin. Tiba-tiba dia tidak ingin para undangan menikmati kecantikan sang istri jika Joelin memakai gaun putih ala kostum princess itu.


"Kau yakin?" tanya Joelin yang sebenarnya tidak terlalu keberatan dengan Micke, namun dia juga tidak ingin mengecewakan keluarga sang suami.


"Ayolah Mickey, kita lakukan saja seperti yang sudah diatur appa dan omma." Mencoba meminta pengertian dari suaminya.


"Baiklah, tapi selama acara jangan menjauh dariku. Kamu harus menempel padaku seperti perangko menempel pada amplop. Okay?" menatap sang istri dengan pandangan serius.


"Okay." jawab Joelin.


Acara fiting baju akhirnya selesai. Kini Joelin sedang duduk di kursi penumpang mobil yang sedang di kendarai sang suami. Mereka saling diam, fokus dengan isi kepala masing-masing.


"Kita mau kemana Mike?" tanya Joelin yang menyadari bahwa suaminya menyetir ke arah berbeda dengan yang tadi mereka lewati.


"Ini kejutan." jawab Mickey.


"Ayolah Mike, jangan bercanda. Lucy sedang di rumah." Joelin mengkhawatirkan putri semata wayangnya itu.


"Omma akan merawatnya dengan senang hati."


"Tapi Mike..."


"Tida ada tapi-tapian sayang. Hari ini kita harus kencan. Kapan lagi kita bisa menikmati masa-masa pacaran kita?" tanya Mickey santai.


"Aku hanya tidak ingin merepotkan ibu mertua Mike.. Aduh, gimana dong ini? Acara kencan si Mike bakal lama nggak ya? Gimana kalau Lucy bangun dan menangis sepanjang hari?" batin Joelin kini sedang sibuk berdiskusi dan mencari jawaban yang tidak dapat dia temukan.


"Ayok turun. Kita sudah sampai." ujar Mike.


Joelin menuruti perkataan sang suami.

__ADS_1


"Inikan?" tanya Joelin tak percaya saat menyadari keberadaan mereka.


"Aku membawamu ke taman bermain. Apa kamu tidak suka?" tanya Mickey ragu.


"Apa aku salah menggunakan drama-drama sebagai referensi untuk acara kencan kali ini?" gumam Mickey dalam hati, mengingat puluhan drama yang dia tonton dan selalu memiliki konsep kencan di taman bermain super besar ini.


"Aku suka." jawab Joelin dengan mata berbinar.


"Astaga, ini namanya drama korea di real life, nggak nyangka aku bisa menikmati kencan di tempat ini." batin Joelin bersorak gembira, rasa khawatir pada Lucy yang tadi menyiksa dirinya tiba-tiba menguap hilang ditelan udara.


"Ehm... Nona Joelin, aku sangat menyukaimu sejak pertama kali melihatmu datang untuk menyapa semua orang di lab bersama dengan dosen pembimbing kita. Aku menyukai wajahmu yang terlihat kebingungan dan membuatku gemas, aku menyukai udara di sekitar ku yang berubah beraroma mawar karena kehadiranmu, aku juga suka semua kemarahammu, cara protesmu, cara melawanku, aku suka semua tentangmu. Sepertinya aku mengidap penyakit kronis, sindrom Joelin. Sesuatu yang membuatku tidak bisa mengalihkan fokus ku darimu. Nona Joelin, maukah kamu berkencan dengan pria sepertiku?"


Joelin menatap tidak percaya pada sang suami yang kini berlutut di hadapannya, sambil mengucapkan kalimat panjang tadi. Tidak lupa juga tangan pria itu kini terulur menggenggam sebuah kotak beludru berwarna merah. Dia merasa terharu dan berdebar senang. Namun bersamaan dengan itu dia juga merasa bingung dan tergelitik oleh aksi sang suami.


"Hei, kamu sedang apa?" tanya Joelin merusak suasana.


"Mau berkencan denganku tidak?" tanya Mickey kemudian.


"Mau dong. Tapi kenapa harus pakai acara begini?"


"Harusnya aku melakukan ini sebelum menikahi mu. Tapi semuanya harus berjalan di luar rencana awal ku. Karena aku terlalu terpesona padamu, sampai aku tidak dapat menahan diri." ujar Mickey sambil memasangkan cincin di jari tengah Joelin.


"Sekarang ada dua cincin yang mengikat kita di tanganmu." ujar Mickey lagi sambil memandang cincin pernikahan mereka dan cincin yang tadi dipasang olehnya.


"Berdirilah, banyak orang memperhatikan mu sejak tadi." ujar Joelin pelan.


"Mereka pasti iri melihatku memiliki wanita secantik kamu." Mickey kini sudah berdiri dan membawa Joelin dalam pelukannya.


"Jadi sekarang kamu kekasihku. Hanya aku yang boleh mengajakmu berkencan." tuntut Mickey sambil menarik tangan Joelin menyusuri area bermain itu.


"Sejak awal juga begitu kan? Aku hanya berkencan denganmu." ujar Joelin santai.


"Sayang, apa maksudmu?" tanya Mickey tidak percaya dengan pendengaran nya.


"Bukan berarti aku pacar pertamanya kan? Wah, Daebak beruntung sekali aku menjadi satu-satunya pria bagi Joelin." batin Mickey bersorak senang.


"Kamu pacar pertamaku, kamu juga suamiku, sejak awal aku hanya berkencan denganmu." jawab Joelin santai tanpa menyadari tabuhan genderang kemenangan yang kini sedang meledak dalam dada sang suami.


\*\*\*


Sementara itu di tempat lain, seorang gadis sedang menangis sesenggukan menghadapi kemarahan kedua orangtuanya.


"Amel, jawab mama. Siapa pelakunya? Siapa ayah anak yang kamu kandung?" tanya wanita paruh baya itu menahan emosi.


"Jangan hanya menangis, jawab pertanyaan kami." ujar sang ayah sambil melempar sebuah testpack ke arah putrinya.


**Author POV


hayo...siapa yang menghamili Amel guys**??

__ADS_1


__ADS_2