
Mickey memandang sosok yang berteriak itu dengan tatapan risih, sementara Joelin, dia juga melakukan hal serupa. Salah... salah, bukan tatapan risih, melainkan tatapan tidak suka dan mengajak perang.
Dengan wajah cemberut Joelin menarik Mickey kembali ke kamarnya.
"Hei ibu hamil jangan cemberut." teriak Doni yang merasa diabaikan oleh Joelin.
Joelin berhenti sejenak, Mickey yang sejak tadi hanya mengikuti istrinya itu memilih melakukan hal serupa.
"Kau bebas menggoda lelaki manapun, kecuali suamiku, ayahku, dan saudaraku." ujar Joelin sambil menatap Doni dengan tatapan galak.
"Oke oke..." jawab Doni sambil mengangguk santai dan berlalu dari sana.
Mickey yang tidak begitu paham dengan kejadian barusan hanya bisa mengeryit bingung. Namun jujur, saat dipanggil oppa oleh sesama pria, cukup membuatnya bergidik ngeri. Jauh lebih risih dibanding saat gadis-gadis di kota ini meneriakinya dengan sebutan oppa sambil memandangnya dengan tatapan memuja.
"Apa yang salah dengan tempat ini?" tanya Mickey lebih pada diri sendiri. Kini dia sudah kembali ke kamar mungil Joelin.
"Duduklah." pinta Mickey pada Joelin saat menyadari istrinya itu tengah modar mandir dengan gelisah.
"Kita tidak boleh tinggal di sini." jawab Joelin sambil mengambil posisi berdekatan dengan Mickey di atas ranjangnya.
"Kenapa?"
"Pria tadi. Aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan dia?"
"Ada apa sayang?"
"Dia penyuka sesama jenis Mickey." jawab Joelin sambil menatap wajah suaminya itu gelisah "dan kamu terlalu menggiurkan buat dia, karena kamu sangat tampan." tambah Joelin sebelum menunduk menyembunyikan pipinya yang kini bersemu merah.
Mickey tersenyum mendengar penuturan Joelin, hatinya kini sedang menabuh genderang sangkin bahagianya.
"Apa kamu akan malu setelah memuji suamimu ini?" Mickey menggerakkan tangan kanannya menyentuh lembut dagu Joelin dan kembali memposisikan istrinya itu kembali menatapnya.
.....
"Baiklah. Aku juga tidak berencana tinggal di sini. Kita harus ke Jakarta, dan tentu saja mengunjungi mertuaku."
"Tentang itu..." ujar Joelin ragu.
"Ada apa sayang?"
"Apa kamu menghubungi ayah dan ibuku selama tiga bulan ini?"
"Tenanglah, aku tak berencana dipecat sebagai menantu, jadi aku tidak memberitahu tentang kondisi terakhir kita."
"Terimakasih Mickey, aku hanya takut mereka khawatir."
"Maaf ya sayang."
"Maaf Mickey."
"Apakah kita hanya akan menghabiskan waktu untuk saling minta maaf?"
"eh... Bagaimana tentang pindah ke Jakarta? Kapan kita akan pergi?"
"Yang pasti bukan hari ini, malam ini kita tinggal di sini saja. Aku tidak ingin menyusahkan istriku yang kurus ini."
"Aku tidak kurus Mike."
"Tapi aku melihatmu begitu, ngomong-ngomong kamu belum menjawab pertanyaan ku sayang."
"Pertanyaan yang mana?" tanya Joelin sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu.
__ADS_1
....
Mickey memilih diam sejenak dan memposisikan dirinya tepat di sebelah Joelin.
"Yang mana Mike?" tanya Joelin sambil memutar tubuhnya menghadap Mickey.
Pasangan itu kini sudah berhadapan hadapan dengan posisi tidur. Mickey menggerakkan tangan kanannya, menyimpan anak rambut Joelin ke belakang telinga gadis itu.
"Kenapa kamu bisa kurus begini? apa kamu sakit?" tanya Mickey sambil memandang lembut manik mata istrinya itu.
"Aku tidak sakit."
"Lalu bagaimana dengan si kecil? apa dia menyusahkan mu? apa kamu mengidam yang aneh-aneh? Maaf ya sayang, aku tidak ada di sisimu selama tiga bulan ini. Pasti ada masa dimana kamu ingin sesuatu...." ucap Mickey meluapkan perasaan bersalah yang bersarang di hatinya.
"Sudahlah Mike, jangan merasa bersalah berlebihan. Semua sudah terjadi, kita hanya perlu belajar dari kesalahan, agar bisa menghindar dari kesalahan serupa di masa depan."
"Istriku bijak sekali." ujar Mickey gemas sambil menekan pelan hidung Joelin.
"Lalu bagaimana cerita mengidam tanpa appa?" tanya Mickey lagi.
"Maaf appa, aku sudah membuat mama mual-mual dan memuntahkan semua makanannya." jawab Joelin menirukan suara anak kecil.
"Jadi itu alasannya kenapa kamu kurus begini?" tanya Mickey khawatir.
"Tidak apa-apa Mickey, aku menikmatinya kok." jawab Joelin
"Apa kamu selalu rutin ke dokter kandungan?" tanya Mickey.
"Maaf." Joelin menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu.
"Untuk apa sayang?"
"Berani sekali mereka berbicara sembarangan pada istriku." Mickey kini memeluk Joelin, penuturan istrinya barusan berhasil mencubit hatinya. Ah, andai dia bisa mengejar Joelin hari itu, pastilah wanitanya tak akan mengalami penderitaan ini.
"Aku akan menemanimu mengunjungi dokter mulai sekarang." ujar Mickey mengeratkan pelukannya.
"Kita bisa melakukannya saat tiba di Jakarta kan?"
"Tidak, kita harus memulainya di sini."
"Kenapa harus begitu?"
"Karena ibu hamil, kamu akan menaiki pesawat saat pindah ke Jakarta, kita harus memastikan kondisimu dan baby cukup aman untuk ikut penerbangan." jawab Mickey lembut.
"Baiklah." gumam Joelin pasrah.
"Jangan khawatir, suami tampanmu ini akan setia menemanimu."
"Wah, suamiku mulai bersikap narsis."
"Kan aku memang tampan."
"Iya iya."
"Apa kau akan bersembunyi di dadaku sepanjang waktu?" goda Mickey akhirnya.
"Aku baru ingat sesuatu." Kini Joelin kembali menatap Mickey dengan mata berbinar seolah baru saja memenangkan lotere.
"Ada apa sayang."
"Sejak kamu muncul siang tadi, aku sama sekali tidak merasa mual."
__ADS_1
"Kamu serius?"
"Iya."
"Aku ingat sesuatu.". ujar Mickey tak kalah serunya dengan Joelin.
"Apa Mike?"
"Di suratmu, kamu juga menulis hal yang sama. Saat dekat denganku, rasa mualmu akan hilang."
"Ya, aku ingat tentang itu."
Mickey dan Joelin saling memandang penuh rasa takjub. Mereka tidak pernah membayangkan perasaan ini sebelumnya. Momen-momen berharga, detik-detik awal mereka menjadi orang tua sedang di mulai. Perasaan haru, bahagia, dada yang berdegup kencang, dan rasa kagum akan kehidupan baru yang semakin bertumbuh di dalam diri Joelin.
"Semuanya terasa menakjubkan." ujar Mickey tiba-tiba.
"Maksudnya?"
Mickey menggerakkan tangannya dan mengelus perut Joelin yang menggunduk mungil. Masih bisa dikategorikan lumayan rata.
"Sebuah kehidupan baru sedang berkembang di dalammu sayang. Bukankah hal itu sangat menakjubkan." ujar Mickey lembut, sambil mengelus perut Joelin.
"Aku tak sabar ingin mendengar detak jantungnya, merasakannya bergerak di dalam sana, melihatnya hadir di dunia ini, mendengar tangisan pertamanya, aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Joelin kecilku yang pasti akan sangat cantik seperti kamu." ujar Mickey dengan mata berbinar.
Joelin tersenyum mendengar penuturan lelaki yang kini sedang mengelus lembut permukaan perutnya. Dia kembali mengingat bagaimana jantungnya berdegup takjub saat pertama kali mendengar detak jantung bayinya saat pemeriksaan dua bulan lalu.
"Dia juga akan terlihat sepeti kamu." jawab Joelin sambil menatap Mickey lembut.
"Aku akan baik-baik saja sekalipun dia mirip kamu."
"Di mata ku dia akan sangat mirip denganmu." ujar Joelin lagi.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku sangat mencintai pria ini, maka aku akan selalu melihat wajahku di wajah anak kita" jawab Joelin.
"Sejak kapan istriku pintar menggombal?" tanya Mickey sambil mencubit pipi Joelin karena gemas.
"Sepertinya ketularan dari suamiku."
"Wah, kalau begitu apakah sifat mesum ku juga ikut menular padamu istriku sayang?"
Joelin memutar bola matanya, dan memilih tidak menjawab pertanyaan Mickey.
"Tidak perlu menjawab, aku akan memeriksanya sendiri." ujar Mickey yang kini berada di atas tubuh Joelin tanpa menimpa wanita itu.
"Mickey, aku sedang hamil." ujar Joelin memberi peringatkan halus pada suaminya itu.
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati sayang." jawab Mickey sebelum mendaratkan bibirnya tepat di bibir Joelin.
Lalu senja berganti malam, membawa manusia kembali ke peraduan mereka. Juga membawa Mickey dan Joelin kembali ke cinta mereka yang bersemi lagi.
Author POV
Wah... Jeolin dan Mickey buat author cemburu aja. Gimana menurut kalian? apakah mereka romantis?
jangan lupa vote, like dan komen yang banyak ya. Beri sedikit asupan semangat pada author yang sedang cemburu pada Mickey dan Joelin.
thankyou
-best-
__ADS_1