
"Nyatanya aku belum hamil." Jawab Nadin.
"Mawar dulu 6 bulan baru hamil sayang." Ucap Marfel.
"Yang benar mas ?" Tanya Nadin.
"Iya." Jawab Marfel lalu kembali melakukan lagi.
Nadin hanya pasrah dengan permintaan suaminya. Berbeda dengan mereka, kini Akbar menunggu Mia di kantornya.
"Hai maaf ya nunggu lama." Ucap Mia.
"Enggak apa-apa, santai saja. Sudah selesai kerjanya ?" Tanya Akbar.
"Alhamdulillah sudah." Jawab Mia.
"Oh ya, gimana tawaran aku kemarin ?" Tanya Akbar.
"Boleh, asal tidak terikat." Jawab Mia.
"Ya." Jawab Akbar.
"Ok Deal." Ucap Mia sambil berjabat tangan dengan Akbar.
Meninggalkan mereka yang sudah setuju kerjasama.
Arsyil kini sedang memergoki tunangannya jalan dengan laki-laki lain. Cepat-cepat dia menghubungi camer dan orang tuanya. Tak lama mereka pun datang.
"Mana nak ?" Tanya Nina ibu dari Ratna.
"Itu." Jawab Arsyil.
"Astagfirullahhallazim." Ucap Nina lalu mendekati putrinya.
Sementara kedua orang tua Arsyil, memeluk putranya.
"Maafin kami ya nak." Ucap mereka.
"Iya bi, mi." Jawab Arsyil.
"Seharusnya umi tidak maksa kamu." Ucap Rania umi Arsyil dan Asyifa.
"Qodarullah mi, kita tak bisa lari dari takdir. Beruntung bukan Arsyil yang berbuat begitu mi." Jawab Arsyil bijak.
"Masyaallah, terima kasih sayang." Ucap mereka.
"Ya sudah yuk kita pulang." Ajak mereka.
"Sebentar mi, aku akan batalin pernikahan kami." Ucap Arsyil.
"Ya sayang." Jawab mereka.
Arsyil langsung menemui Ratna, dan mengatakan.
"Aku mundur, dan kamu sekarang bebas dengannya. Tanpa perlu curi-curi waktu dan bersembunyi." Ucap Arsyil.
"Ya." Jawab Ratna tanpa minta maaf.
Arsyil lalu menghampiri kedua orang tuanya dan mengajak mereka pulang. Namun saat di jalan, tiba-tiba mobil Arsyil mogok.
"Kenapa Syil ?" Tanya Ridho abi Arsyil.
"Enggak tahu bi, mogok terus dari kemarin." Jawab Arsyil lalu menghubungi bengkel langganannya.
Saat tengah menunggu, tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di depan mobilnya.
"Ck, sudah tahu terlambat masih saja ada gangguan." Ucap Gadis itu kesal.
"Sabar." Jawab Gladis kembaran Gadis.
"Ehem, misi mobilnya tolong minggirin dikit dong." Ucap Gadis.
"Maaf lagi mogok." Jawab Arsyil.
"What, dia kok mirip Sendal jepit itu ya." Ucap Gadis lirih.
"Dis, lama banget." Ucap Gladis menyadarkan lamunannya.
__ADS_1
"Ehem, iya bentar." Jawab Gadis lalu mendekati Arsyil.
"Kenapa ?" Tanya Arsyil.
"Ih, napa sih hidupku selalu sial setiap ketemu kamu sendal jepit." Tanya dan jawab Gadis.
"Namaku Arsyil bukan sendal jepit." Jawab Arsyil.
"Aduh kok berantem." Ucap mereka bertiga.
"Eh-eh kok malah berantem. Gadis, ingat kamu perempuan lho." Ucap Gladis melerai adik kembarannya itu.
"Arsyil mengalah sama perempuan nak." Ucap uminya.
"Enggak mi, dari kuliah sampai sekarang selalu saja bikin aku kesel." Jawab Arsyil.
"Istighfar Arsyil, kedua orang tua kamu tidak pernah mengajarkan kamu begitu." Ucap Ridho.
"Bi." Panggil Rania.
"Om tante, kami mohon maaf." Ucap Si kembar lalu pamit.
"Kita belum selesai." Ucap Gadis.
"Bodo." Jawab Arsyil.
"Sepeninggal mereka, Ridho lalu memeluk Arsyil. Maafin abi ya." Ucap Ridho.
"Iya bi, maafin Arsyil juga." Jawab Arsyil seraya membalas pelukan abinya.
Tiba-tiba terdengar klakson mobil Asyifa.
"Abang, abi sama umi ngapain ?" Tanya Sifa.
"Biasa." Jawab mereka bertiga.
"Hemm, sudah waktunya di pensiunkan tu bang." Ucap Sifa.
"Ya mungkin, tapi sayang banyak kenangan." Ucap Arsyil.
"Ayo, aku derek." Ucap Sifa lalu mengikat mobil abangnya itu. Dan diantar ke bengkel.
"Hmm kak, pikiran rasanya melayang-layang bagai kuyang." Ucap Reza mulai enggak jelas.
"Zaza, kamu itu cowok bukan cewek." Ucap Linda.
"Emang aku cowok kak, yang bilang aku cewek siapa ?" Tanya Reza.
"Ish, Reza bisa diam enggak sih." Ucap Linda.
"Diam itu emas kak, aku enggak mau jadi emas. Kalau aku jadi emas, kakakku ini mau di kemanakan ?" Jawab dan tanya Reza.
"Sumpah ya kamu itu makin nyebelin." Ucap Linda lalu pergi ke kamar.
"Ealah malah nesu, piye toh ki ?" (Oalah malah marah, gimana sih ini ?" )" Ucap Reza.
Meninggalkan Linda dan Reza, Reva kini nampak berhasil dalam karatenya, namun rupanya ada yang diam-diam mematai Reva di lingkungan sekolahnya.
"Kau lihat, gadis berhijab ungu itu ?" Tanya wanita itu.
"Iya." Jawab pria itu.
"Kau culik dia dan bawa kepadaku. Mumpung papinya di luar negri." Ucap perempuan itu. Yang tak lain adalah mantan pacar papi Reva.
Yang dulu cintanya dikhianati karena papinya Reva dijodohkan dengan maminya Reva.
"Wah selamat ya Va, akhirnya lulus kamu." Ucap teman-temannya.
"Aamiin, ini juga berkat doa kalian semua." Jawab Reva.
Selesai berbincang dan ganti bajunya, Reva langsung pulang dengan di jemput sopir abangnya.
"Sudah lama om ?" Tanya Reva.
"Belum mbak." Jawab Aryo.
"Abang kemana ?" Tanya Reva.
__ADS_1
"Kerja mbak." Jawab Aryo.
Saat hampir sampai rumah, tiba-tiba ada yang menghentikan mobilnya.
"Ck, mau apalagi mereka ?" Tanya Reva.
"Sabar non, jangan keluar." Jawab Aryo seraya menelfon Akbar.
("Halo." Ucap Akbar.)
("Halo tuan, kita di keroyok lagi." Jawab Aryo lewat sambungan telepon.)
("Tetap tenang dan jangan keluar." Ucap Akbar lalu pergi.)
"Kemana ?" Tanya Mia.
"Adik aku diserang orang tak dikenal kenal." Jawab Akbar.
"Astagfirullahhallazim, ayo cepat." Ucap dan ajak Mia.
Akbar pun mengangguk dan langsung cepat-cepat ke TKP.
"Buka pintunya atau ku dobrak ?" Tanya pria itu.
"Tetap ditempat." Ucap Aryo kepada Reva.
"Hmm." Jawab Reva.
Tak lama Akbar dan Mia datang.
"Woy, siapa kalian ?" Tanya Akbar dengan keras.
"Kami tak ada urusan denganmu." Jawab pria itu seraya menatap Mia dengan tatapan nakal lalu mendekati Mida.
"Kamu ngapain kesini cantik, ingat saat sendiri nanti aku akan menodaimu." Ucap pria itu.
Plak...Bugh...Bugh...
"Sebelum itu terjadi, aku akan membersihkan ot*akmu terlebih dulu." Jawab Mida dengan memuk*l dan menampar pria itu.
"Akhh..." Teriak pria itu.
Melihat itu Akbar tersenyum tipis dan berkata. Perempuan yang ku cari sekarang sudah ketemu.
Lalu menghajar mereka semua. Dan tak lama mereka berhasil dikalahkan oleh Akbar dan Mida.
"Enggak nyangka, kamu jago silat juga." Ucap Akbar.
"Ya, sejak ayahku menikah lagi. Ibuku ingin aku bisa karate." Jawab Mida.
"Maaf ya jadi ngingetin masalalu kamu." Ucap Akbar.
"Ya." Jawab Mida.
"Cie pacaran ni ye." Goda Reva seraya turun dari mobil.
"Bocil tahu apa ?" Tanya Akbar.
"Bocil gini tapi kesayangan abangkan, buktinya aku dalam bahaya. Abang langsung datang, bawa calon istri juga." Ucap Reva.
Mendengar itu Mida hanya tersenyum. Bagi dia ucapan Reva adalah candaan belaka, namun tidak untuk Reva.
"Sudah yuk pulang." Ajak Akbar mengalihkan pembicaraan.
"Oke, aku juga capek banget." Jawab Reva lalu pamit.
"Kakak ipar, adik iparmu pamit dulu ya. Abang barbar adikmu pulang dulu ya." Pamit Reva.
"Ya Vanci." Jawab Akbar, sambil mengutus Ajudannya untuk mengawasi adiknya.
"Barbara." Ucap Reva.
"Vanci Vanili." Jawab Akbar.
Sepeninggal adiknya, Mida pun tersenyum menatap Akbar.
"Kenapa ?" Tanya Akbar.
__ADS_1
"Saudara kandung yang kocak." Jawab Mida sambil menyengir kuda.
"Haha, makasih." Jawab Akbar sambil tertawa.