
"Dokter, bagaimana suami saya?" tanya Joelin pada dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Dia....", sang dokter menarik napas dalam-dalam sebelum menyelesaikan kalimatnya "baik-baik saja. Kami akan memindahkannya ke kamar pasien."
"Haruskah dirawat di rumah sakit?"
"Ada beberapa luka akibat himpitan benda berat yang perlu kami evaluasi besok. Jika hasilnya baik, besok suami nona sudah boleh pulang."
"Terimakasih dokter." seulas senyum terbit di wajah Joelin. Hatinya lega setelah mengetahui kondisi Mickey.
\*\*\*
Mickey membuka matanya perlahab, kealanya terasa pusing, dan tubuhnya nyeri. Warna putih yang mendominasi kamar rumah sakit ditangkap oleh retina matanya. Perhatian Mickey beralih pada kehangatan yang menggenggam tangan kenannya. Mickey menemukan Joelin di sana, terlelap dengan sepasang tangan yang sibuk menggenggamnya. Wajah gadis itu terlihat sembab, Mickey yakin dia terlelap setelah lelah menangis.
Mickey menahan diri untuk tidak bergerak sedikitpun, tidak ingin membangunkan wanitanya itu.
Setelah sekian menit mengawasi wajah lelap Joelin, mata gadis itu mengerjap perlahan. Pemandangan yang sungguh ingin diabadikan oleh Mickey, pasalnya Joelin terlihat begitu imut.
"Good morning baby." sapa Mickey lemah.
"Mickey, kamu sudah bangun?" Joelin bereaksi penuh semangat.
"iya.. kamu tidak lelah? maaf ya.. gara-gara aku, kamu jadi nggak bisa tidur dengan baik?"
"no..." jawab Joelin sambil meletakkan telunjuknya di bibir Mickey.
"kamu begini juga gara-gara aku." tambah Joelin sendu. Air matanya menetes, perasaan bersalah dalam hatinya sudah tidak terbendung lagi.
"sttt...Jangan menangis." pinta Mickey. "sakit di sini melihat air mata kamu." tambahnya sambil menggerakkan tangan ke arah jantungnya.
Joelin langsung menghapus air mata dengan telapak tangannya.
"Selamat pagi nona Joelin, kami akan memeriksa pasien." ujar dokter yang kini sedang melangkah masuk ke ruangan itu.
"Selamat pagi dokter, terimakasih." jawab Joelin.
Setelah memeriksa tekanan darah, memeriksa dan membersihkan luka di tubuh Mickey dokter berbincang sejenak dengan Joelin. Sepeninggalan Dokter, Joelin undur diri sejenak dari Mickey untuk menebus obat ke bagian farmasi, karena suaminya itu sudah diperbolehkan pulang. Usai menebus obat, kini Joelin tengah menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar Mickey.
"Joelin.."
Seketika langkah Joelin terhenti mendengar seseorang memanggil namanya. Dalam satu gerakan singkat, Joelin memutar tubuhnya kearah suara.
"Aluna?" raut terkejut terlukis jelas di wajahnya.
"Joe, maafin gue. Maafin kakak gue." isak gadis itu sambil meraih kedua tangan Joelin
"It's okay Aluna." Joelin kini berusaha menenangkan gadis dihadapannya.
__ADS_1
"ini semua gara-gara gue Joe. sekarang.. sekarang bukan hanya kamu dan suamimu yang terluka. kak Vino juga."
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Tapi, gue masih takut...." ujar Joelin tertahan, dia ragu melanjutkan kalimatnya.
"Gue ngerti. Kak Vino akan kembali ke Indonesia, dia nggak bakal ngelakuin hal-hal buruk ke lo di masa depan." jawab Aluna.
"Thanks."
"Andai bukan untuk gue, kak Vino nggak akan jadi begitu. Semua gara-gara gue, sejak awal semua karena kesalahan gue. Kak Vino... hiks... dia.. dia sanggup ngelakuin apapun demi ngelindungin gue. Harusnya gue senang, tapi... hiks.. menyadari ternyata gue yang buat kak Vino sakit buat gue juga sakit di sini.." isak Aluna sambil memukul-mukul dadanya.
"Sudahlah Aluna.. Jangan berlarut-larut dalam rasa bersalah." Joelin mendadak khawatir akan dampak kejadian ini terhadap kondisi psikologis Aluna.
Aluna masih terisak, hingga Joelin memutuskan memeluk gadis itu dan berusaha menenangkannya. Saat tangisan Aluna reda, Joelin menawarkan gadis itu untuk minum sejenak di ruang rawat Mickey. Pria itu tengah menatap langit-langit kamar saat menyadari istrinya dan seorang gadis masuk ruangan. Gadis itu terlihat kacau dan berantakan, mata sembab dan rambut awut-awutan, bisa dipastikan dia habis menangis.
"Hi..." gadis itu melambaikan sebelah tangannya dengan kikuk ke arah Mickey.
"Mike, she is Aluna." ujar Joelin sambil mengedipkan sebelah matanya, memberi isyarat agar suaminya tidak bereaksi berlebihan.
Mickey sempat bingung dengan aksi kedipan mata Joelin, namun entah mengapa dia memilih untuk menanggapi hal itu sebagai permintaan untuk bersikap santai. "Hi Aluna, i'm Mickey, her husband." jawabnya santai.
Joelin menghela nafas lega, karena Mickey tidak bertanya macem-macem pada Aluna.
"mmmm... Sorry." ujar Aluna.
"it's okay. You may enjoy your time with her. Feel free." jawab Mickey.
Mata Mickey membulat seketika. Sungguh dia terkejut. Bukan karena Joelin ingin bicara dengan Aluna, melainkan karena panggilan sayang yang baru saja diucapkan Joelin.
"Gadisku mungkin berubah jadi wanita dalam semalam" batin Mickey gemas sambil menggangguk perlahan memberi signal setuju pada Joelin.
Sedetik kemudian di ruangan itu mengalun bahasa yang tidak Mickey pahami. Joelin dan gadis itu tengah berbicara dengan bahasa kebangsaan mereka.
"Merasa enakan?" tanya Joelin sambil duduk di sisi Aluna. Keduanya kini duduk di atas sebuah sofa mini yang terletak dalam ruang itu.
"Sedikit. Terimakasih Joelin. Gue pikir lo pantas buat nampar dan maki-maki gue. Tapi lo malah nenangin gue."
"It's okay Aluna. Sudah bertemu dengan bang Goedan pagi ini?"
"Iya. Dia terlihat kacau."
"Kuharap dia akan baik-baik saja."
.....
Mereka berdua membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Waktu itu, gue pikir bakalan menyenangkan kalau kak Goedan tahu lo udah menikah, dia akan berhenti memperjuangkan perasaanya ke lo dan gue punya peluang buat dapetin dia."
__ADS_1
"Nah, sekarang lo udah dapat peluang itu Na."
"Ternyata gue salah. Gue nggak senang ngelihat kak Goedan begitu."
"Itu karena lo cinta sama dia. Semakin kita mencintai seseorang, menyadari rasa sakit orang itu akan menyakitkan buat kita."
"Lo benar Joe."
"Na..."
"Iya?"
"Gue nggak tahu apakah tepat gue ngomong gini sekarang. Tapi rasanya gue harus ngasih tahu ini ke lo."
"Apa Joe?"
"Untuk masalah perasaan, jangan dipaksain Na. ikutin aja alurnya, ikutin kemana perasaan kita mengalir. Lo nggak perlu maksain diri buat membunuh rasa cinta lo pada bang Goedan, pun lo nggak perlu berjuang habis-habis supaya bang Goedan, cinta sama Lo. Segala sesuatu yang dipaksain itu nggak baik Na. Let it flow."
"Lo benar Joe. Gue nggak berhak ngatur-ngatur hati dan perasaan orang lain."
"Dan lo punya tanggung jawab penuh atas perasaan lo."
"Makasih banget ya Joe. gue ngerasa jauh lebih baik setelah ngomong sama lo. Btw, lo dewasa banget sih. Apa ini efek dari menikah?" tanya Aluna polos.
"Nggak tau juga, bisa jadi iya. Lo mau coba nikah nggak buat cari tahu jawabannya?"
"Jahat amat sih lo. Gue jomblo gini, mau nikah sama siapa?" protes Aluna sambil tersenyum lucu.
Lega menyeruak dalam dada Joelin, melihat senyuman yang kini terbit di bibir gadis yang tengah berbincang dengannya.
"Diniatin dulu Na, dan diimanin. Kalau nggak diniatin, gimana bisa nikah coba?"
"Iya iya... Lagian lagi jomblo dan patah hati gini malah diiming-iming nikah.." rajuk Aluna sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut dong.. Nanti cantiknya berkurang loh.." goda Joelin lembut.
Aluna tersenyum lebar mendengar penuturan gadis yang dulu dibencinya. Joelin, orang asing yang pada pertemuan pertama telah menyelamatkannya. Joelin, gadis yang membuatnya iri habis-habisan karena hati pangeran yang Aluna cintai sudah penuh sesak oleh gadis ini. Joelin, yang juga menghibur Aluna di puncak patah hatinya. Tiba-tiba Aluna merasa sangat beruntung bahwa dalam satu fase hidup, kisah mereka saling bersinggungan.
**Pengumuman
Gimana-gimana? Hehehe yg kemarin jawab Joelin~Aluna jadi teman, yook sini IG nya..
3 komen pertama ya, biar author promote..
btw... Author mau kok lanjutin novel ini, tapi dengan teman2 juga rajin vote ya. vote yg banyak, karena author butuh energi..
thankyou
__ADS_1
💕💕💕**