Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 70


__ADS_3

Tak lama Akbar, Mia, Linda,Arsyil datang untuk menemani Mawar.


"Ada apa nih rame banget ?" Tanya Agung lirih lalu pindah mendekati mereka.


Akbar lalu menceritakan semuanya.


"Mawar tadi juga bilang gitu." Jawab Agung.


"Astagfirullahhallazim, sabar bang." Ucap mereka semua.


"Ya, eh anakku sama siapa ?" Tanya Agung.


"Sama keluarga besar kita." Jawab mereka.


"Syukurlah, aku takut psikis dia kena. Karena melihat kejadian tadi." Ucap Agung.


"Tenang bang, tadi bude Rani sudah telfon psikologi dan besok Cipung mau dibawa kesana." Jawab Linda.


Tanpa terasa tiba-tiba pintu yang sudah di kunci ada yang mendorong secara paksa dari arah luar.


Mereka langsung mendekati Mawar. Agung langsung menggenggam tangan Mawar dan mencium wajah Mawar.


Mereka lalu berzikir dan memohon pertolongan kepada ALLAH. Tampak jelas keringat dingin mengalir deras di tubuh Mawar. Hingga posisi tidur pun air mata Mawar mengalir, Agung yang melihat itu langsung berbisik di telinga istrinya. Lawan sayang, ingat aku dan putra kita membutuhkan kamu.


Pintu terbuka lebar, gorden pun langsung terangkat. Dan selang infus Mawar hampir jatuh. Beruntung Arsyil memegang selang itu dengan kuat. Mereka berempat pun langsung memegang tangan dan kaki Mawar.


"Bismillahirrohmannirohim. ALLAH Akbar." Teriak mereka berempat seraya mengayunkan tasbihnya.


Duar.... Terdengar suara seperti ban meletus. Namun ternyata mereka masih di ganggu lagi. ALLAH Akbar. Hingga yang ke tujuh kali, barulah gangguan itu hilang.


"Alhamdulillah." Jawab mereka semua.


"Astagfirullahhallazim kak Mawar, basah kuyup begini." Ucap Linda.


Cepat-cepat Linda menekan tombol merah.


"Ya ada ya ?" Tanya suster itu.


"Ini sus, basah." Ucap Linda.


"Astagfirullahhallazim." Ucap suster itu lalu berlalu mengambil sprei.


"Tak beda jauh dengan Mawar, Agung kecil pun juga tak luput dari gangguan itu.


Namun mereka tidak panik. Mereka lalu membaca tahlil dan zikir bersama. Sementara Sari pamit keluar sebentar, saat keluar dia melihat bungkusan hitam yang terhalang batu. Dia lalu mengambilnya dan memberikan pada keluarga majikannya.


"Nyonya ini apa ?" Tanya Sari.


"Astagfirullahhallazim, kamu dapat dari mana ?" Tanya mereka.


"Di luar." Jawab Sari.


Hengki lalu menghubungi ustadz terdekat untuk meminta pertolongan. Alhamdulillah ustadz itu langsung mau membantu.


"Gimana pak ?" Tanya mereka.


"Astagfirullahhallazim, apa menantu anda mempunyai perangai buruk ?" Tanya ustadz itu.


"Iya dulu pak, tapi sesudah menikah dengan putra kami alhamdulillah sudah berubah." Jawab kedua orang tua Agung.


"Alhamdulillah, ini kiriman dari orang yang pernah ia sakiti dan orang yang disakiti oleh putra anda." Jawab ustadz itu.


"Astagfirullahhallazim, lalu kami mesti gimana pak ?" Tanya mereka.


"Tetaplah zikir, sholat dan mengaji. Insyaa ALLAH akan terlindungi dari kejahatan yang tidak terlihat." Ucap ustadz itu langsung mendekati putra Agung.

__ADS_1


Setelah selesai baca doa untuk Agung kecil, pak ustadz lalu meminta air minum dan di doakan lalu pak ustadz menyarankan.


"Tolong berikan ini pada cucu bapak, jika nanti dia haus. Dan usap juga kepalanya dengan air ini. Insyaa ALLAH terlindungi dari hal-hal yang buruk." Ucapnya.


"Makasih ustadz." Jawab mereka.


"Sama-sama." Ucap ustadz itu.


"Tu, denger sendirikan yang di bilang ustadz. Ini akibat ulah mantumu, sudah sering kali aku bilang, jangan terima dia masih saja ngeyel. Sekarang kalau susah begini, ngerepotin orang kan." Ucap Ridho membuat suasana hati orang tua Agung jadi gelap.


Namun belum dijawab, rupanya Agung pulang untuk menengok sebentar putranya. Mendengar keburukan istrinya di bahas, dengan keras Agung menjawab.


"Rasa sabar seseorang ada batasnya om, manusia tak pernah luput dari kesalahan. Bersyukur istriku bisa berubah di usianya yang ke 33 tahun. Jangan om kira aku enggak tahu mantan istri Arsyil, aku Tahu semuanya. Tapi aku memilih diam." Jawab Agung.


Mendengar pengakuan keponakannya Ridho seketika diam seribu bahasa.


"Mi." Ucap Agung sambil takzim.


"Sabar nak." Jawab Ratih dengan menangis.


"Insyaa ALLAH mi, aku akan sabar." Jawab Agung lalu membuka kopernya dan mengambil baju untuk dirinya dan Mawar.


"Bibik." Panggil Agung.


"Ya tuan." Jawab Sari.


"Ini asi untuk persediaan besok. Asi di kulkas masih kan ?" Tanya Agung.


"Tinggal dikit tuan." Jawab Sari.


"Besok aku anter lagi. Ini semoga cukup sampai besok pagi." Ucap Agung lirih.


"Insyaa ALLAH tuan." Jawab Sari.


"Alhamdulillah sudah membaik, tapi tidak boleh di tinggal sendiri. Lengannya masih ngilu. Dia tadi juga nanyain kamu sama Agung kecil. Makanya aku sempatin pulang." Jawab Agung.


"Saya sudah baik tuan, titip salam buat nona ya tuan." Ucap Sari.


"Ya." Jawab Agung lalu menutup almari dan kopernya.


Sari lalu pamit, dan sepeninggal Sari. Ratih lalu memeluk Agung memberikan kekuatan untuk putranya, begitu juga dengan Hengki dan Marfel.


"Aku yakin kamu kuat." Ucap mereka bertiga.


"Aamiin, doakan kami ya mi, pi dan bang." Ucap Agung.


"Pasti nak." Jawab mereka bersama.


Agung lalu mencium putranya yang nampak sudah terlelap. Lalu menceritakan semua kejadian di RS, itulah mengapa dia pulang untuk mengambil baju ganti istrinya.


"Astagfirullahhallazim, sabar ya. Kami pasti bantu kamu." Ucap mereka semua.


"Makasih, kalau gitu aku langsung kesana ya. Mi, pi titip anakku." Ucap Agung sambil tersenyum dan takzim dengan mereka semua.


Agung lalu kembali ke RS, sepanjang perjalanan dia tak henti-hentinya melafazkan doa. Hingga akhirnya Agung pun sampai di RS, dia di temani oleh security RS.


"Mas sama anaknya ya ?" Tanya satpam itu.


"Enggak, saya daritadi sendiri." Jawab Agung.


"Itu siapa ?" Tanya satpam itu.


"Cuci muka dulu pak." Ucap Agung sambil berlari dan tanpa menjawab pertanyaan satpam tadi.


Masa sih aku salah lihat ? Tanya satpam itu.

__ADS_1


Kok jadi merinding gini ya ? Tanyanya lalu pindah tempat.


Sementara Agung kini sudah sampai di UGD, nampak Akbar masih terjaga sambil melafazkan zikir.


"Kenapa bang ?" Tanya Akbar.


Agung lalu menceritakan semuanya.


"Sabar." Jawab Akbar.


"Ya." Ucap Agung lalu mengecup bibir Mawar dan melafazkan doa dan zikir.


"Tidurlah bang." Ucap Akbar.


"Iya." Jawab Agung.


Tak lama Agung terlelap sambil memeluk pinggang Mawar.


Sedangkan Akbar tetap melanjutkan zikir dan baca alquran. Saat sedang zikir, sayup-sayup terdengar suara orang berjalan yang mau masuk ke UGD.


Bismillahirrohmannirohim. Ucap Akbar sambil membaca ayat kursi.


La qaula walaquata Illa billah. ALLAH Akbar. Ucapnya lirih.


Duar....


"Astagfirullahhallazim, suara apa itu ?" Tanya mereka semua terkejut.


"Shttt." Jawab Akbar meminta mereka untuk diam.


Di tempat lain guru Akbar juga masih terjaga seraya membantu Akbar. Begitu juga dengan ustadz yang diminta tolong oleh orang tua Agung.


Sementara Mawar dan Agung melafazkan doa tanpa henti. Hingga Mawar menangis seraya menggenggam tangan suaminya.


"Sakit mas, tolong lepasin ini." Ucap Mawar dengan menangis.


Mida,Linda, Arsyil dan Akbar langsung menatap Mawar.


"Kak,Sea." Panggil mereka.


"Zikir." Ucap mereka bersama.


Sementara orang yang membuat Mawar kesakitan kini nampak semakin lemah. Begitupun yang menyakiti putranya. Kekuatannya semakin melemah. Mulutnya menyemburkan darah lalu terbatuk-batuk.


Kurang ajar mereka sangat kuat. Ucapnya dan tak lama 2 dukun itu langsung meninggal dunia di tempat.


Dan di tempat Mawar, Mawar tampak sudah tak kesakitan lagi.


"Alhamdulillah." Ucap mereka bersama.


Di rumah pun juga sama.


"Alhamdulillah ya ALLAH." Ucap mereka semua.


Kini Mawar nampak menatap mereka semua.


"Makasih ya, jika tidak ada kalian aku enggak tahu lagi akan jadi apa aku ini." Ucap Mawar.


"Kita hanya perantara kak." Jawab mereka bersama.


"Iya." Jawab Mawar.


"Masih malam, ayo tidur." Ajak mereka.


"Ya." Jawab Mawar sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2