
"Maafin aku karena dulu aku main peluk wanita sembarangan. Hingga buat dia baper sampai sekarang." Ucap Agung sambil menatap wajah Mawar tanpa berkedip.
"Mulai sekarang jangan begitu lagi ya." Ucap Mawar.
"Insyaa ALLAH sayang." Jawab Agung.
"Ya sudah, tidurlah. Besok kita harus bangun pagi dan malam harinya harus hadir di acara Putra." Ucap Mawar.
"Ya." Jawab Agung sambil tersenyum dan memeluk Mawar.
Pagi pun telah datang, kini mereka nampak sudah siap dan berangkat ke kantor.
"Widih tuan dan nona pakai baju dengan warna yang sama. Mas tampan juga, berasa keluarga yang kompak." Puji Sari.
"Aamiin ya ALLAH." Jawab Mawar dan Agung.
Dan tak lama mereka pamit pada Artnya, untuk berangkat ke kantor. Sampai di kantor, mereka pun langsung turun.
"Wih, pasangan pembenci yang sekarang jadi bucin." Goda teman-teman kerja Agung.
"Tunggu deh itu yang di gendong anaknya Agung ?" Tanya salah satu temannya.
"Ya lah, masa anakmu." Jawab Melati.
"Heh, pertu gue gak tanya sama loe ya." Ucap perempuan itu.
"Oh, aku juga enggak jawab pertanyaan kamu. " Jawab Melati.
"Huh, dasar pertu. Pantes saja enggak laku, mulutnya kaya comberan." Ucap perempuan itu merendahkan Melati.
"Mendingan masih perawan, daripada anda jatu." Jawab Melati.
Hingga perdebatan mereka berakhir saat Agung dan keluarga kecilnya masuk ke kantornya.
"Weh Agung kecil ni. Bisa persis banget dengan kamu ?" Tanya rekan kerjanya.
"Qodarullah." Jawab Agung lalu tersenyum.
Sementara Mawar hanya menyimak.
"Ya sudah ya aku masuk dulu." Ucap Agung.
"Ok." Jawab mereka.
Sampai di tempat kerjanya, dia lalu duduk bersebelahan dengan Mawar dan putranya yang nampak sudah mengantuk.
"Hemm, mamam...mamam..hiks..hiks.." Ucap Agung kecil.
"Ya sayang, ngantuk ya." Ucap Mawar sambil memberikan asinya.
Sedangkan suaminya langsung tersenyum. Tak lama kemudian Agung kecil tidur.
"Sudah tidur ?" Tanya Agung.
"Sudah." Jawab Mawar.
Saat asik dengan kerjanya, tiba-tiba Mawar menatap Lusi dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ay, nanti kita jadi kan." Ucap Agung.
Namun tidak ada jawaban dari Mawar, dia pun langsung menatap istrinya.
"Ay." Panggil Agung.
"Hmm." Jawab Mawar tanpa melihat suaminya.
Agung yang merasa diabaikan langsung menatap arah yang ditatap Mawar.
__ADS_1
"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung sambil mencium Mawar.
"Aku memilih kamu, bukan dia. Dan aku selalu melibatkan ALLAH saat memilihmu." Jawab Agung lagi.
"Aamiin ya ALLAH." Ucap Mawar.
"Yuk." Ajak Agung.
"Kemana ?" Tanya Mawar.
"Keluar, sini Agung kecil biar aku saja yang gendong." Ucap Agung.
Sampai di luar, mereka lalu naik bis dan pergi bersama dengan membawa pasangannya masing-masing.
"Sampai di bis, Agung lalu duduk di kursi yang masih kosong. Ay, kamu kenapa ?" Tanya Agung.
"Enggak apa-apa mas, cuma asinya sudah penuh. Tadi lupa, mau aku pompa." Jawab Mawar lirih.
"Terus gimana ?" Tanya Agung.
"Enggak apa-apa." Jawab Mawar.
"Pak berhenti di toilet dulu ya." Ucap Agung.
"Oke mas." Jawab sopir bis itu.
Sampai di SPBU, bus itu berhenti. Agung kecil ia titipkan ke Melati.
"Mel titip dulu ya." Ucap Agung.
"Oke." Jawab Melati.
"Ayo." Ajak Agung dengan hati-hati dan tidak lama Agung membopong tubuh Mawar.
Beruntung teman-teman tidak ada yang tahu, karena sibuk dengan pasangan masing-masing.
Sampai di toilet, Agung lalu membuka baju dan b*a istrinya lalu meminumnya bagai bayi kecil.
"Makasih ya." Ucap Agung.
"Sama-sama Gung." Jawab Melati.
Sampai di kursinya, Agung lalu menatap Mawar dan tersenyum. Sementara Mawar, hanya memandang jalanan.
"Ay." Panggil Agung.
"Hmm." Jawab Mawar.
"Makasih ya, kamu sudah bikin aku kenyang." Ucap Agung lirih.
Mawar pun langsung tersipu malu.
Sampai di tujuan, mereka pun langsung turun dari bus.
"Yayah." Panggil Agung kecil dengan suara keras. Membuat mereka semua langsung menatap anak itu.
"Ya sayang." Jawab Agung lirih.
"Mamam....hemmm..." Ucap Agung kecil.
"Ya." Jawab Agung.
"Lucu ya, persis banget sama bapaknya." Ucap temannya.
"Itu bukannya sudah cerai ya, kok bisa dapat anak lagi ?" Tanya istri temannya itu.
"Sudah nikah lagi dia." Jawab rekannya.
__ADS_1
"Oh pantes wajahnya bisa sama." Ucapnya.
Tak lama mereka masuk dan duduk di bangku yang masih kosong.
"Hmm...mamam....ao." Ucap Agung kecil.
"Mas aku bawa keluar saja ya, enggak enak sama atasan kamu." Ucap Mawar lirih.
"Enggak apa-apa ay, nanti aku enggak bisa pantau kalian." Ucap Agung.
Acara pun di mulai. Dan anak mereka juga berceloteh sendiri. Membuat rekan-rekan kerjanya tertawa tak terkecuali bos ayahnya.
"Wah, dapat hiburan gratis ya ini. Saya bicara ada yang jawab." Ucap Bosnya itu.
"Haha, ya bos." Jawab Melati.
"Kenapa ?" Tanya Agung lirih yang melihat Mawar hanya diam.
"Enggak apa-apa." Jawab Mawar.
Dan kembali ke acara.
"Niat saya selaku atasan kalian disini, hanya ingin mempererat persaudaraan. Bukan permusuhan, disini saya minta kalian untuk membawa pasangan kalian. Karena masalalu yang sudah lewat." Ucap Bosnya.
Mendengar itu banyak yang bertanya tentang Sita.
"Sita sekarang dimana ya ?" Tanya sesama rekan kerja.
"Enggak tahu, meninggal mungkin." Jawab teman sebelahnya.
"What tega amat kamu." Ucap Sabar.
"Astagfirullahhallazim." Jawab Soni.
Sementara Mawar hanya terdiam, sambil memangku putranya yang kini sudah nampak jenuh.
"Sini aku gantiin." Ucap Agung.
"Enggak usah mas, kamu duduk saja." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Enggak boleh bantah suami." Ucap Agung dengan menggendong putranya.
"Yayah." Panggil Agung kecil.
"Iya sayang." Jawab Agung lalu tertawa.
Sementara bosnya melanjutkan lagi.
"Kalian ingat bukan, 8 bulan yang lalu ?" Tanya si bos.
"Ya bos." Jawab mereka bersama.
"Sesama rekan kerja bisa hampir membunuh istri rekannya. Makanya saya mengetahui itu sangat terpukul atas yang menimpa karyawan saya. Mari rekan-rekan semua, usahakan jaga perasaan pasangan kita. Dan mulai sekarang, saya akan membuat peraturan tidak boleh menjalin cinta lokasi dengan sesama rekan kerja kantor." Tutupnya. Dan kini bos mereka pun langsung memanggil Mc.
"Alhamdulillah." Ucap para pasangannya.
Mawar pun hanya tersenyum sambil ditatap Agung.
"Ehem." Dehem Agung membuat Mawar langsung menatapnya.
"Jangan tersenyum terus, aku enggak rela senyummu kamu bagi-bagi. Apalagi sama rekan kerjaku." Ucap Agung.
"Apaan sih kamu mas, senyum pun dilarang. Aku tersenyum bukan karena rekan kerja kamu, tapi karena jawaban pasangan mereka."Jawab Mawar seraya berbisik.
"Yakin ?" Tanya Agung sambil menatap wajah Mawar.
"Insyaa ALLAH." Jawab Mawar.
__ADS_1
Mendengar itu Agung langsung tersenyum dan memeluk pinggang Mawar lalu mencium bibir Mawar. Tanpa mereka tahu, Sesama rekannya melihat itu.
"Ihir, pasangan yang terbaik." Ucap Sabar dengan lirih, tidak ingin mempermalukan mereka.