
"Sini biar aku saja." Jawab Agung lalu menyingkap penutup badan Mawar.
Membuat mereka semua melongo tak percaya akan apa yang mereka lihat. Sedangkan Mawar, nampak risih dengan ulah suaminya yang bar-bar itu.
Ratih yang hendak menghampiri putranya, langsung dicegah oleh Marfel.
"Mi, biarkan saja tak perlu kita campuri urusan mereka." Ucap Marfel.
"Tapi Fel, adikmu itu sudah bikin-." Ucap Ratih terhenti karena di sela Risa.
"Sudah biarkan saja benar kata putramu, kita ini sudah tua jangan suka mencampuri urusan rumah tangga anak-anak." Jawab Risa tegas.
Ratih pun hanya menurut, dan mereka memilih keluar semua dari ruang rawat Mawar. 20 menit kemudian.
"Sudah enggak banjir, sekarang tidurlah." Ucap Agung lirih.
"Dasar enggak jaga-." Ucap Mawar terhenti, karena Agung langsung mencium bibir Mawar.
"Apa salah aku menolong istriku sendiri, saat dalam masa sulit ?" Tanya Agung lirih.
"Enggak, cuma caramu saja yang salah. Sudah tahu banyak keluarga, kamu malah minum ini." Jawab Mawar kesal.
"Maaf." Ucap Agung lirih.
"Ya." Jawab Mawar.
Sementara di ruangan Mida, Akbar nampak setia menemani istrinya lahiran.
"Auw bang sakit bang." Ucap Mida.
__ADS_1
"Istighfar hanny." Jawab Akbar seraya mengelus lembut perut Mida.
"Sudah pembukaan berapa dok ?" Tanya Akbar.
"Sudah pembukaan ke tujuh." Jawab Widi.
"Bang aku sudah tidak kuat." Ucap Mida.
"Shht, jangan bicara begitu. Kamu pasti bisa." Jawab Akbar.
"Sakit bang." Ucap Mida lirih dengan menggigit tangan Akbar.
"Jika ini bisa mengurangi rasa sakitmu, enggak apa-apa gigit terus tanganku. Karena jujur, aku bahagia melihat perjuangan ibu melahirkan anaknya. Dan kini aku sadar, kenapa surga di letakkan di kaki ibu. Karena dia rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk sang buah tercinta. Terima kasih karenamu, aku jadi melihat secara langsung gimana perjuangan seorang ibu." Ucap Akbar dengan panjang lebar.
Rani dan Andi yang sedari tadi menunggu menantunya lahiran pun, nampak berkaca-kaca karena melihat Mida nampak kesakitan. Berbeda dengan Mawar, yang masih bisa menahan sakit.
Mendengar hal itu dokter Widi langsung meminta Mida untuk tidur di tempat tidur.
"Mari, sepertinya debaynya sudah berhasil menjebol jalan keluarnya." Ucap Widi seraya tersenyum.
Mida pun di tidurkan oleh suaminya, dan semuanya kini sudah siap.
"Ngejan ya buk ya, jangan lupa baca doa dulu ya buk." Ucap Widi.
"Iya dok." Jawab Mida.
"1,2,3 ngejan buk." Ucap Widi.
"Bismillahirrohmannirohim, akhhhhh." Ucap Mida dengan berteriak.
__ADS_1
Oe....oe....oe...
Suara tangisan bayi, menggema di seluruh penjuru ruangan disana. Membuat mereka yang mendengar dari luar, langsung mengucapkan hamdalah bersama.
"Alhamdulillah." Ucap mereka semua.
Sedangkan Mawar dan Agung beserta kedua anak-anaknya, baru datang di ruang persalinan.
"Sudah lahir mi ?" Tanya Agung sambil menggendong putranya.
"Alhamdulillah sudah, tapi belum di buka pintunya." Jawab Ratih.
"Mungkin masih di bersihkan mi." Ucap Mawar lirih sambil menggendong putra keduanya.
"Iya. Dua-duanya anakmu persis kamu banget Gung." Ucap Ratih.
"Aamiin mi." Jawab mereka bersama.
Sementara di dalam, mereka nampak sudah bersih semua.
"Selamat ya pak, buk. Putrinya cantik Secantik ibunya." Ucap Widi lalu tersenyum.
"Aamiin makasih dok." Ucap mereka.
Dokter Widi pun langsung pamit dan berlalu.
"Dok, anaknya perempuan atau laki-laki dok ?" Tanya Rani.
"Alhamdulillah perempuan ibu, dan kulitnya persis Ayahnya." Jawab Widi.
__ADS_1