Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Kunjungan Geodan (2)


__ADS_3

"Tenang aja bro." ucap Vino.


"Oke. Gua tunggu." jawab Geodan sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.


Setelah menunggu selama 15 menit, akhirnya Geodan melihat sosok pria yang dikenalnya sejak kecil berlari ke arahnya. Senyum hangat terlukis di bibir Geodan. Dia membuka kedua tangannya menyambut Vino dalam sebuah pelukan hangat.


"Apa kabar loe bro?" tanya Geodan sambil memeluk Vino.


"Gua baik. Loe gimana? udah ah bro meluknya, ntar orang yang liat malah mikir yang macem-macem sama kita." ujar Vino sambil melepaskan pelukan mereka.


"Vin.. Vin.. toh juga mereka gak kenal sam kita. Peduli amat." jawab Geodan.


"Ini korea Dan, disini beda sama di Indonesia." ujar Vino meminta pengertian sahabatnya itu.


"Hahaha.. Indonesia malah punya netizen yang lebih luar biasa bro." ujar Geodan.


"Udah ah, nggak usah ngebahas orang. Gimana China? betah loe?" tanya Vino kemudian.


"Yah, lumayanlah. Gue kerasan di sana." Jawab Geodan.


"Dan, loe mau nongkrong sekalian makan siang gak?" ujar Vino menawarkan saat menyadari posisi mereka yang berdiri sejak tadi.


"Boleh bro. Gue juga udah mulai merasa kedinginan dari tadi." Jelas Geodan jujur.


"Mau makan apa loe?" tanya Vino.


"Apa aja dah, selama loe nggak meracuni Gua." jawab Geodan polos.


"Ya ampun Dan.. Dan.. loe masih aja kocak begini. Tapi gua heran loe kok masih betah menjomblo?" ledek Vino.


"Yaudah yok." ajak Geodan mengabaikan pernyataan Vino.


Kedua pria itu akhirnya berjalan menuju ke sebuah restoran untuk menikmati menu makan siang mereka. Setelah berjalan selama lima menit akhirnya mereka memasuki sebuah restoran dengan interior klasik yang hangat. Ruangan yang di dominasi warna cokelat kayu, ditambah bias dari lampu kekuningan memberikan kesan romantis di dalam rumah makan itu. Setelah memesan kudapan keduanya kembali berbincang.


"Jadi rencananya berapa lama loe di sini?" tanya Vino pada Geodan.


"Seminggu. Loe bisa jadi tour guide gue kan Vin?"


"Iya tenang aja. Lagian gua masih libur kok seminggu kedepan." jelas Vino.


"Eh, btw gimana Aluna. Loe kemarin pulang ya bro pas dia wisuda?" tanya Vino lagi.


"Dia bak-baik aja bro. Iya, biasalah sepupu kamu yang satu itu selalu punya cara untuk menghapus kata tidak dari kamusku." jawab Goedan santai.


"Apa jangan-jangan loe naksir Aluna ya Dan? makanya loe masih jomblo sampai sekarang?" selidik Vino yang tahu betul bahwa gadis yang dimaksud sangat mencintai sahabatnya ini.

__ADS_1


"Naksir apaan? Aluna itu udah gua anggap adik sendiri Vin." jawab Geodan.


"Permisi, ini pesanan anda." ucap pelayan yang kini sedang meletakkan pesanan mereka di meja.


"Thank you." ujar kedua sahabat itu kompak, saat pelayan pergi meninggalkan mereka.


"Kalau bukan karena Aluna, terus loe kenapa nggak punya cewek sampai sekarang? Apa jangan-jangan loe homo?" ujar Vino bergidik ngeri.


"Vino.. Vino" Geodan menggelengkan kepalanya mendengat kalimat Vino barusan. "Gua normal. Gua juga naksir cewe. Udah lama banget gua naksir nih cewe. Tapi entah kenapa setiap ada dia, gua jadi bingung dan ****. Ngobrol sama dia aja rasanya susah." curhat Geodan.


"Kok jadi susah ngobrol Dan? Cewe yang loe taksir lemot kali." Tuduh Vino.


"Loe salah Vin. Yang ada malah cewe itu yang selalu ngajak gua ngobrol. Dan gue nya malah tiba-tiba kehilangan akal setiap ada dia. Jantung gue kayak udan ikut ajang lomba lari aja setiap ada cewe itu." curhat Geodan.


"Lebay.. lebay.." ledek Vino sambil mengunyah makanannya.


"Kita makan dulu deh. ngobrolnya nanti aja." ajak Geodan dan langsung disetujui oleh Vino. Terbukti dari aksinya yang langsung menikmati makanan dalam diam.


Seusai makan kedua sahabat itu memutuskan untuk memulai petualangan mereka di sekitar kampus. Sore harinya Vino memutuskan ikut menginap di hotel yang sudah di sewa oleh Geodan. Kebetulan jarak hotelnya dengan kampus Vino hanya bisa ditempuh dengan naik sepeda selama 10 menit. Sementara untuk urusan sepeda, Vino membantu Geodan meminjam dari salah satu mahasiswa Indonesia di kampusnya. Sepeda hanya mereka pakai untuk berkeliling-keliling di daerah hotel dan kampus.


\*\*\*


Perjalanan Geodan di Korea selama seminggu telah berakhir hari ini. Setiap hari dia mencoba menghubungi Jeolin dan mengajak gadi itu keluar. Namun tidak satupun panggilan dari nomor Geodan yang dibawa oleh Joelin, dan semua pesan hanya di read oleh gadis itu.


Joelin membaca pesan yang dikirim Geodan dalam hati. Gadis itu mengernyitkan dahinya pertanda dia sedang berpikir keras. Dia membaca ulang pesan-pesan yang secara random dikirim oleh Geodan seminggu ini.


*Pagi Joelin.


Selamat makan siang.


Selamat pagi Joelin.


Hari ini lebih cerah.


Selamat malam*.


Pesan singkat yang tidak sempat dibalas oleh Joelin karena kesibukannya. Mickey dan Si An, kedua pria itu sukses membuat Joelin berkutat dengan materi pelajaran setiap hari. Keduanya juga akan menahan ponsel Joelin selama mereka berdiskusi. Mereka memang sedang sibuk menyiapkan diri untuk semester yang akan datang dengan membaca teks book sesuai referensi yang dicantumkan dosen pengampu matakuliah dalam silabus yang dibagikan secara online di situs kampus.


"Ok bang. Hati-hati."


Sebuah pesan yang Joelin kirimkan kepada Geodan. Di hotel, pria itu membaca pesan yang dikirim Joelin dengan perasaan campur aduk. Mukanya kini merah padam menahan amarah.


"Apa kamu sedang bersama pria itu?" tanya Geodan dalam hati. Bayangan tentang Mickey yang membawa pergi Joelin kembali terputar dalam ingatannya.


"Loe udah siap berangkat bro?" tanya Vino yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Ada apa Dan?" tanyanya lagi, menyadari perubahan wajah Goedan.


"Vin, gua butuh bantuan loe." ujar Goedan serius.


"Lha. masalah kantor bukannya sudah kita bicarakan kemarin-kemarin? ada apa? apa ada hal mendesak lain?" ujar Vino khawatir. Hubungan kedua pria ini selain sebagai sahabat sejak kecil, mereka juga merupakan mitra kerja. Keluarga Geodan memiliki sejumlah investasi di perusahaan milik keluarga Vino.


"Ini masalah lain bro. Loe ingat cewe yang gua pernah ceritain kemarin?" tanya Geodan.


"Iya. Ada apa dengan cewe itu?" gumam Vino.


"Gua butuh bantuan loe, untuk menyelidiki cewe itu." Jawab Geodan jujur.


"Gimana caranya bro? Gue di korea. cewe itu emang ada di sini?" tanya Vino bingung.


"Nih. Loe kenal cewe ini kan?" ucap Geodan sambil menunjukkan foto Joelin pada layar ponselnya.


"Dia Joelin?" tanya Vino memastikan.


"Iya bro. Bantu gue dapatin info tentang dia Vin. Gua takut dia malah jatuh kepelukan lelaki lain." curhat Geodan.


"Ah, setahu gue dia nggak dekat dengan lelaki manapun. terkhusus mahasiswa yang dari Indonesia." jawab Vino santai.


"Mungkin ada lelaki dari negara lain." gumam Geodan.


"Oke bro. Gua bakal cari tau tentang dia." jawab Vino.


"Tolong ya Vin. Gue nggak mau kehilangan cewe ini." ujar Goedan sungguh-sungguh.


"Oke bro." Jawab Vino setuju.


"Aluna. Gua harus beritahu kabar ini sama Aluna." batin Vino.


"Pesawat loe, jam berapa?" tanya Vino memecah keheningan diantara mereka.


"Kita turun sekarang Vin. Taksi nya sudah menunggu di depan." Ajak Geodan.


Mereka berdua meninggalkan kamar hotel itu. Goedan kini sedang berangkat menuju bandara. Sementara Vino memutuskan kembali ke Universitas.


"Joelin..." gumam Vino sambil tersenyum tipis sambil mengendarai sepedanya membelah jalan.


**Pengumuman:


Hai readers, kunjungi juga novel terbaruku yang berjudul C.I.N.T.A (Plus Minus). Novel dengan genre teen romance yang semoga bisa menjadi moodboster readers tersayang. Luph


-best**-

__ADS_1


__ADS_2