
"Ini kamukan ?" Tanya Agung.
Mawar langsung turun dari ranjang dan mendekati suaminya yang duduk di karpet.
"Iya, tapi aku enggak pernah ke RS mana pun. Coba saja langsung ke sana, kalau kamu masih meragukan aku." Jawab Mawar.
"Maaf bukannya meragukan, tapi aku takut kamu sembunyikan sesuatu kepadaku." Jawab Agung.
"Mas mencari pendamping hidup dan kepercayaan seseorang saja aku tak mampu, apalagi menutupi kebohongan." Jawab Mawar jujur.
"Maaf." Ucap Agung sambil memeluk Mawar.
"Hmm." Jawab Mawar.
"Ridho enggak ?" Tanya Agung.
"Ridho." Jawab Mawar.
"Alhamdulillah." Ucap Agung.
"Kamu kenapa dulu pamer wanita kepadaku, dengan menyuruh dia untuk peluk kamu ?" Tanya Mawar membuka luka lama.
"Karena aku ingin buat kamu cemburu." Jawab Agung jujur seraya tertawa.
"Jahatnya." Ucap Mawar.
"Sama-sama Jahatnya dilarang ngebully." Jawab Agung.
"Dia siapa ?" Tanya Mawar.
"Mantanku dan calonku." Jawab Agung.
"Kenapa kalau sudah punya calon, malah pilih aku ?" Tanya Mawar.
"Enggak tahu, tadinya aku senang dengannya. Tapi enggak tahu, saat aku melihatmu lagi aku jadi ingin kamu." Jawab Agung jujur.
"Emang cowok modal tampan saja, mudah di percaya." Ucap Mawar lalu pergi meninggalkan suaminya.
"Mau kemana ?" Tanya Agung.
"Tidur, mumpung Aiman tidur." Jawab Mawar.
__ADS_1
"Ikut." Jawab Agung.
"Enggak mau." Ucap Mawar.
"Dosa lho nolak suami." Jawab Agung.
Mawar memilih diam dan memilih tidur di dekat putra keduanya. Terima kasih ya ALLAH, karna telah KAU beri amanah yang aku butuhkan. Ucap Mawar dalam hati.
"Sedangkan Agung nampak masih ragu dan dia mencoba meminta tolong kepada Dion, lewat pesan singkat.
("Dion, tolong kamu ke RS di jalan MX dekat masjid." Tulis pesan Agung.)
("Oke." Jawab Dion.)
Tak butuh waktu lama, Dion lalu mengirimkan pesan singkat.
("Aku sudah sampai." Ucap Dion.)
Agung lalu menceritakan semuanya kepada Dion lewat pesan suara. Tak lama Dion mengirimkan rekaman cctv di tanggal dan jam yang sama. Sesuai struk yang dia dapat dari Sri.
("Makasih brow." Jawab Agung.)
("Sama-sama." Ucap Dion.)
"Bisa tuan." Jawab Sari.
"Bik selama saya kerja, apakah nona diajak pergi dengan siapa gitu ?" Tanya Agung.
"Enggak pernah tuan, nona selalu diam di rumah. Dan soal struk itu, juga saya merasa heran. Saya, Sri dan nona juga anak-anak ada di rumah terus. Tapi kok bisa nona dapat struk itu ?" Ucap dan tanyanya.
"Apa ada yang kemari ?" Tanya Agung.
"Ada tuan, banyak malah." Jawab Sari.
"Siapa ?" Tanya Agung.
"Mbak Loli." Jawab Sari.
"Loli siapa ?" Tanya Agung.
"Teman sekolah tuan." Jawab Sari.
__ADS_1
"Waktu kapan ?" Tanya Agung.
"Sd." Jawab Sari.
"Loli, siapa dia ?" Tanya Agung.
"Itu lho tuan, yang saat masih kecil suka main sama tuan." Jawab Sari.
"Astagfirullahhallazim, ngapain dia kesini ?" Tanya Agung.
"Katanya mau main kerumah tuan." Jawab Sari.
"Ya sudah bik, makasih ya." Ucap Agung.
"Ya tuan." Jawab Sari.
Sepeninggal Sari, Agung lalu menyusul Mawar ke kamar lagi.
Ay, aku minta maaf ya sudah sudzon sama kamu. Ucap Agung lirih.
Selesai mengucapkan itu, Agung lalu memeluk tubuh Mawar yang sudah terlelap.
Sementara di tempat Akbar dan Mida nampak Princes menangis.
"Utu-utu anak papa sudah bangun ya." Ucap Akbar.
"Sudah papa." Jawab Mida.
"Mama juga baru bangun ya ?" Tanya Akbar.
"Haha, tahu saja papamu ini sayang." Jawab Mida dengan tawa khasnya.
"Tahulah, papa siapa dulu ya sayang." Jawab Akbar.
"Hmm." Ucapnya seraya tersenyum.
Dan di rumah Marfel tak jauh kalah hebohnya.
"Michel." Panggil Nadin.
"Mami." Jawab Michel yang kini sudah umur 1 tahun.
__ADS_1
"Ini almari mami kenapa di acak-acak begini sayang ?" Tanya Mida.
"Sus." Jawab Michel.