Cinta Beda Usia

Cinta Beda Usia
Bab 98


__ADS_3

"Ulusan telus, ulusan apa yah ?" Tanya Didi.


"Ya bisnis, kan kakek sama nenek punya usaha bisnis. Kaya om Akbar dan pakdhe Marfel." Jawab Agung lirih.


"Oh, tapi kenapa kalau ketempat pakdhe selalu bisa ?" Tanya Didi lagi.


"Karena jadwalnya sedang tak sibuk sayang." Jawab Mawar dan Agung.


"Ih, Bibu sama ayah sama saja belain telus akek dan enek." Ucap Didi.


"Bukan belain sayang, tapi faktanya begitu. Kalau kamu masih kurang percaya, besok ayah ajak kamu ke rumah kakek." Jawab Agung bijak.


"Enggak mau ah, Didi apek." Ucap Didi lalu menggenggam tangan kedua orang tuanya.


"Kalau capek ya biar di gendong suster." Jawab Agung.


"Nda mau. Ayah dan Bibu makacih ya udah menyayangi Didi setulus hati, dan maaf ika Didi masih cuka andel." Ucap Didi.


"Iya saya sama-sama." Jawab Mawar dan Agung.


"Bibu, ayah jangan telpisah lagi ya, Didi apek lihat ayah anis waktu Bibu atit. Didi uga enggak mau ayah Didi digantikan." Ucap Didi.


"Aamiin sayang, doakan terus ya." Jawab mereka bersama.


"Ya." Jawab Didi senang.


Tak lama suster Sri datang.


"Assalamualaikum, waktunya makan cemilan sayang." Ucap Sri.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka.

__ADS_1


Tak lama Didi ikut susternya, sementara Mawar nampak terdiam memikirkan kata Didi.


"Kenapa ?" Tanya Agung.


"Enggak apa-apa mas, aku istirahat dulu ya." Ucap Mawar.


"Iya." Jawab Agung.


Sementara di rumah Marfel, mereka nampak sibuk dengan acara aqiqahan putrinya. Michela Lovita Putri.


"Aduh anak papi cantik amat sih." Ucap Marfel.


"Iya dong pi." Jawab Nadin.


Sementara di rumah Akbar dan Mida, mereka nampak sibuk merias putrinya. Yang baru genap usia 1 bulan setengah.


"Papa, ih ganggu saja." Ucap Mida.


"Ya ALLAH, papa kamu ih capek-capek aku rias sekarang kaya gini lagi. Sana-sana, ini terlalu menor." Ucap Mida penuh kesal.


Cup.


"Maaf, mulutnya jangan manyun gitu lah, jadi pengen ku kecup." Jawab Akbar.


"Baru juga selesai nifas, sudah nyosor saja kaya bebek." Ucap Mida.


"Wah, mamamu kejam sayang. Papa yang tampan gini disamain dengan bebek." Jawab Akbar.


"Makanya jangan suka nyosor." Ucap Mida.


"Hmm, cewek kalau sedang marah selalu yang menang. Terima ajalah kalahnya, daripada nanti dijadikan rempeyek." Ucap Akbar.

__ADS_1


Sementara Mida masih sibuk merias putrinya yang kini sudah diberi nama Princes Ardila.


Tak jauh beda dengan Akbar dan Mida, Arsyil dan Tina pun nampak adu mulut.


"Ehem, buruan napa." Ucap Arsyil.


"Ya ini sudah selesai." Jawab Tina.


"Heran, wajah pas-pasan dandannya lebih dari 3 jam." Ucap Arsyil.


"Cewek mah lama aa." Jawab Tina.


"Sudah yuk, keburu terlambat." Ucap Arsyil lalu entah tanpa sadar atau tidak, dia menggenggam tangan Tina.


"Aa, sakit atu." Ucap Tina.


"Makanya jangan lelet." Jawab Arsyil.


"Gimana mau cepet, Aa kasih aku rok gini." Ucap Tina tak mau disalahkan.


Arsyil lalu berhenti, dan langsung membopong Tina.


"Akh, aa." Ucap Tina sambil teriak.


"Biasa saja kali, kaya baru pertama saja di bopong cowok." Jawab Arsyil.


"Memang ini yang pertama." Ucap Tina.


"Bohong banget kamu." Ucap Arsyil.


"Cukup ALLAH yang jadi saksinya beserta para malaikat." Jawab Tina.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Arsyil nampak berbunga-bunga. Namun dia masih memperlihatkan wajah juteknya.


__ADS_2