
"Sttttt...Tenang saja suamiku. Aku punya cara lain."
"Cara apa?" tanya Mickey penasaran.
"Nanti aja dipikirin, sekarang aku mengantuk." ujar Joelin sambil menguap.
"Nona Joelin, bagaimana perasaan anda?" tanya dokter yang tiba-tiba muncul bersama satu orang perawat.
"Sangat lelah dokter."
"Secara keseluruhan kesehatan anda sangat baik, karena itu saya rasa anda boleh pulang kerumah."
"Benarkah dokter?"
"Tentu saja nona, apa saya terlihat seperti pembohong?"
Joelin tersenyum manis, menerima sikap ramah dan aksi bercanda dokter itu.
"Jangan lupa mengobati dan membersihkan luka di kaki anda dan tuan Mickey juga."
"Terimakasih dokter."
"Mickey, kamu terluka?" Joelin menyuarakan rasa khawatir yang mennggendap di pikirannya saat pria berjas putih dan para suster keluar dari ruang perawatan itu.
"i'm fine sayang."
"Kamu jangan berbohong Mickey, bagaimana dengan lukamu?"
cup.. sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Joelin.
"Jangan khawatir dan jangan cerewet. Aku akan menebus obat kebagian farmasi, setelah itu kita pulang. Kamu tunggu di sini dan istirahatlah."
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku?" rengek Joelin manja.
"Sayang, hanya luka kecil kok. Dan aku baik-baik saja, coba lihat suamimu ini sangat sehat kan?" Jelas Mickey panjang lebar sambil menggoyangkan pinggangnya.
"Pergilah, pergilah. Aku sangat malu melihatmu." ujar Joelin tertawa geli dengan tarian lucu yang baru saja di tampilkan oleh seorang pria tampan di hadapannya.
Mickey tersenyum lega dan berlalu meninggalkan Joelin di sana setelah meninggalkan sebuah stempel ciuman kilat di kening gadis kesayangannya.
Setelah selesai mengurus semua administrasi dan pembayaran Mickey kembali ke ruangan Joelin. Mereka kembali ke rumah dengan menumpang pada sebuah taksi.
\*\*\*
"Hi Aluna, apa kabar? Btw, gue boleh tahu kontak loe yang bisa ditelepon? Kita harus mendiskusikan hal penting tentang Kak Vino dan Goedan. Thankyou"
Joelin menghela nafasnya setelah mengirim pesan tersebut via direct messeges menuju akun instagram Aluna. Dengan gerakan cepat gadis itu menyimpan ponselnya ke meja di sisi tempat tidur.
"Ayok makan." ujar Mickey yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar lengkap dengan nampan di kedua tangannya.
"Sayang, kita makan di meja makan aja ya." pinta Joelin sambil beranjak dari tempat tidur.
"No. Kamu diam di sana dan jangan membantah suamimu ini." protes Mickey
"Aduh Mickey..." Joelin kini menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang, jangan protes. Kamu sedang terluka jadi tolong patuh padaku. Percayalah, aku akan merawatmu dengan baik." Mickey tersenyum penuh percaya diri sambil meletakkan nampan berisi makanan di atas sebuah meja lipat yang batu saja dia set.
"Narsis sekali." gumam Joelin.
"Iya iya, terserah nyonya saja. Sekarang ayok makan, aaaaaa..." ujar Mickey sambil mengarahkan sebuah suapan pada Joelin.
Dengan patuh Joelin langsung membuka mulutnya dan melahap makanan itu. Saat Joelin sedang mengunyah makanannya Mickey memilih untuk menyuap dirinya sendiri. Mereka makan dengan lahap dan tenang.
"Aku kenyang." ujar Joelin memecah keheningan.
"Ok. sayang, kamu tahu tidak hari ini aku sangat bahagia." gumam Mickey di sela-sela kunyahannya.
__ADS_1
"Hari ini kita kecelakaan sayang." jawab Joelin gusar.
"Memang sih, tapi aku bahagia karena kita baik-baik saja. Dan juga..."
"Juga apa?"
"Ini pertama kalinya kita makan sepiring berdua." ujar Mickey sambil tersenyum lebar.
"Ooooh..." jawab Joelin santai.
"Cuman oh?"
"Terus aku harus jawab apa dong sayang?" tanya Joelin bingung.
"Ah yasudahlah. Istriku, kamu sudah merusak momen romantisnya. Lebih baik aku kembali menyantap makanan ini." ujar Mickey pura-pura merajuk.
'cup' sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Mickey. Tentu saja ulah Joelin untuk menyogok pria itu agar tidak merajuk lagi.
"Belum cukup, disogok segitu? terlalu murah." oceh Mickey.
'cup cup cup' Joelin mendaratkan tiga kecupan berturut-turut di kening pria itu.
"Belum lunas."
"Maaf ya sayang, untuk saat ini istrimu ini tidak dapat membayar hutang. Tidakkah tuan melihat luka di kakiku?" ujar Joelin manja.
"Kalau begitu akan kucatat hutangmu. Segeralah sembuh, agar aku menagihnya." jawab Mickey sambil memainkan puncak kepala Joelin.
Pria itu kembali menyantap makanan yang masih tersisa, sementara Joelin memilih bermalas-malasan di salah satu sisi tempat tidur. Tiba-tiba perhatian gadis itu beralih ke ponselnya yang sedang berdering, senyuman terlukis di wajahnya setelah mengetahui nama si pengirim pesan.
\*\*\*
"Hallo.."
.....
.....
"Tenang aja, gue udah ke dokter kok."
.....
"Apaan sih loe? namanya juga kecelakaan."
.....
"Gue belum tahu, nanti gue kabarin lagi. Nggak usah khawatir dan nggak perlu jenguk gue."
.....
"Bye..."
"Who is that?" tanya Mickey setelah Joelin memutuskan sambungan teleponnya.
"Amel."
"Ada apa dia mencarimu?"
"Cuman pertanyaan standar tentang kenapa aku belum muncul di asrama sepanjang sore ini."
"Bagaimana jika kita jujur saja pada Amel? sepertinya dia bisa menyimpan rahasia. Daripada membiarkan temanmu mengkhawatirkan mu begitu, bukankah bersikap jujur lebih baik?"
"Aku juga memikirkan hal yang sama." gumam Joelin setuju.
"So? nunggu apa lagi? Yuk ajak dia ketemuan."
"Okay."
__ADS_1
"Mel, gue pengen ngobrol serius sama loe. Gue tunggu di Cafe yang di seberang univ ya. Please datang sendiri, gue otw kesana sekarang."
Setelah mengirim pesan itu Joelin segera menyimpan ponselnya kedalam sebuah tas selempang kecil.
"Ayok sayang." ujar Joelin sambil menyelempangkan tas nya.
Mickey yang sedari tadi sedang duduk santai di sofa langsung beranjak mengikuti istrinya itu. Joelin berjalan dengan langkah terpincang-pincang, bukan karena sok manja, tapi memang luka di kakinya lumayan lebar.
Mereka meninggalkan rumah dengan menumpang pada sebuah taksi. Mereka tidak memiliki pilihan lain karena luka di lengan dan kaki Mickey juga berdampak pada pria itu tidak dapat mengendarai motor untuk sementara. Sebenarnya bukan luka serius, hanya saja Joelin yang lumayan cerewet sudah mengeluarkan ultimatum bahwa Mickey juga seorang pasien sekarang. Alasan yang membuat mereka berdua izin dari lab hari ini.
"Apa kau yakin tidak perlu menjelaskan hubungan kita dengan teman-teman di Lab?" tanya Joelin ketika taksi yang mereka tumpangi melaju meninggalkan rumah.
"Kurasa tidak perlu."
"Apakah tidak ada yang curiga?"
"Mereka tidak tahu kita kecelakaan saat bersama."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku tidak pernah menyebutkan bahwa kita kecelakaan di tempat dan kejadian yang sama."
"Licik sekali kau ini."
"Tapi kamu suka kan?" canda Mickey sambil tersenyum dan mencolek pinggan Joelin.
"Jangan genit-genit, malu sama bapak driver."
"Kalau nggak ada bapak driver berarti boleh dong ya?"
"Otakmu ini, isinya itu semuakah?"
"Rahasia dong."
Setelah beberapa menit, taxi yang mereka tumpangi tiba di tempat tujuan.
"Ada apa Joe? Loe baik-baik aja kan? Katanya habis kecelakaan, kok loe bisa ngajakin gue ke Cafe? Btw, gue udah di tempat. Gue tunggu ya, hati-hati di jalan."
Sebelum taxi berhenti Joelin sempat membaca pesan yang dari Amel.
"She is here." ujar Joelin pelan.
"Okay, jangan gugup. Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan."
"Apa kau pikir aku akan melahirkan?" tanya Joelin sambil memukul lengan Mickey gemas.
"Aku hanya ingin menenangkan mu sayang."
"Aku tahu. Hanya saja caramu terlalu lucu." Joelin membuka pintu taxi sambil terkekeh geli.
Sepasang kekasih itu akhirnya turun dari taksi dan melangkah masuk ke dalam Cafe.
Dari dalam Cafe sepasang mata sedang mengawasi mereka dengan tatapan membunuh.
"Dasar gadis penipu. Sudah menikah tapi masih ingin memiliki Goedan. Aku tidak akan melepaskan mu." gumam sosok itu sambil terus mengawasi gerak-gerik Joelin.
**Pengumuman:
Hai readers, thank you so much udah baca.
Btw, tetap support cerita ini ya dengan like, komen dan vote sebanyak-banyaknya.
BTW author mau ngingetin, Novel ini terdaftar di kontes loh. So, please vote yang banyak ya.
makasih.
-best**-
__ADS_1