
Mickey hanya menggeleng dan tersenyum. Dia merasa lucu menyadari tingkah istrinya yang selalu sok galak, namun selalu memperhatikannya. Kehadiran Joelin sungguh mewarnai hari-hari Mickey.
\\*
Setelah seminggu di Korea, akhirnya Mickey dan istrinya kembali ke kampus. Keduanya kembali dengan kegiatan laboratorium. Bersama Si An dan Mark mereka kembali sibuk mempersiapkan diri untuk perkuliahan disemester yang baru. Keempat sahabat itu kini sibuk dengan buku dan laptop masing-masing.
"Joelin..." Si An yang sejak tadi asik bermain game kini langsung memukul-mukul kursi Joelin.
"Apa?" jawab Joelin sambil mengalihkan perhatiannya pada Si An.
"Tidak ada apa-apa." jawab Si An kembali fokus pada laptopnya.
"aiiiish..." Joelin juga memilih pada buku-buku dihadapannya.
Selang lima menit kemudian, Si An kembali mengusik Joelin. Mulai dari melempar beberapa kertas ke meja Joelin, diikuti aksi menawarkan cemilan.
"Si An, aku sedang tidak lapar." ujar Joelin berusaha sabar.
"Kau harus lapar."
"Aku tidak lapar."
"Setidaknya coba cemilan ini, apa kamu sudah pernah memakannya sebelumnya?"
"Berhenti mengganggu ku."
"Aku tidak mengganggu mu, kau teman yang jahat."
"Sini-sini." Joelin akhirnya menyerah dan mencoba keripik yang ditawarkan oleh Si An.
Mickey yang sejak tadi duduk di sisi kanan Joelin hanya bisa memperhatikan mereka diam-diam. Dia tersenyum menyaksikan tingkah kekanakan kedua orang itu.
"Enakkan?"
"Enggak Si An, terlalu manis."
"Katakan saja enak."
"Aku tidak suka."
"Mana ada orang yang tidak menyukai makanan dan hal-hal manis? Dasar kamu wanita aneh."
"Terserah aku dong. Kenapa kamu harus memaksaku? Memangnya kamu siapa?"
"Iya aku siapa?"
"Si An"
"Kamu siapa?"
"Aku Joelin."
"Lalu hubungan kita selama ini apa?"
Joelin dan Si An masih asik perang mulut.
"Jangan berisik Joelin." protes Mark tiba-tiba.
"Mark, bukan aku tapi Si An."
"Kalian berdua sama saja, childish."
"Joelin yang childish." ledek Si An pada Joelin.
"Ya Tuhan, salah apa aku?" gumam Joelin dalam hati sambil menepuk jidatnya.
"Jangan mengganggu putriku, biarkan dia belajar." ujar Mickey tiba-tiba.
"Hahahahahaha.." Si An terbahak mendengar kalimat Mickey.
"Sejak kapan dia jadi putriku?" tanya Mark.
"Sejak hari ini."
"Lalu aku akan mengisi posisi sebagai kakeknya." tambah Mark lagi.
__ADS_1
"Terserah kalian saja." Joelin kembali memusatkan perhatian pada pelajarannya.
\\*
Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam, ketika Joelin dan kawan-kawan meninggalkan Lab. Mereka berempat langsung menuju ke restoran terdekat untuk makan malam. Seusai mengisi perut, semuanya kembali ke rumah masing-masing. Joelin dan Mickey berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Mickey.. Apakah kita tidak akan mengunjungi keluargamu?" tanya Joelin ragu-ragu sambil menyesuaikan langkahnya dengan Mickey.
"Tidak sekarang. Kita akan mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi mereka."
"Apakah mereka sudah tahu?"
"Jangan khawatir sayang." ujar Mickey langsung menarik Joelin dalam dekapannya.
"Hei, jangan peluk-peluk, belum mandi loh." Joelin berjuang melepaskan diri dari pelukan Mickey.
"Oh, iya juga, pantes bau" Mickey kembali menjahili istrinya.
Joelin memasang wajah cemberut dan berlalu meninggalkan pria itu di ruang tamu. Setelah tiba di kamar dia langsung membersihkan diri. Setelah semuanya beres, Joelin memutuskan untuk memeriksa persediaan makanan di dapur. Wanita itu lalu menyadari bahwa mereka harus segera berbelanja dikarenakan persediaan bahan makanan yang kini menipis.
"Mickey.. Mickey.." Dengan tergesa-gesa Joelin melangkah ke kamar menemui Mickey yang sedang mengeringkan rambut.
"Apa sayang?"
"Kita harus beli beberapa sayuran dan buah.'
"Tapi kita sudah mandi Joe, bagaimana jika pergi besok pagi?"
"Artinya kita akan terlambat ke Lab?"
"Jangan cemas, kan masih liburan."
"Iya juga ya." gumam Joelin sambil duduk di tempay tidur.
"Bagaimana dengan sarapan besok? masih adakah persediaan untuk besok?' tanya Mickey.
"Masih ada beberapa butir telur, dua buah apple, tiga buah jeruk, dua buah naga, dan pisang."
"Kurasa hampir habis."
"Aku akan memesan pada pengantar susu agar meletakkan dua botol besok pagi."
"Terimakasih Mike."
"Kemari sebentar." panggil Mickey.
"Mau apa Mickey?"
"Menurut saja Joe. Sini buruan." Mickey menepuk bagian kursi yang kosong.
Joelin menurut pada pria itu dan langsung duduk berdekatan dengan Mickey.
"Kalau rambutnya tidak segera dikeringkan, kamu bisa masuk angin." Mickey bergumam lembut.
Pria itu kini mengeringkan rambut istrinya dengan bantuan hairdryer.
"Makasih Appa" ujar Joelin.
"What? Appa?" tanya Mickey karena terkejut dengan pernyataan istrinya. "Apa aku akan segera jadi ayah?" tanya Mickey lagi.
"Mana mungkin Mike. Kita juga menikah baru seminggu."
"Hmmm..Lalu kenapa appa?" tanya Mickey bingung, sambil terus berkonsentrasi pada rambut Joelin.
"Kan aku putrimu, dan Mark jadi kakekku."
"Hahahaha... Itu bercanda sayang."
"Tapi kalau aku panggil Appa, boleh tidak?"
"Jangan dong. you are my girl, not my daughter."
"Tapi kamu bilang aku putrimu." rengek Joelin manja.
"Aduh putriku manja sekali." ujar Mickey akhirnya.
__ADS_1
Pria itu selalu menyerah dengan kemanjaan istrinya ini.
"Appa.. hehehe.." kekeh Joelin.
"Apa anda sebahagia itu tuan putri?"
"Tentu saja. Aku akan memanggil mu, appa mulai sekarang."
"Hanya di kampus. Di rumah, kamu harus kembali jadi istriku tercinta. Okay?"
"Okay appa." jawab Joelin dengan suara yang dibuat meniru suara anak kecil.
"Putriku cantik sekali." ujar Mickey gemas sambil memeluk istrinya itu.
Rambut Joelin kini sudah kering, gadis itu tersenyum bahagia. Mickey selalu berhasil membuat hatinya hangat dan dipenuhi kebahagiaan.
\*\*\*
Goedan asik memandangi layar ponselnya sambil terlentang di atas tempat tidur. Sesekali dia tersenyum memandangi wajah yang tertera di hadapannya. Dia asik memandangi foto-foti Joelin yang diambilnya secara diam-diam saat mengunjungi kebun strawberry. Hati pria itu dipenuhi oleh rasa hangat setiap mengingat betapa lincahnya Joelin.
"Kamu sangat lucu." gumam Goedan.
"Hei Bro.. Loe ngobrol sama siapa?" tanya Vino yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Goedan terperanjat kaget menyadari kehadiran Vino, pria itu langsung beranjak dari tempat tidur.
"Buset, loe ngagetin gue bambang."
"Bambang? alay banget loe."
"Hahaha... Ada apa bro? tumben loe mampir ke gubuk gue ini." ujar Goedan sambil merangkul Vino.
"Emang nggak boleh, gue main ke rumah loe?"
"Boleh-boleh aja sih."
"Bro, gue harus segera kembali ke korea."
"Bukannya masih liburan?"
"Iya benar, tapi Aluna minta ditemani jalan-jalan. Mau nggak mau ya gue harus mau."
"Jadi loe datang kemari karena mau pamitan sama gue?"
"Iya dong."
"Aduh bro, gue merinding nih." ujar Goedan sambil memeluk lututnya.
"Nape loe?"
"Lemot banget sih loe. Males gua ah.."
"Perasaan kamar loe nggak terlalu dingin, ngapain pakai acara merinding? Loe sakit Dan?"
"Ya Tuhan, kok gue lupa sih kalau teman gue ini ada lemot-lemotnya?" batin Goedan.
Dia memandangi Vino. Pria tampan yang sering dia lihat menghadiri rapat-rapat besar para pengusaha, yang memiliki sisi maskulin dan selalu siaga melindungi Aluna itu, kini terlihat seperti anak kecil yang polos. Vino akan menjadi diri sendiri saat di hadapan Goedan, itulah yang dia percayai selama ini.
"Goedan.. Apa loe naksir gue? Ngapain loe liatin gue segitunya?" tanya Vino prustasi.
"Oh my God. Kesambet kali nih anak."
Goedan memilih menyalakan televisi di kamarnya sambil merebahkan diri atas tempat tidur. Sementara Vino hanya terpelongo menyadari sikap cuek sahabatku itu.
"Loe nggak asik. Gue pulang aja. Awas kalau kangen gue." ujar Vino kesal sebelum berlalu meninggalkan kamar Goedan.
Goedan hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan punggung Vino menghilang di balik pintu kamarnya.
Vino langsung melangkah ke ruang keluarga di rumah Goedan. Dia berniat untuk pamitan pada orang tua sahabatnya itu. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, tanda sebuah panggilan masuk.
"Apa? Ngapain? Okay, jangan pakai lama." ujar Vino pada sambungan telepon sebelum menyimpan ponselnya.
"Aluna, rencana apa lagi sih?" gumam Vino dalam hati. Pria itu kembali berbalik menuju kamar Goedan.
**Pengumuman
Hai Readers, yok vote terus novel ini. Agar author semakin semangat. Makasih guys.
-Best**-
__ADS_1