
"Eh lain hari saja mas, aku mau ambil perlengkapan Agung di rumah Mia. Juga baju-bajuku ada di sana. Sayang kan kalau enggak dipakai." Ucap Mawar.
"Ya, kita ambil sekarang atau nanti ?" Tanya Agung lirih.
"Nanti dulu mas, nunggu Agung kecil bangun dulu." Jawab Mawar.
"Siap." Jawab Agung.
Mereka pun nampak bersantai disana. Hingga terdengar suara tangisan anak kecil di gawai Mawar.
"Siapa ?" Tanya Agung.
"Anak kita bangun." Jawab Mawar sambil menunjukkan gawainya ke Agung.
Masyaallah, ibu yang waspada banget kamu sayang, tidur pun di jaga dari jarak jauh." Ucap Agung seraya tersenyum.
Sudah bangun ya ?" Tanya Mawar lirih.
"Mamam...mamam..." Jawab Agung kecil.
"Sayang, maafin ibu ya." Ucap Mawar lalu menyusui putranya.
Tak lama suaminya datang, dan dia langsung ganti pakaian. Selesai itu, Agung mendekati Mawar dan anaknya.
"Piho ini." Ucap Agung menggoda anaknya.
"Hmmm." Ucap Agung kecil.
"Aduh takut." Jawab Agung.
Mawar dan Agung kecil tertawa.
"Ayah nanti anaknya tersedak." Ucap Mawar.
"Maaf Piho." Jawab Agung seraya tersenyum.
Selesai minum, Mawar kini menidurkan putranya dan mengambil pakain yang buat pergi. Dan setelah selesai, dia lalu memakai hijabnya. Sementara putranya tetap memakai baju yang tadi pagi.
"Bik, kita pergi dulu ya." Ucap Mawar.
"Ya nona, hati-hati." Jawab Sari.
"Assalamualaikum." Salam Mawar.
"Waalaikumsalam Jawab Sari.
Agung mengernyitkan keningnya, karena istrinya memanggil Sari dengan bik.
"Kenapa ?" Tanya Mawar.
"Bibik ?" Tanya Agung.
"Ya mas, sekarang kan sudah ada putra kita. Takutnya dia ngikutin manggil Sari hanya nama saja. Aku enggak mau Agung kecil kaya gitu." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Masyaallah banget sih kamu." Jawab Agung dengan tersenyum.
"Alhamdulillah." Jawab Mawar.
"Yayah." Panggil Agung kecil.
"Ya sayang." Jawab Agung.
"Hahaha." Tawa Agung kecil.
"Weh mirip ayah ya kalau tertawa." Jawab Agung.
Tak lama mereka pun meninggalkan rumah. Setengah jam berlalu, kini mereka sudah sampai.
"Yakin ini kontrakan Mia ?" Tanya Agung.
"Iya." Jawab Mawar.
__ADS_1
"Astagfirullahhallazim, ini rumahnya Kenzo anaknya om Taufan dengan istrinya yang dulu." Ucap Agung.
"Oh." Jawab Mawar.
"Tahu kamu disini, sudah kususul kamu ay." Ucap Agung gemas.
"Hmm." Jawab Mawar lalu turun.
"Assalamualaikum." Salam Mawar.
"Waalaikumsalam." Jawab Akbar yang ternyata masih disana.
"Lho, om Akbar ngapain disini ?" Tanya Agung terkejut.
"Kemarin aku disuruh nginep di sini." Jawab Akbar lalu menggendong Agung kecil.
"Halo Pung, Cipung." Ucap Akbar.
Agung kecil pun nampak langsung tertawa dan mau di gendong Akbar.
"Mauan lho dia." Ucap Akbar.
"Iya, dulu waktu ibunya sedang memfoto, dia di gendong ibu yang punya hajatan. Makanya dia mudah bergaul." Jawab Mia.
Mendengar suara Mia, mereka semua menatap dan Agung kecil tersenyum ke arah Mia. Namun saat Mia mau mendekat, Akbar malah ajak Agung keluar.
"Mbak, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak-banyak terima kasih ya. Sudah mau menampung istri saya dari hamil tua hingga lahir dan sampai usia 4 bulan." Ucap Agung.
"Sama-sama mas, saya ikhlas kok bantu istri anda. Dan juga putra anda sangat lucu, oh ya saya juga menyimpan video pas istri anda sedang nyidam dan rindu pengen dimasakin nasgor bikinan anda dan pengen ketemu anda." Jawab Mia.
"Oh ya, boleh saya lihat ?" Tanya Agung.
"Boleh." Jawab Mia.
Sementara Mawar hanya menyimak sambil tersenyum miris, kalau mengingat kejadian itu. Sepeninggal Mia, karena ingin ambil gawainya di kamar, Agung menatap Mawar.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
Tanpa banyak bicara, Agung lalu memeluk tubuh Mawar dan mencium bibirnya.
"Maaf, aku sudah mengingatkanmu masalalu yang pahit." Ucap Agung lalu mencium bibirnya lagi.
"Hmm." Jawab Mawar.
Tak lama Mia datang, dan memberikan video itu.
Dimana susahnya Mawar menahan rindu, hingga karena tidak kuat lagi dan ingin bertemu. Mawar memutuskan untuk mendatangi rumah suaminya.
"Mas liatnya di rumah saja ya, kepalaku tiba-tiba pusing." Ucap Mawar lirih.
"Ya sudah aku tunggu diluar ya." Jawab Agung.
"Ya." Jawab Mawar.
"Mbak pinjam sebentar ya." Ucap Agung.
"Ya mas." Jawab Mida.
Sepeninggal suaminya, Mawar langsung ke inti niat dia kesana.
"Mia, maaf ya aku kesini lagi." Ucap Mawar.
"Ya, pasti mau ambil barang-barang kalian kan ?" Tanya Mia.
"Iya." Jawab Mawar.
"Sudah ku masukin koperasi kok." Ucap Mia.
"Makasih ya." Jawab Mawar.
"Sama-sama." Ucap Mia.
__ADS_1
Sementara Akbar nampak asik, mengajak main keponakannya itu. Maklum ya gaes, baru punya keponakan dua. Dan ditemani Agung.
"Bang, ini kok bisa persis kamu banget. Cara bikinnya gimana ?" Tanya Akbar.
"Buahaha, ya kaya gitu." Jawab Agung dengan tertawa.
Tak lama Mawar keluar sambil bawa 2 koper sekaligus dan di bantu Mia. Yang juga sama bawa 2 koper juga.
"Busyet banyak amat ya." Ucap Agung.
Membuat Agung kecil langsung tertawa karena ucapan ayahnya.
"Hahaha." Tawa Agung kecil.
Akbar pun jadi ikut tertawa juga. Dan tak lama bertanya lagi.
"Bang anakmu gemuk banget ya, gendong sebentar saja sudah pegal." Ucap Akbar.
"Jangan suka bilang gitu, enggak baik. Apalagi di depannya langsung." Jawab Agung menasehati keponakan.
"Memangnya kenapa ?" Tanya Akbar.
"Menurut orang tua jaman dulu, pamali." Jawab Agung.
"Oh ya, maaf." Ucap Akbar.
"Iya." Jawab Agung.
Mawar yang sudah selesai memasukkan barangnya dan barang putranya langsung duduk di sebelah Agung.
"Sudah ?" Tanya Agung.
"Sudah." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Yuk pulang." Ajak Akbar.
"Ya." Jawab mereka berdua.
Mereka pun langsung pamit sama Mia, dan Mia pun mengizinkan.
"Bang, kak duluan ya, dada Cipungku." Ucap Akbar sambil melambaikan tangannya ke arah bocil itu.
"Ya." Jawab mereka berdua sambil melambaikan tangannya.
"Astagfirullahhallazim, itu anak kencang banget ngendarain laju mobilnya." Ucap Mawar.
"Buru-buru dia sayang, kalau enggak ya enggak begitu." Jawab Agung.
"Tetap saja salah mas." Ucap Mawar.
"Ya, kamu kenapa kok kesal banget ?" Tanya Agung.
"Gimana enggak kesal, keponakan kamu aja kalau buru-buru kayak gitu, apalagi kamu. Enggak sayang istri dan anaknya kalau kamu sampai begitu." Jawab Mawar.
Agung lalu menepikan mobilnya, dia lalu mendekati Mawar dan mencium bibirnya disaksikan putranya.
"Mas, lihat sikron dong. Ada anak kita." Ucap Mawar lirih.
"Enggak apa-apa, itu tandanya aku dan kamu romantis.
"Rokok makan gratis ?" Tanya Mawar.
"Maksudnya ?" Tanya Agung.
"Tadi kamu bilang romantis ?" Tanya Mawar.
"Ya." Jawab Agung.
"Singkatan Romantis itu, rokok makan gratis." Ucap Mawar.
"Bukan itu sayang. Intinya aku enggak pernah ngebut saat di jalan." Ucap Agung sambil tersenyum dan menatap wajah Mawar tanpa berkedip.
__ADS_1
Melihat itu Agung kecil tersenyum dan menyentuh tangan ayahnya.