
Sampai di rumah Mida, ibunda Mida sudah menyambut mereka.
"Assalamualaikum." Salam mereka.
"Waalaikumsalam, mari masuk." Ajak Bunda Mida.
Mawar terdiam menatap mereka, hingga tak sadar air matanya menetes. Namun cepat-cepat ia langsung menghapusnya.
"Ayo." Ajak Agung.
"Ya mas." Jawab Mawar.
Sampai di dalam, Agung kecil teriak.
"Angan gagu ayah atu. (Jangan ganggu ayah aku.)" Teriak Cipung, membuat mereka terkejut.
"Astagfirullahhallazim." Ucap mereka bersama.
"Maaf." Ucap Mawar lalu membawa putranya keluar.
Dan langsung diikuti oleh suami dan mertuanya.
"Sayang." Panggil Agung.
"Ya mas." Jawab Mawar.
"Biar aku gendong dia." Ucap Agung sambil tersenyum.
"Yuk sama nenek yuk." Ajak dan ucap Ratih tiba-tiba membuat mereka saling memandang.
"Mami." Panggil mereka.
"Biar mami gendong dulu." Ucap Ratih.
Mereka pun menganggukkan kepala tanda setuju.
"Anak kita kenapa ya mas ?" Tanya Mawar gelisah.
"Insyaa ALLAH enggak ada apa-apa." Jawab Agung seraya memeluk tubuh Mawar dan memberikan kecupan agar istrinya lebih rileks.
"Kok aku ngerasa-." Ucap Mawar terhenti karena di bungkam oleh Agung.
"Shht, jangan karena anak kita mimpi terus kamu kaitkan dengan feling kamu. Ingat sayang, fikiranmu akan tercatat dalam otak dan di otak akan keluar lewat lisan. Jadikan masa kemarin yang sudah kamu lewati sebagai pelajaran, bukan untuk di ulang. Baik sangkalah dulu, jangan banyak buruk sangka." Ucap Agung panjang lebar.
"Astagfirullahhallazim, maaf mas." Ucap Mawar.
"Minta maaf dulu sama ALLAH." Jawab Agung lalu tersenyum dan mencium bibir Mawar.
Tanpa mereka tahu Ratih melihat itu. Hmm anak ini, di tempat umum juga masih saja main sosor. Ucap Ratih dalam hati.
"Ehem, dilanjutkan di rumah saja, enggak enak di lihat orang." Ucap Ratih tiba-tiba.
"Astagfirullahhallazim, mami ngagetin kami saja." Jawab Agung.
"Sudah yuk masuk, Mida nunggu kamu sayang." Ucap Ratih lalu menggenggam tangan Mawar.
"Kok aku enggak di gandeng juga mi ?" Tanya Agung.
"Jalan sendiri." Ucap Ratih.
Mawar yang lihat itu, langsung mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Agung. Agung nampak tersenyum bahagia.
Sampai di dalam rumah, banyak yang protes.
"Ck, di tungguin malah masuknya lama." Ucap mereka.
"Ya maaf." Jawab mereka bertiga.
__ADS_1
Acara pun kembali di mulai.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh untuk ibunda Mida yang mau nerima kedatangan kami di sini, kami datang kesini karena memiliki tujuan atau etikad baik. Ingin minta restu bunda Mida, untuk meminang putri ibu. Apakah ibu mau nerima atau tidak ?" Tanya Marfel dengan sopan.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih banyak untuk keluarga besar mas Agung yang sudi bertandang di rumah kami. Sebelum saya jawab, bolehkah saya sebagai seorang ibu bertanya dengan ibunda nak Akbar ?" Tanya ibunda Mida.
"Boleh." Jawab Rani langsung.
"Sebelumnya saya mohon maaf, saya ini dari ibunda Mida ingin menjelaskan untuk pertimbangan buat nak Akbar dan keluarga. Mida putri saya ini dari keluarga tidak punya, Mida juga jauh dari kata cantik. Apa nak Akbar dan ibu ini serius bisa menerima putri saya ?" Tanya Rini.
"Insyaa ALLAH ibu, saya mencintai dia karena ALLAH bukan karena harta atau pun paras rupa." Jawab Akbar.
"Begitu juga dengan saya jeng, saya memang orang berada tapi saya enggak menyuruh anak saya untuk menikah dengan yang lebih kaya. Karena harta bisa habis, namun tidak dengan akhlak dan budi pekerti." Jawab Rani.
"Sudah yakin nak kamu ?" Tanya Rini.
"Insyaa ALLAH yakin bu." Jawab Akbar.
"Alhamdulillah, ibu harap apapun permasalahan rumah tangga jangan kau buka di depan publik dan jangan pernah main tangan dengan Mida." Nasehat Rini untuk Akbar.
"Insyaa ALLAH bu." Jawab Akbar.
Sementara Mawar nampak tercubit dengan nasehat ibunda Mida tadi untuk calon menantunya.
"Kenapa ?" Tanya Agung lirih.
"Enggak apa-apa." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Jangan bohong." Ucap Agung.
"Shht, dengerin mereka ah, enggak baik ada yang ngobrol ikutan ngobrol juga." Jawab Mawar.
Agung lalu menatap Mawar dan langsung mencium pipinya.
"Ih, kamu ini." Ucap Mawar dengan kesel.
"Biar make up kamu luntur." Jawab Agung.
"Mida, selamat ya moga lancar hingga pelaminan." Ucap Mawar.
"Aamiin, makasih bestieku dan calon kakak iparku." Jawab Mida lalu memeluk dan tertawa.
"Akbar, selamat ya." Ucap Agung sambil menggenggam tangan Mawar.
"Ya bang makasih juga ya doanya." Jawab Akbar.
"Sama-sama." Jawab Agung.
"Selamat ya Bar, ingat jadi kepala rumah tangga itu berat tanggung jawabnya." Ucap Mawar.
"Makasih kak, insyaa ALLAH di permudahkan ALLAH." Jawab Akbar.
"Aamiin." Jawab mereka bersama.
Dan mereka langsung berfoto. Mawar kini di dekat Mida, Agung di dekat Akbar. Mereka foto dengan senyuman terindah. Tak lama Putra mereka hadir dan ikut serta foto juga.
"Mas 1 lagi bisa ?" Tanya Agung.
"Bisa mas." Jawab Mas itu.
"Arsyil, sini." Ucap Agung.
Arsyil lalu naik dan foto bersama mereka.
Agung minta di dekat istrinya, sedangkan putranya di gendong Arsyil.
"Ok siap ya." Ucap Fotografi itu.
__ADS_1
"Ya." Jawab mereka.
Tanpa terduga, Agung mencium pipi istrinya membuat Mawar melebarkan netranya sedangkan mereka yang menyaksikan langsung bersorak riuh.
"Widih aki-aki, masih suka nyosor bae." Ucap mereka.
"Enggak apa-apa, iri bilang bos." Jawab Agung lalu tersenyum.
Sedangkan Mawar langsung menjauh, karena malu.
"Sini nak, biar enggak di kecup terus." Ucap Riska.
"Idih tante tega ngamat ya." Jawab Reza.
"Biarin, daritadi nyosor bae sih." Ucap Riska.
Hengki yang mendengar itu langsung mendekati istrinya.
"Benar katamu mi, Agung mirip aku." Ucap Hengki lirih.
"Hmm, baru percaya nih ?" Tanya Ratih.
"Maaf cintaku." Jawab Hengki dengan tersenyum.
"Hmm." Jawab Ratih.
Kini acara pun di ganti dengan makan bersama. Saat makan bersama Mawar terlihat menyuapi anaknya, langsung di hampiri suaminya.
"Yang, suapin juga dong." Ucap Agung.
"Uhuk-uhuk, makan sendiri yah." Jawab Rani yang kini duduk di sebelah Mawar.
"Aku kan mintanya sama istriku tan, bukan sama tante." Jawab Agung lalu tersenyum.
"Sumpah ya, kamu tu persis papimu, muanja." Ucap Rani.
Mendengar itu Marfel tersenyum dan menatap Nadine yang nampak melamun.
"Kenapa ?" Tanya Marfel.
"Aku takut, kalau kamu seperti adikmu. Aku tak bisa sesabar adik ipar kita. Yang selalu sabar hadapi apapun, terutama sifat manja suaminya." Jawab Nadine.
"Jangan takut, tapi harus hadapi. Karena takdir ALLAH itu pasti membuat umatnya bahagia." Jawab Marfel.
"Aamiin, makasih ya bang." Ucap Nadine.
"Sama-sama." Jawab Marfel.
"Melihat mereka, aku jadi insicure dengan diriku sendiri." Ucap Nadine.
"Kenapa ?" Tanya Marfel.
"Karena aku belum diberi kepercayaan untuk memiliki momongan." Jawab Nadine.
"Sabar sayang." Jawab Marfel.
"Ya bang." Jawab Nadine sambil tersenyum.
Dan disini, Mawar belum juga selesai makan, karena kedua orang kesayangannya sama-sama memeluk Mawar.
"Astagfirullahhallazim, yang tua kok enggak bisa ngalah ya sama yang bocil." Ucap Rani dengan gemas, karena melihat mereka mengganggu istri dan ibunya yang sedang makan.
"Ayo sayang ikut nenek." Ucap Rani.
"No." Jawab Agung kecil.
"Nak, kasihan ibumu susah tu makannya." Ucap Rani lagi.
__ADS_1
"Ayah, apin Bibu." Ucap Agung kecil.
"Ya sayang." Jawab Agung lalu menyuapi istrinya.