
Goedan memijit dahinya dengan jari. Bukan karena dia ingin mencari sekertaris cantik dan seksi apalagi bohai, tapi masalahnya Aluna mermang sedikit ceroboh dalam bekerja.
Aluna menghempaskan tubuhnya di atas kursi, kedua tangannya bergegas mengutak-atik komputer yang terletak di meja.
"Jangan sampai mas Goedan mencari sekertaris baru." Aluna bergumam dalam hati sambil memperbaiki form kontrak yang baru saja membuat dirinya bertengkar dengan sang suami.
\*
Joelin mendorong troli yang berisi barang belanjaannya. Sementara Lucy dan Mickey sedang berada di sisi lain supermarket itu.
"Sayuran, daging, ikan buah... hmmm... sepertinya sudah lengkap.." Joelin bergumam pelan, sambil mencoba memeriksa kembali isi troli itu.
"Kemana Mike dan Lucy?" Joelin kembali bermonolog sambil mengedarkan matanya ke segala penjuru.
Merasa tidak menemukan posisi suami dan putrinya, Joelin segera mengeluarkan ponselnya.
-drrrrrt...drtttt....-
Joelin belum sempat menghubungi sang suami ketika sebuah pesan dari kontak yang tidak asing masuk ke ponselnya.
-1 pesan dari Doni-
"Apa kabar Joe? ini gue kirim perkembangan janin Amel. Eh, maksud gue anak tiri loe.. 🤣"
Joelin membaca pesan itu sambil mengeryitkan dahi. Sang pengirim pesan melampirkan beberapa foto Amel yang sedang hamil tua.
"Dia akan segera melahirkan. Apa benar anak itu punya hubungan dengan Mickey?" Joelin bertanya dalam hati.
"Aku nggak boleh curiga sama Mike. Selama ini, kecurigaanku selalu berbuah nihil." Joelin sibuk dengan pikirannya sambil memghubungi nomor sang suami.
"Halo Mike, aku sudah selesai. Sampai jumpa di kasir ya." ujar Joelin singkat padat dan jelas saat sang suami menerima panggilan dari nomornya.
Joelin melangkah ke area kasir dan langsung bergabung dengan antrian para pembeli.
"TOLONG..." seseorang menjerit dari arah punggung Joelin, membuatnya segera memutar tubuhnya untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.
"Ibu ini pingsan tiba-tiba" Joelin masih bisa mendengar apa yang terjadi di sana walau dengan samar-samar.
Sekelompok orang langsung berkumpul membentuk kerumuman, membuat Joelin tidak dapat melihat wajah orang yang sedang pingsan itu.
Beberapa orang langsung bergegas menggendong tubuh yang sedang tidak sadarkan diri.
"Dia sedang hamil.."
"Apa dia akan melahirkan?"
"Kenapa dia pingsan?"
"Apa? Ketuban? ah, belum sepertinya belum."
Suara-suara dari percakapan sesama pengunjung supermarket itu membuat Joelin sedikit tersentuh. Bagaimanapun dia juga wanita yang bisa berubah menjadi melankolis kapan saja.
"Kasian ya, semoga ibu dan bayi nya baik-baik saja." gumam Joelin dalam hati.
__ADS_1
"Mbak.... mbak..." panggilan sang kasir mengusik Joelin dari pikirannya dan kejadian barusan.
"oh Maaf..." Joelin segera mendorong troli belanjanya mendekat ke arah kasir.
Setelah membayar barang-barang itu, Mickey dan Lucy tak kunjung menunjukkan batang hidung mereka. Joelin celinggukan kesana kemari, mencari sosok suami dan putri kecilnya. Namun tiba-tiba matanya menemukan sosok yang begitu familiar sedang mengantri di salah satu meja kasir.
"Amel???" Joelin bergumam.
Dia mengawasi sosok yang kini sedang berbadan dua dan tengah membayar barang belanjanya pada kasir. Saat Amel berjalan kearahnya Joelin segera mendekati sang teman. Banyak pertanyaan yang kini berkecamuk dalam kepalanya.
"Amel...?" Sapa Joelin pelan, saat mereka sudah berpapasan.
Joelin dapat menangkap raut terkejut di wajah Amel yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa? Kenapa dengan espresimu? Apa kau memamg tidak ingin bertemu denganku?"
Joelin menatap Amel dengan penuh selidik.
"Amel, ini gue Joelin. Loe nggak senang ketemu sama gue?" tanya Joelin yang masih tidak nyaman dengan raut cemas dan terkejut di wajah perempuan yang sedang berdiri berhadapan dengannya.
"Maaf, mungkin anda salah orang." perempuan itu menjawab singkat sebelum bergegas menjauh dari Joelin.
"Amel... Kamu pasti Amel kan?" Joelin berseru dengan suara tertahan, namun masih cukup jelas untuk tiba pada pendengaran Amel.
"Maaf Joe, gue malu ketemu sama loe dengan keadaan gue yang sekarang." Amel berkata dalam hati sambil mempercepat langkahnya menuju pintu keluar gedung supermarket.
"Kenapa loe menghindar dari gue Mel? Apa itu artinya semua pesan yang dikirim Dony adalah benar? Apa benar itu anak Mike?" Joelin bermonolog sambil memandang punggung sang sahabat yang kini menghilang di keramaian.
"Anak yang mana sayang?" tanya Mickey yang tadi hanya sempat mendengar bagian akhir dari gumaman sang istri.
"Apa yg gue tanya langsung aja ya? Tapi kalau gue salah lagi, Mickey bakal sedih karena gue nggak percaya sama dia. Lebih baik...."
"Kamu lagi mikirin apa sih sampai wajahmu serius begitu?" pertanyaan Mickey menyaadarkan Joelin dari pikiran-pikiran kacaunya.
"Mike, aku ketemu Amel." ujar Joelin akhirnya.
"Terus?"
"Katanya dia bukan Amel. Dia bahkan menuduhku salah mengenali orang." jawab Joelin.
Sambil berbincang mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar.
"Mungkin memang kamu yang salah orang sayang, lagipula...." kalimat Mickey tertahan, dia tidak yakin apakah tepat untuk membicarakan keadaan Amel pada Joelin.
"Lagipula apa Mickey?" tanya Joelin lagi.
"Aku tidak ingin mengejutkan Joelin, apa itu artinya lebih baik untuk tidak memberitahu masalah kehamilan Amel?"
"Apa Mickey, apa yang kamu sembunyikan dariku?" Joelin bertanya dalam hati, ada sedih yang menghampirinya kini.
Saling berdiam diri dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hati mereka sedang bergejolak antara ingin mengungkap kebenaran, atau melindungi perasaan orang yang disayangi. Joelin dan Mickey masuk ke dalam mobil yang akan dikendarai oleh pak Karno sang supir.
Menyadari atmosfer tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di antara mereka, Mickey segera mengetik sesuatu di ponselnya.
"Bagaimana memenangkan hati wanitaku?"
setelah mengetik kalimat itu Mickey segera membaca tampilan di layar ponselnya. Karena kemampuan berbahasanya yang masih pas-pasan, Mickey memilih menghapal sebuah gombalan yang lebih mudah dipahami olehnya.
__ADS_1
beberapa menit kemudian...
"Sayang, kamu tahu nggak bedanya kamu dan mobil?" suara Mickey membuyarkan lamunan Joelin.
"Apaan sih Mickey?"
"Bedanya itu, kalau mobil kan bisa membawaku kebanyak tempat, kalau kamu membawaku hanya ke satu tempat, yaitu hatimu."
"Receh banget sih." ujar Joelin yang tiba-tiba geli sendiri dengan gombalan sang suami. Apalagi posisi mereka sedang ada di mobil.
"Re.... re... apa tadi sayang?" tanya Mickey yang belum pernah mendengar kata itu sebelum-sebelumnya.
"Receh... Receh..."
"Dretd...cehhh... lertcheh.... gimana sayang?"
"Re..." ujar Joelin gemas, kebekuan diantara mereja kini kembali mencair.
"Rrrre..." Mickey mengikuti pelafalan Joelin.
"Ceh... Re-Ceh"
"Re...tCeh.. Red-ceh... Redceh...gitu ya?" ujar Mickey.
\*\*\*
"Mas, apa-apaan semua ini?" Dengan wajah marah Aluna melempar berkas-berkas yang sejak pagi masuk ke meja sekertaris.
"Bukankah kamu sudah membacanya? Seharusnya kamu tidak sebodoh itu sampai tidak tahu berkas apa yang tiba di mejamu." jawab Goedan ketus.
"Aku tidak ingin ada sekertaris lain yang bekerja padamu." Aluna menatap nanar pada Goedan.
"Hentikan Aluna, aku malas berdebat denganmu." jawab Goedan dingin.
Aluna langsung membalik tubuhnya dan segera keluar dari ruangan itu. Hatinya terasa sangat sakit setiap mendapatkan perlakuan dingin dan kasar dari Goedan.
Sepanjang Aluna mengenal suaminya sebagai sahabat Vino sang kakak, Goedan adalah pria yang baik dan lembut. Mereka berdua selalu memperlakukannya dengan manis. Kebaikan dan perhatian Goedan membuat Aluna jatuh cinta bahkan tergila-gila pada lelaki itu.
Seperti memenangkan sebuah lotere, saat tiba-tiba orang tua Goedan dan Vino menyatakan bahwa mereka telah dijodohkan. Walau tujuannya untuk stabilitas perusahaan, namun setidaknya Aluna merasa telah mendapatkan kesemptan emas untuk menjadi istri Goedan.
Namun ternyata lotere dan kesempatan emas yang Aluna dapatkan tidak semanis bayangannya. Pernah dia merasa Goedan sangat mencintainya, salah satunya saat pria itu menawarkan pekerjaan untuk Mickey. Goedan bahkan memakai alasan bahwa posisi Mickey diperusahaan adalah imbalan karena telah menyatukan cintanya dan Aluna.
Tapi terkadang, sering sekali Aluna mempertanyakan, apa sesungguhnya cinta yang dimaksud oleh Goedan.
"Sampai kapan kamu akan bersikap dingin dan kasar padaku?" tanya Aluna pelan sambil duduk di kursinya. Air mata kini membasahi pipinya.
....to be continued....
Author Note
Guys bagi yang ingin ikut event berhadiah menarik, yuk langsung chat author dengan cara bergabung di group chat author.
Jangan lupa vote dengan poin/koin, komen, like yang banyak ya.
**thankyou.
-best**-
__ADS_1