
Mereka pun langsung kembali ke kantor bersama lagi.
"Mida, selama tinggal dengan iparku apa saja yang kalian bicarakan ?" Tanya Akbar.
"Enggak ada, dia selalu rindu suaminya. Tapi dia pandai mengalihkan lewat kerjaan. Cuma pas awal saja sih, dia nekat pulang ke rumah suaminya sekedar melihat dari jauh." Ucap Mida jujur.
"Kapan ?" Tanya Akbar.
"2 minggu setelah tinggal di rumahku." Jawab Mida.
Akbar lalu mengingat masa itu, astaga ternyata benar yang ku lihat adalah kak Mawar. Ucapnya dalam hati.
"Terus dia masuk ke dalam enggak ?" Tanya Akbar.
"Enggak sih, tapi masyaallah banget dia bisa bertemu dengan suaminya lalu memeluknya. Ada campur tangan TUHAN juga." Ucap Mida.
"Maksudnya ?" Tanya Akbar.
"Tepatnya saat dia mau keluar dari persembunyian, tiba-tiba tubuhnya menabrak suaminya. Dan ditangkap oleh mas Agung, lalu di peluk nya." Jawab Mida.
"Abangku enggak curiga atau lihat wajah kakak ipar ?" Tanya Akbar.
"Alhamdulillah enggak, karena saat itu Mawar pakai hijab dan topi dan juga masker, jadi enggak terlihat." Jawab Mida.
"Oh." Jawab Akbar.
"Ya." Ucap Mida.
Sesampai di kantor, mereka pun kembali kerja lagi.
Sementara di rumah Agung, mereka semua sudah wangi dan kedatangan tamu lagi. Family Agung lagi.
"Cipung." Panggil mereka sambil tersenyum.
"Mawar, suami kamu makin berisi. Kasih tahu resepnya dong." Ucap Rani.
"Uhuk-uhuk." tiba-tiba mami batuk.
"Minum dulu mi." Ucap Mawar dengan menyerahkan gelas berisi air putih.
"Makasih nak." Ucap Ratih.
"Sama-sama mi." Jawab Mawar.
Dan kini Agung nampak kumpul sama om dan papinya.
"Sejak nikah sama Mawar, kamu makin berisi Gung. Beda dengan Vika." Ucap Taufan.
"Aamiin om." Ini juga istri yang perhatian dan sayang." Jawab Agung lalu tersenyum.
"Syukurlah dapat yang tulus, walau penuh dengan keburukan." Ucap Ridho.
"Insyaa ALLAH sudah bisa berubah om." Jawab Agung.
"Aamiin." Jawab Hengki, papi Agung.
"Masih saja bahas masalalu menantuku, kaya mantan menantu kamu enggak buruk saja." Ucap Hengki lirih, namun masih bisa di dengar Daddy Akbar dan Taufan.
"Sabar." Jawab mereka bersama.
"Insyaa ALLAH." Jawab Hengki.
Ya itulah keluarga besar Agung, Ridho yang terkenal suka menilai orang dari masalalunya. Namanya manusia tiada yang sempurna, ada kurang dan lebihnya.
"Mawar, apa dong resepnya, tante ingin suami tante bisa berisi enggak kerempeng." Ucap Rani.
"Susu indomilk tante." Jawab Mawar.
"Heh masa ?" Tanya Rani kurang percaya.
"Iya." Jawab Mawar lalu menunjukkan isi kulkasnya.
"Busyet banyak amat nak." Ucap Rani.
"Ya tante, buat persediaan, bibik juga aku suruh minum itu kok tante." Ucap Mawar.
"Rani lalu melihat Sari, dan benar saja tubuh Sari makin berisi. Tapi bukan hamil lho ya gaes.
"Wow suit-suit." Ucap Rani.
__ADS_1
"Eh nyonya tante." Ucap Sari.
"Aku jujur pangling lihat kamu." Ucap Rani.
"Ya nyonya, nona saya selalu kasih saya makan dan minum susu sebelum tidur. Ya jadi gini deh." Jawab Sari jujur.
"Enggak apa-apa kali, daripada krempeng kaya kurang gizi." Jawab Rani seraya tertawa.
Sedangkan Ratih kini berbicara dengan Agung.
"Gung, sejak kapan kamu suka rebut jatah minum anakmu ?" Tanya Ratih.
"Maksudnya ?" Tanya Agung lirih.
Ratih pun menceritakan semua yang ia ketahui, membuat putranya tersenyum malu-malu.
"Jadi mami sudah tahu, itu sudah sejak kami dipertemukan kembali mi." Jawab Agung jujur.
"ALLAH Akbar, kamu itu kurang puas atau gimana ?" Tanya Ratih.
"Enggak tahu mi, kalau belum minum itu aku selalu lemas." Jawab Agung.
"Astagfirullahhallazim, bayi tua kamu."Ucap Ratih.
"Haha, tapi enak kok mi. Asin - asin gurih gimana gitu deh mi." Jawab Agung lalu tertawa.
"Astagfirullahhallazim." Ucap Ratih.
Kini Agung kecil pun sedang asik main bersama Oma Risa dan Oma Najwa.
"Enggak nyangka ya cicit kita sudah sebesar ini." Ucap Najwa memulai obrolan.
"Iya." Jawab Risa.
"Tampan juga, kalau besar jadi rebutan cewek-cewek ni." Ucap Najwa.
"Enggak boleh. Dia harus sekolah di pesantren." Jawab Risa.
Tak sengaja Linda, Sifa dan Reva mendengar obrolan omanya.
"Waduh Oma galak juga ya. Galaknya melebihi opa-opa korea." Ucap Reva.
Linda dan Sifa hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Reva.
"Haha, canda kali. Lagian aku heran deh sama Opa Korea, tampan dapat, banyak cuan, dan suara bagus, tapi kok ya milih hidup sendiri." Ucap Reva.
"Terus masalah gitu buat kami ?" Tanya mereka.
"Enggak." Jawab Reva.
"Ck, enggak jelas kamu." Ucap mereka lagi lalu menghampiri kedua omanya.
"Cipung." Panggil mereka.
"Nah ini nih tiga gadis Oma yang betah ngejomblo." Goda Oma Risa.
"Kita masih muda oma, apalagi mbak Reva ni." Jawab Sifa dan Linda.
"Ya, kalau dia kan kuliah." Ucap Najwa.
"Ya oma." Jawab Reva seraya menggendong Cipung.
"Hiks...hiks...hiks..." Tangis Cipung membuat Reva langsung menghampiri Mawar.
"Kak, Cipung ngantuk." Ucap Reva.
"Oh ya, sini sayang, makasih ya tante." Ucap dan jawab Mawar.
"Ya bude." Jawab Reva.
Mawar pun lalu pamit, untuk menyusui putranya. Dan mereka pun mempersilakan sekalian pamit pulang. Karena hari sudah siang.
"Lho kok buru-buru mi ?" Tanya Mawar.
"Iya sayang, papi kamu ada urusan." Jawab Ratih.
"Oh, tapi bukan karena aku pamitkan mi ?" Tanya Mawar.
"Astagfirullahhallazim, bukan sayang. Ini ada urusan semua." Jawab mereka bersama.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu." Ucap Mawar lirih.
Sepeninggal mereka, Mawar dan Agung kecil masuk ke kamar. Namun langkah Mawar terhenti saat melihat Agung nampak tertidur di kursi dengan bersedekap.
"Pantes enggak ada, ternyata dia tidur. Ucapnya lirih lalu masuk ke dalam kamar.
Setelah anaknya tertidur, Mawar lalu keluar menghampiri suaminya.
"Mas, pindah yuk." Ajak Mawar.
"Hmm, mereka kemana ?" Tanya Agung.
"Pulang mas." Jawab Mawar.
Mendengar itu Agung lalu menarik tangan istrinya dan mencium bibirnya Mawar.
Tanpa mereka sadari, Sari yang sedang bersih-bersih melihat mereka ciuman.
Astagfirullahhallazim, innalillahi wainnalillahi rojiun, nauzubillahminzalik. Zina mata lagi. Etdah tuan Agung sejak sama non Mawar dikit-dikit kiss-kissan, beda banget ama yang pertama. Etdah ot*k ku mulai deh nggosip. Ucap Sari lirih lalu kembali kerja.
"Sudah yuk pindah." Ajak Mawar.
"Iya sayangku." Jawab Agung lalu membopong Mawar.
"Akhhhh, mas kamu ih." Ucap Mawar kesal.
"Aku mau kamu." Ucap Agung.
"Masih siang, aku capek." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Iya sudah tidur saja." Ucap Agung langsung masuk ke kamar.
Mereka pun langsung tertidur.
Dan disini, nampak Lusi sedang di restoran bersama Soni.
"Son, aku lelah." Ucap Lusi.
"Istirahat." Jawab Soni.
"Aku lelah mengejar Agung." Ucap Lusi langsung memperjelas ucapannya.
"Kamu itu aneh, sudah tahu Agung punya istri dan anak. Masih kamu kejar." Jawab Soni.
"Itu karena dia selalu kasih harapan sama aku." Ucap Lusi.
"Perasaan enggak pernah, kamunya saja kali yang baper." Jawab Soni.
"Aku bukan baper, coba kamu fikir. Tiap hari diajak jalan bersama, makan bersama. Selalu diperhatiin, dan dipeluk apa namanya kalau enggak kasih harapan ?" Tanya Lusi.
"Ya juga sih, tapi asal kamu tahu. Daridulu Agung selalu bilang. Dia sudah anggap kamu hanya sebatas adik. Itulah mengapa dia selalu memelukmu. Dan satu lagi, dia punya prinsip kalau perempuan mudah dipeluk itu tandanya perempuan maaf gampangan." Jawab Soni.
"Emangnya istrinya yang sekarang enggak ?" Tanya Lusi.
"Enggak." Jawab Soni.
"Tahu darimana kamu ?" Tanya Lusi.
"Aku dulu pernah lihat sendiri." Jawab Soni.
"Dimana ?" Tanya Lusi.
"Di kantor kita." Jawab Soni.
"Serius kamu ?" Tanya Lusi.
"Ya." Jawab Soni.
"Emang kamu lihat apa ?" Tanya Lusi.
"Aku lihat Agung mencium bibir Mawar, dan Mawar langsung menamparnya." Jawab Soni.
"Terus Agung membalas ?" Tanya Lusi.
"Ya dia mengulangi mencium Mawar, dan begitu terus. Sampai Mawar ingin keluar, namun di tahan sama Agung dan Agung menangis di atas tubuh Mawar." Jawab Soni.
"Kamu enggak sedang mengarang cerita kan ?" Tanya Lusi.
"Untuk apa ngarang cerita ?" Tanya Soni balik, lalu memperlihatkan video itu ke Lusi dari gawainya.
__ADS_1
Saat itu juga Lusi marah dan menangis. Soni lalu memberi pesan bijak.
"Jangan rusak kebahagiaan orang lain karena ambisimu, ingat hukum tabur tuai itu ada. Kamu masih muda, jadilah yang terbaik agar kelak kamu mendapatkan yang baik." Ucap Soni.