
Dengan sigap, Mickey segera mengendong tubuh Joelin. Setengah berlari pria itu membawa sang istri keluar dari kamar. Sementara Joelin masih merintih menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang sekujur tubuhnya.
\*\*\*
"Pak... Cepat pak." ujar Mickey panik pada sang supir.
Tanpa menjawab apa-apa, pak Karno memilih fokus pada jalan raya. Dan berjuang memaksimalkan kecepatannya dan sikap berhati-hatinya dalam berkendara.
"Mike... sakit." rintih Joelin sambil mencubit perut Mickey.
Pria itu ikut meringis menahan sakit akibat cubitan sang istri.
"Apa iya Joelin melahirkan sekarang?" Mickey berusaha memeriksa area bawah dari pakaian Joelin.
"Kamu ngapain sih? Masih aja nyari-naryi kesempatan buat mesumin istri, padahal lagi kesakitan." omel Joelin dengan suara lemah karena menahan sakit.
"Bukan sayang, aku memeriksa sesuatu." jawab Mickey setelah memastikan apakah sang istri sudah pecah ketuban atau belum.
"Ternyata belum." ujar Mickey sedikit lega. Takut jika dia terlambat menolong istrinya yang tanpa diduga bisa melahirkan secara tiba-tiba.
"Mickey.... Sa...kit..." rintih Joelin tertahan.
-bles- sesuatu membanjiri bagus bawah tubuh Joelin secara mendadak. Mickey yang sedang berusaha menenangkan sang istri kini mulai panik.
"Pak Karno... cepat pak.." pinta Mickey.
"Sakit Mike..." rengek Joelin sambil memegangi perutnya.
"Tarik nafas sayang... hembuskan.. tarik nafas... hembuskan.." Mickey berusaha menenangkan Joelin sementara jantungnya sendiri nyaris melompat keluar karena diburu rasa panik.
Akibat rasa panik yang mendera ketiga insan di dalam mobil, seketika perjalanan dari rumah sampai kerumah sakit terasa sangat melambat. Padahal sang supir sudah ngebut sangkin paniknya, beruntung saja beliau profesional, jika tidak bisa berabe urusan hari ini.
"Doctor... doctor... Help me... my Wife.. My wife..." Mickey berteriak-teriak dalam bahasa inggris, sangkin panik nya pria itu lupa semua kosa kata bahasa Indonesia yang sudah dia kuasai.
"Doctor... Please..." teriak Mickey sambil menggendong sang istri masuk ke IGD.
Perawat berlarian menghampiri Mickey sambil mendorong ranjang pasien. Setelah Mickey meletakkan tubuh Joelin yang sedang meringis kesakitan, di atas ranjang para perawat mulai membawa wanita itu untuk segera di tangani.
Mickey masih menggenggam tangan Joelin sambil membelai kepala sang istri, berusaha menenangkan wanita itu.
__ADS_1
"Don't afraid, i'll be there with you.. Okay... take a breath baby.." Mickey kembali meracau dalam bahasa Inggris.
"Romantis sekali pasangan ini." Bunyi tatapan mata dari salah satu perawat.
"Astaga pak, dia cuman mau lahiran. Lebay banget sih." Perawat yang lain mengumpat dalam hati.
Sementara Mickey masih menggenggam tangan Joelin, dan kakinya berusaha mengimbangi pergerakan ranjang pasien yang di dorong oleh perawat. Karena gugup yang menyerang, Mickey sampai lupa bahwa dia sedang ada di Indonesia, sehingga berkali-kali pria itu menenangkan Joelin dengan bahasa Inggris dan Korea yang dicampur sembarangan.
\*\*\*
"Siapa suami pasien?" tanya sang dokter saat memasuki ruangan tempat Joelin berbaring.
"Saya." jawab Mickey yang tiba-tiba sadar bahwa dia ternyata sedang di Indonesia.
"Saya akan memeriksa ibu ini sebentar." ujar Sang dokter lagi.
"Istri saya, bagaimana dok?" tanya Mickey dengan aksen bahasa Indonesia yang terdengar khas orang asing.
"Masih bukaan dua. Kita masih punya waktu untuk menunggu hingga bukaan 10." jawab sang Dokter santai.
Dokter wanita itu terlihat sudah berumur, sekilas mengingatkan Mickey pada ibunya yang jauh di Korea.
"Tenang sayang... tenang ya.." ujar Mickey sambil mengelus sayang kepala Joelin.
"Maaf dokter, menunggu sampai bukaan 10 butuh waktu berapa lama?"
"Untuk kasus istri anda, paling lama 12 jam." jawab sang dokter setelah menyadari dan menimbang periode kontraksi sang pasien yang sangat sering.
"Are you kidding me? Jangan bercanda dokter, bagaimana istri saya bisa menahan sakit selama itu?" tanya Mickey frustasi.
"Jangan khawatir, istrimu baik-baik saja." ujar sang Dokter.
"Saya dan oara perawat akan memeriksa keadaan nya setiap 30 menit." ujar sang dokter sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Joelin dengan satu kata singkat "permisi".
"Astaga..." Mickey menepuk jidat nya tak habis pikir saat dokter dan pada perawatnya meninggalkan Mickey dan Joelin di ruangan itu.
Joelin masih mengeluh dan merintih sakit beberapa kali sampai akhirnya seorang perawat kembali ke ruangan itu. Setelah memeriksa Joelin perawat mengatakan bahwa setelah 30 menit berlalu, Joelin masih tetap dalam kondisi bukaan ke dua. Tanpa basa basi perawat itu berlalu.
Mickey duduk sambil mengelus kepala istrinya penuh perasaan. Mencoba menyalurkan rasa nyaman pada Joelin yang sesekali meringis. Keringat dingin kini memenuhi wajah Joelin. Mickey memandang sang istri dengan tatapan iba dan penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"MI...KE... TOLONG..." jerit Joelin sambil meremas salah satu tangan pria itu. Rasa sakit yang menyerangnya saat ini jauh lebih sakit dibanding sebelum-sebelumnya hingga Joelin merasa susah untuk memberikan perbandingan dengan sakit akibat kontraksi yang dia rasakan sejak tadi.
"Kamu kenapa? Dokter... Dokter..." panggil Mickey histeris menyadari kondisi istrinya, tak lupa tangannya menekan salah satu tombol panggil darurat di rekat ranjang yang ditempati Joelin.
Dengan berlarian, Dokter dan beberapa perawat masuk ke ruangan Joelin.
"Siapkan persalinan." ujar sang dokter dengan wajah panik. Tentu saja dia panik, belum tiga puluh menit sejak perawat memeriksa kondisi Joelin namun sekarang wanita di hadapannya ini sudah berada pada pembukaan sempurna alias siap untuk melahirkan.
Mickey yang ikut-ikutan panik mendengar kalimat sang dokter kini hanya terpaku memandang wajah Joelin yang sudah dibanjiri oleh keringat. Sambil salah satu tangannya menggenggam tangan sang istri.
"Aaaaaargh..." jerit Joelin menahan sakit, sambil salah satu tangannya menarik rambut Mickey.
"Arrrrrrrgh... sayaaaaang.." jerit Mickey saat Joelin menggigit tangannya.
"oweeeeeek...oweeeek..." tangis Bayi memenuhi ruang persalinan membuat Mickey dan Joelin lupa akan rasa sakit yang tadi mereka alami.
"Selamat pak, bu.. Putri anda sangat cantik." ujar perawat yang kini sedang menggendong tubuh bayi dan menyerahkan pada Mickey.
Mickey tersenyum haru dan mendekatkan bayi merah itu ke wajah Joelin agar sang istri bisa melihat sang bayi. Tangan pria itu sedikit bergetar, karena takut menyakiti sosok mungil dalam gendongannya.
Joelin tersenyum haru, setetes air mata mengalir di pipinya. Sebuah kecupan hangat mendarat di ujung mata Joelin. Sang suami menghapus air matanya dengan kecupan.
"Manis sekali." Ujar Joelin dalam hati sebelum rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerangnya.
"Terimakasih sayang." bisik Mickey di telinga Joelin.
Masih mendekap sang bayi dengan hati-hati dengan perasaan berbunga dan haru, Mickey mengangkat wajahnya setelah mengecup kembali kening sang istri dengan penuh cinta. Namun saat dia berdiri tegak, Joelin sudah memejamkan matanya.
"Siapkan transfusi darah, pasien sudah kehilangan banyak darah. Pendarahannya belum bisa dihentikan." samar-samar Mickey mendengar penuturan panik sang dokter.
Tubuh Mickey bergetar makin kencang. Lututnya terasa sangat lemas.
"Maaf pak. kami akan membawa bayi ke ruang perawatan." Mickey tidak menanggapi ketika suster meraih bayinya dari tangannya.
"Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?" tanya Mickey dalam hati.
Lututnya kini sudah tidak berdaya untuk menopang seluruh tubuhnya. Mickey sudah berlutut di sebelah tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri.
"Jangan sakit... Kumohon jangan sakit..." pinta Mickey dalam bisikan lembut sambil menggenggam tangan Joelin yang terlihat pucat pasi. Sementara tubuh pria itu kini bergetar hebat karena rasa takut, dia sangat takut sesuatu yang buruk terjadi pada sang istri. Bibir Mickey komat-kamit berdoa pada pemilik semesta, meminta kemurahanNya.
__ADS_1