
"Oh jadi kamu tergoda juga ?" Tanya Mawar dengan suara kas orang bangun tidur.
"Astagfirullahhallazim, kamu sudah bangun ?" Tanya Agung.
"Hmm, baru saja." Jawab Mawar.
"Jangan salah paham dulu ay, aku cuma kasih tahu sama kamu." Ucap Agung.
"Hmm, ya." Jawab Mawar.
"Kamu enggak marah kan ?" Tanya Agung.
"Marah dikit." Jawab Mawar.
"Maaf ay, tadi aku ke kantor Akbar pas pulang langsung ketemu karyawan Akbar." Ucap Agung menjelaskan tentang kronologi yang sebenarnya.
"Hmm." Jawab Mawar singkat sambil memejamkan mata.
"Hmm terus, enggak ada jawaban yang lain selain hmm ?" Tanya Agung lirih.
"Aku ngantuk." Jawab Mawar.
"Tidurlah." Ucap Agung lirih sambil tersenyum.
"Gimana bisa tidur, kalau pak suamiku ini ngomong terus."Jawab Mawar sambil menatap wajah Agung.
"Maaf cintaku." Ucap Agung.
"Ya, pakmiku." Jawab Mawar lalu tersenyum.
Mereka lalu memejamkan mata dan tidur sejenak. Dan di kantor Akbar, Akbar kini memarahi salah satu staf kantor yang berani menggoda kakak keponakannya itu.
"Lina, ini peringatan awal dan akhir buat kamu. Kalau kamu ulangi lagi, jangan sakit hati jika aku pecat kamu." Ucap Akbar.
"Iya pak, maaf." Jawab Lina langsung pamit.
__ADS_1
Setelah Lina pergi, Akbar kembali menatap laptopnya. Saat tengah fokus, tiba-tiba pintu ruangannya ada yang buka. Ternyata Mida yang masuk ke ruangan Akbar.
"Misi pak, ada yang ingin saya sampaikan." Ucap Mida.
"Ya." Jawab Akbar.
"Ini untuk foto modelnya sudah jadi, mohon di periksa lagi pak. Jika ada kekurangannya." Ucap Mida.
"Sudah bagus." Jawab Akbar dengan menganggukkan kepala.
"Alhamdulillah, kalau begitu saya permisi dulu pak." Ucap Mida.
"Tunggu." Jawab Akbar.
"Ya pak." Jawab Mida.
"Aku rindu kamu sayang." Ucap Akbar lirih.
"Bang, profesional bang. Ini tempat kerja, abang enggak takut ayah melihat abang begini ?" Ucap dan tanyanya.
"Abang enggak takut, tapi aku yang takut bang." Ucap Mida.
"Takut kenapa ?" Tanya Akbar.
"Takut, dianggap perempuan enggak benar." Jawab Mida.
Akbar lalu membalikkan tubuh Mida menjadi menghadap ke arahnya. Dia lalu berbisik.
"Tinggal bentar lagi, kita hidup bersama. Dan jangan takut tentang penilaian manusia, selama kamu benar dan tidak merugikan orang lain." Jawab Akbar.
"Hmm." Jawab Mida lalu melerai genggaman tangan Akbar dan segera pamit.
Meninggalkan mereka yang sedang di kantor, kini Marfel sudah tidak bisa menahan ingin bertemu Mawar. Tapi sayang belum dapat izin dari adik kandungnya.
"Aku enggak bisa tahan lagi mi." Ucap Marfel.
__ADS_1
"Tunggu dulu nak." Jawab Ratih yang sangat kasihan dengan putra sulungnya.
Sedangkan Hengki kini mencoba telfon Agung, namun tidak diangkat juga. Akhirnya Hengki telfon Sari. Dan terjawab.
"Ayo kerumah Agung saja, tadi papi telfon Sari katanya majikannya masih di kamar sedang tidur." Ucap Hengki.
"Ya pi." Jawab mereka bersama.
Mereka lalu ke rumah Agung, sesampai di sana. Sari mengetuk pintu kamar majikannya tersebut.
Tok....Tok...Tok..
"Hmm, ya." Ucap mereka bersama yang kini sudah tampak wangi.
"Bibik." Panggil Agung kecil.
"Eh aden, ayah sama bibu mana den ?" Tanya Sari.
"Ada." Jawab Agung kecil seraya menunjuk.
"Ada apa bik ?" Tanya Mawar.
"Itu non, dicari nyonya, tuan dan nona Nadin." Jawab Sari.
"Oh ya suruh tunggu sebentar ya." Jawab Mawar.
"Iya Nona" Jawab Sari lalu pamit.
"Siapa sayang ?" Tanya Agung.
"Mertuaku, sama kakak ipar beserta istrinya." Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Kamu hanya untukku, enggak boleh sama abangku. Walaupun rezeki kita beda." Ucap Agung lirih.
"Iya suamiku." Jawab Mawar.
__ADS_1
Setelah perbincangan itu, mereka lalu keluar dan menemuinya.