Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Part 37


__ADS_3

Selesai makan, Mawar pun langsung membersihkan meja dan piring kotornya. Barulah ia masuk ke kamar. Sedangkan Agung, lagi ngobrol sama seseorang lewat sambungan telepon.


Mawar pun langsung mendekati Agung, sambil duduk di paha Agung. Agung hanya tersenyum dan langsung memeluk pinggang Mawar, agar tak terjatuh.


"Siapa ?" Tanya Mawar lirih.


Agung lalu membesarkan volume gawainya. Mendengar yang telfon laki-laki, Mawar langsung menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Tak lama Agung sudah selesai berbicara di gawainya, ia lalu menunduk menatap wajah Mawar.


"Sudah habis ?" Tanya Agung.


"Sudah." Jawab Mawar sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Agung dan kis kembali.


"Tidur sekarang apa nanti ?" Tanya Agung sesudah selesai kis.


"Nanti." Jawab Mawar sambil membuka kancing baju suaminya.


Agung nampak tersenyum dan enggak menghentikan kegiatan Mawar. Baginya, ini momen berharga. Selama Mawar hamil, dia teruslah yang selalu mulai.


"Mas." Panggil Mawar.


"Ya." Jawab Agung sedikit menahan de*****nya.


"Besok izin ke makam ibu ya." Ucap Mawar.


"Ya, tapi harus dengan aku." Jawab Agung.


"Ya." Jawab Mawar.


"Sudah yuk pindah ke tempat tidur." Ucap Agung.


"Kenapa ?" Tanya Mawar.


"Aku ngantuk sayang." Jawab Agung jujur.


"Gendong." Ucap Mawar.


"Baiklah permaisuriku." Jawab Agung lalu membopong Mawar.


Sampai di tempat tidur, mereka kini sama-sama berdoa. Karena jam baru menunjukkan jam 1 dini hari.


"Ay." Panggil Agung.


"Ya mas." Jawab Mawar.


"Pusing." Ucap Agung.


Tanpa banyak kata, Mawar pun mendekati Agung dan memeluknya.


"Mas, ada rasa khawatir menghinggapi di hatiku." Ucap Mawar lirih.


"Apa ?" Tanya Agung lirih dengan mengelus lembut pipi Mawar.


"Aku takut Vika, Chika, dan bang Marfel hadir lagi saat kamu tidak ada di rumah." Jawab Mawar sambil menatap wajah Agung.


"Insyaa ALLAH enggak akan terjadi ay." Jawab Agung berusaha menenangkan Mawar, walau jujur dia sendiri juga khawatir akan terulang lagi.


"Aamiin." Jawab Mawar.


"Sudah, jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi." Ucap Agung mengingatkan.


"Iya mas maaf." Jawab Mawar.


Waktu pun tak terasa berjalan begitu cepat, Kini kandungan Mawar sudah memasuki usia 5 bulan, usia yang sudah agak aman. Saat akan bersiap menjemput Kinar, tiba-tiba guru sekolah Kinar datang.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Salam Widi Guru sekolah Kinar.


"Mari masuk pak." Ucap Mawar.


"Iya bu." Jawab Widi.


"Maaf ada apa ya pak, tumben datang ke sini sendiri ?" Tanya Mawar lirih.


"Sebelumnya saya minta maaf bu, kalau saya tiba-tiba mengganggu ibu yang ingin menjemput Kinar. Tapi harus saya sampaikan, bahwa Kinar saat ini mengalami kecelakaan dan mohon maaf banget bu-." Ucap Widi terhenti karena di sela Agung yang kala itu sudah mendapat kabar, bahwa putri sambungnya sudah meninggal dunia.


"Sayang, kamu yang sabar ya." Ucap Agung lirih.


"Enggak itu pasti bukan Kinar mas, pasti bukan." Jawab Mawar sambil menatap wajah Agung.


"Sayang tenang ya." Jawab Agung menenangkan istrinya.


"Pak, bapak pasti salah kan pak ?" Tanya Mawar seraya mengguncangkan tubuh Widi.


"Ibu tenangkan diri anda. Pak, saya permisi pamit dulu." Jawab dan ucap Widi.


"Iya pak, makasih." Jawab Agung.


Tak jauh beda dengan kondisi Mawar, ayah dan sanak keluarga terdekat Mawar ikut menangis melihat kondisi Kinar sudah tak bernyawa.


Keluarga besar Agung pun langsung bertandang ke rumah duka. Sejak ibunya menikah lagi, Kinar memilih menemani kakeknya, tapi tiap libur sekolah Kinar selalu menginap di rumah ayah sambungnya.


"Kinar." Teriak Mawar dengan menangis.


"Bangun nak, ini ibu sayang. Kamu katanya ingin adik, ini sayang ini calon adikmu nak." Ucap Mawar lagi.


Agung lalu mendekati istrinya dan membopong Mawar.


"Mas, aku ingin Kinar mas." Ucap Mawar.


"Shht, Mawar bisa tenang tidak." Bentak Agung.


"Gung, sabar." Ucap Maminya.


"Astagfirullahhallazim, maafin aku ay." Ucap Agung lirih.


Tak berselang lama Mawar pun pingsan.


"ALLAH Akbar, Linda." Panggil Ratih.


"Ya bude." Jawab Linda.


"Tolong kakak iparmu pingsan." Ucap Ratih lalu membenarkan posisi Mawar dan dibantu Agung juga Linda.


"Gimana ?" Tanya mereka.


"Kakak ipar masih syok, dan itu mempengaruhi kandungannya. Terpaksa kita bawa ke RS sekarang." Ucap Linda yang langsung menghubungi pihak RS.


"Tapi Kinar." Ucap Agung.


"Bawa Mawar ke RS nak, biar Kinar ayah dan yang lain yang urus." Jawab Ayah Mawar.


"Tapi yah." Ucap Agung.


"Kasihan Mawar dan calon anakmu. Dia harus tetap hidup." Jawab ayah sambil menangis.


"Ayo bang." Ajak Linda.


"Iya." Jawab Agung lalu pamit sambil membopong Mawar.


Sampai di RS, Mawar langsung di rawat dan tak lama dokter pun keluar dari ruangan Mawar.

__ADS_1


"Gimana keadaan anak dan ibunya dok ?" Tanya Linda.


"Ibu dan anaknya mengalami masa kritis, jika malam nanti tidak sadar, mohon maaf saya tidak bisa membantu." Jawab dokter itu.


"Enggak, Mawar pasti bisa sadar." Jawab Agung.


"Qadarullah, semoga istri anda mendapatkan mukjizat kembali." Jawab dokter itu lalu pergi.


"Apa salahku TUHAN." Ucap Agung dengan histeris.


"Bang, sabar bang." Ucap Linda yang kini ikut menangis.


Sementara di rumah ayah Mawar, kini Kinar akan di antar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sampai di makam, Kinar lalu di masukkan ke liang Lahat. Bersebelahan dengan neneknya.


"Mbak, istirahat yang tenang ya mbak. Aku akan selalu mendoakan kamu." Ucap Dila.


"Makasih ya nak." Jawab ayah Mawar.


"Sama-sama kek." Jawab Dila.


Acara pemakaman pun sudah selesai, satu persatu pelayat beranjak pulang. Kini tinggal keluarga inti saja yang masih di rumah.


Sementara di RS, Mawar masih belum siuman.


Ay, bangun sayang. Kamu sudah berjanji akan menunggu aku. Ucap Agung.


"Gung makanlah dulu." Ucap Marfel yang baru datang dari rumah duka.


"Aku enggak lapar bang, istriku tadi juga belum makan." Jawab Agung.


"Minumlah biar tenggorokan kamu enggak kering." Ucap Marfel seraya menyerahkan botol minum.


Agung menerimanya dan langsung meminumnya.


"Sabar, akan ada kebahagiaan setelah kalian berhasil melewati semua ini." Ucap Marfel.


"Insyaa ALLAH." Jawab Agung.


Tak terasa malam pun tiba, dokter yang tadi siang memeriksa Mawar pun datang.


"Astagfirullahhallazim." Ucap dokter itu dengan istighfar.


"Kenapa dok ?" Tanya suster itu.


"Belum sadar sus." Jawab dokter itu.


Dia lalu memeriksa Mawar. Dan menatap Agung yang tampak lusuh.


"Maafkan kami pak, istri dan calon anak bapak tidak bisa selamat." Ucap Dokter itu.


"Enggak, tunggu sebentar lagi, Mawar istriku pasti sadar." Jawab Agung lantang.


"Baiklah." Jawab dokter itu menuruti Agung.


Sayang, aku mohon bangunlah. Aku menunggumu, tolong jangan tinggalkan aku. Aku cinta kamu ay, aku enggak bisa hidup tanpa kamu. Kamu mau apa sayang, insyaa ALLAH akan aku turuti. Tapi aku mohon, buka matamu ay. Ucap Agung lirih.


Namun belum ada perubahan juga, Mawar masih terpejam dan tak bergerak.


Anak ayah bangunlah sayang, ajak ibumu bangun nak. Ucap Agung lirih dan mencium perut Mawar yang sudah agak membuncit.


Mereka yang melihat pun menangis, dan berdoa terus memohon keajaiban ALLAH datang.


"Gung, ikhlasin ya." Ucap Marfel yang sudah tak tega melihat sang adik usahanya sia-sia.


"Enggak bang, sampai kapanpun aku enggak akan pernah ikhlas." Jawab Agung dan kembali berbisik lagi.

__ADS_1


Mawar Seroja, aku mohon sadarlah penuhi janjimu dulu kepadaku. Ucap Agung yang sudah nampak frustasi. Mawar, aku mohon bangunlah. Ucap Agung lalu mengecup seluruh wajah Mawar dan tangan Mawar.


__ADS_2