Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bahagia


__ADS_3

"Mas kamu enggak apa-apakan ?" Tanya Mawar seraya menangis.


"Aku enggak apa-apa ay, kenapa kamu menangis ?" Jawab dan tanya Agung.


"Aku takut kamu kalah seperti waktu kemarin. Aku enggak mau kamu terluka." Jawab Mawar sambil sesenggukan.


"Yang kemarin itu aku enggak melawan sayang, makanya aku kalah." Jawab Agung lirih lalu mengajak Mawar masuk ke rumah.


Akhirnya mereka berempat pun masuk ke dalam rumah bersama. Dan duduk di ruang tamu.


"Mawar Seroja." Panggil Marfel.


"Iya mas." Jawab Mawar sambil mengusap air matanya.


"Panggil aku abang saja, karena kini kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami." Ucap Marfel.


"Insyaa ALLAH mas eh bang." Jawab Mawar belepotan karena gugup.


Mendengar jawaban Mawar yang belepotan, mereka malah tertawa.


"Enggak perlu gugup Mawar, aku enggak akan jahatin kamu." Ucap Marfel.


"Iy-iya mas." Jawab Mawar.


"Abang sayang." Ucap Agung membenarkan Mawar.


"Iya." Jawab Mawar sambil menundukkan wajahnya.


"Ini gajian kamu, karena mulai besok kamu sudah tidak perlu kerja disini lagi. Bisa kena amarah aku sama Agung, kalau aku masih mempekerjakan kamu." Ucap Marfel.


"Tapi bang, apa ini enggak terlalu kebanyakan ?" Tanya Mawar.


"Enggak, anggap saja kado pernikahan dari aku." Jawab Marfel.


"Makasih bang." Jawab mereka berdua.


"Ya sama-sama." Jawab Marfel.


"Agung, aku mau bicara penting sama kamu. Tapi tidak di sini." Ucap Marfel.


"Ya bang." Jawab Agung lalu pamit kepada istrinya.


"Ay, aku tinggal dulu ya." Ucap Agung.


"Ya mas." Jawab Mawar dengan malu-malu kucing.


"Har, titip istriku." Ucap Agung.


"Ok." Jawab Hari yang sedari tadi hanya menyimak.


Sepeninggal mereka kini Hari dan Mawar nampak terdiam tanpa bersuara. Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang, yang terdengar.


Sementara di dalam ruangan kerja Marfel, Marfel tengah memberi wejangan untuk adik tercinta.


"Gung, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu." Ucap Marfel.


"Apa ?" Tanya Agung.


"Apa kamu sudah maaf, berhubungan dengannya ?" Tanya Marfel.


"Astagfirullahhallazim, enggak bang, bahkan sampai sekarang aku belum berhasil." Jawab Agung lirih.


"Berhasil apa ?" Tanya Marfel.


"Ck, abang mah gitu." Jawab Agung kesal.


"Lah, aku tanya malah kamu jawab begitu. Aku kan belum ada pengalaman , beda sama kamu." Jawab Marfel.


"Hemm, ya aku tahu." Jawab Agung lesu.

__ADS_1


"Sudah, maksud kamu tadi berhasil apanya ?" Tanya Marfel yang belum tahu arah obrolan Agung.


"Bobol gawang bang." Jawab Agung.


"Hahaha, kamu kira Mawar gawang." Ucap Marfel dengan terkekeh.


"Ck, kami belum melakukan hubungan badan." Jawab Agung lirih.


Spontan Marfel tertawa keras, dan berkata.


"Syukurlah, tidak sia-sia kedua orang tua kita mendidik dengan ilmu agama." Ucap Marfel.


"Ya bang." Jawab Agung.


"Terus kenapa buru-buru nikah ?" Tanya Marfel.


"Karena aku enggak mau kehilangan dia lagi." Jawab Agung.


"Yakin benar dia ?" Tanya Marfel.


"Insyaa ALLAH yakin bang." Jawab Agung.


"Karena apa kamu menikahi dia ?" Tanya Marfel.


"Karena ALLAH bang." Jawab Agung penuh keyakinan.


"Syukurlah kalau karena ALLAH, bukan karena nafsu atau pun obsesi." Ucap Marfel.


"Ya bang." Jawab Agung.


"Gung, aku merestui kalian berdua sebagai suami istri, tapi harus kamu ingat tanggung jawab seorang suami dan ayah untuk Kinar." Ucap Marfel.


"Ya bang, rencananya aku ingin bawa Kinar kesini, tapi dilarang oleh ayah mertuaku." Jawab Agung.


"Kenapa ?" Tanya Marfel.


Mendengar hal itu Marfel hanya menganggukkan kepala.


"Ya sudah, tapi kamu harus terima Kinar selayaknya putrimu sendiri. Jangan hanya mau kepada Mawar saja." Ucap Marfel menasehati sang adik.


"Ya bang." Jawab Agung.


"Terus rencananya kamu mau gimana ?" Tanya Marfel.


"Aku akan satu atap dengan mertuaku, tapi sebelum itu aku akan mendaftarkan pernikahan kami di KUA." Jawab Agung.


"Gung, saran saja sebaiknya jangan satu atap dengan mertua. Bukan apa-apa, tapi kamu tahukan masalalu Mawar kaya apa ?" Ucap dan tanyanya.


"Ya bang." Jawab Agung.


"Sebaiknya kalian disini saja, enggak usah kemana-mana." Ucap Marfel.


"Bukan menolak ataupun membantah abang, tapi aku dan Mawar berniat keluar dari sini." Jawab Agung.


"Kenapa ?" Tanya Marfel.


"Karena ini rumah abang, dia takut kalau ada pihak keluarga yang kurang berkenan atau pun, takut kalau kita pas sedang tidak akur. Dan juga dia takut dengan wejangan seseorang, kalau iparmu mautmu." Jawab Agung panjang lebar.


"Alhamdulillah akhirnya dia bisa dewasa juga." Jawab Marfel.


"Maksudnya ?" Tanya Agung.


"Ya dari ucapan yang kamu sampaikan tadi, itu menunjukkan kedewasaan dia. Walaupun ilmu agamanya masih rendah, namun mampu mengerjakan." Ucap Marfel.


"Alhamdulillah bang." Jawab Agung.


"Ya sudah kalau gitu, kamu boleh keluar, kasihan istrimu menunggu." Ucap Marfel.


"Ya." Jawab Agung seraya berlalu.

__ADS_1


Setibanya di ruang tamu, Agung menatap mereka yang tampak terdiam.


"Ehem, kok pada diam ?" Tanya Agung tiba-tiba, membuat mereka langsung menatap ke arah Agung.


"Ya mas." Jawab Hari lalu pergi meninggalkan mereka.


"Kemana Har ?" Tanya Agung.


"Mau ngobrol sama istri." Jawab Hari.


"Oh." Jawabnya.


Sepeninggal Hari, Agung lalu menatap Mawar.


"Kenapa ?" Tanya Mawar.


"Enggak apa-apa cuma lihat istriku saja, enggak boleh ya ?" Ucap dan tanya Agung.


"Enggak boleh, harus bayar." Jawab Mawar sambil tersenyum.


"Berapa ?" Tanya Agung.


"Kalau lihat 50 ribu, kalau sentuh sekali 100 ribu." Jawab Mawar seraya berlari menjauhi Agung dan tertawa.


"Oke, aku sentuh kamu." Jawab Agung lalu mengejar Mawar.


Tanpa sadar, Marfel menatap mereka dengan tersenyum. Kalau saja daridulu kalian bersama, mungkin tidak akan ada perpisahan. Tapi qadarullah, rencana ALLAH lebih indah. Ucap Marfel lirih.


Dan disini, Agung tengah bersenda gurau dengan Mawar di dalam kamarnya.


"Udah-udah mas, aku nyerah." Ucap Mawar.


"Ya." Jawab Agung langsung mengecup bibir Mawar sekilas.


Mereka kini sama-sama atur nafas yang ngos-ngosan akibat berlari.


"Ternyata benar ya kalau sudah berumur, lari sebentar saja kaya lari maraton." Ucap Agung.


"Iya mas, mungkin juga bukan karena itu." Ucap Mawar.


"Maksudnya ?" Tanya Agung.


"Ya selain umur, ada juga karena jarang olahraga." Jawab Mawar.


"Ya jarang kan baru nikah kemarin." Jawab Agung sambil tertawa.


"Ish, mulai deh. Olahraga enggak hanya itu hubby." Jawab Mawar kesel.


"Cie ngambek, ya hanny. Hubbymu paham kok." Jawab Agung.


"Hmm." Jawab Mawar seraya memainkan tangan Agung.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Kurus banget kamu." Jawab Mawar.


"Enggak apa-apa, yang penting istri dan anak-anak aku tidak kekurangan apapun." Jawab Agung.


"Aamiin." Ucap Mawar.


"Ay, besok aku mau daftar nikah ke KUA. Bangunin aku ya besok." Ucap Agung.


"Ya mas." Jawab Mawar.


"Makasih." Ucap Agung.


"Hmm." Jawab Mawar.


Mereka pun kini terlelap dalam pelukan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2