
Dan di RS, Mawar nampak masih terbaring lemah. dengan tangan yang di perban dan diberi selang infus.
"Dok, gimana keadaan kakak ipar saya ?" Tanya Akbar.
"Alhamdulillah tidak apa-apa, dan nanti sebentar lagi sadar. Tapi maaf beliau harus menginap dulu." Jawab Widi.
"Alhamdulillah." Jawab Agung lalu masuk ke dalam.
Aku tahu kamu kuat sayang, dan kamu tidak akan ingkar janji." Ucap Agung sambil tersenyum dan mencium bibirnya Mawar.
"Alhamdulillah." Jawab Akbar dan Mia.
"Aku heran kenapa gitu Mawar terus yang kena sayatan, dulu di rumah kontrakan aku juga begitu. Tiap memasak pasti kena." Ucap Mia membuat Akbar tersenyum.
"Kalau masak mah sering, tapi kalau sayatan emang sering juga sih." Jawab Akbar lirih.
"Ish, sama ja Barbara." Jawab Mida.
"Oh dasar mumi." Balas Akbar seraya tertawa.
Tak lupa juga Akbar mengirim pesan suara ke maminya. Supaya tidak khawatir.
Dan di rumah Agung, sudah mulai ramai orang ingin tahu keadaan Mawar.
Rani lalu menyuruh mereka untuk diam. Lalu membuka pesan audio dari putranya.
"Alhamdulillah tidak apa-apa, hanya saja beliau harus menginap dulu." Ucap dokter tadi yang sempat di rekam Akbar.
"Alhamdulillah." Jawab mereka lega.
Barulah satu persatu tetangga terdekat Agung pamit untuk mandi. Mereka pun langsung mengizinkan.
Kini Ratih sedang menatap cucunya.
"Mbak." Panggil Rani.
"Ya." Jawab Ratih.
"Kenapa ?" Tanya Rani.
"Kepikiran psikis cucuku saja. Soalnya dia menatap langsung ibunya dilukai." Ucap Ratih penuh khawatir.
"Besok cobabawa ke psikologi saja mbak." Jawab Rani.
"Ya." Jawab Ratih.
Meninggalkan mereka yang di rumah, kini Agung masih setia menunggu Mawar sadar.
"Sayang bangun dong. Kamu enggak lapar apa ?" Tanya Agung lirih.
"Bang sudah sore, abang enggak mandi ?" Tanya Akbar.
"Ya." Jawab Agung lalu berlalu ke kamar mandi.
Akbar pun menggantikan menunggu kakak iparnya dengan bersama Mia.
"Hmm, cantik bangun napa tidur terus." Ucap Mida seraya mengamati tubuh Mawar.
"Sabar." Jawab Akbar.
"Bang, lihat deh kok cincin pernikahan Mawar berubah menjadi hitam ya, masa iya bang Agung kasih cincin pernikahan kw ?" Tanya Mia.
"Astagfirullahhallazim." Jawab Akbar lalu melepas cincin itu segera.
Dengan cepat, Akbar meminta pertolongan kepada guru ngajinya.
"Titip mereka, aku akan jemput guruku." Ucap Akbar.
"Iya." Jawab Mida.
Sepeninggal Akbar, Agung nampak baru selesai mandi.
"Akbar kemana mbak ?" Tanya Agung.
"Mia pun menceritakan tentang kejadian yang ia lihat secara detail. Mendengar hal itu Agung lalu sholat di dekat istrinya dan membacakan ayat alquran begitu juga dengan Mia.
Tak berselang lama, Akbar datang dengan gurunya.
"Ada apa pak ?" Tanya Akbar.
"Berzikir selalu." Jawab gurunya.
"Insyaa ALLAH pak." Jawab Akbar dengan zikir dalam hati.
__ADS_1
"Akbar kamu mau tahu sihir apa yang orang itu kirim ke kakakmu ?" Tanya guru Akbar.
"Iya pak." Jawab Akbar.
"Pejamkan mata kamu." Ucap gurunya.
Akbar pun menurut, dan tak lama gurunya berkata.
"Buka matamu dan lihatlah." Ucap gurunya.
Akbar lalu membuka.
"ALLAH Akbar.' Ucap Akbar.
"Itu sebabnya kakak iparmu belum sadar." Jawab ustadz itu.
"Astagfirullahhallazim, terus kami harus bagaimana pak ?" Tanya Akbar.
"Tetaplah sholat, baca alquran dan zikir." Jawab ustadz.
"Lalu kakak ipar saya gimana ?" Tanya Akbar.
"Ayo masuk, dan aku mohon kerjasamanya." Jawab ustadz itu.
"Ya pak." Jawab Akbar.
"Assalamualaikum." Salam mereka.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka.
"Bang, maaf aku-." Ucap Akbar terhenti.
"Mia sudah beri tahu aku." Jawab Agung lalu tersenyum.
"Oh, bang di atas tubuh kakak ipar ada 3 bocah kecil yang sedang menutup wajah kakak. Itulah sebabnya kakak lama sadarnya." Ucap Akbar.
"Astagfirullahhallazim." Ucap Agung lirih.
Agung lalu menggenggam tangan Mawar dan menciumnya.
"Mari mas, mbak bantu saya dengan zikir La Illa Haillalah." Ucap ustadz itu.
"Ya pak." Jawab mereka bersama.
Tak lama Mawar pun sadar.
"Alhamdulillah ya ALLAH." Ucap Agung seraya bersujud ke arah kiblat.
"Makasih pak." Jawab Agung lagi.
"Mas, aku dimana ?" Tanya Mawar.
"Di RS sayang." Jawab Agung.
"Akhh." Teriak Mawar tiba-tiba karena bekas sayatan tadi terasa perih.
"Kenapa ?" Tanya mereka kompak.
"Perih." Jawab Mawar sambil memegang tangan kanannya.
Agung lalu menyentuh tangan kanannya dan mengelus lembut tangan Mawar.
Sementara Ustadz dan Akbar juga Mia keluar.
"Bar, untuk sementara kamu jagain mereka. Karena nanti malam lebih besar lagi." Ucap Ustad itu.
"Insyaa ALLAH pak." Jawab Akbar.
"Dan ini cincin kakak iparmu, sudah aman. Tolong suruh pakai." Ucap ustadz itu.
"Iya pak." Jawab Akbar.
"Aku boleh ke rumah kakakmu ?" Tanya guru Akbar.
"Boleh pak." Jawab Akbar.
"Ayo sekarang kesana." Ajak ustadz itu.
"Iya pak." Jawab Akbar.
Mereka lalu pamit, tidak lupa juga Akbar mengembalikan cincin Mawar.
"Kok bisa lepas ?" Tanya Mawar.
__ADS_1
"Enggak lepas sayang, Akbar pengen melamar orang dengan cincin yang modelnya sama kaya kamu." Ucap Agung dusta.
"Oh." Jawab Mawar.
Akbar lalu pamit. Dan tak lupa mereka menjawab ya.
Sepeninggal mereka, Mawar nampak terdiam dan menatap wajah Agung dengan tersenyum.
"Kenapa ?" Tanya Agung.
"Rambut klimis." Ucap Mawar dengan tawa khasnya.
"Kamu suka kan ?" Tanya Agung.
"Ya, ditambah sekarang kamu sudah dititipkan kepadaku." Jawab Mawar.
"Aku juga sayang." Jawab Agung lalu tersenyum.
Mereka pun saling memandang lama dan tanpa berkedip.
"Aku ingin sehidup semati dan dan sesurga bersama kamu Mawar Seroja." Ucap Agung lirih.
"Ya mas." Jawab Mawar.
"Kenapa ?" Tanya Agung tiba-tiba.
"Perih dan ngilu mas." Jawab Mawar seraya menangis.
Agung lalu mengelus lembut lengan tangan Mawar.
"Gimana ?" Tanya Agung.
"Alhamdulillah sudah mendingan, tapi sekarang giliran ini." Jawab Mawar sambil menunjuk ke arah asinya.
Ya walaupun sudah setahun, asi Mawar masih banyak.
Mendengar itu, Agung langsung menutup tubuh istrinya dan kepala dia dengan selimut lalu meminumnya.
Dan tak lama terdengar suara sendawa Agung.
"Sudah ?" Tanya Agung.
"Sudah mas suamiku." Jawab Mawar.
"Alhamdulillah." Jawab Agung.
Mawar lalu mengelus lembut pipi suaminya itu.
"Tetap tampan." Ucap Mawar lirih.
"Aamiin." Jawab Agung.
"Kulit bersih." Ucap Mawar.
"Aamiin sayang, sudah yuk makan." Ucap dan ajak Agung.
"Ya suamiku." Jawab Mawar.
Lalu meminta suaminya untuk mendekati dirinya. Dia lalu menciumnya.
"Makasih." Ucap Mawar.
"Sama-sama." Jawab Agung lalu menyuapi istrinya.
Selesai makan, Mawar lalu minum obat dan istirahat.
"Sudah tidurlah, aku akan selalu disini." Ucap Agung.
"Hemm." Jawab Mawar lalu tersenyum.
"Tidur sayang, aku enggak akan kemana-mana." Ucap Agung.
Mawar lalu meletakkan tangan kanan suaminya di pipi dan menciumnya.
"Aku takut." Ucap Mawar lirih seraya memejamkan mata.
"Ada aku di sini, kamu sudah tidak sendirian lagi." Ucap Agung.
"Aku takut jika aku tidur nanti, akan ada 3 anak kecil yang menutup wajahku lagi." Jawab Mawar.
"Doa sayang." Jawab Agung lalu menarik dagu Mawar dan mencium bibirnya sangat lama.
"Ya mas." Jawab Mawar lalu tersenyum.
__ADS_1
Tak lama Mawar sudah tertidur. Melihat istrinya tertidur, Agung lalu mencium lagi. Aku tidak akan biarkan kamu diganggu. Ucap Agung lirih sambil mencium Mawar dan berzikir meminta pertolongan kepada ALLAH.