
"WANITA LICIK, AKU TAK AKAN MELEPASKANMU." Mickey memaki kesal saat tak sengaja dia malah membuka folder video di ponsel itu. Wajahnya merah padam, sedang salah satu tangannya mengepal keras.
Mickey menggeleng kasar, ingin rasanya dia memaki dan meluapkan emosinya saat ini.
Tangan pria itu masih menggenggam ponsel Joelin, dan matanya menatap nanar pada layar ponsel yang menyajikan adegan mesumnya dengan Jee Na.
"Awas kau Jee Na. Aku tak akan melepaskan mu." maki pria itu.
Dengan gerakan cepat, Mickey meraih ponselnya dari nakas tempat tidur, dan segera mendial nomor Jee Na.
Sementara itu ditempat lain, di sebuah club malam yang berdetak penuh kemabukan dan pesta pora, sosok cantik itu tengah meracau di meja bartender walau dia tak sepenuhnya mabuk.
"kalian semua tidak berguna, aku akan menghancurkan kalian. hahaha... Hahah.." racau gadis itu.
~drt...drt..~
Gadis itu melirik ponselnya yang tengah bergetar.
Eum Son calling
Jee Na mengerjap memandang layar ponselnya, setelah merasa kesadarannya kembali Jee Na langsung menerima panggilan itu.
"hallo baby..."
....
"apa?"
....
"maaf aku tak dapat mendengar mu, di sini berisik sekali. Tunggu sebentar.." setengah berlari Jee Na bergerak ke salah satu ruang VIP yang biasa dia sewa di tempat itu.
...
"Hallo sayang, aku bisa mendengar mu sekarang. ada apa?"
....
"Oh, tentu saja aku bersedia. Kapan kau mau? Malam ini?"
....
"baiklah, aku akan mengirim alamat padamu."
Jee Na mematikan ponselnya dan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Kau hanya milikku" ujarnya tersenyum licik.
\*
Mickey duduk lemas di kamarnya, sudah dua hari Joelin menghilang, tanpa kabar tanpa jejak. Mickey sungguh lelah dan sedih, setiap hari dia berkelana menyusuri berbagai tempat yang mungkin jadi tempat persembunyian istrinya itu. Dan tentu saja kedua orang tua Mickey setia mendampingi pria itu.
Berbeda dengan Mickey, Mark justru sudah menyerah mencari Joelin di korea. Foto terakhir Joelin yang dia peroleh dari anak buahnya memberi petunjuk bahwa gadis itu sudah keluar dari negara ini. Mark memutuskan memperluas pencariannya ke negara asal Joelin, Indonesia.
Dengan lemah Mickey bergerak ke meja belajar ingin meraih beberapa kertas, namun tiba-tiba matanya terpaku dengan kotak hadiah di meja itu. Mickey meraih kotak itu dan langsung membukanya, dia sadar sudah melihat kotak ini sejak hari wisuda, hari menghilangnya Joelin.
Mickey meraih kotak itu dan membukanya perlahan, dan kini matanya terbelalak memandang isi kotak mungil itu.
"Apa ini? Joelin.. kenapa tidak memberitahu ku...hiks" Mickey terisak sambil memegang alat tes kehamilan itu.
"Ah Tuhan, mengapa takdir ini mempermainkan ku dengan begitu kejam? Joelin, kamu pasti sedih di luar sana. Maaf.. maafkan aku" pria itu masih menangis tersedu-sedu.
Dengan tangan bergetar, Mickey meraih sepucuk surat dari dalam kotak tadi. Pria itu membacanya sepenuh hati.
*Dear suami,
Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Selamat ya hari ini akhirnya kamu wisuda, eh maksudku kita. Dan selamat juga, kamu akan segara jadi ayah. Aku sangat-sangat bahagia, akhirnya kita akan jadi orang tua. Menurutmu anak kita laki-laki atau perempuan? Sepertinya anak kita perempuan, jangan berdebat denganku tentang ini, kau harus setuju. Okay*?
Tapi terlepas dari semua itu, aku ingin minta maaf sayang. Maaf karena aku sempat mengkonsumsi Pill pencegah kehamilan, karena aku tidak ingin merepotkan mu. Seandainya aku hamil sejak awal kita menikah, kuliah kita akan terganggu. Bukankah kau dengar wanita-wanita hamil suka mengidam yang aneh-aneh? Aku tak bisa membayangkannya, seandainya semester lalu aku hamil dan ngidam macam-macam, bisa berantakan ujian dan thesis kita. Sekali lagi maafin aku ya suamiku sayang. Kamu mau kan?
"Harusnya aku yang minta maaf sama kamu sayang." ujar Mickey lebih pada diri sendiri, sebelum kembali larut dalam surat Joelin.
Tapi, sejak kita masuk ke semester ke empat, aku memutuskan untuk berhenti dengan semua obat-obat pencegah kehamilan itu. Kamu tahu kenapa? karena aku sangat ingin bertemu keluargamu, tapi aku takut mereka mereka menolakku. Terlebih lagi, aku takut mereka memarahimu. Jadi kupikir andai kita punya bayi, pasti mereka akan menerima anak kita kan? Sejak saat itu aku merubah gaya hidupku.
Mickey menghela nafas panjang, tiba-tiba dia paham perubahan Joelin beberapa bulan terakhir. Istrinya itu sungguh berjuang untuk menerapkan gaya hidup sehat. Mickey kembali fokus pada surat istrinya itu.
Akhirnya aku hamil juga, maaf ya tidak langsung ngasih tahu kamu. Sebenarnya aku tahu aku hamil sejak semalam. Ternyata bayi kecil kita ini alasan kenapa aku merasa tidak enak badan. Ngomong-ngomong kemarin, aku juga ketemu bang Goedan di supermarket dekat rumah, saat aku keluar beli sandwich. Bang Goedan ngasih bunga dan ngucapin selamat buat kita, dia juga ngasih undangan buat acara pernikahannya. Kamu mau tahu nggak dia nikah sama siapa? Sama Aluna loh sayang, akhirnya Aluna bisa meraih cintanya, keren banget kan?
"Kenapa kamu malah memilih menceritakan semua ini lewat surat sayang? Andai kamu bercerita tentang Goedan lebih awal, aku tak akan meragukan mu." ujar Mickey penuh rasa bersalah.
*oh iya sayang, sudah dulu ya suratnya. Tapi sebelum surat ini berakhir aku mau ngasih tau kamu, kalau anak mu ini sepertinya cinta banget deh sama appanya, soalnya pas aku di dekat bang Goedan atau lelaki lain selain kamu, dia langsung berontak dan membuatku merasa mual. Udah dulu ya sayang, makasih sudah menjadi suamiku. aku sangat mencintaimu.
love,
Joelin*
"Ah, sayang kamu manis sekali. Kamu dimana sayang? segeralah beri petunjuk padaku. Jangan sedih sendirian di luar sana karena salah paham padaku. Kumohon." ujar Mickey sambil merengkuh kertas berisi curahan hati Joelin itu ke dadanya.
__ADS_1
Mickey merasa sesak menghimpit dadanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Goedan, ya Goedan. Aku harus menghubungi pria itu." ujarnya sambil bergegas meraih ponsel Joelin.
Dalam hitungan detik, suara interkom di seberang berganti dengan suara Goedan yang sangat pasih dengan bahasa Indonesia.
"Hello Joelin, kamu sekarang tinggal di mana?" tanya Goedan.
"Goedan, maaf ini aku Mickey." pembicaraan mereka beralih ke bahasa Indonesia.
"Ada apa Mickey? Apa Joelin sudah kembali bersamamu? Syukurlah kalau begitu."
"Tidak, dia tidak di sini, hanya saja dia meninggalkan poselnya saat pergi."
"ahhh... i see."
"Goedan kamu juga tidak tahu dimana istriku?"
"Maaf, terakhir aku membantunya membeli tiket untuk pergi ke salah satu pulau di Indonesia. Tapi..."
"Tapi apa Goedan? Jangan katakan sesuatu yang buruk terjadi pada istriku."
"Tapi, aku tidak tahu sekarang tepatnya dia tinggal di daerah apa. Yang aku tahu, tiket itu menuju ke bandara Kuala Namo, di pulau sumatera."
"Maksudmu Joelin tak kembali pada keluarganya?"
"Iya, begitulah."
"Apa kau bisa membantuku Goedan? Aku ingin mencari Joelin, dia hanya salah paham padaku. Aku sungguh khawatir memikirkannya sedang sedih di luar sana."
Goedan menghela nafas panjang, pria itu bisa merasakan ketulusan dalam suara Mickey yang bergetar menahan tangis, walau hanya lewat sambungan telepon.
"Baiklah, aku akan berjuang semaksimal mungkin Mickey. Tapi tolong jangan terlalu berharap, aku tak mau kamu kecewa." ujar Goedan berusaha bersikap rasional.
"Terimakasih Goedan." ujar Mickey sebelum memutuskan sambungan telepon antara dia dan pria Indonesia itu.
**Pengumuman
Gimana guys, apakah kalian puas dengan part ini? Mickey udah tahu tuh, si Joelin hamil.
BTW, tetap vote ya guys. Jujur karena sepi vote author ingin segera tamatin novel sampai di sini. Sedih ah jadi author.
kalian boleh mampir baca "CINTA PLUS MINUS" juga ya.
thankyou
__ADS_1
~best**~