
"DONI????" gumam Mickey penuh tanda tanya saat membaca nama yang tertera di layar ponsel Joelin.
Mickey segera menggendong Lucy dan memicu langkah menuju dapur, tak lupa dia juga membawa ponsel sang istri. Joelin sedang menata makanan di meja makan saat Mickey dan Lucy datang.
"Sayang, ada pesan dari Doni." ujar Mickey.
"Baca dulu sayang." pinta Joelin.
Mickey bersegera membuka pesan itu.
"Joelin sepertinya anak tirimu akan segera lahir, selamat ya 😂😂"
Mickey menahan gemas saat membaca pesan yang sangat provokatif itu. Mickey menggulir layar ponsel dan menemukan foto kekacauan. Foto itu memperlihatkan beberapa orang sedang mengangkat tubuh Amel.
"Apa katanya?" tanya Joelin.
"Sepertinya temanmu akan melahirkan." ujar Mickey.
"Apa dia tahu ke rumah sakit mana mereka membawa Amel?" Joelin bertanya sambil menatap wajah sang suami dengan tatapan serius.
"Menurutmu?"
"Aku juga tidak tahu sayang. Boleh kupinjam ponselnya?" tanya Joelin sambil menyodorkan tangannya pada Mickey yang kini duduk sambil memangku Lucy.
Joelin berpikir bahwa Doni akan tahu di mana Amel saat ini. Wanita itu berniat menemui sahabatnya secepat mungkin.
"Beritahu alamat rumah sakitnya"
Setelah mengirim pesan singkat ke nomor Doni, Joelin mengajak suaminya untuk menikmati sarapan mereka.
Sementara di tempat lain, seorang pria tersenyum penuh kemenangan saat membaca pesan masuk di ponselnya.
"HAHAHAHA... HAHAHA... Joelin akhirnya kesempatan ini datang juga. Saat ini kau pasti sangat membenci oppa tampanmu." pria itu tertawa penuh kemenangan sambil mengawasi gedung rumah sakit yang berdiri di hadapannya.
Â
\*
Â
Seusai menikmati sarapan, Joelin menerima pesan dari Doni. Informasi seputar alamat rumah sakit tempat Amel di rawat.
"Siapa sayang?" tanya Mickey saat menyadari gesture sang istri yang tengah mengamati ponselnya.
"Doni." jawab Joelin.
"Apa katanya?"
"Amel ada di rumah sakit XX" jawab Joelin sambil kembali menyuap makanan pada Lucy.
"Apa kamu ingin mengunjungi Amel?" tanya Mickey pada sang istri.
Joelin mengangguk penuh semangat. Sebuah senyum terbit di bibir Mickey.
Â
\*
Â
__ADS_1
Di rumah sakit, Amel sedang berjuang menahan rasa sakit yang terasa meremukkan tulang-tulangnya.
"ma....ma...." isak Amel menahan sakit.
"Jangan menangis sayang, tenang.. ambil nafas perlahan-lahan"
Di luar ruangan Amel terlihat ayah gadis itu sedang duduk gelisah. Seorang wanita paruh baya terlihat mondar mandir dengan raut gelisah. Sementara itu seorang pria muda berdiri mematung, menatap pintu ruangan Amel. Rasa khawatir tergambar jelas di wajah pria itu.
"Ma..." ucap pria itu mencoba memecah keheningan yang kini terasa mencekam.
"sttttt..." ujar sang Ibu terlihat tak ingin di gangu.
"Ma, apa mereka akan baik-baik saja?" tanyanya lagi dengan tatapan cemas.
"Sekarang kamu peduli dengan keselamatan mereka? Selama ini kamu kemana?" Tanya sang ibu sarkas.
"Sudahlah mbak, lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Amel dan cucu kita." Ayah dari wanita yang kini sedang menghadapi persalinan mencoba menenangkan keadaan.
"Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Amel atau anakmu, kamu akan menyesal karena telah memilih meninggalkan mereka. Penyesalan memang selalu datang terlambat kan? Lebih baik kamu berdoa agar mereka baik-baik saja" wanita itu memberi ultimatum pada putranya.
Â
\*
Â
Joelin dan Mickey kini sudah tiba di rumah sakit tempat Amel di rawat. Lucy kecil asik bergumam-gumam dalam gendongan Mickey, sambil tangannya berkali-kali bergeral di udara. Perawat yang berpapasan dengan mereka tersenyum gemas melihat tingkah gadis mungil itu.
"Permisi mbak, apa saya boleh tahu ruangan dari pasien bernama Amelia Supranto?" tanya Joelin pada pihak informasi.
"Sebentar ya bu, saya cek."
Selang beberapa menit, wanita yang bekerja di meja informasi menatap Joelin dengan ekspresi bersalah.
"Maaf bu. Saya tidak dapat menemukan pasien bernama Amelia Supranto."
"Mbak, tolong periksa pasien dengan nama Amelia yang masuk sebagai pasien yang akan melahirkan." pinta Joelin sekali lagi.
Setelah beberapa menit, wanita berpakaian khas perawat itu tersenyum sembari bergumam, "Pasien bernama Amelia ada do ruang anggrek no 01 bu."
"Thanks." ujar Joelin sopan sebelum menarik tangan Mickey yang sejak tadi sudah habis dipandangi para perawat yang berlalu lalang.
"Perawat disini sungguh berbahaya, mata mereka langsung on saat melihat wajah korea milik Mike. Dasar cewe-cewe yang kebanyakan konsumsi drama korea." omel Joelin dalam hati.
Jolein dan Mickey kini menelusuri lorong rumah sakit menuju ruang anggrek 01. Tak berapa lama sebuah pamflet bertulisan ruang anggrek tertera di hadapan mereka. Pencarian pasangan itu sepertinya membuahkan hasil.
"Joelin..." suara Mickey sedikit tercegat, matanya membulat sempurna dengan pemandangan di hadapannya.
"Iya Mike?"
"Aku tidak salah lihat kan sayang? Kenapa lelaki itu ada di sana?" Mickey yang tidak percaya pada pandangannya kini bertanya oada Joelin.
"Maksudmu Vino?" tanya Joelin kemudian.
"Ah, artinya kau juga melihatnya." jawab Mickey kemudian.
"Sudahlah jangan khawatir, kita hanya perlu menemui Amel. Mungkin lelaki itu sedang menunggu keluarganya." ujar Joelin mencoba menenangkan sang suami, walau kini mendadak kecemasan sedang menyergap hatinya.
Bagaimanapun di masa lalu pria itu pernah menyakiti dia dan Mickey. Kenyataan yang cukup membuat Joelin sadar akan bahaya yang mungkin mengancam keselamatan keluarganya.
__ADS_1
"Joelin, Mike... kalian di sini?" sosok cantik yang baru saja keluar dari salah satu kamar pasien menyadarkan Joelin dan Mickey yang berdiri terpaku.
Gadis cantik itu mengedarkan pandangannya mengikuti sudut pandang pasangan itu.
"Ah, kak Vino..." gumam gadis itu dalam hati.
Dia mengerti kegelisahan yang kini menghantui perasaan Joelin maupun Mike.
"Kalian sedang apa di sini?" tanyanya sambil meraih lengan Joelin.
"Eh, Aluna.." Joelin terkesiap saat menyadari seseorang menggenggam tangannya.
"Joelin, apa bayi imut ini anakmu?" Aluna yang tidak dapat menahan diri dari wajah menggemaskan Lucy langsung mencubit pelan pipi gadis kecil itu.
"Aaaaaaa....aaaaaa...." Lucy yang merasa diganggu orang asing langsung menangis dan menyembunyikan wajahnya di dada sang Ayah.
"Aluna..." wanita paruh baya yang sejak tadi hanya mondar-mandir di depan kamar pasien langsung menegur aksi gadis itu.
"Iya Mi?" Aluna memang memanggil Mami pada tantenya sejak orangtua asuhnya meninggal dunia.
"Bagaimana Amel? Kenapa kamu keluar?" tanya wanita itu.
Vino mengangkat wajahnya saat mendengar penuturan wanita itu.
"Joelin, Mickey?" Vino bergumam dalam hati saat mendapati dua sosok itu kini berdiri tak jah darinya.
"Apa hubungan antara Aluna dan Amel? Untuk apa pria itu berada di sini?" Joelin bertanya dalam hati.
"Mi, ini Joelin dan Mickey, mereka adalah teman Aluna." ujar Aluna pada sang ibu.
Setelah berkenalan, keluarga Joelin dan Aluna beramah tamah untuk sejenak.
Sementara itu ruang perawatan Amel sedang bertaruh antara hidup dan mati. Dalam hati dia merapalkan doa agar sang pencipta menyelamatkan nyawanya dan sang bayi.
"Dia sudah kehilangan ayah. Tolong jangan biarkan dia kehilangan sosok ibu. Tolong beri dia kesempatan untuk hidup." Doa Amel dalam hati sambil mengejan sekuat tenaga.
"Oeeeeeek..." sebuah tangisan terdengar oleh Amel setelah rasa sakit terasa mengoyak sekujur tubuhnya.
Perlahan mata gadis itu terasa berat tubuhnya terasa lelah. Amel terpejam berteman titik air mata yang mengalir di ujung kelopak matanya.
"Sayang terimakasih, bertahanlah sedikit lagi." ujar wanita paruh baya yang sejak tadi menemani Amel di ruang persalinan.
Wanita itu menghapus air mata yang mengalir dari mata putrinya yang terlelap karena lelah pasca melahirkan. Tanpa sadar pipinya sendiri kini telah basah karena air mata.
Di luar kamar pasien setelah seorang perawat memberitakan kabar kelahiran sang bayi, raut khawatir di wajah semua orang berubah jadi senyuman.
Aluna dan Joelin saling melempar senyum. Ayah Amel terlihat sangat lega. Sementara ibu dari pria yang menghamili Amel kini jadi sangat bersemangat.
"Suster, boleh saya bertemu cucu saya? Apakah cucu saya sangat tampan?" tanyanya antusias.
Sementara itu diantara mereka ada Vino, yang diam-diam melangkahkan kakinya ke suatu tempat tanpa diketahui oleh semua orang yang ada di sana.
\*\*\*
 Amel melahirkan seorang bayi laki-laki, bayinya sangat sehat dan tampan. Saat ini Amel sedang menyusui sang bayi di ruang perawatan.
"Kenapa wajahmu sangat mirip dengan nya? Padahal dia tidak peduli dengan kita nak. Tapi, walau papamu meninggalkan kita, mama janji akan melimpahi hidupmu dengan cinta.
Tanpa Amel sadari, seseorang sedang berdiri di ambang pintu dan mendengar semua penuturan sedihnya.
__ADS_1
.......To be continued.....