Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 81


__ADS_3

Tak terasa hari yang ditunggu pun tiba. Kini Mida sedang di make up oleh perias pengantin, sedangkan Akbar sudah ada di gedung sambil menunggu calon istrinya datang.


"Tegang amat bang ?" Tanya Reza.


"Ck, ikrar seumur hidup Za gimana bisa enggak tegang." Jawab Akbar.


"Haha, bisa serius juga kamu yang." Ucap Reza dengan tawa khasnya.


Membuat Rani, mami Akbar langsung mendekati putranya.


"Tenang boy, sebut asma ALLAH." Ucap Rani sambil berbisik di telinga putranya.


"Ya mi." Jawab Akbar seraya komat-kamit.


"Za, ayo ikut bude. Jangan ganggu Akbar saja." Ajak Rani dengan menggandeng tangan Reza.


"Ya bude." Jawab Reza.


Di kursi, sudah nampak keluarga besar menunggu Akbar ijab qobul.


"Bang, pangku." Ucap Nadin.


"Ya sayang." Jawab Marfel.


"Masyaallah lihat kanan, kiri, depan dan belakang semua pada punya pasangan. Terus aku kapan ?" Tanya Linda.


"Tahun depan." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Ck, kelamaan kak." Jawab Linda.


"Ya sudah minggu depan." Jawab Agung lalu tertawa.


"Aamiin ya ALLAH ya Rohman ya Rohim." Jawab Linda dengan bahagia.


Mawar pun langsung ikut senang, melihat Linda bisa bahagia.


"Ngebet banget Lin ?" Tanya Om Andi yang saat itu sedang duduk di depan Linda.


"Iya om, mamaku mau jodohin aku. Kalau aku belum punya pacar juga." Jawab Linda lirih.


"Memangnya kamu umur berapa ?" Tanya Andi.


"31 om." Jawab Linda.


"Oh ya sudah matang itu." Ucap Andi lalu berdiri dan pamit. Karena acara akan segera di mulai.


"Morning boy." Sapa Andi pada Akbar.

__ADS_1


"Morning dad." Jawab Akbar.


"Takut perlu tegang." Ucap Andi.


"Ya dad." Jawab Akbar.


"Kamu tu enggak perlu maju, kamu maju kalau Reva yang nikah." Ucap Rani sambil mencubit pinggang Andi.


"Aiyoyo, sakit darling." Ucap Andi seraya meringis.


"Makanya duduk manis." Jawab Rani.


Setibanya di tempat duduk, Agung lalu menoel bahu Andi dan Rani.


"Om dan tante, katanya enggak panas. Kok sekarang malah cemburu. Ucap Agung menggoda seraya tertawa.


"Astagfirullahhallazim, iya gimana ya om kamu ini kalau enggak dijaga bisa bahaya." Jawab Rani.


Sementara yang lain hanya menyimak dan tertawa. Berbeda dengan Mawar, yang sedari tadi menyusui putranya.


"Tidur lagi dia kak ?" Tanya Linda.


"Iya Lin." Jawab Mawar sambil tersenyum.


Sedangkan Agung langsung meminta suster anaknya datang.


"Tolong bawa strolernya Didi kesini ya !" Titah Agung.


"Ya tuan." Jawab Sri.


Tak lama strolernya datang, Mawar lalu menidurkan putranya di stroler. Setelah itu Mawar kembali duduk lagi, begitu juga dengan suaminya.


"Bang dia tadi siapa ?" Tanya Linda.


"Pengasuhnya Didi." Jawab Agung.


"Katanya mau diasuh sendiri, kok sekarang malah pakai baby sister ?" Tanya Linda.


"Program hamil, Linda." Bisik Agung.


"Ya ampun, dah pengen lagi kamu bang ?" Tanya Linda sambil terkekeh.


"Iya." Jawab Agung lalu tertawa.


Mawar pun langsung menyentuh tangan suaminya.


"Sudah mau mulai." Ucap Mawar.

__ADS_1


"Iya sayang." Jawab Agung.


Di depan penghulu dan ayah Mida, Akbar mengikrarkan janji pernikahan dengan lantang dan keras.


"Saya terima nikah dan mas kawinnya Amida Kayla Septriasa Binti Bapak Kartolo dengan tersebut di bayar tunai." Ucap Akbar.


"Gimana para saksi ?" Tanya penghulu.


"Sah." Jawab mereka bersama.


Mawar pun langsung meneteskan air mata bahagia, karena kini Mida resmi menjadi anggota keluarganya.


"Alhamdulillah." Jawab pak penghulu dan mereka semua.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Terharu." Jawab Mawar.


"Sudah dong jangan nangis lagi." Ucap Agung sambil tersenyum.


"Iya." Jawab Ria.


Kini sesi foto keluarga pun dimulai.


"Nenek, Pak dhe, bude dan om tante Akbar ikut foto bersama. Tak cuma itu saja, seluruh sanak famili dan saudara pada hadir.


Saat giliran bagian foto, Marfel menunda dulu. Karena kakinya sedang kesemutan.


"Kenapa bang ?" Tanya Agung sambil memeluk pinggang Mawar.


"Kesemutan Gung." Jawab Marfel.


"Kakinya dihentakkan ke lantai kak, insyaa ALLAH sembuh." Ucap Mawar.


"Iyakah ?" Tanya Marfel.


"Iya, coba saja." Jawab Mawar.


Marfel pun langsung melakukan saran Mawar, dan tak berapa lama rasa Kesemutan di kakinya hilang.


"Alhamdulillah, makasih ya sarannya." Ucap Marfel.


"Iya." Jawab Mawar.


Marfel, Nadine, Agung dan Mawar kini pun naik ke atas.


"Selamat ya Bar, jadi kepala rumah tangga yang amanah dan tanggung jawab." Ucap Marfel.

__ADS_1


"Aamiin makasih bang." Jawab Akbar lalu memeluk tubuh Marfel


__ADS_2