Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Pertemuan Dengan Amel


__ADS_3

Tanpa berkomentar Mickey langsung meraih gelas di tangan Joelin. Setelah menghabiskan minumanya, Mickey langsung memeluk tubuh Joelin mencari kenyamanan di sana.


\*\*\*


Mickey sedang sibuk di meja kerjanya, memeriksa laporan akhir bulan dari setiap divisi di kantor.


"Kok perutku jadi tidak nyaman begini ya?" Mickey bermonolog sambil memegang perutnya.


Dalam hitungan detik, pria itu lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah merasa lebih lega, Mickey kembali ke meja kerjanya. Pria itu memijat kening dengan ujung jari, berusaha mengurangi rasa sakit di kepalanya.


"Saya jadi ingin makan rujak." Mickey kembali bermonolog.


"Kamu tolong belikan saya seporsi rujak." perintah Mickey setelah menekan tombol intercom di mejanya.


....


"Saya sudah makan siang. Rujak sudah cukup." jawab Mickey santai.


....


Pria itu kembali fokus pada pekerjaannya, walau harus menahan rasa tidak nyaman yang kini mengusik di perutnya.


tok..tok..tok..


Terdengar pintu ruangan Mickey diketuk oleh seseorang.


"Masuk." pria itu menjawab tanpa menoleh ke arah pintu.


"Pak, rujaknya saya taruh di meja." ujar sekertaris Mickey.


"Terimakasih."


"Sama-sama pak." sang sekertaris kini melangkah keluar dari pintu setelah meletakkan pesanan Mickey di meja yang berdekatan dengan sofa.


"Makan rujak dulu." ujar Mickey yang sudah bisa menyebut kata rujak dengan benar.


Masih mencicip sepotong buah, Mickey sudah tidak ingin memakan rujak itu lagi.


"Kenapa tidak seenak buatan Joelin?" ingatannya melayang pada saat Joelin hamil beberapa bulan lalu.


Tanpa pikir panjang, Mickey segera menyeselaikan pekerjaannya. Setelah semua beres, pria itu bergegas keluar dari ruangannya. Tujuannya sekarang adalah pulang ke rumah.


"Nak Mickey langsung pulang?" tanya sang Supir yang kini sedang duduk di balik kemudi, mobil yang membawa Mickey melaju meninggalkan kantor.


"Mampir ke supermarket sebentar ya pak. Saya ingin beli buah." jawab Mickey.


\*\*\*


Ditempat lain, Amel sedang mengutak-atik ponselnya sambil berbaring di atas tempat tidur.


"Dasar cowo egois. Sekalipun nggak pernah ngehubungin gue. Kalau anak ini lahir, jangan harap kamu punya kesempatan untuk melihatnya." Amel melempar asal ponselnya di atas tempat tidur.


"Mel..." seorang wanita paruh baya menghampirinya.


"Iya ma..." Amel langsung duduk dari posisi tidurnya.


"Bantu mama, beli bahan-bahan ini ke supermarket di depan ya nak. Mama lagi baking tapi ada beberapa bahan yang kurang, sekalian kamu beli susu buat ibu hamil." ujar sang ibu sambil membelai rambut panjang putrinya.


"Okay ma."


"Kamu masih marah sama Vino?" tanya wanita itu sambil merapikan rambut Amel.

__ADS_1


"Apa mama dengar kalimat ku tadi?" Amel bertanya dalam hati.


"Amel pergi sekarang ya ma." tanpa menjawab dia memilih bergegas.


Ya menghindar, Amel sengaja menghindari pertanyaan sang ibu.


Saat Amel keluar dari area rumahnya, sepasang mata kini mengawasi pergerakan wanita hamil itu. Usia kehamilan Amel yang sudah berada di bulan ke lima membuat perutnya kini sudah membuncit. Siapapun yang melihatnya akan tahu bahwa gadis itu tengah hamil.


\*\*\*


Mobil yang membawa Mickey kini tiba di depan supermarket.


"Pak, biar saya saja yang masuk." ujar Mickey pada pak Karno.


Pria itu berjalan gontai menuju pintu utama tempat perbelanjaan.


"Mickey..." sebuah suara yang tidak asing mengusik Mickey.


"Hi Mel..." Mickey tersenyum pada pemilik suara yang kini sudah berdiri bersisian dengannya.


"Mau belanja? Joelin apa kabar?" tanya Amel ramah.


"Saya ingin membeli beberapa buah-buahan. Joelin kabar baik." jawab Mickey ramah.


Keduanya lalu masuk supermarket itu bersama-sama. Di kejauhan Doni tersenyum puas dengan pemandangan di hadapannya.


"Nggak sia-sia gue ngawasin loe selama ini. Akhirnya loe nemuin cowo itu lagi kan? Bagus nih kalau gue kirim ke Joelin, bisa perang dunia ketiga." ujar Doni sambil memandang kameranya dan tersenyum penuh kemenangan.


Mickey dan Amel memutuskan mengobrol dan bertukar kabar sambil mengisi keranjang belanja mereka masing-masing. Tak banyak yang mereka perbincangkan, hanya seputar kabar terbaru layaknya teman. Tak lupa Mickey menawarkan diri untuk membayar barang belanja Amel yang hanya sekian rupiah.


"Wah, thank you lho Mickey sudah traktir saya dan bayi." ujar Amel sambil meraba perutnya.


Kedua orang itu kini melangkah meninggalkan kasir.


"Usia kandungan Joelin berapa bulan Mickey?"


"Masih sebulan." jawab pria itu.


"Selamat ya, semoga bayi dan ibunya sehat-sehat. Salam buat Lucy." ujar Amel.


"Thanks Mel. Saya permisi duluan ya." Mickey melangkah menjauh dari sahabat sang istri.


"Oh iya, kamu nggak mau bertemu dengan Joelin?" tanya Mickey sambil memutar tubuhnya.


"Next time aja Mickey, aku belum siap." jawab Amel.


"Ok. saya duluan ya." Mickey berlalu meninggalkan Amel yang berdiri terpaku di depan supermarket.


"Aku malu bertemu denganmu Joe." lirih gadis itu berkata dalam hati sambil memulai langkahnya yang sedikit goyah.


\*\*\*


Joelin sedang bermain dengan Lucy, saat Mickey tiba di rumah.


"Sayang..." Mickey langsung memeluk manja tubuh sang istri sambil menggesek kepalanya di punggung Joelin seperti anak kucing.


"Hei... aduh... Mickey... geli..." ujar Joelin berusaha menghentikan aksi suaminya.


"Sayang, pengen rujak." ujar Mickey.


"Kita beli keluar yuk, sekalian jalan sama Lucy." Joelin kini pasrah dan membiarkan sang suami memeluknya.


"Tapi pengen yang kamu buat."

__ADS_1


"Lah? Kok gitu?" tanya Joelin bingung.


"Nggak tahu, pokoknya maunya kamu yang buat." ujar Mickey sedikit merajuk.


"Iya..iya.. nih kamu main sama Lucy biar aku buatin rujaknya ya."


"Tapi aku pengen meluk kamu." Mickey menolak melepaskan Joelin.


"Astaga Mickey. Pilih satu, mau meluk atau rujak?" tanya Joelin tegas.


"Jangan galak-galak. Yaudah, kamu buat rujak.. Biar aku yang jagain Lucy." Mickey mengalah.


Sepeninggalan Joelin, di ruang keluarga kini Mickey asik bermain dengan Lucy.


Setelah selesai dengan resep perrujakan Joelin begegas menemui sang suami dan putrinya di ruang tamu. Tak lupa dia juga membawa sepiring rujak di tangannya.


"Yang hamil gue, yang minta rujak siapa. Ini beli buah malah menunya aneh. Mangga muda, kedondong, untung masih ada apel dan jambu di kulkas. Kalau nggak bisa-bisa aku menikmati asam dan pedasnya hidup.". Joelin berguna dalam hati sambil menyerahkan sepiring rujak pada sang suami.


Mata Mickey berbinar gembira, tanpa menghiraukan Lucy pria itu langsung menyantap kedondong dan mangga muda dari sepiring rujak buatan sang istri.


"Apelnya sayang?" tanya Joelin yang makin merasa aneh dengan tingkah sang suami.


"Buat kamu aja." jawab Mickey.


"Astaga, suamiku..." Joelin menggeleng bingung dengan aksi sang suami.


\*\*\*


Hari-hari berikutnya, Mickey semakin aneh dan sensitif pada semua orang. Kecuali pada Joelin.


"Kamu ganti parfum mu. Terlalu menyengat." ujar Mickey pada sang sekertaris saat meninggalkan kantor sore tadi.


Mobil yang membawa pria itu kini masuk ke area pekarangan rumah.


"Pak Karno, tolong pewangi mobil di ganti ya pak. Saya kurang nyaman dengan aroma yang sekarang." ujar Mickey sopan.


"Apa selama ini dia tidak suka dengan aroma di mobil? Tapi kan yang memilih parfum mobil ini Nona Joelin."


"Nak Mike, biasa nak Joelin yang ganti." jawab sang supir menyuarakan kebingungannya.


"Ok. Nanti saya akan sampaikan padanya. Terimakasih pak." Mickey keluar dari mobil dan segera masuk ke rumah.


"Sayaang... sayangggg..." Suara Mickey yang berteriak memenuhi rumah itu.


"Kenapa pakai teriak-teriak begitu? Ada apa?" tanya Joelin yang sedang menenangkan Lucy.


"Aku nggak suka aroma mobil yang sekarang. Kamu ganti ya, pakai yang sama dengan aroma parfume kamu." Mickey langsung mencium pipi sang istri.


"Aku nggak pakai parfume sayang."


"Pokoknya aromanya harus sama kayak kamu." jawab Mickey dingin.


"Iya...iya." Joelin yang malas berdebat memilih mengalah.


"Apa jangan-jangan Mickey kena sidnrom ngidam ya? masa iya sih? Bisa jadi kan?" Setelah mengawasi sang suami berhari-hari, Joelin menarik kesimpulan ini di dalam hatinya.


...to be continued...


**Author POV


Teman-teman boleh nggak minta vote yang banyak?


Thanks

__ADS_1


-best**-


__ADS_2