Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 42


__ADS_3

Akbar yang ahli dalam silat apapun, tahu gerak-gerik Anto.


"Harta yang sudah aku kasihkan ke dia." Jawab Anto penuh percaya diri.


Belum sempat bertanya, Sari tiba-tiba datang dengan berbisik.


"Tuan, nona mau bertemu dengan anda." Ucap Sari.


"Permisi aku mau masuk dulu." Ucap Agung kepada mereka.


"Ck, dasar pengecut. Pasti takutkan kamu." Ucap Anto menyulut emosi Agung.


"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung lalu melanjutkan langkahnya menemui Mawar.


"Sayang, ada apa ?" Tanya Agung lirih dan tersenyum.


Namun Mawar hanya terdiam dan menyerahkan gawai dia ke Agung.


("Aku akan rusak hubungan kamu dan suamimu dan juga familimu. Karena aku enggak pernah rela, kamu dimiliki selain aku." Tulis pesan itu.)


Agung lalu memeluk istrinya.


"Ay, kamu percaya dengan ALLAH kan ?" Tanya Agung.


"Percaya." Jawab Mawar tanpa menatap lawan bicaranya.


Agung lalu menggeser posisi Mawar, agar menghadap ke dirinya.


"Kalau kamu percaya, jangan pernah hiraukan ancaman itu." Ucap Agung lirih.


"Insyaa ALLAH mas." Jawab Mawar langsung memeluk suaminya.


"Sabar ya, ini ujian kita." Ucap Agung.


"Insyaa ALLAH." Jawab Mawar.


"Ya sudah aku bawa gawaimu, dan aku tinggal sebentar ya." Ucap Agung.


"Iya." Jawab Mawar.


"Sari, tolong jaga nona di kamar. Ajal dia bercanda !" Titah Agung.


"Baik tuan." Jawab Sari.


Sesampai di teras depan, Agung datang.


"Pengecut datang lagi." Ucap Anto.


"Terus kamu apa, meninggalkan istri dalam kondisi hamil, tidak memberi nafkah selama 5 tahun dan umrah aib istri kemana-mana." Ucap Agung kesal.


"Suka-suka aku lah, hidupku sesuai seleraku." Jawab Anto.


"Ya sudah kalau gitu enyahlah kamu dari rumahku !Titah Agung.


"Enggak mau, sebelum Mawar bayar ganti rugi." Jawab Anto.


Mawar yang tak sengaja mendengar itu pun langsung keluar.


Plak.


Tamparan Mawar, mengenai tepat di pipi Anto.


"Sampai mati pun aku enggak sudi mengembalikan hartamu, karena aku keluar dari rumah papamu, aku enggak bawa apapun barang milik keluarga kamu. Ucap Mawar.


"Sayang tenanglah." Ucap Agung.


"Kalau kamu enggak mau, taruhannya nyawa anak yang kau kandung." Ancam Anto.


"Bang, bawa istrimu masuk. Tutup pintu rumahmu dan tinggalin saja dia." Jawab Akbar seraya mengirim pesan ke Reza.


"Dasar Pengecut kalian." Ucap Anto lalu pergi.


Dan di dalam, Mawar nampak syok berat. Agung lalu menghubungi Linda. Dan tak lama Linda beserta dokter Widi datang.


"Kenapa bisa terjadi kaya gini sih bang ?" Tanya Linda.


Agung pun menceritakan semuanya kepada Linda, mendengar itu Linda langsung lemas dan tak bisa berdiri.


"Nda, kenapa ?" Tanya Agung.


"Cobaan kalian berat banget ya, baru bahagia sudah dihajar lagi dengan kabar duka sekarang masalalunya." Jawab Linda seraya menangis.


Agung pun terdiam.


Tak lama dokter yang memeriksa Mawar pun keluar.

__ADS_1


"Gimana dok ?" Tanya mereka.


"Pasien harus di pindahkan segera, kasihan janinnya nanti kalau ibunya terus-menerus seperti ini." Ucap dokter itu.


"Baik dok, secepatnya akan kami bawa pindah." Jawab Linda.


Agung lalu menemui istrinya.


"Sayang." Panggil Agung dengan lembut dan tersenyum.


"Maafin aku mas." Ucap Mawar.


"Shtt, ini bukan salahmu, sekarang kita jalan-jalan yuk." Ajak Agung.


"Kemana ?" Tanya Mawar.


"Ke rumahku kak." Jawab Linda.


"Linda, kamu kesini ?" Tanya Mawar.


"Ya dong, aku bela-belain jemput kakak lho." Jawab Linda.


"Maaf ya sudah merepotkan kamu." Ucap Mawar.


"Ish, enggak ada yang direpotkan." Jawab Linda.


"Kak, nanti nginep ke rumahku ya. Sampai debaynya lahir." Ucap Linda.


"Kelamaan sayang, nanti abangmu sendirian." Ucap Mawar.


"Aku ikut kamu sayang." Jawab Agung lalu membawa tiga koperasi keluar dengan di bantu Sari.


"Ayo kak." Ajak Linda seraya menggenggam tangan Mawar.


"Sari, titip rumah ya." Ucap Mawar.


"Ya nona." Jawab Sari.


"Ayo kak." Ajak Linda penuh semangat.


Sementara Agung nampak masuk ke dalam dan meneteskan air mata kesedihan.


"Sabar tuan." Ucap Sari.


Agar tidak di curigai Mawar.


"Mas, tumben siang-siang pakai kacamata hitam ?" Tanya Mawar.


"Ay, mataku pedih." Jawab Agung.


"Ya ALLAH, terus sudah diobati belum ?" Tanya Mawar penuh khawatir.


"Sudah sayang. Yang penting itu kamu dan debaynya sehat." Jawab Agung lalu tersenyum.


"Iya ayah." Jawab Mawar sambil menirukan suara anak kecil.


Mereka pun tertawa bersama, Linda pun bergumam dalam hati. Ternyata kakak ipar benar-benar sudah berubah lebih baik, dan terlihat putih.


"Mas." Panggil Mawar.


"Hmm." Jawab Agung.


"Pangku." Ucap Mawar.


"Ya sudah sini sayangku." Jawab Agung sambil tersenyum.


Linda pun tersenyum lebar melihat manjanya sang kakak ipar.


"Kenapa kak, capek ya ?" Tanya Linda.


"Iya Lin." Jawab Mawar.


Agung menatap Linda di kaca mobil, lalu menganggukkan kepala. Entah apa yang mereka bicarakan.


"Ay." Panggil Agung lirih.


Linda yang mendengar itu, langsung menatap dari kaca.


"Tidur bang." Jawab Linda.


"Alhamdulillah." Jawab Agung seraya membenarkan posisi Mawar.


"Dia kalau tidur selalu begitu bang ?" Tanya Linda.


"Semenjak hamil ya, kalau sebelumnya enggak pernah." Jawab Agung.

__ADS_1


"Menurut abang, kakak ipar ini termasuk rewel enggak sih bang ?" Tanya Linda.


"Alhamdulillah enggak Nda, justru aku yang selalu rewel." Jawab Agung.


"Itu mah, aku dah tahu." Jawab Linda dengan tawa khasnya.


Mereka pun kini tampak terdiam. Linda yang fokus nyetir, sementara Agung fokus menatap wajah Mawar.


Cup.


Aku sayang kamu. Ucap Agung lirih sambil melepas kacamatanya.


Tak terasa mereka bertiga pun sudah sampai, Agung lalu membuka pintu mobil dan bersiap-siap membopong Mawar.


"Bismillah." Ucap Agung.


"Bisa enggak kak, awas hati-hati." Ucap Linda.


"Bisa Nda." Jawab Agung.


"Nah, ini rumahku kak. Sementara kalian tinggal di sini dulu ya, yang lingkungannya terpantau terus." Ucap Linda.


"Kamu sendiri ?" Tanya Agung lirih sambil menidurkan Mawar di tempat tidur dengan perlahan.


"Aku masih sama mamaku kak." Jawab Linda.


Berarti kosong disini ?" Tanya Agung.


"Enggak kosong, ada Reza di sini." Jawab Linda.


"Alhamdulillah. Maaf ya merepotkan kamu." Ucap Agung.


Enggak apa-apa bang." Jawab Linda.


Saat tengah melihat rumah Linda, Reza pun tiba-tiba datang dengan Arsyil.


"Mbak, ada apa ini ?" Tanya Reza.


Linda pun menceritakan semuanya kepada Reza dan Arsyil. Mendengar itu Reza menganggukkan kepala paham. Namun Arsyil langsung pamit.


"Tolong jangan sampai rumah ini kosong ya, apalagi ada kakak ipar disini." Ucap Linda.


"Tenang kak." Jawab Reza.


Ya Reza ini termasuk orang yang slengekan, tapi kalau soal keamanan keluarga dialah yang paling tajam dalam mendengar alarm bahaya dan saat musuh datang.


"Ya sudah bang, aku kembali kerja dulu ya." Ucap Linda.


"Ya." Jawab Agung.


"Za." Ucap Linda.


"Ye bos." Jawab Reza.


Sepeninggal Linda, Reza pun langsung menatap abang keponakannya.


"Bang, sabar dan tenang, kawan-kawan aku sudah menangkap mereka." Ucap Reza.


"Memangnya kamu sudah tahu wajah mereka ?" Tanya Agung.


"Sudah, tadi Akbar kirim fotonya." Jawab Reza.


"Alhamdulillah, makasih ya. Aku enggak tahu harus membalas dengan apa untuk kebaikan kalian." Ucap Agung.


"Enggak perlu balasan, kita ikhlas kok." Jawab Reza.


"Mas." Panggil Mawar dengan berteriak.


"Mendengar itu mereka berdua langsung berlari tunggang langgang.


"Kenapa sayang ?" Tanya Agung.


"Tenang kak, tarik narik keluarkan dengan perlahan." Ucap Reza.


Setelah terlihat tenang, Mawar pun berkata.


"Ada seseorang di sana." Ucap Mawar seraya menunjuk.


Reza pun langsung melihat dan mendekat. Tak lama Reza berhasil menangkap orang itu.


"Aduh cin, maaf yee ege cuma disuruh." Ucap bencong itu.


"Suruh siapa ?" Tanya Reza.


"Suruh mantan dia." Jawab bencong itu.

__ADS_1


__ADS_2