Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Patah Tumbuh


__ADS_3

"Kenapa Mike?" tanya Si An.


"Joelin gak ada kabar nih, aku bingung." Jawab Mickey.


"Menurut pengamatanku, kamu jatuh hati pada Joelin." Ujar Mark setengah berbisik sambil berlalu meninggalkan Lab.


"Gak mungkinlah. Aku cuman simpati karena dia lagi sakit." batin Mickey.


Ketiga pria itu akhirnya bergegas meninggalkan Lab dan pulang menuju kediaman masing-masing.


Setibanya di parkiran, Mickey memutuskan mengunjungi Joelin. Dan saat tiba di depan gedung asrama Joelin, pria itu mencoba menghubungi Joelin berkali-kali. Setelah setengah jam menanti akhirnya Mickey mendapatkan titik terang.


"hallo" suara serak diseberang sana terdengar lemah.


"Are you okay? sudah makan? masih sakit? kemana saja kamu?" tanya Mickey


"aku baru bangun." ucap gadis itu malas.


"Turunlah. Aku menunggumu didepan gedung asrama sejak tadi. Tolong percepat, ada banyak nyamuk di sini." ujar Mickey.


"Ok." jawab Joelin sambil mematikan telepon.


Setelah mencuci wajahnya, gadis itu meraih jaket tebal. Karena ini sudah musim dingin dia tidak ingin kedinginan, ditambah lagi kondisinya yang sedang sakit.


"Kau mengganggu orang sakit." Protes Joelin saat bertemu dengan Mickey.


"Hei.. Apa maksudmu? aku bermurah hati ingin membawamu makan sup hangat. karena aku peduli pada kesehatanmu." Jawab pria itu tidak terima dengan perkataan Joelin.


"Ayok pergi." ajak Joelin.


Mereka berdua akhirnya meninggalkan area universitas. Menuju sebuah rumah makan yang menyajikan menu hot-pot. Makanan yang sangat cocok dinikmati saat musim dingin begini. Keduanya langsung duduk dan memesan makanan masing-masing. Mickey yang mengamati wajah Joelin menyadari mata sembab gadis itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya kemudian.


"Aku sakit, bukankah kau sudah tahu?" Jawab Joelin acuh.


"Kenapa kau tidak membalas satupun dari pesanku?" protes Mickey.


"Mike, tadi aku sedang tidur." ujar Joelin.

__ADS_1


"Aku memaafkanmu kali ini, tapi tidak lain kali." Jawab Mickey akhirnya.


"hmmm..." angguk Joelin.


Pelayan datang membawa pesanan mereka. Keduanya akhirnya sibuk menikmati menu makan malam yang hangat.


"Apa kau mau ikut kerumahku?" tanya Mickey saat mereka meninggalkan restoran.


"Kulihat tadi kau membawa obatmu." ujar Mickey lagi.


"Kenapa aku harus ikut denganmu?" tanya Joelin


"aku ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja." ujar Mickey jujur akan rasa khawatir yang muncul di hatinya karena Joelin sakit, dan juga melihat mata sembab Joelin membuat kekhawatiran Mickey semakin menjadi.


"aku baik-baik saja." jawab Joelin.


Pria itu memilih mengabaikan jawaban Joelin.


"Ayolah Mike, aku hanya sakit. Tidak ada hal serius lainnya. Lagipula, masih ada Amel teman sekamarku. Dia bisa menolongku jika ada sesuatu yang terjadi." jelas Joelin panjang lebar.


"Oke. I trust you." ujar Mickey menyembunyikan rasa gelisahnya.


Sesuatu yang hangat merayap masuk menuju kisi-kisi hati gadis itu. Mickey dengan perhatiannya sukses membuat hangat di hati Joelin, yang sedang dirundung hujan musim dingin.


"Jangan lupa hubungi aku jika sesuatu terjadi." pinta Mickey begitu sampai di depan gedung asrama Joelin.


"Oke Mike." Jawab Joelin.


"Sana masuk duluan. Cuacanya makin dingin." ujar Mickey kemudian.


"Thankyou, Bye-bye.." Joelin masuk kedalam asrama dengan hatinya yang hangat.


"Apakah ini yang disebut patah tumbuh silih berganti?" tanya Joelin dalam hati.


Sepeninggalan Joelin, lelaki itu melangkah menjauh dari gedung asrama. Spontan pria itu meraih sesuatu dari saku jaketnya, dia teringat akan ponselnya yang bergetar sejak tadi.


"Hallo." Mickey menjawab sebuah panggilan.


"dimana kamu?" tanya suara dari seberang.

__ADS_1


"Aku sedang berjalan. Mau kembali kerumah." jawab Mickey.


"Masih di universitas?" Tanya gadis itu.


"Kamu benar Jee Na."


"Hati-hati dijalan kekasihku." tambah Jee Na.


"Terimakasih."


"Eun Son, aku akan pergi keluar negeri besok untuk urusan bisnis bersama ayahku. Kami akan pergi selama satu bulan." Jee Na menjelaskan tujuannya menelepon pria itu.


"Hati-hati disana." Jawab Eum Son singkat. Entah kenapa dia merasa hatinya menjadi ringan saat Jee Na berkata akan pergi jauh.


"Apa kau ingin bertemu dengan keluargaku?" Tanya Jee Na tiba-tiba.


"Bukankah hal itu terlalu tergesa-gesa?" tanya Mickey.


"Eum Son, apa kau berniat meninggalkanku? Apa kau lupa siapa aku?" protes Jee Na.


"Jee Na, aku hanya merasa belum siap untuk bertemu keluargamu. Apa kamu lupa? aku masih seorang pelajar. Belum ada prestasi yang bisa kubanggakan dihadapan orangtuamu." jawab Mickey sambil memijat keningnya.


"Aku tidak ingin membuatmu marah. Tolong beri aku waktu." tambah Mickey.


"Baiklah. Maafkan aku." jawab Jee Na.


"It's okay. Apa persiapan mu untuk besok sudah beres?" Tanya Mickey.


"Aku harus packing dan menyiapkan beberapa keperluan kantor lainnya." ujar Jee Na.


"Baiklah nona Jee Na, selesaikan pekerjaanmu dan segeralah beristirahat. Kesehatanmu penting untuk perusahaan mu." tutur Mickey.


"Kamu benar Eum Son. bye." ujar Jee Na.


"Bye Jee Na." Jawab Mickey.


Akhirnya sambungan telepon terputus. Mickey menarik nafas lega. Semua hal tentang Jee Na membuat Mickey merasa tertekan. Usia hubungan mereka kini menginjak empat bulan. Namun tidak sekalipun Mickey dapat bernafas lega selama empat bulan ini setiap kali Jee Na disekitarnya.


"Apakah aku memang mencintai Jee Na?" batin Mickey.

__ADS_1


Pria itu akhirnya menaiki motornya dan mengendarai motor itu membelah malam yang semakin dingin. Pikirannya dipenuhi kenangan setahun lalu. Sesuatu yang membuatnya tidak dapat keluar dari keadaan ini. Sesuatu yang membuatnya tidak berani menyakiti perasaan Jee Na.


__ADS_2