
Kenangan itu terus kembali berputar di kepala Joelin sebelum dia jatuh ke alam mimpi. Kencan pertama yang sungguh manis.
\*
Pagi semakin hangat menyapa bumi, sementara Joelin masih asik bergelung malas di atas tempat tidurnya.
"Ponsel loe dari tadi bergetar tuh. Siapa tau ada yang perlu."
"Thank you Mel."
Amel yang sedang sibuk membereskan tempat tidurnya mencoba menyadarkan Joelin yang masih tertidur malas.
"Hallo." gumam Joelin pelan sambil meletakkan ponsel di dekat telinganya.
"Aku nunggu kamu di tempat parkir."
"Apa?"
"Sarapan yok. Lapar nih."
"Mike, kamu dimana?"
"Diparkiran sayang. Kamu baru bangun ya?"
"Tolong tunggu aku lima menit, eh maksud aku sepuluh eh.. limabelas menit. Okay?"
"Ok. Take your time. Bye."
"Bye-bye." Joelin langsung melompat turun dari tempat tidurnya dan berlari masuk kedalam kamar mandi.
Amel hanya bisa menggeleng konyol menyaksikan tingkah teman sekamarnya itu. Tidak sampai lima menit Joelin keluar dari kamar mandi dengan tergopoh-gopoh.
"Tumben kecepatan loe nyaris melampaui kecepatan cahaya." ledek Amel.
"Mustahil Melmel. Gue buru-buru nih." jawab Joelin sambil memakai bajunya.
Mini dress selutut berwarna biru dengan lengan pendek, dipadukannya dengan blezer putih. Gadis itu langsung mengikat tinggi rambutnya dalam sebuah cepolan.
"Gue udah rapi belum?" tanya Joelin setelah memoles make up tipis untuk menegaskan garis-garis wajahnya.
"Loe dandan? Sejak kapan?"
"Dari dulu neng. Jadi gimana, gue udah rapi belum?"
"Blezernya lepas aja deh Joe."
"Hm... kalau gue match sama ini?" tanya Joelin sambil menenteng heels putihnya.
"Perfect..!!" jawab Amel mengacungkan kedua jempolnya.
"Hebat loe ya, bangun tidur langsung kencan aja."
"Sarapan doang kok."
"Sarapan cinta?" goda Amel lagi.
"Rese Loe, gue pergi dulu ya Mel. Udah telat nih." ujar Joelin sambil berlari meninggalkan Amel.
"Hati-hati" teriak Amel memandang kepergian gadis itu.
Sepeninggalan Joelin dikamar hanya tersisa Amel sendiri. Gadis itu kini sibuk dengan ponselnya.
"*Mel, ketemu di kantin ya."
"ok kak*."
__ADS_1
Amel langsung membalas chat dari Vino seusai membaca pesan itu. Amel langsung meraih dompetnya dan bergegas menuju kantin yang tidak terlalu jauh dari gedung tempat tinggalnya.
Kantin masih cukup ramai di jam sarapan seperti ini. Amel menggerakkan kepalanya mencari keberadaan Vino.
"Mel.." panggil Vino sambil melambai kearah gadis itu.
Merasa dirinya dipanggil, Amel langsung fokus mencari sumber suara. Setelah menyadari posisi Vino, gadis itu langsung menyusun langkah kearah sudut kantin, tempat Vino berada.
"Mau pesan apa?" tanya Vino membuka suara.
"Sandwich sama susu aja deh kak. Kakak sudah pesan?"
"Belum, sekalian aja Mel."
Setelah mengorder menu pilihan mereka masing-masing, keduanya kembali duduk di meja tadi.
"Jadi gimana Mel?"
"Apanya kak?"
"Si Joelin, gimana kabar terkini dia? Makin jarang aja tuh anak gabung sama kita-kita."
"Bukan makin jarang kak, toh sejak awal memang kejadian langka kan dia bisa nongkrong sama kita."
"Dia punya pacar ya Mel?"
"Amel kurang tahu sih kak."
"I see." ujar Vino sambil mengangguk pelan.
"Btw, kakak nanti satu pesawat kan sama dia? Pas balik ke Indo?"
"Ya.."
"Kalau mau PDKT, sekalian aja kali kak. Kan udah ada peluang tuh."
Mereka berdua akhirnya kembali fokus menyantap menu masing-masing.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah cafe brunch Joelin sedang menikmati salad dan buah sebagai menu sarapannya. Tentu saja bersama Mickey yang tidak berhenti memandangi gadis itu. Seusai sarapan mereka langsung meninggalkan cafe brunch itu. Mike mengendarai motornya perlahan, merayap di jalan raya yang semakin hangat. Dan sekali lagi, di perempatan jalan ketika lampu merah pria itu menarik kedua lengan Joelin dan melingkarkannya di pinggangnya. Joelin hanya bisa memanyunkan bibirnya atas perlakuan pria itu. Alhirnya mereka berhenti di parkiran sebuah mall ternama di Korea.
"Ngapain kesini?" tanya Joelin penasaran.
"Temani aku beli sesuatu, tapi nanti. Sekarang kira ketempat lain dulu yuk." Ujar Mickey sambil menggenggam tangan Joelin dan menuntunnya berjalan keluar dari parkiran.
Akhirnya keduanya melangkah keluar dari area Mall. Mickey masih menggenggam tangan Joelin, dan keduanya berjalan di atas trotoar tepat di sisi jalan raya. Sekita 10 meter dari pintu gerbang mall, Mickey membawa Joelin masuk ke sebuah gang kecil. Keduanya masih saling bergandengan, dan setelah berjalan selama lima belas menit mereka akhirnya tiba di sebuah taman.
"Wah.. bagus sekali." gumam Joelin mengagumi penataan taman itu.
"I know you'll love it." ucap Mickey.
"Thank you ya."
"Gimana kalau kita hari ini ke sungai Han?"
"Hmmm... it'll be fine, but kayaknya bakal panas kan?"
"Coba aku cek." ujar Mickey sambil memeriksa ponselnya, keduanya kini berdiri di bawah sebuah pohon rindang yang terletak di taman.
"Yah sayang sekali." ujar Mickey lagi.
"Panas kan?" tanya Joelin.
"Iya. Lain kali, kita bisa berangkat lebih pagi."
"Aku lebih tertarik kesana dimalam hari, melihat firework. Mickey, ayok jalan mengelilingi taman ini."
"Kamu yakin?"
"Tentu saja yakin."
__ADS_1
"Ada bawa payung nggak?"
"Ada dong."
"Sini keluarin."
Joelin membuka tas mungil nya dan mengeluarkan payung dari sana. Mickey segeraeraih benda itu dan membukanya.
"Ayok jalan." ujar Mickey sambil berlindung di bawah payung, tidak lupa dia menarik Joelin mendekat ke sisi nya.
Sekarang pasangan itu sedang berjalan mengelilingi taman dibawah sebuah payung mungil yang melindungi mereka dari sengatan matahari di musim panas. Joelin sangat antusias dengan jenis-jenis tanaman di sana. Berkali-kali gadis itu menunduk untuk mengamati lebih dekat bunga-bunga yang bermekaran di musim panas.
Semakin lama mereka di sana, semakin ramai juga pengunjung yang berdatangan. Joelin merasa sedikit risih, karena sejak tadi dia menyadari beberapa pasang mata yang sibuk mengawasinya.
"Apa karena wajahku terlihat berbeda?" tanya Joelin dalam hati.
"Kok mereka pada liatin gue sih?" gumamnya lagi.
Merasa tidak nyaman, Joelin akhirnya memutar kepalanya kearah Mickey.
"What?" gumam gadis itu, ketika menyadari apa yang sedang terjadi.
Kini Mickey sedang berdiri tepat dibelakang gadis itu, dengan tangan namanya yang memayungi Joelin. Sementara Mickey sendiri tanpa sungkan membiarkan sinar matahari mendarat di tubuhnya.
"Kamu ngapain sih?" tanya Joelin pelan sambil menggenggam tangan Mickey yang memegang payung itu.
Perlahan Joelin menggerakkan tangannya, membawa payung untuk melindungi tubuh Mickey dan juga dirinya.
"Kamu mau sakit?" tanya Joelin sedikit kesal.
"Pantesan aja orang-orang pada melototin gue. Aduh kan gue nggak mengidap sindrom princess. Apaan sih Mickey mayungin gue selebay itu." omel Joelin dalam hati.
"Aku baik-baik aja kok. Nggak tega aja liat kamu kepanasan." jawab Mickey dengan senyum manisnya.
"Aku juga gak mau keenakan dipayungin sama kamu, sementara kamunya kepanasan." jawab Joelin tidak mau kalah.
"Lagian aku bukan princess, ngapain diperlakukan begitu?" tambah Joelin.
"Kamu itu princess kok."
"Ya enggak lah. Aku Joelin loh Mickey. Kamu kesambet apa sih?" tanya Joelin sambil meraba kening pria itu.
"You are princess, since i become your prince." jawab Mickey sambil menyambar singkat bibir gadis itu.
"Hei, jangan suka nyuri-nyuri jatah suami ku." omel Joelin.
"Maaf Joelin. Itu untuk menyambut rindu."
"Maksud kamu?"
"Yah, Joelin kan mau liburan dan pulang ke Indonesia. Aku pasti rindu, yang tanggung jawab siapa?"
"iya itu urusanmu Mickey."
"Kan itu juga jatah aku dimasa depan. Jadi sebagai pengobat rindu aku ambil beberapa sebelum pulang."
Mickey berujar sambil melingkarkan tangannya yang sedang bebas ke pinggang mungil Joelin. Dengan lembut Mickey membawa gadis itu kedalam pelukannya, dan dibawah payung ditengah taman kota Mickey mengecup lembut bibir gadis itu. Joelin ikut terbuai dengan kelembutan Mickey, sebelum akhirnya,
"Ya ampun Joelin, loe punya otak nggak sih? Ini di taman. Siaran langsung deh." omel Joelin dalam hati, dia kini hanya bisa pasrah menerima perlakuan Mickey.
Pengumuman
**Author POV:
Masa iya sih guys si Joelin cuman bisa pasrah? Kayaknya dia juga senang tuh diserang sama Mickey. Padahal kan kemarin-kemarin katanya pysical contact before married nggak sesuai dengan adat istiadat yang dianut sama si Joe. Anyway, mau memojokkan Joelin karena dia nggak punya pendirian silahkan. But don't forget ya, secara cultural "Mickey dan Joelin" menganut nilai-nilai hidup yang cukup berbeda. Jadi tunggu saja kelanjutan kisahnya, akankah mereka bisa menjadi selaras atau bahkan hubungannya akan berantakan karena hal-hal berbau budaya itu.
BTW, Novel ini ikutan lomba loh. Mohon dukungan vote dan like sebanyak-banyaknya ya guys. i love you.
-best**-
__ADS_1