
Tak terasa mereka tertidur dengan nyenyak.
Hari berganti hari, kini keluarga kecil Agung nampak bahagia.
"Assalamualaikum istri dan anak-anak ayah." Salam Agung penuh tersenyum.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka berdua, karena Aiman masih belum bisa banyak bicara.
"Ayah, aku dapat nilai bagus lho." Ucap Didi lalu mendekati Agung.
"Oh ya, selamat ya sayang." Jawab Agung lalu tersenyum dan mencium Didi.
"Iya." Jawab Didi seraya menunjukkan buku gambarnya.
"Masyaallah pintar banget anak ayah ini ya." Ucap Agung sambil tersenyum.
"Ya dong yah." Jawab Didi.
Mawar dan Aiman hanya menatap mereka dengan tersenyum. Ya ALLAH terima kasih kau hadirkan dia sebagai pelengkap hidupku. Walau awalnya dia menolakku, namun akhirnya ENGKAU persatukan lewat pernikahan. Aamiin. Ucap Mawar dalam hati.
"Yah Bibu liatin ayah terus." Ucap Didi.
Mendengar itu Agung langsung menatap wajah Mawar dan tersenyum lebar. Mawar yang ditatap pun menjadi salah tingkah, karena malu.
"Ehem bibu kangen ayah ya, pengen di peluk kaya Didi juga ya ?" Tanya Didi menggoda.
"Astagfirullahhallazim." Jawab Mawar lalu memeluk Aiman.
"Kok malah jawab istighfar bu ?" Tanya Didi.
"Boy Bibu jawab begitu, karena Bibu bahagia melihat kedua anak ibu tak kekurangan kasih sayang dari seorang ayah. Bukan karena pengen di peluk." Jawab Mawar dengan lirih.
"Oh, maaf ya Bibu sudah sudzon dengan ibu." Ucap Didi.
"Iya sayang." Jawab Mawar dengan tersenyum.
"Makasih bibu, ya sudah Didi masuk dulu ya bu." Ucap Didi seraya berlalu.
"Ya sayang." Jawab Mawar.
"Ayah kok enggak sekalian ?" Tanya Agung.
"Astagfirullahhallazim maaf ayah, Didi lupa. Didi ke dalam dulu ya yah." Jawab Didi lalu pergi.
"Ya." Jawab Agung.
Sepeninggal Didi, Agung nampak bahagia.
"Kenapa ?" Tanya Mawar.
"Enggak apa-apa." Jawab Agung sambil tersenyum dan memeluk Mawar.
"Masuk yuk." Ajak Mawar.
"Nanti dulu sayang." Jawab Agung.
"Hmm, ya sudah kalau begitu." Ucap Mawar.
Saat sedang asik mengobrol, suster Dila datang.
__ADS_1
"Maaf tuan, nyonya boleh saya gendong den Aiman ?" Tanya Dila ramah.
"Ya sus, tolong tidurin di boxnya ya." Jawab Agung dan Mawar.
"Ya tuan dan nyonya." Jawab Dila.
Dila lalu berlalu dan kini hanya tinggal mereka berdua.
"Ay tadi saat bertamu di rumah nasabah, perempuan yang dulu kita temui meminta maaf denganku." Ucap Agung menjelaskan tentang kronologi yang dia alami.
"Syukurlah kalau begitu, akhirnya ALLAH membuka pintu hati Mbaknya." Jawab Mawar lalu bersyukur.
"Ya." Ucap Agung sambil menatap wajah Mawar.
"Kenapa baru sekarang kau dipercayakan untukku ?" Tanya Agung lagi.
"Qodarullah mas suamiku." Jawab Mawar.
"Hmm, aku rindu masa-masa kamu remaja dulu ay." Ucap Agung.
"Rindu masa remajaku atau rindu Mbaknya ?" Tanya Mawar balik.
"Rindu masa-masa kamu masih remaja, rambut panjang di gerai, pakai celana panjang dan baju panjang dan selalu jutek jika bertemu dengan aku." Jawab Agung.
"Masa sih aku jutek, perasaan biasa saja." Ucap Mawar.
"Iya, tapi aku suka dengan sifatmu itu." Jawab Agung.
"Hmm begitu ya." Ucap Mawar.
"Iya." Jawab Agung.
"Karena kamu juga sudah menikah dengan orang lain." Jawab Agung.
"Itu namanya kamu kalah cepat." Ucap Mawar dengan tawa khasnya.
"Enggak apa-apa kalah cepat, yang penting pada akhirnya aku dipilih ALLAH untuk menjadi pelengkap hidup dan mati dan juga sesurga aku." Jawab Agung.
"Aamiin ya ALLAH." Ucap Mawar.
"Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan kepada aku, aku begitu bahagia bisa sehidup sesurga dengan kamu. Aamiin." Ucap Agung.
"Aamiin ya ALLAH, begitu juga denganku. Dulu aku meminta kepada ALLAH, agar tidak dipertemukan denganmu lagi. Namun nyatanya selalu bertemu, sampai akhirnya bisa bersatu dengan kamu." Jawab Mawar sambil menatap wajah Agung dengan tatapan teduh.
"Ternyata benar ya, tak selamanya yang berakhlak buruk dan kurang ajar akan membawa keburukan juga. Nyatanya ALLAH malah membalikkan hatiku untuk selalu bersanding denganmu." Ucap Agung.
"Tergantung imamnya juga sih mas, kalau imamnya mudah umbar aib ke semua orang, ya jangan salahkan makmumnya jika kembali mengulangi hal yang sama." Jawab Mawar.
"Ya juga." Ucap Agung.
Hening hingga tak terasa malam semakin larut, mereka masih asik mengobrol di taman.
"Tuan, maaf itu den Aiman sudah tidur dan juga sudah saya tidurkan di tempat tidur, saya izin istirahat dulu ya tuan." Ucap Dila.
"Ya." Jawab Agung lalu membopong Mawar yang sudah tertidur.
Sepeninggal Dila dan sesampai di dalam rumah, Agung menggerutu kesal. Ck Astagfirullahhallazim, mau negur takut dia tersinggung. Enggak di tegur malah makin ngawur.
Sambil menggerutu, Agung juga menyempatkan mengunci seluruh pintu rumah. Selesai mengunci, dia lalu menyusul istrinya ke dalam kamar.
__ADS_1
"Mas, belum tidur ?" Tanya Mawar.
"Belum ay, aku bingung mesti negur Dila dengan cara gimana." Ucap Agung.
"Memangnya dia melakukan salah apa mas, kok kamu bingung mau negur dia ?" Tanya Mawar lirih dengan mata yang terpejam.
"Di leher dia ada bekas ***** ay." Jawab Agung.
"***** sama siapa ?" Tanya Mawar dengan terkejut.
"Mana aku tahu ay." Jawab Agung.
"Mas jangan asal nuduh jika belum ada bukti. Mungkin saja itu bekas gigitan nyamuk atau kerokan." Ucap Mawar.
"Ya." Jawab Agung memilih mengalah.
Mereka pun langsung tidur, dan tak terasa pagi hari pun tiba.
"Dil, leher kamu kenapa ?" Tanya Sari sambil memasukkan baju majikannya ke mesin cuci.
"Oh ini to, ini bekas aku kerik." Jawab Dila jujur.
"Lah kamu sakit Dila? " Tanya Sri.
"Ya mbak, akhir-akhir ini badanku meriang. Nda biasa pakai ac, pakai ac ya gini deh jadinya." Jawab Dila.
"Oh begitu." Jawab mereka lalu mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Sementara di kamar, Mawar dan Aiman sudah mandi dan kini membangunkan ayahnya.
"Assalamualaikum ayah, bangun dong sudah pagi ini." Ucap Mawar lirih sambil memberikan ciuman untuk Agung.
Sedangkan Aiman nampak tersenyum melihat kedua orang tuanya.
"Hmm, jam berapa ?" Tanya Agung.
"Jam 4 ayah." Jawab Mawar.
"Baiklah." Ucap Agung lalu beranjak bangun.
Sedangkan Aiman, di taruh di stroler. Sedangkan Mawar merapikan tempat tidurnya dan menyiapkan baju santai untuk suaminya.
"Ay." Panggil Agung.
"Ya mas." Jawab Mawar.
"Makasih." Ucap Agung.
"Untuk apa ?" Tanya Mawar.
"Makasih sudah mau jadi istri dan ibu untuk anak-anakku." Jawab Agung.
"Ya mas. Aku juga terima kasih banget, karena kamu sudah mau jadi imamku dan membimbing aku juga merubah akhlak aku." Ucap Mawar.
"Sama-sama ay." Jawab Agung lalu tersenyum dan memeluk Mawar dengan erat.
Dan mereka pun bahagia selamanya. Dari cerita fiksi ini, ambil yang baik dan buang yang buruk.
Tamat.
__ADS_1