Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Mendadak Possesive


__ADS_3

"Siapa pria asing itu?" pertanyaan utama yang kini menggema di pikiran Goedan.


\*\*\*


Mickey memandang ponsel Joelin, so pemanggil baru saja memutuskan sambungan telepon tanpa mengucapkan sepatah katapun jua.


"Siapa yang menelepon?" tanya Joelin sambil menumis sayuran.


"Seseorang bernama, Guiden?" tanya Mickey tak yakin dengan pengucapannya.


"Siapa itu Mickey?" tanya Joelin bingung. "Could you please, help me to spell the name?"


"Gi-o-i-di-e-en" ujar Mickey mengeja nama Goedan satu persatu.


"Oh.. Goedan." ujar Joelin.


"Tapi dia hanya mematikan teleponnya. Siapa dia?" tanya Mickey penasaran.


"Bosnya Bapak." ujar Joelin.


"You mean?"


"Pemilik kebun strawberry Mickey. Bapak hanya mandor di sana." ujar Joelin menjelaskan.


"Oh... haruskah kita menghubunginya lagi?" tanya Mickey serius. "Bagaimana jika ada masalah penting yang harus dia diskusikan dengan Bapak?"


"Jangan khawatir, kalau pub ada hal penting dia pasti bisa menghubungi Bapak." jawab Joelin sambil membubuhkan sedikit garam pada masakannya.


"Aromanya enak sekali. Sayang, aku sangat lapar." rengek Mickey sambil memegangi perutnya yang sedang keroncongan.


"Sabar ya big baby." ujar Joelin lembut. Suaminya sungguh-sungguh manja.


Mickey yang Joelin kenal sepanjang satu tahun terakhir sangat berbeda dengan pria yang kini hidup dengannya. Dulu di mata Joelin, pria ini sangat dingin dan otoriter. Dia senang memerintah Joelin sesuka hatinya, walau kadang juga perintahnya itu demi kebaikan Joelin sendiri. Bulan lalu, pria ini berubah menjadi lelaki romantis yang banyak gombal nya. Dan dalam sebulan ini, tiba-tiba saja mereka sudah sah jadi pasangan suami istri, banyak karakter Mickey yang kini muncul di hadapan Joelin. Dewasa, manja, romantis, perhatian, lembut dan kekanak-kanakan. Hari-harinya sungguh ramai karena Mickey. Bukan hanya itu, lelaki ini juga sangat mesum. Padahal dulu katanya hanya ingin memakan Jelin tiga kali sehari, nyatanya kini Joelin malah dibuat kewalahan melayani hasrat pria itu.


Joelin menata makanan di meja makan, sedangkan Mickey kini duduk santai seperti anak kecil yang menunggu hidanganakan yang disiapkan oleh ibunya. Gadis itu tidak kuasa menahan senyum melihat tingkah suaminya yang sangat manis.


"Kenapa kamu tersenyum?".


"Kamu manis sekali, mirip anak kecil yang mengawasi ibunya."


"Apa kamu sedang berpura-pura jadi ibuku?"


"Atau kamu yang berpura-pura jadi anakku?" ujar Joelin sambil menuang makanan ke piring Mickey.


"Makanlah, anakku sayang. Hati-hati makanannya masih panas." ujar Joelin seraya menyodorkan sendok pada Mickey.


"Thank you." ujar Mickey tersenyum senang.


Nasi putih, berteman sup tuna dan tumisan sayur. Rasanya sungguh telat sekali di lidah Mickey. Entah sejak kapan, masakan Joelin jadi menu favorite nya. Padahal tentu saja, masakan itu bukan khas korea.


"Sayang, kamu mengurangi garamnya ya?"

__ADS_1


"Bagaimana kamu tahu?"


"Rasa masakan di Indonesia lebih asin."


"Termasuk yang dirumah orangtuaku?"


"Iya. Apakah kamu bisa menikmati rasa makanan ini? Tidakkah terlalu hambar untukmu?"


"Aku baik-baik saja Mickey. Ayok makan lagi, jangan ngobrol terus. Apa kamu lupa kalau perutmu sedang kelaparan?" ujar Joelin panjang lebar.


Mickey menuruti perkataan istrinya itu, suapan demi suapan dia nikmati dengan hati yang bahagia. Bagaimana tidak bahagia, bahkan untuk selera makananpun gadis ini berjuang menyesuaikan dengan selera nya. Andai dia tahu bahwa menikah sebahagia ini, tentu dia sudah menikahi Joelin sejak tahun lalu.


\*\*\*


Sudah berhari-hari Mickey menculik Joelin dari Lab. Sejak kembali dari Indonesia, hanya satu hari mereka berdua hadir di laboratorium. Sementara hari-hari berikutnya Mickey asik membawa Joelin berkeliling kota. Taman, pantai, kebun buah-buahan, banyak tempat yang telah mereka singgahi. Setiap hari pria itu selalu berhasil membujuk Joelin untuk mengikutinya membolos dari laboratorium. Hari ini, Mickey juga tengah membujuk gadisnya itu agar mau berpetualang bersama.


"Kita bolos lagi, aku merasa tidak nyaman." protes Joelin sambil menikmati cokelat dinginnya di sebuah cafe di dekat universitas bersama Mickey..


"Ayok lah sayang. Kan perkuliahan masih libur."


"Mickey, kalau kita terus main-main kapan ngerjain projek penelitian? Ini akan mempengaruhi jadwal kelulusan kita Mickey."


"Hari ini untuk yang terakhir kalinya. Please..." pinta Mickey yang duduk di hadapannya.


"Kamu ini kenapa bisa jadi nggak dewasa begini sih Mickey?"


"Please.. Lagipula bukankah hal yang normal jika pasangan yang baru menikah menikmati waktu-waktu mereka bersama. Kita masih di fase honemoon sayang. Aku berharap kita bisa menikmatinya dengan baik, walaupun kita tidak bisa pergi keluar kota." ujar Mickey sambil menggenggam tangan Joelin di atas meja.


'drrt...drrtt..' Joelin merasakan getaran yang berasal dari ponselnya. Gadis itu langsung merogoh tas tangannya.


"Hallo.. iya kak? Lagi di luar. Maaf, next time aja ya kak." ujar Joelin. Gadis itu mengakhiri panggilan dan menyimpan ponselnya kembali.


"Siapa?" tanya Mickey yang tidak paham dengan percakapan Joelin barusan.


"Temanku, sesama pelajar dari Indonesia."


"Oh.. Sesuatu yang penting?"


"No. Hanya mengajakku untuk jalan-jalan hari ini."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


"Lain kali jangan menerima telepon darinya." ujar Mickey possesive.


"Apa salahnya?"


"Aku tidak suka." rasa kesal tergambar jelas di wajah Mickey.


"Hei, Mickey. Dia hanya teman biasa."

__ADS_1


"Yang penting aku tidak suka ya tidak suka."


"Mickey?"


"Jangan banyak alasan." jawab Mickey galak.


"Kamu tidak percaya padaku? dia hanya teman. Hanya teman." protes Joelin.


"Aku tidak ingin membahas hal ini lagi. Selesaikan minumanmu." perintah Mickey tegas.


Joelin sangat terkejut dengan perubahan sikap suaminya itu. Hatinya terasa nyeri dengan perilaku Mickey barusan.


Sementara Mickey memendam rasa kesal di dalam hatinya. "Berani sekali pria itu mengajak istriku jalan-jalan. Joelin hanya milikku, tidak ada yang boleh mengganggunya." gumam Mickey dalam hati sambil terus menatap lekat-lekat pada Joelin.


Merasakan sepasang mata Mickey mengawasinya, membuat Joelin tiba-tiba merasa terintimidasi. Sinar kelembutan yang selalu dia lihat di mata itu berubah menjadi pancaran rasa was-was. Seolah-olah tatapannya ingin menguliti isi hati Joelin hingga terbuka lebar.


"Tolonglah Mickey, bukankah aku sudah menyerahkan segalanya padamu? bagaimana bisa kamu tidak percaya denganku?" gumam Joelin dalam hati.


Hatinya terasa sangat sakit dengan tindakan suaminya kini.


"Aku sudah selesai." ujar Joelin sambil menunduk memandangi ujung kakinya yang menyentuh lantai..


"Ayok." jawab Mickey dingin. Pria itu langsung berdiri dan melangkah keluar dari cafe itu dan langsung menuju sepeda motornya yang terparkir di luar.


Mata Joelin terasa panas, tetes bening itu lolos jatuh dari matanya. Dengan gerakan cepat gadis itu menghapus air matanya dan segera beranjak menyusul Mickey. Joelin tidak kuasa menahan kesedihannya atas sikap galak dan dingin lelaki itu. Dengan kepala tertunduk Joelib berjalan menuju pintu masuk cafe.


'Bruk...' tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang. Joelin memejamkan mata menunggu punggungnya mendarat di lantai. Namun hal yang dia pikirkan tak kunjung terjadi, tubuh Joelin masih melayang di udara. Ada sepasang tangan yang menahan punggungnya. Ketika kedua mata Joelin terbuka, rasa terkejut menghampiri otaknya tatkala menyadari sosok yang kini tengah menahan tubuhnya.


"Bang Goedan?" ujar Joelin lirih.


"Eh... Kamu Joe?"


"Kk abang di sini?" tanya Joelin mencoba berdiri dan melepaskan diri dari pelukan Goedan.


"Eh... maaf, saya cuman khawatir kamu jatuh." ujar Goedan kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Makasih ya bang sudah nolongin saya, eh pertanyaan tadi belum dijawab. Kok abang ada di sini?"


"Itu..."


Kalimat Goedan terputus seiring dengan munculnya seorang pria yang tiba-tiba menarik Joelin pergi dari sana.


"aisssh.. Mickey." Joelin meringis kesakitan saat Mickey berhasil membawanya keluar dari cafe.


Mickey hanya diam, wajahnya kini merah padam. Jantung pria itu berdegup kencang, sementara darahnya mengalir sampai ke ubun-ubun. Dia benci, dia sangat benci dengan pemandangan Joelin dalam pelukan pria tadi. Terlebih lagi, melihat Joelin berbicara dan tersenyum pada lelaki itu membuat Mickey tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


"Pulang." perintah Mickey dingin. Dia kini sudah duduk di atas motornya.


Tanpa bersuara, Joelin langsung duduk di boncengan Mickey. Sepeda motor itu melaju perlahan membelah jalan raya menuju kediaman Mickey. Mata Joelin semakin panas, dan air mata kini berhasil membasahi pipinya.


Bagaimanapun sikap kasar dan dingin Mickey hari ini telah menyisakan rasa sakit di hati gadis itu.

__ADS_1


Mickey memandangi wajah Joelin dari kaca spion, hatinya perih melihat air mata gadis itu menetes perlahan.


"Apa aku menyakiti dia? Aku hanya tidak suka melihatnya dekat-dekat dengan pria lain. Apakah aku salah?" gumam Mickey dalam hati.


__ADS_2