
Selesai semua, kini Agung langsung menyusul istrinya untuk tidur.
Hampir 10 menit berlalu, Agung belum bisa tertidur. Astagfirullahhallazim, kenapa jadi susah tidur begini ? Tanyanya dalam hati.
"Kenapa by ?" Tanya Mawar lirih yang terbangun karena gerakan tubuh suaminya.
"Enggak bisa tidur ay." Jawab Agung jujur.
"Sudah sholat, ngaji dan baca quran belum ?" Tanya Mawar.
"Alhamdulillah sudah semua ay." Jawab Agung.
Banyak fikiran ?" Tanya Mawar lembut seraya mengelus lembut pipi suaminya.
"Iya." Jawab Agung.
"Berdoa mas, insyaa ALLAH bisa tidur." Ucap Mawar.
"Iya ay." Jawab Agung lalu bangun dari tidurnya.
Mawar pun ikut terjaga, dan mendekati suaminya.
"Mas." Panggil Mawar.
"Hmm." Jawab Agung.
Tak lama Mawar memberikan satu kecupan untuk suaminya. Sesuai buku yang pernah ia baca, dan saran dari almarhumah ibunya. Disaat nanti kamu menikah, jika kamu lihat suamimu terjaga. Obatnya ya hanya dengan berhubungan. Nasehat ibu Mawar. Dan kini Mawar coba praktekkan.
"Ay." Panggil Agung lirih.
"Hmm." Jawab Mawar sambil men*****nya.
"Kamu pandai sekali ay, tahu apa yang ku inginkan." Jawab Agung.
"Hmm." Jawab Mawar yang kini sudah berhasil melepas penutup tubuh suaminya.
Baru ingin memulai, terdengar suara tangisan Didi. membuat Mawar langsung terkejut dan keluar dari kamar. Begitu juga dengan Agung yang kini bertelanjang dada.
"Sayang, kenapa ?" Tanya Mawar menenangkan Didi.
"Bibu atut." Jawab Didi seraya menunjuk kaca jendela kamarnya.
Agung langsung mengambil gawainya, dan menatap di rekaman cctv.
"Sri." Ucap Agung lirih.
Sementara Mawar yang sudah berhasil menenangkan putranya, terdiam sejenak di tempat tidur Didi.
"Kenapa ?" Tanya Agung lirih lalu mengecup bibir Mawar.
"Enggak apa-apa, tidur yuk." Jawab dan ajaknya.
"Ya." Jawab Agung sambil menutup kaca jendela kamar Didi dengan almari mainan Didi.
Tidur yang nyenyak ya sayang, ayah ingin bikin dedek buat kamu. Ucap Agung lirih sambil tersenyum dan mencium bibirnya Didi.
Sesampai di kamar, Agung lalu meminum sumber kehidupan Didi. Mawar pun hanya diam, lalu mengingatkan suaminya untuk berdoa dulu.
"Mas doa dulu." Ucap Mawar.
"Astagfirullahhallazim, ya ay." Jawab Agung lalu melepas minumnya dan berdoa.
Selesai berdoa bersama, Agung lalu mencium perut Mawar dengan lembut dan berdoa.
"Semoga jadi keturunan sholeh atau sholehah." Aamiin ya ALLAH ya Rohman ya Rohim." Ucap Agung sambil doa.
__ADS_1
"Aamiin." Jawab Mawar sambil tersenyum.
Agung mengulang kembali step demi step, membuat Mawar menggeliat karena ulah suaminya. Tak jauh beda dengan mereka, Marfel dan Nadin pun melakukan hal itu.
"Hanny, nanti lagi ya aku lelah." Ucap Marfel.
"Ya hubbyku." Jawab Nadin.
Berbeda dengan Marfel yang tampak kelelahan, Akbar dan Mida masih fress seperti buah yang baru di petik dari pohonnya.
"Mas, kamu enggak lelah ?" Tanya Mida lembut.
"Enggak sayang, kamu begitu membuat aku nagih terus.
"Emangnya aku punya hutang sama kamu ?" Tanya Mida di sela-sela aktivitasnya.
"Enggak, maksudnya milikmu membuat milikku selalu minta lagi dan lagi." Jawab Akbar.
"Alhamdulillah, cukup dengan aku saja ya." Jawab Mida.
"Insyaa ALLAH sayang." Ucap Akbar.
"Mas, aku mau keluar." Jawab Mida.
"Keluar saja ay, aku juga mau keluar." Ucap Akbar.
Dan tak lama mayones mereka sama-sama keluar dan masuk ke dalam lubang.
Selesai itu, Akbar enggak langsung turun, dia masih ada di atas Mida.
"Makasih istriku." Ucap Akbar dengan tersenyum.
"Sama-sama mas suamiku." Jawab Mida lalu tersenyum.
Meninggalkan pengantin baru, Arsyil kini tengah terlelap setelah di acara kakak keponakannya. Dan tepat jam 12 malam pintunya diketuk seseorang.
Ck, siapa sih malam-malam gini ketuk pintu. Gerutu Arsyil.
Dia lalu melihat dari cctv yg tersambung di gawainya.
Ya ALLAH ya Qarim tikus clurut, mau apa sih dia ? Tanya Arsyil kesal.
"Apa ?" Tanya Arsyil sedikit membentak kepada seseorang itu.
"Hehe, aku laper aa." Jawab orang itu dengan tersenyum.
"Ck, lapar kenapa nyari aku, emangnya aku suami kamu ?" Tanya Arsyil kesal.
"Bukan, tapi selain aa, aku enggak kenal siapapun di sini." Jawab gadis itu yang tak lain bernama Velove Valentina biasa di sebut Tina.
Ya pertemuan pertama kali mereka terjadi di bandara. Saat Arsyil mengantar adiknya, ditengah perjalanan tak sengaja Tina menabrak tubuh Arsyil. Dan dari sanalah Arsyil membantu Tina dari seseorang yang ingin berniat tidak baik.
"Akhh, ngerepotin orang saja." Ucap Arsyil.
"Ih aa ih tampan-tampan garang. Nanti cewek-cewek pada ngejauh lho." Jawab Tina.
"Bisa diam enggak, bawel banget sih. Mulut kaya petasan sekali dinyalakan dar dor dar dor." Ucap Arsyil kesal.
"Ya maaf aa." Jawab Tina seraya menunduk dan memegang perutnya yang kini keroncongan.
Krucuk-krucuk bunyi perut Tina, membuat Arsyil jadi tertawa dan tak tega melihat Tina kelaparan. Akhirnya dia pesan deliveri. Meninggalkan Arsyil dan Tina.
Kini Asyifa tengah mengerjakan pekerjaan rumah. Ya meski dari anak mampu, Sifa dibiasakan oleh uminya untuk tetap menjaga kebersihan.
Aduh, lelah juga ya. Untung umi membiasakan aku selalu jaga kebersihan. Hmm, btw Kak Reva sedang apa ya ? Tanya Sifa.
__ADS_1
Syifa yang rindu Reva, memberanikan diri untuk menyapa kakak keponakannya itu, sayangnya hari itu Reva sedang ada tambahan pelajaran. Membuat dia tidak bisa menjawab panggilan telfon Syifa.
Kembali ke Indonesia, Agung dan Mawar kini nampak sedang saling memandang.
"Ay." Panggil Agung.
"Hmm." Jawab Mawar.
"Kenapa daridulu kamu istimewa di hatiku ?" Tanya Agung.
"Mana aku tahu, kamu ini ada-ada saja deh mas." Jawab Mawar.
"Karena namamu melekat di doaku." Ucap Agung lirih.
"Aamiin, moga kamu enggak cuma ngegombal." Jawab Mawar.
"Aku enggak gombal, aku serius." Ucap Agung sambil tersenyum dan menatap wajah Mawar tanpa berkedip.
"Tidur mas, besok kamu kerja." Ucap Mawar.
"Masih enggak bisa tidur." Jawab Agung tanpa mengalihkan pandangan matanya, dan tangannya sudah merajalela kemana-mana.
"Boleh ya." Ucap Agung.
"Ya mas." Jawab Mawar tanpa menolak. Dan tak lama setelah melakukan Hb, mereka pun langsung terlelap.
Sedangkan Didi, kini nampak terlelap juga. Berbeda dengan Santi, pengasuh Didi yang memakai nama Sri. Hanya untuk meluluhkan hati Agung, majikannya. Namun sayang, sampai detik ini belum juga berhasil.
Ck, susah banget sih meluluhkan hatimu tampan." Ucap Santi lirih.
Sedangkan Sri yang asli sudah di jemput Ajudannya Rani.
"Nyonya maafin kelancangan adik saya ya." Ucap Sri dengan berlutut.
"Astagfirullahhallazim, ya Sri. Enggak perlu begini dong nak. Yang salah itu adikmu bukan kamu." Jawab Rani.
"Iya nyonya." Jawab Sri yang kini langsung dianter Rani istirahat dulu. Karena waktu masih malam.
"Tidurlah di sini dulu." Ucap Rani.
"Iya nyonya." Jawab Sri dengan lesung pipi yang nampak ketika tersenyum.
"Baiklah, aku tinggal dulu ya." Ucap Rani.
"Ya nyonya." Jawab Sri sopan.
Pagi hari tiba, kini Sari sudah terbangun dan beraktivitas seperti biasa.
"Bik, sudah bangun ?" Tanya Agung dengan tersenyum.
"Sudah tuan." Jawab Sari.
Agung lalu berlalu meninggalkan Sari.
Etdah, kesambet apa tuan, pagi buta gini sudah bangun dan bikin kopi sendiri. Ucap Sari lirih.
Dan kini Agung masuk ke kamar Didi, membangunkan putranya. Lalu mandi, dan jalan-jalan pagi.
"Bangun Boy." Ucap Agung lirih sambil membuka jendela kamar putranya.
Tak lama sang anak terbangun.
"Mikum Ayah." Salam Didi.
"Waalaikumsalam boy." Jawab Agung lalu mengajarkan putranya baca alfatiqah terlebih dulu. Barulah mereka mandi.
__ADS_1
Sementara Mawar nampak terlelap, karena semalam suaminya selalu minta lagi. Beruntung Agung tidak memaksa istrinya untuk bangun awal.