Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 82


__ADS_3

"Sama-sama." Jawab Marfel.


"Selamat ya Bar." Ucap Nadin.


"Ya kak." Jawab Akbar dengan tersenyum.


"Selamat ya Da." Ucap Marfel.


"Ya bang." Jawab Mida.


"Selamat ya." Ucap Nadin.


"Ya kak." Jawab Mida.


"Selamat untuk kehidupan kamu yang baru, harus pintar bagi waktu, bagi tanggung jawab dan bersikap adil." Ucap Agung.


"Insyaa ALLAH bang, mohon doanya." Jawab Akbar lalu memeluk Agung.


"Selamat ya Bar, semoga samawa hingga sesurga. Aamiin." Ucap dan doa Mawar.


"Aamiin kak, makasih Ya kak." Jawab Akbar.


"Sama-sama." Jawab Mawar.


"Mida, selamat ya." Ucap Mawar.


"Ya kak." Ucap Mida dengan terkekeh.


Selesai itu, mereka lalu turun dan kembali ke bangku mereka. Didi mana ? Tanya Mawar lirih sambil mencari-cari keberadaan Didi.


"Cari Didi ?" Tanya Agung.


"Iya." Jawab Mawar.


"Tu sama Sri." Ucap Agung sambil tersenyum.


"Syukurlah, aku fikir dibawa siapa." Jawab Mawar.


"Hmm, jangan negatif terus pikirannya." Ucap Agung.


"Iya." Jawab Mawar.


Nadin yang mendengar itu langsung tersenyum. Cerewet adiknya sih, tapi sayang aku malah dapat kakaknya. Tapi enggak apa-apalah, kakaknya lebih tampan. Gumam Nadin lirih.


Sedangkan Marfel kini tengah menatap keluarganya yang ceria berbagi foto bersama.


"Arsyil." Panggil Marfel.


"Ya bang." Jawab Arsyil.


"Sumpah kamu cringe(malu) banget." Ucap Marfel.


"Kok bisa ?" Tanya Arsyil yang belum paham.


"Bisalah, coba kamu lihat fotomu sendiri." Jawab Marfel.


"Astagfirullahhallazim, ya iya malu-maluin nih bang." Jawab Arsyil.


"Haha, sadar juga." Ucap Marfel dengan tawa khasnya.


"Ah, enggak masuk. Hapus saja bang." Ucap Arsyil.


"Asiap adikku sayang." Jawab Marfel.


Sementara para ibu-ibu dan bapak-bapak nampak sedang duduk sambil nunggu pengantin datang lagi.


"Cie-cie pengantin baru, siap-siap malam nanti bertempur." Goda Reza dan Linda.


"Ck, cringe banget sih kalian." Jawab Akbar.


"Haha, marah ni ye. Pakai ngatain kita jijik." Ucap Linda dan Reza.


Sedangkan Mida nampak tersenyum lebar, mendengar candaan suami dan keponakannya.


"Ehem,kak nanti hati-hati ya pas indehoynya." Ucap Linda berbisik.


"Lilin, jangan ajari istriku macam-macam." Ucap Akbar.


"Kagak bang." Jawab Linda.


"Awas saja kalau sampai kamu ajari macam-macam." Ucap Akbar.


"Idih, gitu amat sih." Jawab Linda.

__ADS_1


Meninggalkan mereka yang masih saling adu mulut. Kini Arsyil sedang mengobrol dengan Agung. Sedangkan Marfel, masih sibuk dengan istrinya.


"Bang, besok aku mau ke Korea urusan kerja. Tapi aku ragu-ragu bang mau berangkatnya, masih takut naik pesawat." Ucap Arsyil.


"Mendingan kalau masih ragu, kamu tunda dulu deh Ril." Jawab Agung.


"Iya bang." Jawab Arsyil.


"Gimana kerjaan kamu ?" Tanya Agung.


"Alhamdulillah lancar bang." Jawab Arsyil.


"Syukurlah." Ucap Agung.


Saat asik ngobrol, anak Agung datang mendekati ayahnya.


"Eh Cipung, baru bangun ya ?" Tanya Arsyil.


"Ya." Jawab Didi seraya tersenyum malu-malu.


"Kok sekarang diganti Didi bukan Agung kecil lagi ?" Tanya Arsyil.


"Ya, biar ada perbedaan." Jawab Agung.


"Oh." Jawab Arsyil.


"Bibu mana Di ?" Tanya Agung.


"Bibu sedang kumpul sama Oma." Jawab Didi.


"Kamu enggak ikut ?" Tanya Agung.


"Enggak ayah, Bibu ditanyain teyus sama Oma. Didi capek dengelnya." Jawab Didi.


"Emang di tanya apa Pung ?" Tanya Arsyil.


"Tanya sudah isi lagi belum. Tanya umul, tanya masak apa, tanya gimana ayah sekayang dan masih banyak lagi." Jawab Didi yang kini sudah lancar bicara, walau masih cadel.


"Didi enggak boleh gitu, itu tandanya Oma masih sayang sama kita." Ucap mereka.


Tak lama pengantin pun datang, mereka lalu duduk kembali di kursinya.


Mawar yang tak sengaja melihat, langsung pamit kepada Oma.


"Ya." Jawab Risa.


Mendapatkan persetujuan dari Risa, Mawar lalu menghampiri Akbar dan Mida. Itu juga diawasi oleh suami dan putranya.


"Kak Mawar makin cantik saja tuh." Ucap Arsyil.


"Alhamdulillah." Jawab mereka.


"Bibu mau foto lagi yah." Ucap Didi.


"Ya sayang." Jawab Agung lalu menatap Mawar.


"Ehem, maaf ni ganggu romantisnya. Boleh aku minta kenangannya ?" Tanya Mawar.


"Apaan sih kak, kenangan." Jawab Akbar sambil berdiri dan tersenyum.


"Boleh enggak ni pak suaminya Mida ?" Tanya Mawar sedikit bercanda.


"Boleh kak." Jawab mereka berdua.


"Cie-cie, makasih ya." Ucap Mawar lalu turun ke bawah.


"Sama-sama kak." Jawab mereka.


"Satu, dua, tiga." Ucap Mawar.


Cekrik.


"Yang mesra dong, jangan kaku kan sudah sah." Ucap Rani.


Membuat mereka semua tertawa, Mawar pun juga ikut tertawa. Tanpa sadar ia diawasi Agung.


Cantik, menurut aku. Ucap Agung dalam hati.


Selesai memfoto, Mawar melangkah lagi untuk ambil gambar yang lain. Dekorasi yang bagus, dan prasmanan yang tertata rapi. Saat ingin ambil gambar, Mawar kesulitan karena ruangannya sempit. Dia pun akhirnya naik di pohon seraya ambil gambar.


"ALLAH ya Qarim, mantu kamu serba bisa Ki." Ucap temannya.


Mendengar itu Hengki dan yang lain langsung menatap Mawar.

__ADS_1


"Ya salam." Ucap mereka semua.


Begitu juga dengan Agung, ia langsung cepat-cepat menghampiri Mawar. Berbeda dengan Didi, yang sudah hafal tentang ibunya.


"Kok kamu enggak panik ?" Tanya Arsyil.


"Sudah biasa om." Jawab Didik.


"Sudah biasa gimana ?" Tanya Arsyil.


"Bibuku, tiap hali selalu gitu, kalo ambil gambal." Jawab Didik.


"Enggak takut jatuh ?" Tanya Arsyil.


"Enggak, kalna udah seling jatuh om. Beluntung ayah enggak ada kalo ada, Bibu sudah dimalahin ayah." Jawab Didi.


"Oh begitu." Ucap Arsyil.


"Iya." Jawab Didi.


Tak lama Agung pun menghampiri Mawar.


"Sudah ?" Tanya Agung.


"Belum." Jawab Mawar.


"Sudah yuk turun, aku lapar." Ucap Agung.


"Oh ya." Jawab Mawar langsung turun.


Sampai di bawah, Agung menatap Mawar dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat Mawar langsung menunduk karena takut.


"Ril, aku titip Didi dulu ya, aku mau bicara empat mata sama istriku." Ucap Agung.


"Ya bang." Jawab Arsyil.


Sesampai di mobil, Mawar masih menundukkan wajahnya. Melihat itu Agung menetralkan emosinya dan menjelaskan pada istrinya dengan perlahan.


"Ay, kamu ingatkan pas di tangga, kamu hampir jatuh karena asik ambil gambar Didi. Beruntung ada Dion disana, kalau enggak aku enggak tau kamu dan Didi seperti apa." Ucap Agung sambil menatap wajah Mawar.


"Iya, aku tahu aku salah." Jawab Mawar lirih.


"Aku enggak mengekang kamu, tapi tolong jaga keselamatan kamu. Apa kamu tahu, gimana sedihnya aku ?" Ucap dan tanyanya.


Mendengar itu Mawar lalu minta maaf dan Agung langsung memeluknya.


"Maaf mas." Ucap Mawar.


"Iya sayang." Jawab Agung.


"Makasih." Ucap Mawar.


"Sama-sama." Jawab Agung.


"Keluar yuk." Ajak Mawar.


"Nanti dulu." Jawab Agung seraya menghidupkan mesin mobilnya.


"Kemana ?" Tanya Mawar.


"Sholat dulu." Jawab Agung.


"Astagfirullahhallazim, ya sudah yuk." Ajak Mawar.


"Didi gimana ?" Tanya Mawar lagi.


"Biarkan disana dulu." Jawab Agung.


"Tapi dia belum sholat mas." Jawab Mawar.


"Sri tadi sudah mengajaknya sholat disini." Jawab Agung lirih lalu mencium bibir Mawar.


"Kok kamu tahu ?" Tanya Mawar.


"Tahulah, dia minta kunci mobilku." Jawab Agung.


"Oh pantes." Jawab Mawar.


"Jangan cemburu, aku enggak ikuti dia." Ucap Agung.


"Mulai deh babang." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Emangnya kamu enggak cemburu ?" Tanya Agung seraya tersenyum.

__ADS_1


"Enggak." Jawab Mawar.


__ADS_2